Senin, 02 November 2026
18:56 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Bahasa Kerinci

Bahasa Kerinci

bahasa suku Kerinci yang berasal dari tanah Kerinci di Sumatera

Bagikan:
Bahasa Kerinci
BPS: 0026 0
Basê Kincai
Pengucapan[ba.səkiɲ.t͡ʃai̯]
Dituturkan di Indonesia
 Malaysia
 Bahrain
Wilayah Jambi
 Negeri Sembilan
 Selangor
EtnisKerinci
Penutur
(254.125 per Jambi, 2000)[1]
25.000 (Bahrain, 2004)[2]
Tampilkan klasifikasi manual
Tampilkan klasifikasi otomatis
Latin
Incung
Status resmi
Diakui sebagai
bahasa minoritas di
Diatur olehBadan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Kode bahasa
ISO 639-3kvr
Glottologkeri1250
Linguasfer33-AFA-da
IETFkvr
BPS (2010)0026 0
Informasi penggunaan templat
Status pemertahanan
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
EGIDS SIL Ethnologue: C6b ThreatenedBahasa Kerinci dikategorikan sebagai C6b Threatened menurut SIL Ethnologue, artinya bahasa ini mulai terancam dan mengalami penurunan jumlah penutur dari waktu ke waktu
Referensi: [3]
Lokasi penuturan
500px-Kerinci_Language_Map_2.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lokasi penuturan Bahasa Kerinci
Artikel ini mengandung simbol fonetik IPA. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode. Untuk pengenalan mengenai simbol IPA, lihat Bantuan:IPA.
20px-Globe_of_letters.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Portal Bahasa
L •B •PW   
Sunting kotak info  Lihat butir Wikidata  Info templat
Cari artikel bahasa
Cari artikel bahasa
 
Cari berdasarkan kode ISO 639 (Uji coba)
 
Kolom pencarian ini hanya didukung oleh beberapa antarmuka
Artikel bahasa sembarang
Halaman bahasa acak

Bahasa Kerinci adalah bahasa Austronesia yang utamanya dituturkan oleh penduduk bersuku Kerinci di kota Sungai Penuh, kabupaten Kerinci serta sebagian Merangin dan Bungo, Jambi.[4] Bahasa ini juga dituturkan oleh diaspora Kerinci di wilayah lain di Indonesia, seperti di Sumatera Barat dan Jawa; serta di luar Indonesia seperti di Bahrain, Negeri Sembilan dan Selangor,[a] Malaysia.[2][5][6] Jumlah total penutur bahasa Kerinci diperkirakan mencapai sekitar 300 ribu (2004). Sebagai bahasa Austronesia dari sub-kelompok Melayu-Polinesia, bahasa Kerinci juga berkerabat dekat dengan bahasa Minangkabau dan bahasa Melayu Jambi.

Bahasa Kerinci memiliki keragaman yang sangat tinggi; diperkirakan terdapat 130 sub-dialek dan 7 dialek utama, yaitu dialek Gunung Raya, dialek Danau Kerinci, dialek Sitinjau Laut, dialek Sungai Penuh, dialek Pembantu Sungai Tutung, dialek Belui Air Hangat, dan dialek Gunung Kerinci.[7] Berdasarkan penghitungan dialektometri, persentase perbedaan ketujuh dialek tersebut berkisar 51%-65,50%. Sedangkan bahasa Kerinci memiliki persentase perbedaan berkisar 81%-100% jika dibandingkan dengan bahasa Bengkulu dan Minangkabau.[4]

Sejarah

Bahasa Kerinci adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Malayik. Para ahli linguistik percaya bahwa bahasa Melayu—salah satu ragam dari masing-masing ragam bahasa Malayik—awalnya berasal dari bahasa Malayik Purba yang dituturkan di daerah yang membentang antara Kalimantan Barat hingga utara pesisir Brunei sekitar tahun 1000 SM. Nenek moyangnya, bahasa Melayu-Polinesia Purba, diperkirakan berasal dari bahasa Austronesia Purba yang pecah pada tahun 2000 SM akibat perluasan besar-besaran bangsa Austronesia ke Asia Tenggara Maritim dari pulau Taiwan.[8]

Bahasa Kerinci adalah anggota dari rumpun bahasa Austronesia, yang mencangkum berbagai bahasa di Asia Tenggara, Lautan Teduh, hingga Madagaskar, dan beberapa bahasa di Asia Daratan. Uniknya, bahasa Kerinci juga memiliki beberapa fonem yang mirip dengan bahasa Austroasia.[9] Bahasa Kerinci memiliki tingkat kesalingpahaman yang tinggi dengan bahasa Minangkabau. Hal ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa di masa lalu, kemendapoan-kemendapoan Kerinci berada di dalam daerah rantau Kerajaan Pagaruyung.[10][11]

Bahasa Malagasi, bahasa Filipino, bahasa-bahasa asli Taiwan, dan bahasa Maori juga merupakan anggota rumpun bahasa ini. Meskipun setiap bahasa dari keluarga ini tidak dapat dipahami satu sama lain, kesamaan mereka agak mencolok. Banyak kata dasar yang hampir tidak berubah dari nenek moyang mereka yang sama, yaitu bahasa Austronesia Purba. Ada banyak kata sekerabat yang ditemukan dalam kata-kata dasar untuk kekerabatan, kesehatan, bagian tubuh, dan hewan umum. Bahkan penyebutan angka memiliki tingkat kesamaan yang luar biasa.

Angka dalam bahasa-bahasa Austronesia
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
PAN, ca 4000 SM *isa*DuSa*telu*Sepat*lima*enem*pitu*walu*Siwa*puluq
Kerinci
(Sungai Penuh)[12]
satauduêtigêêmpaklimòênangtujeuhsalapangsambilêngsapulouh
Minangkabau
(Indrajati-Mukomuko)
satungduotigompeklimoenamtujuhlapansamilansapuluh
Minangkabau ciekduotigoampeklimoanamtujuahsalapansambilansapuluah
Amis cecaytusatulusepatlimaenempitufalusiwapulu'
Sunda hijiduatiluopatlimageneptujuhdalapansalapansapuluh
Tsou coniyusotuyusʉptʉeimonomʉpituvoyusiomaskʉ
Tagalog isádalawátatlóápatlimáánimpitówalósiyámsampu
Ilocano maysáduatallóuppátlimáinnémpitówalósiamsangapúlo
Cebuano usáduhátulóupatlimáunompitówalósiyámnapulu
Chamorro maisa/håchahuguatulufatfatlimagunumfitiguålusiguamånot/fulu
Malagasi iray/isaroateloefatradimyeninafitovalosivyfolo
Chăm saduatlaupaklimynamtajuhdalipanthalipanpluh
Batak sadaduatoluopatlimaonompituwalusiasapuluh
Rejang[13] doduaitlaupatlêmonumtujuakdêlapênsêmbilansêpuluak
Jawa sijilorotelupapatlimanempituwolusangasepuluh
Tetun idaruatoluhatlimanenhituualusiasanulu
Biak eser/osersurukyorfyakrimwonemfikwarsiwsamfur
Fiji duaruatoluvālimaonovituwaluciwatini
Kiribati teuanauouateniuaauanimauaonouaitiuawaniuaruaiuatebuina
Sāmoa tasiluatolufālimaonofituvaluivasefulu
Hawaii kahiluakoluhālimaonohikuwaluiwa-'umi

Fonologi

Bahasa Kerinci dialek Sungai Penuh mempunyai 28 fonem, terdiri dari 8 vokal dan 20 konsonan.[12]

Vokal

Depan Madya Belakang
Tertutup i u
Tengah e ə o
Hampir Terbuka ɛ ɔ
Terbuka a

Dialek Sungai Penuh juga mempunyai diftong /ei̯/, /ɔi̯/, /ai̯/, /eu̯/, /ou̯/, /ɛu̯/, dan /au̯/ yang ada pada kata-kata bersuku kata terbuka, seperti basou /ba.sou̯/—namun, di dalam suku kata tertutup seperti laain /la.in/, kedua vokal tidak diucapkan sebagai diftong.[12][14]

Konsonan

Bibir Birgi Ronggi Pascaronggi Langit2 Langbel Cera
Sengau m n ɲ ŋ
Letup pb td kg ʔ
Afrikat t͡ʃd͡ʒ
Tiup (fv) sz (ʃ) x h
Getar/Sisi rl
Hampiran w j

Catatan ortografi:

Fonem-fonem bahasa Kerinci direpresentasikan secara ortografis sesuai dengan lambang-lambang IPA di atas, kecuali:

  • /ɔ/ ditulis ⟨ò⟩.
  • /ə/ ditulis ⟨ê⟩.
  • /e/ dan /ɛ/ ditulis ⟨e⟩.
  • /ɲ/ ditulis ⟨ny⟩ sebelum vokal, ⟨n⟩ sebelum ⟨c⟩ dan ⟨j⟩.
  • /ŋ/ ditulis ⟨ng⟩.
  • Konsonan letup celah-suara [ʔ] ditulis ⟨k⟩.
  • /t͡ʃ/ ditulis ⟨c⟩.
  • /d͡ʒ/ ditulis ⟨j⟩.
  • /ʃ/ ditulis ⟨sy⟩.
  • /x/ ditulis ⟨kh⟩.
  • /j/ ditulis ⟨y⟩.

Sistem penulisan

250px-Nama_Instansi.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Plang kantor pemerintah di Kabupaten Kerinci dan Sungai Penuh menggunakan aksara Latin dan aksara Incung

Bahasa Kerinci secara historis ditulis menggunakan Aksara Incung (disebut pula Suhat Incoung), sebuah varian aksara abugida dari kelompok Surat Ulu atau Rencong yang berakar dari aksara Pasca-Pallawa.[15] Aksara Incung umumnya ditemukan pada media tradisional seperti tanduk kerbau, ruas bambu, tulang, dan kertas kuno untuk mencatat sejarah, silsilah adat, mantra, serta prosa sastra.[16]

Saat ini, bahasa Kerinci utamanya ditulis menggunakan alfabet Latin berbasis Ejaan yang Disempurnakan (EYD) dengan penyesuaian khusus untuk merepresentasikan fonem-fonem vokal, diftong, dan konsonan khas yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia standar.

Konvensi transkripsi Latin

Transkripsi fonetis bahasa Kerinci ke dalam ejaan Latin biasanya menerapkan beberapa pedoman ortografi berikut:

  • Vokal dan Diftong:
    • Fonem vokal takbulat setengah tertutup depan [e] dan vokal takbulat setengah terbuka depan [ɛ] dituliskan sebagai e.
    • Fonem vokal madya [ə] (pepet) dituliskan sebagai ê atau e (tergantung konvensi publikasi lokal).
    • Vokal terbuka belakang [ɔ] dan [o] dituliskan sebagai o.
    • Diftong seperti [ia], [eu], atau [au] dituliskan sesuai gugus bunyi vokalnya (misalnya basou untuk [ba.sou]).
  • Konsonan:
    • Fonem sengau palatal [ɲ] dituliskan sebagai ny.
    • Fonem sengau velar [ŋ] dituliskan sebagai ng.
    • Fonem hentikan glotal [ʔ] pada posisi koda (akhir suku kata) dituliskan sebagai huruf k.
    • Fonem frikatif velar [x] atau bunyi tambahan dalam kata serapan dituliskan sebagai kh.
    • Fonem frikatif alveolar [s] serta afrikat [tʃ] dan [dʒ] dituliskan berturut-turut sebagai s, c, dan j.

Tata bahasa

Kata sifat

Dalam bahasa Kerinci, kata sifat memiliki keunikan fonologis yang membedakannya dari bahasa Melayik lainnya. Banyak kata sifat mengalami perubahan bentuk vokal atau konsonan akhir bergantung pada posisi sintaksisnya dalam kalimat (apakah berada dalam posisi predikatif absolut/akhir klausa atau posisi atributif/terikat).[17]

Sebagai contoh, penjenisan bentuk kata sifat sering dibedakan menjadi:

  • Bentuk Terikat (Absolute/Incomplete): Digunakan ketika kata sifat diikuti oleh modifier lain atau berada di tengah frasa.
  • Bentuk Bebas (Free/Complete): Digunakan ketika kata sifat berada di akhir klausa atau berdiri sendiri.

Sintaksis

Bahasa Kerinci umumnya menggunakan urutan kata Subjek-Predikat-Objek, yang mirip dengan bahasa Minangkabau dan bahasa Melayu Jambi. Penjaskes atau penjelas (modifier) dalam frasa nomina selalu mengikuti kata benda utamanya (post-nominal modifier).

  • Contoh: Uhang kaye ("Orang kaya")

Contoh

Teks berikut adalah kutipan dari terjemahan resmi Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia dalam bahasa Indonesia dan Kerinci, bersama dengan deklarasi aslinya dalam bahasa Inggris.

Inggris[18]Indonesia[19]Kerinci
(Dialek Sungai Penuh)
Universal Declaration of Human RightsPernyataan Umum tentang Hak Asasi ManusiaPanyata Saduniê Pakarò Hak-Hak Manusiò
Article 1Pasal 1Pasal 1
All human beings are born free and equal in dignity and rights. They are endowed with reason and conscience and should act towards one another in a spirit of brotherhood.Semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan hati nurani dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam semangat persaudaraan.Sadou manusiò dilahe mardikê dan nahouh darjat ugê hak-hak ngan samò. Galou uhang dibêhòi akang nga atei dan musti ideuk basamò uhang laain sarupò uhang badusanak.

Bacaan lebih lanjut

  • Prentice, D.J.; Hakim Usman, A. (1978). Kerinci sound-changes. Canberra: Pacific Linguistics.
  • Steinhauer, Hein (2002). More about Kerinci sound-changes. Leiden: Universitas Leiden.
  • Ernanda, Ernanda (2018). "Phonological and Morphological Variation in Kerinci Regional Languages". Jurnal Kebudayaan.

Rujukan

  1. ↑ "Badan Pusat Statistik". jambi.bps.go.id. Diakses tanggal 2021-12-26.
  2. 1 2 "Bahrain". Ethnologue (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-12-27.
  3. ↑ "Bahasa Kerinci". www.ethnologue.com (dalam bahasa Inggris). SIL Ethnologue.
  4. 1 2 Sugono, Dendy; Sasangka, S. S. T. Wisnu; Rivay, Ovi Soviaty (2017). Sugono, Dendy; Sasangka, S. S. T. Wisnu; Rivay, Ovi Soviaty (ed.). Bahasa dan peta bahasa di Indonesia. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 37.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ↑ "Ceramah Linguistik "Teka-Teki Bahasa Kerinci"". Diakses tanggal 2021-12-27.
  6. ↑ Between worlds : linguistic papers in memory of David John Prentice. K. Alexander Adelaar, D. J. Prentice, R. A. Blust, Australian National University. Research School of Pacific and Asian Studies. Canberra: Pacific Linguistics, Research School of Pacific and Asian Studies, the Australian National University. 2002. ISBN 0-85883-478-2. OCLC 51647238.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lain-lain (link)
  7. ↑ Budi (2018-08-22). "Kemendikbud Ungkap Penyebab Bahasa Kerinci Terancam Punah". JPNN.com. Diakses tanggal 2021-12-27.
  8. ↑ Andaya, Leonard Y. (2001), "The Search for the 'Origins' of Melayu" (PDF), Journal of Southeast Asian Studies, 32 (3): 315–330, doi:10.1017/s0022463401000169, JSTOR 20072349, S2CID 62886471, diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2017-10-11, diakses tanggal 13 Oktober 2019{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ Van Reijn, E.O. (1974). "Some Remarks on the Dialects of North Kerintji: A link with Mon-Khmer Languages." Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society, 31, 2: 130-138.
  10. ↑ Djamaris, Edwar, (1991), Tambo Minangkabau, Jakarta: Balai Pustaka.
  11. ↑ Adelaar, K. Alexander; Himmelmann, Nikolaus (2013-03-07). The Austronesian Languages of Asia and Madagascar (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 9781136755095.
  12. 1 2 3 Usman, A. Hakim (1985). Kamus Umum Kerinci-Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  13. ↑ Munir Hamidy, Badrul (1985). Kamus Lengkap Indonesia-Rejang, Rejang-Indonesia. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. xv.
  14. ↑ Syahwin, Nikelas; Zainuddin, Amir; Marah, Rusmali; Amir Hakim, Usman; Jolsnidar, Anwar (1981). Morfologi dan Sintaksis Bahasa Kerinci. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  15. ↑ Kozok, Uli (2006). "Kitab undang-undang Tanjung Tanah: naskah Melayu yang tertua". Yayasan Naskah Nusantara. ISBN 979-461-603-6.{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=Pemeliharaan CS1: terbitan berkala memiliki ISBN (link)
  16. ↑ Voorhoeve, Petrus (1970). "Kerintji Documents". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. 126 (4): 369–399. doi:10.1163/22134379-90002826.
  17. ↑ Steinhauer, Hein; Usman, A. Hakim (1989). "Notes on the history of Kerinci". Papers in South-East Asian Linguistics. 11: 177–211.
  18. ↑ Nations, United. "Universal Declaration of Human Rights". United Nations (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-12-26.
  19. ↑ "OHCHR |". www.ohchr.org. Diakses tanggal 2021-12-26.

Catatan

  1. ↑ Sungai Lui, Sungai Gahal, Sungai Semungkis, dan Pansen di Distrik Hulu Langat

Pranala luar

Kerinci di Ethnologue (ed. 24, 2021)

Aceh-Cam
Gayo-Batak
Sumatra Barat Laut
Melayu
Minangkabau
Melayu Barisan Selatan
Musi
Lampung
Lain-lain

1 Kreol • 2 Bahasa isyarat • 3 Bahasa isolat • 4 Bahasa Pidgin • 5 Tidak diklasifikasikan
a juga dituturkan di Malaysia dan/ Brunei Darussalam. • b juga dituturkan di Timor Leste, Papua Nugini dan/ negara-negara Oseania lainnya. Italik: Bahasa punah atau bahasa mati. *Catatan: Kalimantan dan Papua di sini hanya yang termasuk dalam teritori Indonesia.

Lihat pula: Daftar bahasa di Indonesia menurut BPS 2010
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan