Minggu, 20 September 2026
14:11 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Kerajaan Chola

Kerajaan Chola

kerajaan di Asia Selatan

Dinasti Chola
சோழ வம்சம் (Tamil)
Cōḻa vamcam
300s SM–1279 M
Bendera Kerajaan Chola
Bendera
Peta yang menunjukkan wilayah terluas kerajaan Chola ca 1030 di bawah Rajendra Chola I: wilayah ditunjukkan dengan warna biru, bawahan dan wilayah pengaruh ditampilkan dalam warna merah muda.
Peta yang menunjukkan wilayah terluas kerajaan Chola ca1030 di bawah Rajendra Chola I: wilayah ditunjukkan dengan warna biru, bawahan dan wilayah pengaruh ditampilkan dalam warna merah muda.[2]
Ibu kota
Bahasa resmiTamil
Bahasa umum{{plainlist| }}
Agama Hindu (resmi)
DemonimCholar
PemerintahanMonarki
Raja dan Penguasa monarki 
 848–871
Vijayalaya Chola (Raja Pertama)
 1246–1279
Rajendra Chola III (Raja Terakhir)
Era SejarahSejarah kuno
 Didirikan
300s SM
 Kebangkitan Cholas abad pertengahan
848 CE
 Kekaisaran pada tingkat terbesarnya
1030 CE
 Dibubarkan
1279 M
Digantikan oleh
krjKerajaan
Pandya
krjKerajaan
Jaffna
Sekarang bagian dari
Raja dan Kaisar Chola
Masa kekosongan kekuasaan (ca200–ca848 M)
Vijayalaya 848–871?
Aditya I 871–907
Parantaka I 907–955
Rajaditya Chola 935–949
Gandaraditya 949–962
Arinjaya 955–956
Parantaka II (Sundara) 950–980
Aditya II (Karikala) 966–971
Uttama 971–987
Rajaraja I 985–1014
Rajendra I 1012–1044
Rajadhiraja 1018–1054
Rajendra II 1051–1063
Rajamahendra 1060–1063
Virarajendra 1063–1070
Athirajendra 1067–1070
Kulothunga I 1070–1120
Vikrama 1118–1135
Kulothunga II 1133–1150
Rajaraja II 1146–1173
Rajadhiraja II 1166–1178
Kulothunga III 1178–1218
Rajaraja III 1216–1256
Rajendra III 1246–1279
Terkait
Dinasti terkait
Chola Telugu dari Andhra
Chodaganga dari Kalinga
Chola Nidugal dari Karnataka

Dinasti Chola adalah Dinasti Tamil Talasokrasi di India selatan dan salah satu dinasti yang paling lama memerintah dalam sejarah dunia. Referensi data paling awal ke Chola berasal dari prasasti yang berasal dari abad ke-3 SM pada masa pemerintahan Asoka dari Kekaisaran Maurya. Sebagai salah satu Tiga Raja Bermahkota Tamilakam, bersama dengan Chera dan Pandya, dinasti ini terus memerintah di berbagai wilayah hingga abad ke-13 M.Terlepas dari asal-usul kuno ini, kebangkitan Chola, sebagai "Kekaisaran Chola", hanya dimulai dengan Chola abad pertengahan pada pertengahan abad ke-9 M.

Kawasan nadi Cholas ialah lembah Sungai Kaveri yang subur.Namun, mereka memerintah kawasan yang jauh lebih luas pada puncak kekuasaan mereka dari separuh akhir abad ke-9 hingga awal abad ke-13. Mereka menyatukan semenanjung India, selatan Tungabhadra, dan menguasai satu wilayah selama tiga abad antara 907 dan 1215 AD.[3] Di bawah Rajaraja I dan penerusnya Rajendra Chola I, Rajadhiraja I, Rajendra II, Virarajendra, dan Kulothunga Chola I, dinasti ini menjadi kekuatan militer, ekonomi dan budaya di Asia Selatan dan Asia Tenggara[4].Kekuasaan dan prestise Chola di antara kekuatan politik di Asia Selatan, Tenggara, dan Timur pada puncaknya terbukti melalui ekspedisi mereka ke Sungai Gangga, serangan laut di kota-kota kerajaan Sriwijaya yang berbasis di Sumatra, dan mereka berulang kali menghantar kedutaan ke Tiongkok.[5] Armada Chola mewakili puncak kapasitas maritim India kuno.

Selama periode 1010–1153 M, wilayah Chola membentang dari Maladewa di selatan hingga tepi Sungai Godavari di Andhra Pradesh sebagai batas utara. Rajaraja Chola menaklukkan semenanjung India Selatan, mencaplok bagian dari kerajaan Rajarata di Sri Lanka saat ini, dan menduduki pulau-pulau Maladewa. Putranya Rajendra Chola semakin memperluas wilayah Cholar dengan mengirimkan ekspedisi kemenangan ke India Utara yang menyentuh sungai Gangga dan mengalahkan penguasa Pala dari Pataliputra, Mahipala. Pada 1019, ia juga sepenuhnya menaklukkan kerajaan Rajarata di Sri Lanka dan mencaploknya ke kerajaan Chola[6] .Pada tahun 1025, Rajendra Chola juga berhasil menyerbu kota-kota kerajaan Sriwijaya, yang berbasis di pulau Sumatera[7].Dinasti Chola mengalami kemunduran pada awal abad ke-13 dengan munculnya dinasti Pandya, yang pada akhirnya menyebabkan kejatuhan mereka.[8]

Chola berhasil membangun kerajaan thalassocrates terbesar dalam sejarah India, sehingga meninggalkan warisan abadi. Mereka membentuk bentuk pemerintahan yang terpusat dan birokrasi yang disiplin. Selain itu, perlindungan mereka terhadap Sastra Tamil dan semangat mereka untuk membangun kuil telah menghasilkan beberapa karya sastra dan arsitektur Tamil terbesar.[4]Raja Chola adalah pembangun yang rajin dan membayangkan kuil-kuil di kerajaan mereka tidak hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagai pusat kegiatan ekonomi.[9][10] Sebuah situs warisan dunia UNESCO, kuil Brihadisvara di Thanjavur, yang dibangunkan oleh Rajaraja Chola pada tahun 1010 M, adalah contoh utama untuk arsitektur Cholar.

Mereka juga terkenal karena perlindungan mereka terhadap seni. Pengembangan teknik pahatan khusus yang digunakan dalam 'Perunggu Chola', patung perunggu dewa Hindu yang indah yang dibangun dalam proses lilin yang hilang dipelopori pada masanya. Tradisi seni Chola menyebar dan memengaruhi arsitektur dan seni Asia Tenggara[11][12]

Asal-usul

Ada sangat sedikit bukti tertulis untuk Chola sebelum abad ke-7 Masehi. Sumber utama informasi tentang Chola awal adalah literatur Tamil kuno dari Zaman Sangam, tradisi lisan, teks agama, prasasti candi dan lempengan tembaga. Chola Abad Pertengahan kemudian juga mengklaim garis keturunan yang panjang dan kuno. Chola disebutkan dalam Dekrit Ashokan (tertulis 273 SM–232 SM) sebagai salah satu tetangga Kekaisaran Maurya di Selatan (Dekrit Batu Utama Ashoka No.13)[13][14] ,yang, dianggap tidak tunduk pada Ashoka, bersahabat dengannya. Ada juga referensi singkat ke negara Chola dan kota-kotanya, pelabuhan dan perdagangan di Perjalanan Laut Eritrea, dan dalam karya ahli geografi Klaudius Ptolemaeus. Mahawamsa, sebuah teks Buddhis yang ditulis pada abad ke-5 M, menceritakan sejumlah konflik antara penduduk Sri Lanka dan Chola pada abad ke-1 SM.[15]

Pandangan yang umum dipegang adalah bahwa Chola, seperti Chera dan Pandya, adalah nama keluarga penguasa atau klan kuno.Nama lain yang umum digunakan untuk Chola adalah Choda, Killi (கிள்ளி), Valavan (வளவன்), Sembiyan (செம்பியன்) dan Cenni.Killi mungkin berasal dari bahasa Tamil kil (கிள்) yang berarti menggali atau membelah dan menyampaikan gagasan penggali atau pekerja tanah.Kata ini sering menjadi bagian integral dari nama Chola awal seperti Nedunkilli, Nalankilli dan sebagainya, tetapi hampir tidak digunakan lagi di kemudian hari.Valavan kemungkinan besar terkait dengan "valam" (வளம்) – kesuburan dan berarti pemilik atau penguasa negara yang subur.Sembiyan secara umum diartikan sebagai keturunan Shibi – pahlawan legendaris yang mengorbankan diri dalam menyelamatkan seekor merpati dari kejaran sosok elang di antara legenda Chola awal dan menjadi bahan pokok Sibi Jataka di antara cerita Jataka Buddhisme. Dalam leksikon Tamil Chola berarti Soazhi atau Saei yang menunjukkan kerajaan yang baru terbentuk, di garis Pandya atau negara lama. Cenni dalam bahasa Tamil berarti Kepala.

Sejarah

Sejarah Chola terbagi dalam empat periode: Chola Awal dari literatur Sangam, peralihan antara jatuhnya Sangam Chola dan kebangkitan Chola abad pertengahan Kekaisaran di bawah Vijayalaya (c. 848), dinasti Vijayalaya, dan akhirnya Dinasti Chola Akhir.

Kontribusi budaya

250px-Thanjavur_temple.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kuil Tanjavur

Di bawah Chola, negara Tamil mencapai puncak keunggulan baru dalam seni, agama, musik dan sastra.[16]Arsitektur monumental berupa candi megah dan pahatan dari batu dan perunggu mencapai kemahiran yang belum pernah dicapai di India[17]

Penaklukan Chola atas Kadaram (Kedah) dan Sriwijaya, dan kontak komersial mereka yang berkelanjutan dengan Kekaisaran Tiongkok, memungkinkan mereka untuk memengaruhi budaya lokal.[18] Contoh pengaruh budaya Hindu yang ditemukan saat ini di seluruh Asia Tenggara banyak dipengaruhi oleh warisan Chola.Misalnya, Candi Prambanan di Indonesia menunjukkan sejumlah kesamaan dengan arsitektur India Selatan.[19][20] Menurut Babad Melayu Sejarah Melayu, para penguasa kesultanan Malaka mengaku sebagai keturunan raja-raja Kerajaan Chola.Aturan Chola dikenang di Malaysia hari ini karena banyak pangeran di sana memiliki nama yang diakhiri dengan Cholan atau Chulan, salah satunya adalah Raja Chulan, Raja Pera

Rujukan

Referensi

  1. Spencer, G. (1976). The Politics of Plunder: The Cholas in Eleventh-Century Ceylon. The Journal of Asian Studies, 35(3), 405-419. DOI:10.2307/2053272
  2. Spencer, G. (1976). The Politics of Plunder: The Cholas in Eleventh-Century Ceylon. The Journal of Asian Studies, 35(3), 405-419. DOI:10.2307/2053272
  3. K. A. Nilakanta Sastri, A History of South India, p 157
  4. 1 2 Keay 2011, hlm. 215.
  5. K. A. Nilakanta Sastri, A History of South India, p. 158
  6. Spencer, George W. (1976). "The Politics of Plunder: The Cholas in Eleventh-Century Ceylon". The Journal of Asian Studies. 35 (3): 405–419. doi:10.2307/2053272. ISSN 0021-9118.
  7. Meyer, p. 73
  8. K. A. Nilakanta Sastri, A History of South India, p. 195–196
  9. Vasudevan, pp. 20–22
  10. Keay 2011, hlm. 217-218.
  11. Thai Art with Indian Influences by Promsak Jermsawatdi, p. 57
  12. Columbia Chronologies of Asian History and Culture by John Stewart Bowman, p. 335
  13. "KING ASHOKA: His Edicts and His Times". www.cs.colostate.edu. Diakses tanggal 2018-10-07.
  14. Ma. Ile Taṅkappā, Ā. Irā Vēṅkaṭācalapati. Red Lilies and Frightened Birds. Penguin Books India, 2011. hlm. xii.
  15. John Bowman,Columbia Chronologies of Asian History and Culture, p.401
  16. Mitter (2001), hlm. 2
  17. Thapar (1995), hlm. 403Quote: "It was, however, in bronze sculptures that the Chola craftsmen excelled, producing images rivalling the best anywhere."
  18. Kulke & Rothermund (2001), hlm. 159
  19. Sastri (1984), hlm. 789
  20. Kulke & Rothermund (2001), hlm. 159-160

Pranala luar

Sejarah imperium-imperium dunia
Imperium kuno
Akkadia · Armenia (Urartu · Orontid · Kuno) · Mesir · Asiria · Babilonia · Aksum · Het · Persia (Media · Akhemeniyah · Partia · Sasaniyah) · Makedonia (Ptolemaik · Seleukia) · Kartago · Kush · India (Nanda · Maurya · Sunga · Satavahana · Kushan · Gupta · Harsha) · Tiongkok (Qin · Han · Jin) · Romawi (Romawi Barat · Romawi Timur) · Nirun
Imperium abad pertengahan
Ayyubiyyah · Bizantium · Hun · Turk (Turk · Timur · Barat) · Arab (Rasyidin · Umayyah · Abbasiyah · Fathimiyah · Kordoba) · Maroko (Idrisiyah · Murabithun · Muwahhidun · Mariniyah) · India (Pala · Chola · Delhi · Wijayanagara) · Persia (Thahiriyah · Samaniyah · Buwayhiyah · Saffariyah · Ziyariyah) · Ghaznawiyah · Benin · Seljuk · Oyo · Bornu · Khwarezmia · Timuriyah · Mongol (Yuan · Jochi · Chagatai · Kekhanan Il) · Kanem · Serbia · Songhai · Khmer · Bulgaria · Karoling · Romawi Suci · Anjou · Mali · Tiongkok (Sui · Tang · Song · Yuan) · Tibet · Uighur · Ghana · Aztek · Inka · Sriwijaya · Majapahit · Ethiopia (Zagwe · Salomo) · Aceh · Brunei · Vietnam (Dai Viet) · Tonga · Melaka · Demak · Mamluk Mesir · Venesia · Georgia
Imperium modern
Imperium Adidaya
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan