Sebagian besar sarjana yang mempelajari Yesus historis dan Kekristenan purba meyakini bahwa injil-injil kanonik dan riwayat hidup Yesus mesti dicermati dalam konteks sejarah dan budayanya, ketimbang semata-mata dari sudut pandang ortodoksi Kristen.[1][2] Mereka mengkaji agama Yahudi zaman Bait Allah kedua, ketegangan-ketegangan, kecenderungan-kecenderungan, dan perubahan-perubahan di kawasan yang terdampak pengaruh Helenisme dan pendudukan Romawi, serta faksi-faksi Yahudi pada masa itu, karena memandang Yesus sebagai seorang Yahudi yang hidup di lingkungan semacam itu, dan Perjanjian Baru tertulis sebagai karya sastra yang terlahir dari periode tradisi-tradisi injil lisan pascawafat Yesus.
Negeri Yudea yang sudah setengah terhelenisasi di bawah rezim Hasmoni disatukan dengan Republik Romawi sebagai kerajaan anak semang sesudah Panglima Pompeyus menundukkan Yerusalem pada tahun 64 Pramasehi. Bangsa Romawi menjadikan Yudea sebagai salah satu persimpangan menuju wilayah-wilayah dagang, dan sebagai salah satu negara penyangga yang berbatasan dengan Kekaisaran Partia. Pemerintahan langsung diberlakukan pada tahun 6 Masehi dengan dibentuknya Provinsi Yudea, dikepalai seorang prefektus yang diangkat oleh pemerintah pusat untuk menegakkan ketertiban melalui seorang pejabat daerah yang diangkat dan diberhentikan olehnya, yaitu imam besar. Seusai pemberontakan Yudas orang Galilea dan sebelum Ponsius Pilatus mulai menjabat (tahun 26 Masehi), Provinsi Yudea secara umum bergejolak tetapi mampu mengatur diri sendiri. Kerusuhan yang sesekali timbul, pemberontakan yang bersifat sporadis, dan perlawanan dengan kekerasan merupakan ancaman berkelanjutan.
Sepanjang kuartal ketiga abad pertama, konflik Yahudi-Romawi menciptakan ketegangan yang terus meningkat. Menjelang akhir kuartal ketiga abad pertama, ketegangan ini memuncak pada Perang Yahudi-Romawi yang pertama dan penghancuran Bait Allah yang kedua di Yerusalem. Perang ini secara efektif membuat Yerusalem rata dengan tanah, dan kemudian hari dibangun kembali menjadi koloni (permukiman warga negara) Romawi dengan nama Aelia Capitolina, yang tidak boleh ditinggali orang Yahudi.
Faksi, kelompok, dan kultus pada zaman penjajahan Romawi

Menurut sejarawan Yahudi-Romawi, Flavius Yosefus, ada tiga kubu dalam agama Yahudi pada masa hidupnya, yaitu Farisi, Saduki, dan Eseni. Tampaknya Eseni adalah kubu yang terpinggirkan, dan dalam beberapa kasus membentuk komunitas-komunitas semibiara yang hidup jauh dari dunia ramai. Flavius Yosefus juga menyebut tentang "gerakan yang keempat", yaitu Zelot, Lestai, atau Sicarii.

Farisi adalah kaum yang kuat di Yudea pada abad pertama Masehi. Beberapa pokok keimanan umat Kristen perdana juga merupakan pokok keimanan kaum Farisi, misalnya keimanan akan kebangkitan, keimanan akan pembalasan di akhirat, keimanan akan kewujudan malaikat, keimanan akan kebebasan manusia, dan keimanan akan penyelenggaraan Ilahi.[3] Sesudah Bait Allah yang kedua dihancurkan, fikrah kaum Farisi terlembagakan dalam agama Yahudi Rabani. Beberapa sarjana menduga-duga bahwa Yesus sendiri adalah seorang Farisi.[4] Ada dua aliran pemikiran utama di lingkungan kaum Farisi pada masa hidup Yesus, yaitu Bait Hilel, yang dipelopori oleh Tana (perawi) Hilel Sepuh, dan Bait Syamai. Para sejarawan tidak mengetahui apakah ada kaum Farisi di Galilea pada masa hidup Yesus, maupun seperti apa cara hidup dan tindak tanduk mereka pada masa itu.[5]
Kaum Saduki lebih kuat di Yerusalem. Kaum ini hanya menerima hukum tertulis, dan menolak tafsir-tafsir tradisional yang diterima kaum Farisi, misalnya keimanan akan pembalasan di akhirat, kebangkitan jasad, kewujudan malaikat-malaikat, dan kewujudan roh-roh. Pascakehacuran Yerusalem, kaum ini menghilang dari panggung sejarah.[6]
Kaum Eseni adalah kaum zahid yang percaya bahwa kiamat sudah di ambang pintu, dan merupakan salah satu dari tiga (atau empat) aliran utama dalam agama Yahudi pada masa itu, sekalipun tidak disebutkan dalam Perjanjian Baru.[7] Beberapa sarjana berteori bahwa Yesus adalah seorang Eseni atau akrab dengan kaum Eseni, salah satunya adalah Paus Benediktus XVI, yang memaparkan dugaannya dalam bukunya tentang Yesus bahwa "tampaknya bukan hanya Yohanes Pembaptis, melainkan kemungkinan besar juga Yesus dan keluarganya, akrab dengan komunitas Qumran."[8]
Kaum Zelot adalah golongan revolusioner yang menentang pemerintahan Romawi. Menurut Yosefus, kaum Zelot adalah salah satu golongan yang membangkitkan sikap fanatik di Yerusalem, yang mengakibatkan kota itu diluluhlantakkan pada tahun 70 Masehi.[9] Lukas menyifatkan Simon, salah seorang murid Yesus, sebagai "orang zelot", yang bisa berarti anggota kaum Zelot atau orang yang bersemangat juang tinggi.[9] Pendapat yang mengatakan bahwa Yesus sendiri adalah orang Zelot tidak selaras dengan citra dirinya dalam riwayat-riwayat sinoptik terdahulu.[10] Di lain pihak, menurut pandangan Dale Martin dari Universitas Yale[11] yang didukung oleh Bart Ehrman,[12] maupun oleh pandangan dalam esai yang ditulis James Still,[13] Yesus memang dicitrakan menurut fikrah akhir zaman kaum Zelot, atau fikrah akhir zaman yang penuh kekerasan.
Kaum Saduki dan kaum Farisi pada zaman penjajahan Romawi
Pada zaman penjajahan Romawi, muncul berbagai perbedaan pandangan teologis di antara kaum Saduki dan kaum Farisi. Jika kaum Saduki menyukai penafsiran terbatas atas Taurat, maka kaum Farisi justru mendalilkan kiat-kiat baru dalam mengamalkan hukum Taurat dan mencetuskan cara-cara bagi semua orang Yahudi untuk mendarahdagingkan amalan-amalan pentahiran (yang sampai saat itu terbatas di lingkungan Bait Allah) dalam kehidupan sehari-hari. Tidak seperti kaum Saduki, kaum Farisi juga mengimani (dan memperkenalkan) konsep kebangkitan orang mati di masa depan, yaitu pada zaman Mesias atau di dunia yang akan datang.[14]
Nabi-nabi baru
Pada zaman penjajahan Romawi juga muncul beberapa orang yang mengaku sebagai nabi, sehaluan dengan Elia dan Elisa. Talmud menyajikan dua contoh orang Yahudi yang bermukjizat dan hidup kurang lebih sezaman dengan Yesus. Misnah Ta'anit 3:8 beriwayat tentang "Honi Penggambar Lingkaran" yang masyhur pada abad pertama Pramasehi karena kemakbulan doanya meminta hujan. Suatu kali, ketika doanya tidak dikabulkan, Honi menggambar lingkaran di tanah, masuk ke dalam lingkaran itu, lalu berseru kepada Tuhan bahwa dia tidak akan beranjak sampai hujan turun. Ketika turun hujan rintik-rintik, Honi berseru kepada Tuhan bahwa dia belum puas dan berharap hujan turun lebih lebat lagi. Ketika turun hujan deras, Honi berseru kepada Tuhan bahwa yang dia inginkan adalah hujan yang tenang, lalu hujan deras pun berubah menjadi hujan biasa.
Misnah Berakot 5:5 beriwayat tentang Hanina ben Dosa, tokoh dari generasi sesudah Yesus, yang menyembuhkan anak laki-laki Gamaliel dengan doanya (bdk. Matius 8:5–13). Belakangan muncul pula riwayat (dalam Talmud Babli, Berakot 33a) tentang seekor kadal yang suka melukai orang-orang berlalu lalang di jalan. Hanina ben Dosa menaruh tumitnya di mulut liang kadal. Kadal itu mematuk tumit Hanina dan langsung mati.
Orang-orang semacam itu dihormati karena dianggap dekat dengan Tuhan, tetapi tidak dianggap sebagai orang suci. Kemampuan luar biasa yang mereka miliki hanya dianggap sebagai sesuatu yang sukar diketahui orang, bukan sebagai buah dari ketaatan menjalankan syariat agama Yahudi. Mereka kadang kala disangsikan dan sering kali dihormati orang, bahkan (menurut Géza Vermes) disapa dengan sebutan "tuan", kendati tidak pernah dianggap sebagai "juru selamat" maupun "mesias", oleh para pengikutnya.
Para mesias dan nabi seribu tahun
Terjemahan harfiah dari kata Ibrani masyiakh (mesias) adalah "yang diurapi", mengacu kepada upacara penyucian orang atau benda dengan cara menuangkan minyak urapan kudus ke atas orang atau benda itu. Di dalam Alkitab Ibrani, kata masyiakh digunakan untuk menyebut orang-orang maupun benda-benda, misalnya untuk menyebut raja Yahudi, imam-imam dan nabi-nabi Yahudi, Bait Allah berikut peralatannya, roti tak beragi, dan seorang Raja yang tidak berdarah Yahudi (Koresy Agung).[15]
Di ranah eskatologi Yahudi, istilah masyiakh menjadi sebutan bagi tokoh dari garis keturunan Daud yang akan muncul di masa depan, dan akan "diurapi" menjadi raja atas kerajaan Allah untuk memerintah bangsa Yahudi pada zaman Mesias. Diyakini bahwa tokoh ini adalah seorang pemimpin militer dan politik yang hebat, berasal dari keturunan Raja Daud, dan menguasai seluk-beluk syariat agama Yahudi.
Pascatumbangnya rezim Hasmoni yang disusul oleh pendudukan Romawi, wajar saja jika orang-orang Yahudi beranggapan bahwa akhir zaman sudah tiba, dan berharap rezim Romawi mendadak tumbang atau digantikan oleh pemerintahan seorang raja Yahudi.[16] Rata-rata orang Yahudi percaya bahwa perjalanan sejarah bangsa mereka diatur oleh Allah, dan itu berarti penaklukan negeri Yudea oleh bangsa Romawi juga sudah menjadi ketentuan Ilahi.[butuh rujukan] Mereka percaya bahwa pemerintahan bangsa Romawi akan tergantikan oleh pemerintahan seorang raja Yahudi semata-mata melalui campur tangan Ilahi.
Pada tahun 36 Masehi, seorang tokoh Samaria memimpin satu rombongan besar mendaki gunung Gerizim, yang mereka yakini sebagai tempat Musa memendam bejana-bejana suci. Ponsius Pilatus memblokade jalan dan membunuh pemimpin mereka. Sejarawan Yosefus, yang mengungkap prasangka umum orang Yudea terhadap orang Samaria di dalam risalahnya, menduga bahwa rombongan itu bersenjata. Tetapi orang-orang Samaria yang selamat menuntut keadilan kepada Legatus Suriah, Vitelius. Mereka mengaku tidak bersenjata, dan tindakan-tindakan Pontius Pilatus terlalu kejam. Menurut sejarawan H.H. Ben-Sasson, Samaria, sebagai bagian dari Provinsi Yudea, merupakan semacam "daerah satelit Suriah".[17] Akibatnya, Ponsius Pilatus diberangkatkan ke Roma, dan akhirnya diberhentikan dari jabatannya sebagai prefektus. Tokoh nabi lain semacam itu adalah Teudas, yang antara tahun 44 sampai 46 memimpin satu rombongan besar bergerak menuju sungai Yordan, yang katanya akan dia belah airnya. Kuspius Fadus, prokurator pengganti Ponsius Pilatus, memblokade jalan dan membunuh Teudas.
Seorang nabi "Mesir" memimpin tiga puluh ribu orang mengitari bukit Zaitun dan hendak memasuki Yerusalem, tetapi dihentikan oleh Antonius Feliks, prokurator pengganti Kuspius Fadus.
Orang Zelot, orang Sikari, dan gerombolan bandit

Saat masih berpangkat wali negeri militer Galilea, Herodes menghabiskan cukup banyak waktu untuk memerangi gerombolan bandit yang diketuai Ezekias. Gerombolan penyamun ini lebih tepat dipahami sebagai gerombolan rakyat tani yang menyasar kaum elit lokal (baik wangsa Hasmoni maupun wangsa Herodes) alih-alih Roma. Ventidius Kumanus (Prokurator Yudea tahun 48-52 Masehi) sering membalas serangan bandit dengan menghukum komunitas-komunitas rakyat tani yang ia yakini sebagai pendukung mereka. Ketika seorang peziarah dari Galilea tewas dibunuh orang Samaria di tengah perjalanan ke Yerusalem, Eliezer, ketua gerombolan bandit, menggerakkan orang-orang Galilea untuk melancarkan serangan balasan, dan Ventidius Kumanus bergerak melawan orang-orang Yahudi. Kuadratus, Legatus Suriah, turun tangan, lantas memberangkatkan beberapa orang pembesar Yahudi dan Samaria ke Roma. Kaisar Klaudius membenarkan pihak Yahudi, menjatuhkan pidana mati dan pidana buang kepada para pembesar Samaria, dan menyerahkan seseorang bernama Veler kepada orang-orang Yahudi yang kemudian memenggalnya. Dengan demikian, gejolak perlawanan kaum tani yang meluas pada masa itu bukanlah semata-mata ditujukan kepada Roma, melainkan juga mengungkap ketidakpuasan rakyat terhadap kaum elit perkotaan dan kelompok-kelompok lain. Langkah-langkah penanggulangan yang diambil oleh pemerintah Romawi ditujukan untuk membendung kekuatan gerombolan bandit sembari terus berusaha menyuburkan dukungan di tengah masyarakat Yahudi.
Di tengah kecamuk Perang Yahudi Romawi Pertama pada tahun 66, Yosefus ditugaskan untuk menjadi pemimpin pasukan di Galilea. Dia membentuk pasukan yang rata-rata anggotanya berasal dari gerombolan bandit lokal yang suka menyatroni kota-kota Yunani dan Romawi terdekat (termasuk kota-kota yang diduduki kaum elit Yahudi), termasuk pusat-pusat administrasi pemerintahan, yaitu Sepforis, Tiberias, dan Gabara (kadang-kadang disebut Gadara). Kenyataan ini menyiratkan bahwa mereka lebih mengejar keuntungan materi atau mengobarkan pemberontakan rakyat melawan kaum elit lokal, ketimbang mengobarkan revolusi politik melawan pendudukan Romawi. Ketika legiun-legiun Romawi dari Suriah tiba, pasukan bandit itu pun berangsur-angsur menghilang.
Dengan kata lain, dengan berpatokan kepada pembedaan Platonis antara material dan ideal, Paulus menunjukkan betapa Roh Kristus dapat memberi semua orang satu cara untuk menyembah Allah — yakni Allah yang dulu hanya disembah oleh umat Yahudi, sekalipun umat Yahudi mengklaim bahwa bahwa Allah yang mereka sembah adalah satu-satunya Allah bagi semua orang. Boyarin menjejaki sumber karya-karya tulis Paulus ke dalam agama Yahudi Helenistis dan berpendirian bahwa Paulus memang Yahudi luar-dalam. Namun menurutnya, teologi Paulus membuat agama Kristen versinya menjadi versi yang paling menarik bagi orang-orang non-Yahudi. Meskipun demikian, Boyarin juga melihat garap ulang Platonis ajaran-ajaran Yesus maupun ajaran-ajaran agama Yahudi Farisi sebagai unsur penentu munculnya agama Kristen sebagai agama tersendiri, sebab agama Kristen mengamini keimanan Yahudi tanpa syariat Yahudi (baca juga Perjanjian Baru).
Peristiwa-peristiwa dan kecenderungan-kecenderungan di atas menuntun kepada keretakan berangsur di antara agama Kristen dan agama Yahudi Rabani.[18][19] Menurut sejarawan Shaye J.D. Cohen, "agama Kristen purba tidak lagi menjadi salah satu aliran agama Yahudi ketika tidak lagi mengerjakan amalan-amalan Yahudi."[20]
Salah satu amalan Yahudi yang ditinggalkan oleh [Kekristenan proto-ortodoks|Kekristenan purwaortodoks]] adalah amalan khitan, yang ditolak sebagai amalan wajib oleh Konsili Yerusalem sekitar tahun 50, amalan memelihara hari Sabat dimodifikasi, mungkin sewaktu dengan penulisan Surat Ignasius kepada Jemaat di Magnesia bab 9 ayat 1,[21] dan Kuartodesimanisme (amalan merayakan Paskah setiap tanggal 14 bulan Nisan, hari persiapan Paskah Yahudi, yakni amalan yang konon berasal dari Polikarpus dan oleh sebab itu berasal dari Yohanes Rasul) secara resmi ditolak dalam Konsili Nikea Pertama.
Baca juga
- Kebudayaan Romawi kuno
- Kekaisaran Romawi
- Kesejarahan Yesus
- Kristen dan Yahudi
- Romanitas
- Sejarah Israel dan Yehuda kuno
- Seminar Yesus
- Teori mitos Kristus
- Wangsa Yulia-Klaudia
- Yesus dalam Kitab Suci Kristen
- Yesus dalam Talmud
- Yunani Helenistis
Rujukan
- ↑ Fredriksen, Paula (1988). From Jesus to Christ ISBN0-300-04864-5 hlmn. ix-xii
- ↑ Sanders, E.P. (1987). Jesus and Judaism, Fortress Press ISBN0-8006-2061-5. hlmn. 1-9
- ↑ "Pharisees", Cross, F. L., ed. The Oxford dictionary of the Christian church. New York: Oxford University Press. 2005
- ↑ Berdasarkan perbandingan injil-injil dengan Talmud dan karya-karya sastra Yahudi lainnya. Maccoby, Hyam Jesus the Pharisee, Scm Press, 2003. ISBN0-334-02914-7; Falk, Harvey Jesus the Pharisee: A New Look at the Jewishness of Jesus, Wipf & Stock Publishers (2003).ISBN1-59244-313-3.
- ↑ Funk, Robert W. dan Seminar Yesus. The acts of Jesus: the search for the authentic deeds of Jesus. HarperSanFrancisco. 1998.
- ↑ "Sadducees". Cross, F. L., ed. The Oxford dictionary of the Christian church. New York: Oxford University Press. 2005
- ↑ Berdasarkan hasil perbandingan injil-injil dengan naskah-naskah gulungan Laut Mati, khususunya naskah Guru Kebenaran dan naskah Mesias Yang Tertikam. Eisenman, Robert James the Brother of Jesus: The Key to Unlocking the Secrets of Early Christianity and the Dead Sea Scrolls, Penguin (Non-Classics), 1998. ISBN0-14-025773-X; Stegemann, Hartmut The Library of Qumran: On the Essenes, Qumran, John the Baptist, and Jesus. Grand Rapids MI, 1998. See also Broshi, Magen, "What Jesus Learned from the Essenes", Biblical Archaeology Review, 30:1, hlmn. 32–37, 64. Magen mendapati kemiripan-kemiripan antara ajaran-ajaran Yesus tentang kemiskinan dan perceraian dengan ajaran-ajaran Eseni terkait yang masing-masing dijabarkan dalam risalah Yosefus' Perang Yahudi dan naskah-naskah Dokumen Damsyik. Lih. pula Akers, Keith The Lost Religion of Jesus. Lantern, 2000. ISBN1-930051-26-3
- ↑ Joseph Ratzinger, Pope Benedict XVI, Jesus of Nazareth, hlm. 14
- 1 2 "Zealots". Cross, F. L. (penyunting), The Oxford Dictionary of the Christian Church. New York: Oxford University Press. 2005
- ↑ "Jesus Christ". Cross, F. L. (penyunting), The Oxford Dictionary of the Christian Church. New York: Oxford University Press. 2005
- ↑ "Open Yale Courses". Diarsipkan dari asli tanggal 2 April 2016. Diakses tanggal 22 April 2016.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Lydia Smith (19 September 2014). "Was Jesus Tooled Up? Bible Analysis Claims Disciples Carried Weapons During Passover". International Business Times UK. Diakses tanggal 22 April 2016.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "The Problem with Jesus' Arrest and Trial". Diakses tanggal 22 April 2016.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Ferguson, Everett (2003). Backgrounds of Early Christianity (dalam bahasa English). Grand Rapids, MI: Eerdmans. hlm. 520. ISBN 978-0802822215.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) - ↑ Ayat-ayat Tanak yang memuat kata masyiakh adalah:
- ↑ The Anchor Yale Bible Dictionary: K–N (Edisi 1). Yale University Press. 1992. hlm. 792–793. doi:10.5040/9780300261905-589. ISBN 978-0-300-26190-5.
- ↑ H.H. Ben-Sasson, A History of the Jewish People, halaman 247-248: "Oleh sebab itu, Provinsi Yudea dapat dianggap sebagai salah satu daerah satelit Suriah, kendati, jika berpatokan pada taraf kemandirian yang diberikan kepada wali negerinya dalam menangani urusan-urusan dalam negeri, maka keliru jika dikatakan bahwa Yudea zaman Yulia-Klaudia merupakan bagian yang sah dari Provinsi Suriah."
- ↑ Shaye J.D. Cohen 1987 From the Maccabees to the Mishnah Library of Early Christianity, Wayne Meeks, penyunting. The Westminster Press. 224-228
- ↑ Paula Fredriksen, 1988From Jesus to Christ, Yale University Press. 167-170
- ↑ Shaye J.D. Cohen 1987 From the Maccabees to the Mishnah Library of Early Christianity, Wayne Meeks, editor. The Westminster Press. 168
- ↑ "ANF01. The Apostolic Fathers with Justin Martyr and Irenaeus". Diakses tanggal 22 April 2016.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Sumber
Sumber primer
- Flavius Josephus, Antiquities of the Jews 93CE
- The New Testament (the half of the Christian Bible that provides an account of Jesus's life and teachings, and the orthodox history of the early Christian Church)
- The Talmud (the main compendium of Rabbinal debates, legends, and laws)
- The Tanakh (the redacted collection of Jewish religious writings from the period)
Sumber sekunder
- Akers, Keith (2000). The Lost Religion of Jesus: Simple Living and Nonviolence in Early Christianity (New York: Lantern Books). (Foreword by Walter Wink.)
- Bermejo-Rubio, Fernando (2017). Feldt, Laura; Valk, Ülo (ed.). "The Process of Jesus' Deification and Cognitive Dissonance Theory". Numen. 64 (2–3). Leiden: Brill Publishers: 119–152. doi:10.1163/15685276-12341457. eISSN 1568-5276. ISSN 0029-5973. JSTOR 44505332. S2CID 148616605.
- Boyarin, Daniel (1997). A Radical Jew: Paul and the Politics of Identity ISBN0-520-21214-2
- Catchpole, D. R. (1971). The Trial of Jesus: a study in the gospels and Jewish historiographyfrom 1770 to the present day Leiden: Brill
- Chilton, Bruce, Evans, Craig A. and Neusner, Jacob ed. (2002). The Missing Jesus: Rabbinic Judaism and the New Testament. ISBN0-391-04183-5.
- Cohen, Shaye J.D. (1988). From the Maccabees to the Mishnah ISBN0-664-25017-3
- Cohen, Shaye J.D. (2001). The Beginnings of Jewishness: Boundaries, Varieties, Uncertainties ISBN0-520-22693-3
- Cook, Michael (2008) Modern Jews Engage the new Testament: Enhancing Jewish Well-being in a Christian Environment, ISBN978-1-58023-313-2
- Crossan, John Dominic (1991). The Historical Jesus: The Life of a Mediterranean Jewish Peasant, ISBN0-06-061629-6
- Ehrman, Bart (2003). The New Testament: A Historical Introduction to the Early Christian Writings, ISBN0-19-515462-2
- Fredriksen, Paula Jesus of Nazareth, King of the Jews: A Jewish Life and the Emergence of Christianity ISBN0-679-76746-0
- Fredriksen, Paula (1988. From Jesus to Christ ISBN0-300-04864-5
- Meier, John P., A Marginal Jew: Rethinking the Historical Jesus,
- (1991), V.1, The Roots of the Problem and the Person ISBN0-385-26425-9
- (1994). V.2, Mentor, Message, and Miracles ISBN0-385-46992-6
- (2001). V.3, Companions and Competitors ISBN0-385-46993-4
- Neusner, Jacob Torah From our Sages: Pirke Avot ISBN0-940646-05-6
- Neusner, Jacob. Judaism When Christianity Began: A Survey of Belief and Practice. Louisville: Westminster John Knox, 2003. ISBN0-664-22527-6
- Orlinsky, H. M. ( 1971). "The Seer-Priest" in W.H. Allen The World History of the Jewish People, Vol.3: Judges pp. 269–279.
- Pagels, Elaine The Gnostic Gospels 1989 ISBN0-679-72453-2
- Sanders, E.P. (1996). The Historical Figure of Jesus, Penguin ISBN0-14-014499-4
- Sanders, E.P. (1987). Jesus and Judaism, Fortress Press ISBN0-8006-2061-5
- Schwartz, Leo, ed. Great Ages and Ideas of the Jewish People. ISBN0-394-60413-X
- Vermes, Geza Jesus the Jew: A Historian's Reading of the Gospels. ISBN0-8006-1443-7
- Vermes, Geza, The Religion of Jesus the Jew. ISBN0-8006-2797-0
- Vermes, Geza, Jesus in his Jewish context. ISBN0-8006-3623-6
| Sejarah Kekristenan: Kekristenan Purba | |||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| |||||||||||||
| SM | 1M | 2M | 3M | 4M | 5M | 6M | 7M | 8M | 9M | 10M | |||
| 11M | 12M | 13M | 14M | 15M | 16M | 17M | 18M | 19M | 20M | 21M | |||
| Abad | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Gereja perdana |
| ||||||||
| Kuno akhir | |||||||||
| Kristen Katolik (Garis waktu) | |||||||||
| Kekristenan Timur | |||||||||
| Abad Pertengahan |
| ||||||||
| Reformasi dan Protestanisme |
| ||||||||
| 1640–1789 | |||||||||
| 1789–sekarang |
| ||||||||
| Sumber sejarah |
| ||||
|---|---|---|---|---|---|
| Organisasi, Institusi | |||||
| Konsep (pilihan) | |||||
| Metodologi, Aliran (pilihan) | |||||
| Negara | |||||
| Lainnya | |||||
| Terkait | |||||