Kamis, 29 Oktober 2026
15:56 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Revisionisme sejarah

Bagikan:
Untuk penyangkalan atau distorsi catatan sejarah, lihat Negasionisme sejarah.

Dalam historiografi, istilah revisionaisme sejarah mengidentifikasikan re-interpretasi catatan sejarah. Biasanya, revisionisme sejarah menantang pandangan ortodoks yang dipegang oleh para cendekiawan profesional tentang sebuah peristiwa sejarah, atau memperkenalkan bukti baru, atau berisi motivasi dan keputusan dari orang-orang yang terlibat. Revisi catatan sejarah merefleksikan penemuan-penemuan fakta, bukti, dan interpretasi baru, yang menghasilkan sebuah sejarah yang direvisi. Dalam kasus dramatis, revisionisme melibatkan pembongkaran nilai-nilai moral lama dari para pahlawan dan musuh.

Versi yang direvisi

Abad Kegelapan

Karena teks-teks non-Latin, seperti saga-saga Norse, Gaelik dan Wales telah dianalisis dan ditambahkan kepada kanon pengetahuan tentang periode tersebut dan bukti arkeologi lebih banyak mendatangkan pencerahan, periode yang dikenal sebagai Abad Kegelapan telah menjadi titik di mana beberapa sejarawan tidak lagi meyakini bahwa istilah tersebut layak digunakan. Selain itu, istilah "Kegelapan" kurang diimplikasikan kepada budaya dan hukum, melainkan lebih kepada kurangnya beberapa teks sumber di daratan utama Eropa. Beberapa sarjana modern yang mempelajari era tersebut menghindari sitilah tersebut karena berkonotasi negatif, menganggapnya salah kaprah dan tidak akurat bagi bagian manapun dari Abad Pertengahan.[1][2]

Feodalisme

Konsep feodalisme telah dipertanyakan. Para sarjana revisionis yang dipimpin oleh sejarawan Elizabeth A. R. Brown menyangkal istilah tersebut.

Lihat pula

Catatan

  1. ↑ Snyder, Christopher A. (1998). An Age of Tyrants: Britain and the Britons A.D. 400–600. University Park: Pennsylvania State University Press. hlm. xiii–xiv. ISBN 0-271-01780-5., for example. This work contains over 100 pages of footnoted citations to source material and bibliographic references (pp. 263–387). In explaining his approach to writing the work, he refers to the "so-called Dark Ages", noting that "Historians and archaeologists have never liked the label Dark Ages ... there are numerous indicators that these centuries were neither "dark" nor "barbarous" in comparison with other eras."
  2. ↑ Jordan, Chester William (2004). Dictionary of the Middle Ages, Supplement 1. Verdun, Kathleen, "Medievalism" pp. 389–397. Sections 'Victorian Medievalism', 'Nineteenth-Century Europe', 'Medievalism in America 1500–1900', 'The 20th Century'. Same volume, Freedman, Paul, "Medieval Studies", pp. 383–389.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan