Jumat, 25 September 2026
04:23 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum
Sakya (klan)

Sakya (klan)

Nama klan yang terletak di India dan Nepal

Artikel ini berisi tentang klan Sakya kuno atau Republik Sakya kuno. Untuk aliran dalam Buddhisme Tibet, lihat Sakya (aliran).
Sakya
Agama Agama Weda historis, Gerakan Śramaṇa
Kasta Ksatria
Klan Suryavansha
Keturunan dari: Ikswaku, cucu dari Vivasvan (Surya)
Ibu kota Kapilavastu
250px-Tibetan_-_Buddha_Shakyamuni_-_Walters_543082_-_Three_Quarter.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddha Gautama, disebut Sakyamuni "orang bijaksana dari Sakya", orang Sakya paling terkenal. Patung duduk perunggu dari Tibet, abad ke-11.
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya

Sakya (Sanskerta: Śākya, Devanagari: शाक्य, Pāli: Sākiya, Sakka, atau Sakya[1]) adalah suatu klan dari Periode Weda akhir (1000–500 SM) dan apa yang disebut "urbanisasi kedua" (sekitar 600 SM s.d. 200 SM) di India saat ini dan Nepal saat ini, dan dibuktikan dari kitab-kitab suci Buddhis pada Zaman Besi akhir (sekitar 600–300 SM). Klan ini menghuni wilayah Magadha, terletak di selatan Nepal dan utara India, dekat Pegunungan Himalaya.

Sakya membentuk sebuah negara republik oligarkis[note 1] merdeka yang dikenal sebagai Śākya Gaṇarājya.[2] Ibu kota Sakya adalah Kapilavastu, yang mungkin terletak di Tilaurakot, Nepal saat ini atau Piprahwa, India saat ini.[3][4][5]

Orang Sakya yang paling terkenal adalah Siddharta Gautama Sakya, yang merupakan pendiri Agama Buddha (sekitar abad ke-6 hingga ke-4 SM) dan kemudian dikenal sebagai Buddha Gautama.[note 2] Siddharta adalah putra dari Śuddhodana, pemimpin terpilih dari Śākya Gaṇarājya.

Sejarah

Catatan kitab-kitab Buddhis

Orang-orang Sakya juga disebutkan dalam kitab-kitab Buddhis kemudian, termasuk Mahāvastu (sekitar akhir abad ke-2 SM), Buddhaghoṣa, dan Sumaṅgalavilāsinī, sebuah kitab komentar oleh Buddhaghoṣa mengenai Digha Nikaya (sekitar abad ke-5 M), sebagian besar dalam catatan mengenai kelahiran Buddha, sebagai bagian dari Adicchabandhu (kerabat surya)[8] atau Ādichcha dan sebagai keturunan dari raja legendaris Ikswaku:

Pada suatu ketika, di sana hidup seorang raja Śākya, seorang keturunan ras surya, yang bernama Suddhodana. Dia murni dalam perilaku, dan dicintai Śākya seperti bulan di musim gugur. DIa memiliki seorang istri, anggun, cantik, dan setia, yang bernama Maya Agung, karena kemiripannya dengan Maya sang Dewi.

— Buddhacarita of Aśvaghoṣa, I.1–2

Karya Buddhaghoṣa (II, 1–24) menelusuri asal-usul orang-orang Sakya kepada Raja Ikswaku dan memberikan silsilah mereka dari Maha Sammata, leluhur Ikswaku. Daftar ini terdiri dari nama sejumlah raja terkenal dari Dinasti Ikswaku, yang mencakup Mandhata dan Sagara.[8] Menurut kitab ini, Okkamukha adalah putra sulung Ikswaku. Sivisamjaya dan Sihassara adalah putra dan cucu laki-laki Okkamukha. Raja Sihassara memiliki delapan puluh dua ribu putra dan cucu laki-laki, yang bersama-sama dikenal sebagai orang-orang Sakya. Putra bungsu Sihassara adalah Jayasena. Jayasena memiliki seorang putra, Sihahanu, dan seorang putri, Yashodhara (jangan dikelirukan dengan istri pangeran Siddharta), yang menikah dengan Devadahasakka. Devadahasakka memiliki dua putri, Anjana dan Kaccana. Sihahanu menikahi Kaccana, dan mereka memiliki lima putra dan dua putri; Suddhodana adalah salah satunya. Suddhodana memiliki dua ratu, Maya dan Prajapati, keduanya adalah anak perempuan Anjana. Siddharta (Buddha Gautama) adalah putra Suddhodana dan Maya. Rahula adalah putra Siddharta dan Yashodara (juga dikenal sebagai Bhaddakaccana), putri dari Suppabuddha dan cucu perempuan Añjana.[9]

Kanon Pali menelusuri gotra (patrilineal) Gautama klan Sakya kepada orang bijak Rigweda Angirasa.[10][11]

250px-Mahajanapadas_%28c._500_BCE%29.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta mahajanapada dengan Republik Sakya di sebelah Shravasti dan Kosala.

Administrasi pemerintahan Sakya

Republik Sakya berjalan sebagai sebuah oligarki,[note 1] diperintah oleh sebuah dewan elite dari golongan prajurit dan menteri yang memilih pemimpinnya.[19][20][21][22]

Menurut Mahāvastu dan Sutra Lalitavistara, pusat administrasi pemerintahan Sakhya adalah santhagara ("balai pertemuan") di Kapilavastu. Sebuah bangunan baru untuk santhagara Sakya dibangun pada masa Buddha Gautama, yang diresmikan olehnya. Otoritas administrasi pemerintahan tertinggi adalah sidharth, yang terdiri dari 500 anggota, yang bertemu di santhagara untuk membahas dan menyelesaikan perkara penting. Shakya Parishad dipimpin oleh seorang raja terpilih, yang memimpin pertemuan tersebut.[8]

Catatan

  1. 1 2 Lihat:
    • Gyan Swarup Gupta, Jayant Gadkari and the Encyclopedia Britannica menggunakan istilah oligarki.[12][13][14]
    • Stephen Batchelor merujuk kepada Sakya (menggunakan ejaan alternatif Sakiya) sebagai "sebuah republik oligarkis yang agung."[15]
    • Kurt Spellmeyer: "Maka, kata terbaik untuk menggambarkan pemerintahan Sakya mungkin bukan 'republik' sama sekali. 'Oligarki' mungkin suatu pilihan yang lebih tepat: pemerintahan oleh elite."[16]
    • Pankaj Mishra: "Buddha kemungkinan besar bukan seorang pangeran, namun seorang anggota oligarki republik."[17]
    • Kenneth Pletcher, secara khusus merujuk pada Sakya dan negara-negara lain yang disebutkan: "fakta bahwa keterwakilan di majelis negara-negara yang terakhir ini terbatas pada anggota klan yang berkuasa menciptakan istilah oligarki, atau bahkan "kepala suku" lebih cocok."[18]
  2. ↑ Beberapa cerita mengenai Buddha, kehidupannya, ajarannya, dan klaim tentang masyarakat di mana dia tumbuh mungkin telah ditemukan dan diinterpolasi di kemudian hari ke dalam kitab-kitab Buddhis.[6][7]

Referensi

  1. ↑ per J. F. Fleet, "The Inscription on the Piprawa Vase", Journal of the Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland, in Pāli, "Sākiya" is used primarily to refer to people of Shakya in general; "Sakka", primarily to the Shakya country as well as to its noble families; and "Sakya", primarily to members of the Buddhist order.
  2. ↑ Groeger1, Trenkler2, Herbert1, Luigi2 (2005). ""Zen and systemic therapy: Similarities, distinctions, possible contributions of Zen theory and Zen practice to systemic therapy."" (PDF). Brief Strategic and Systematic Therapy European Review. 2: 2.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Nama numerik: daftar penulis (link)
  3. ↑ Srivastava, K.M. (1980), "Archaeological Excavations at Priprahwa and Ganwaria and the Identification of Kapilavastu", Journal of the International Association of Buddhist Studies, 3 (1): 108
  4. ↑ Tuladhar, Swoyambhu D. (November 2002), "The Ancient City of Kapilvastu - Revisited" (PDF), Ancient Nepal (151): 1–7{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Huntington, John C (1986), "Sowing the Seeds of the Lotus" (PDF), Orientations, September 1986: 54–56, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2014-11-28
  6. ↑ Gombrich, 1988, pp. 18-19, 50-51
  7. ↑ Tropper, Kurt (2013). Tibetan Inscriptions. BRILL Academic. hlm. 60–61, with footnotes 134–136. ISBN 978-90-04-25241-7.
  8. 1 2 3 Law, BC. (1973). Tribes in Ancient India, Bhandarkar Oriental Series No.4, Poona: Bhandarkar Oriental Research Institute, pp. 245–56.
  9. ↑ Misra, VS (2007). Ancient Indian Dynasties, Mumbai: Bharatiya Vidya Bhavan, ISBN81-7276-413-8, pp. 285–6.
  10. ↑ Ganga, Bahadur, Kapoor, Gautami, Himmat, Subodh (2002). The Indian Encyclopaedia: Gautami Ganga -Himmat Bahadur (Edisi Volume 9). New Delhi: Cosmo Publication. hlm. 2677. ISBN 81-7755-257-0.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  11. ↑ Edward J. Thomas, The Life of Buddha p. 22
  12. ↑ "India - Early Vedic period". Encyclopedia Britannica. Diakses tanggal Maret 18, 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  13. ↑ Gupta, Gyan Swarup (1999). India From Indus Valley Civilisation to Mauryas. South Asia Books. hlm. 183. ISBN 978-8170227632.
  14. ↑ Gadkari, Jayant (1996). Society and Religion. South Asia Books. hlm. 101. ISBN 978-8171547432.
  15. ↑ Batchelor, Stephen (2015). After Buddhism. Yale University Press. hlm. Chapter 2, Section 2, 8th Paragraph. ISBN 978-0-300-20518-3.
  16. ↑ Spellmeyer, Kurt (Spring 2017). "Is the Dharma Democratic?". Tricycle Magazine. Diakses tanggal Maret 18, 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  17. ↑ Mishra, Pankaj (2010). An End to Suffering: The Buddha in the World. Farrar, Straus and Giroux. hlm. 153.
  18. ↑ Pletcher, Kenneth (2010). The History of India. Rosen Education Service. hlm. 64. ISBN 978-1615301225.
  19. ↑ Gombrich, 1988, pp. 49-50
  20. ↑ Batchelor, Stephen (2015). After Buddhism: Rethinking the Dharma for a Secular Age. Yale University Press. hlm. 37. ISBN 978-0300205183.
  21. ↑ Schumann, H.W. (2016). Historical Buddha (Edisi New). Motilal Banarsidass. hlm. 17–18. ISBN 978-8120818170.
  22. ↑ Hirakawa, 2007, p. 21

Bibliografi

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan