Jumat, 16 Oktober 2026
02:04 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M
Stupa

Stupa

Struktur mirip gundukan yang berisi relik Buddha, digunakan sebagai tempat meditasi

Bagikan:
Terjemahan dari
Stupa
InggrisStupa
Pali𑀣𑀼𑀩𑁂 ("thube"), thūpa
Sanskertaस्तूप
Tionghoa窣堵坡
(Pinyin: sūdǔpō)
Jepang卒塔婆
(rōmaji: sotoba)
Korea솔도파
(RR: soldopha)
Mongoliaсуварга
Tibetམཆོད་རྟེན་
(mchod rten (chorten))
Bengaliস্তূপ
Myanmarစေတီ
(MLCTS: zèdì)
Thaiสถูป (RTGS: sa thup)
เจดีย์ (RTGS: chedi)
VietnamPhù đồ
Khmerចេតិយ
(UNGEGN: caetdəy)
Sinhalaදාගැබ්
(dagab)
Tamilதாது கோபுரம்
Daftar Istilah Buddhis
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya

Stupa (Sanskerta: स्तूप, stūpa; Pali: thūpa) merupakan lambang dari agama Buddha yang berbentuk mangkuk terbalik. Pada bagian atas puncak mangkuk terbalik tersebut terdapat bagian berbentuk persegi empat atau segi delapan yang berbentuk tongkat di atasnya. Stupa merupakan identitas yang menandakan suatu bangunan suci beragama Buddha. Di beberapa wilayah di dunia, stupa menjadi tanda bagi tempat penguburan untuk barang peninggalan yang berharga. Peninggalan barang berharga itu dapat berupa bagian darir Buddha, mangkuk dan jubahnya, replika cap kaki, serta berbagai material lainnya yang penting dan berhubungan dengan Buddha.[1]

Asal-usul Stupa

Bentuk stupa adalah setengah bola yang dibuat oleh manusia. Bentuk stupa dari pra-Buddha India merupakan tempat penguburan tanah yang beratapkan tiang kayu. Bentuk tersebut melambangkan hubungan antara surga, dunia, dan keadaan di bawah dunia. Di Ceylon dan Srilanka, terdapat penyebutan lain untuk menyebut stupa, yakni dagob. Di Thailand, penyebutan nama stupa disebut dengan cedi. Seorang peneliti bernama Nitin Kumar menyebutkan bahwa stupa dibuat dengan lima komponen unsur kosmik pembentuk alam semesta, yakni tanah, air, api, udara, dan ruang. Selain unsur kosmik, bentuk fisik Buddha juga direpresentasikan ke dalam bentuk stupa. Pada stupa digambarkan alas stupa yang merupakan representasi kaki Buddha, kubah stupa merupakan bagian tubuh Buddha, dan kepala yang diperlihatkan dalam bentuk kubus yang terdapat di antara kubah dan ouncak kerucut stupa.[2]

250px-Borobudur_stupas_on_upper_terrace.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Stupa Candi Borobudur

Di India kuno, bangunan stupa digunakan sebagai makam, tempat menyimpan abu kalangan bangsawan atau tokoh tertentu. Di kalangan Buddhis, stupa menjadi tempat menyimpan relik Buddha. Setelah wafat lalu dikremasi, sisa pembakaran yang berupa kristal yang juga disebut sebagai relik atau sarira disimpan dalam delapan stupa terpisah yang didirikan di India Utara. Dalam perkembangannya, stupa menjadi lambang Agama Buddha. Semasa pemerintahan Ashoka, dibangun banyak stupa untuk menanandakan kedudukan Agama Buddha sebagai agama utama di India. Demikian pula di Asia Timur dan Asia Tenggara, stupa didirikan sebagai bukti pengakuan terhadap Agama Buddha di wilayah yang bersangkutan. Bagi kita sekarang, stupa dapat menjadi petunjuk seberapa luas Agama Buddha tersebar di suatu wilayah.

Sebagai lambang perjalanan Sang Buddha mencapai pencerahan, bangunan terdiri atas 3 bagian, yaitu andah, yanthra, dan cakra. Pembagian dan maknanya tidak jauh berbeda dengan candi.
Bangunan stupa di Indonesia memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan di India maupun di Asia Timur. Di tempat lain banyak bangunan stupa yang berdiri sendiri. Sedangkan di Indonesia, lebih sering dijumpai bangunan stupa yang menjadi bagian candi, seperti Candi Mendut dan Candi Borobudur.

Bentuk-bentuk Stupa

Stupa yang tersebar di beberapa wilayah di belahan dunia memiliki bentuk-bentuk khas yang mencirikan wilayah setempatnya. Meski demikian, bentuk-bentuk stupa secara umum berkembang dari dasar yang sama, yakni Prasadha, Anda, Harmika, dan Yasthi. Prasadha stupa merupakan bagian yang terdiri atas susunan tingkatan-tingkatan berbingkai atau berpelipit. Bagian Anda stupa merupakan bagian badan stupa yang berbentuk seperti setengah bola atau berbentuk lonceng. Bentuk yang disebut dengan harmika pada stupa adalah bagian yang berada di atas bagian anda stupa yang berbentuk menyerupai bantalan persegi.[3]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Mentari, Gaya (2020). Makna-makna Stupa Candi Borobudur. Yogyakarta: Alif Gemilang Pressindo. hlm. 17. ISBN 9786023961306.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Miksic, John (1991). Borobudur: Golden Tales of Buddhas. Singapura: Periplus. hlm. 49.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ Mentari, Gaya (2020). Makna-makna Stupa Candi Borobudur. Yogyakarta: Alif Gemilang Presindo. hlm. 23. ISBN 9786023961306.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)


Ikon rintisan

Artikel bertopik bangunan dan struktur ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan