Sabtu, 24 Oktober 2026
14:04 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung
Rumpun bahasa Melayik

Rumpun bahasa Melayik

cabang dari subrumpun bahasa Malayo-Polinesia

Bagikan:
Melayik
WilayahAsia Tenggara Maritim
Penutur
Tampilkan klasifikasi manual
Tampilkan klasifikasi otomatis
Bentuk awal
Kode bahasa
ISO 639-3–
Glottologmala1538
Lokasi penuturan
500px-Malayic_languages.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Persebaran bahasa bahasa Melayik di Asia Tenggara:
  Bahasa-bahasa Ibanik dan Dayak Melayik Barat (Kanayatn/Kendayan-Salako), juga disebut secara kolektif sebagai kelompok bahasa "Dayak Melayik" (bukan rumpun genetis)
  Bahasa-bahasa Melayik lainnya, kekerabatan antara mereka masih belum jelas
20px-Globe_of_letters.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Portal Bahasa
L •B •PW   
Sunting kotak info  Lihat butir Wikidata  Info templat
Cari artikel bahasa
Cari artikel bahasa
 
Cari berdasarkan kode ISO 639 (Uji coba)
 
Kolom pencarian ini hanya didukung oleh beberapa antarmuka
Artikel bahasa sembarang
Halaman bahasa acak

Rumpun Bahasa Melayik adalah cabang Rumpun bahasa Melayu-Polinesia (yaitu bagian dari rumpun bahasa Austronesia) yang meliputi semua bahasa yang merupakan turunan dari bahasa Melayik purba. Anggota paling utama dari subkelompok ini adalah bahasa Melayu, yang merupakan bahasa nasional di Brunei Darussalam dan Malaysia, serta menjadi dasar dari bahasa Indonesia, yang merupakan bahasa nasional di Indonesia. Rumpun bahasa Melayik juga melingkupi bahasa-bahasa daerah yang dipertuturkan oleh orang Melayu (mis. bahasa Sambas, Banjar, Kutai, Melayu Palembang, Melayu Jambi dan Melayu Musi), juga bahasa-bahasa yang dipertuturkan oleh beragam etnis lainnya di Sumatra (mis. bahasa Minangkabau, Kerinci) dan Kalimantan (mis. bahasa Iban). Kandidat terkuat bagi wilayah asal bahasa-bahasa Melayik adalah bagian barat Kalimantan.

Sejarah

Istilah "Melayuik" pertama kali diperkenalkan oleh Dyen (1965) dalam klasifikasi leksikostatistiknya terhadap bahasa-bahasa Austronesia. "Melayuik hesion" menurut Dyen memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan subkelompok Melayuik dalam bentuknya yang diterima saat ini, dan juga mencakup Aceh, Lampung, dan Madura. Nothofer (1988) mempersempit cakupan Melayuik, tetapi tetap memasukkan bahasa non-Melayuik seperti Rejang dan Embaloh:

Cakupan subkelompok Melayuik yang diterima secara universal oleh para ahli saat ini pertama kali diusulkan oleh K.A. Adelaar (1992, 1993), berdasarkan bukti fonologis, morfologis, dan leksikal.

Pengelompokan

Klasifikasi internal

Walaupun ada kesepakatan umum mengenai bahasa mana saja yang dapat diklasifikasikan sebagai bahasa Melayik, pengelompokan internal bahasa-bahasa Melayik masih diperselisihkan.

Adelaar (1993)

Adelaar (1993) mengelompokkan bahasa-bahasa Melayik sebagai berikut.[1]

Ross (2004)

Berdasarkan bukti tata bahasa, Ross (2004) membagi bahasa-bahasa Melayik menjadi dua cabang utama:[2]

  • Melayik Barat (Kendayan, Selako,)
  • Melayik Inti (ragam bahasa lainnya)

Klasifikasi ini diadopsi oleh Glottolog (Versi 3.4).

Anderbeck (2012)

Mengikuti Tadmor (2002), Anderbeck (2012) membedakan antara "rumpun bahasa Melayu" dan "rumpun bahasa Melayik" dalam diskusinya mengenai dialek-dialek yang dipertuturkan oleh Orang Laut di Kepulauan Riau. Secara tentatif, ia menggolongkan seluruh bahasa Melayik ke dalam subkelompok "Melayu", kecuali bahasa-bahasa Ibanik, Sambas, Kendayan/Selako, Keninjal, Dayak Melayik (atau "Melayik Dayak") serta "ragam bahasa yang cukup divergen" seperti bahasa Urak Lawoi' dan Duano.[3][a]

  • Ibanik
  • Sambas
  • Kendayan/Selako
  • Keninjal
  • Dayak Melayik
  • Urak Lawoi'
  • Duano
  • Melayu (mencakup seluruh bahasa Melayik lainnya)

Klasifikasi Anderbeck telah diadopsi dalam edisi ke-17 Ethnologue, dengan pengecualian bahasa Duano, yang oleh Ethnologue dimasukkan ke dalam kelompok "Melayu".[b]

Smith (2017)

Dalam disertasinya mengenai klasifikasi bahasa-bahasa seluruh Kalimantan, Smith (2017) memberikan bukti bagi sebuah subkelompok yang berisikan isolek-isolek Melayik di Kalimantan bagian barat dan Sumatra bagian selatan. Subkelompok ini ia namai "Melayik Borneo Barat".[5] Akan tetapi, bahasa-bahasa Melayik lainnya dibiarkan tetap tidak terklasifikasi.

Posisinya di dalam rumpun Austronesia

Penggolongan rumpun Melayik ke dalam subkelompok Melayu-Polinesia tidak diperselisihkan, dan ada kesepakatan umum bahwa bahasa-bahaa Chamik berkerabat erat dengan rumpun Melayik. Namun, hubungan kekerabatan yang lebih luas dari rumpun Melayik masih menjadi perdebatan. Ada dua usulan utama: Adelaar (2005), yang menempatkan rumpun Melayik di dalam subkelompok Melayu-Sumbawa, melingkupi bahasa-bahasa berikut:[6]

Blust (2010) dan Smith (2017) menempatkan rumpun Melayik di dalam subkelompok Borneo Utara Raya:[7][8]

Hipotesis Melayu-Sumbawa didasarkan pada bukti fonologis dengan sedikit bukti leksikal, sementara hipotesis Borneo Utara Raya didasarkan pada himpunan besar bukti leksikal.

Bentuk Bahasa Melayik

Keterangan

  1. ↑ Seperti Adelaar, Anderbeck mengakui kesulitan dalam mengelompokkan secara mutlak bahasa-bahasa Melayik, dan menyarankan pendekatan alternatif, yaitu menghapuskan cabang Melayu dan menempatkan seluruh bahasa Melayik secara langsung sebagai cabang-cabang utama.
  2. ↑ Klasifikasi ini masih dipakai hingga kini di edisi ke-22 (2019).[4]

Rujukan

Catatan kaki

  1. ↑ Adelaar 1993, hlm. 568.
  2. ↑ Ross 2004, hlm. 106–108.
  3. ↑ Anderbeck 2012, hlm. 284.
  4. ↑ Eberhard, Simons & Fennig 2019.
  5. ↑ Smith 2017, hlm. 197.
  6. ↑ Adelaar 2005, hlm. 358.
  7. ↑ Blust 2010.
  8. ↑ Smith 2017, hlm. 364–365.

Daftar pustaka

  • Adelaar, K. Alexander (1992). Proto-Malayic: The Reconstruction of its Phonology and Parts of its Lexicon and Morphology. Pacific Linguistics, Series C, no. 119. Canberra: Dept. of Linguistics, Research School of Pacific Studies, the Australian National University.
  • Adelaar, K. Alexander (1993). "The Internal Classification of the Malayic Subgroup". Bulletin of the School of Oriental and African Studies. 56 (3). University of London,: 566–581. JSTOR 620695.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  • Adelaar, Alexander (2005). "Malayo-Sumbawan". Oceanic Linguistics. 44 (2): 357–388. JSTOR 3623345.
  • Anderbeck, Karl (2012). "The Malayic speaking Orang Laut: Dialects and directions for research". Wacana: Journal of the Humanities of Indonesia. 14 (2): 265–312. Diakses tanggal 26 Mei 2019.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  • Bellwood, Peter; Fox, James J.; Tryon, Darrell (2006). The Austronesians: historical and comparative perspectives. ANU E Press. ISBN 978-1-920942-85-4.
  • Blust, Robert (2010). "The Greater North Borneo Hypothesis". Oceanic Linguistics. 49 (1): 44–118. JSTOR 40783586.
  • Dyen, Isidore (1965). "A Lexicostatistical classification of the Austronesian languages". International Journal of American Linguistics (Memoir 19).
  • Eberhard, David M.; Simons, Gary F.; Fennig, Charles D., ed. (2019). "Malayic". Ethnologue: Languages of the World (Edisi 22). Dallas, Texas: SIL International.
  • Nothofer, Bernd. 1975. The reconstruction of Proto-Malayo-Javanic. (Verhandelingen van het KITLV, 73.) The Hague: Nijhoff.
  • Nothofer, Bernd (1988). "A discussion of two Austronesian subgroups: Proto-Malay and Proto-Malayic". Dalam Mohd. Thani Ahmad; Zaini Mohamed Zain (ed.). Rekonstruksi dan cabang-cabang Bahasa Melayu induk. Siri monograf sejarah bahasa Melayu. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. hlm. 34–58.
  • Omar, A. H.; Yahaya, S. R. (2018). "Malayic Aborigines of Malaysia: A Study in Subgrouping" (PDF). Advances in Social Sciences Research Journal. 5 (3): 452–465. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2019-05-26. Diakses tanggal 2019-07-18.
  • Ross, Malcolm D. (2004). "Notes on the prehistory and internal subgrouping of Malayic". Dalam John Bowden; Nikolaus Himmelmann (ed.). Papers in Austronesian subgrouping and dialectology. Canberra: Research School of Pacific and Asian Studies, Australian National University. hlm. 97–109.
  • Smith, Alexander (2017). The Languages of Borneo: A Comprehensive Classification (PDF) (Ph.D. Dissertation). University of Hawai‘i at Mānoa. Diakses tanggal 26 Mei 2019.{{cite thesis}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  • Tadmor, Uri (2002). Language contact and the homeland of Malay. The Sixth International Symposium of Malay/Indonesian Linguistics (ISMIL 6). Bintan Island, 3-5 August 2002.{{cite conference}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi (link)
Aceh-Cam
Gayo-Batak
Sumatra Barat Laut
Melayu
Minangkabau
Melayu Barisan Selatan
Musi
Lampung
Lain-lain

1 Kreol • 2 Bahasa isyarat • 3 Bahasa isolat • 4 Bahasa Pidgin • 5 Tidak diklasifikasikan
a juga dituturkan di Malaysia dan/ Brunei Darussalam. • b juga dituturkan di Timor Leste, Papua Nugini dan/ negara-negara Oseania lainnya. Italik: Bahasa punah atau bahasa mati. *Catatan: Kalimantan dan Papua di sini hanya yang termasuk dalam teritori Indonesia.

Lihat pula: Daftar bahasa di Indonesia menurut BPS 2010
Utama
Resmi
Diresmikan
Minoritas
signifikan
Tionghoa
India
Keluarga
Kreol
Asli &
Pribumi
Tingkat negara
Semenanjung
Malaysia
Malaysia
Timur
Campuran
Imigran
Isyarat
Utama
Menurut negara bagian
1 Bahasa mati. 2 Bahasa yang hampir mati.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan