Sabtu, 26 September 2026
23:16 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG
Manu (Hindu)

Manu (Hindu)

330px-Manu_and_Saptarishi.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Matsya (ikan raksasa) melindungi Waiwaswata Manu dan tujuh orang bijak pada saat Banjir Besar. Suatu lukisan miniatur buatan abad ke-19 dari Jaipur, India.
Bagian dari seri
Mitologi Hindu
Samudramantana, pengadukan Lautan Susu.
Portal Agama Hindu

Dalam agama Hindu, Manu (Dewanagari: मनु; ,IAST: Manu, मनु) adalah leluhur manusia pada setiap Manwantara, yaitu suatu kurun zaman dalam satu kalpa. Ada empat belas Manwantara, sehingga ada empat belas Manu. Menurut agama Hindu, zaman sekarang adalah Manwantara ketujuh, dan umat manusia diturunkan oleh Manu ketujuh yang bernama Waiwaswata, sebab merupakan putra Dewa Wiwaswat alias Surya.

Legenda

Menurut kepercayaan Hindu, Manu yang pertama adalah Swayambu Manu, yang dipercaya sebagai kakek moyang manusia pada Manwantara pertama. Menurut agama Hindu, Swayambu Manu menikah dengan Satarupa dan memiliki keturunan. Anak cucu dari Manu disebut Manawa (Dewanagari: मानव; ,IAST: mānava, मानव) sehingga kata 'manusia' dalam bahasa Sanskerta disebut manawa (secara harfiah berarti keturunan Manu).[1]

Menurut agama Hindu, Swayambu Manu dan Satarupa merupakan pria dan wanita pertama di dunia, atau era kehidupan pertama. Setelah masa Swayambu Manu berakhir, dunia memasuki masa Manu yang baru, dan demikian silih berganti sampai empat belas Manu terlahir ke dunia.[1]

Waiwaswata Manu, atau Manu pada masa yang sekarang, dikatakan merupakan putra dari Surya (Wiwaswan), yaitu dewa matahari menurut agama Hindu, yang menjadi leluhur manusia pada permulaan era kehidupan manusia yang sekarang. Waiwaswata Manu terlahir pada zaman Satyayuga dan mendirikan kerajaan bernama Kosala, dengan pusat pemerintahan di Ayodhya. Ia memiliki sepuluh anak: Wena, Dresnu (Dresta), Narisyan (Narisyanta), Nabaga, Ikswaku, Karusa, Saryati, Ila, Persadru (Persadra), dan Nabagarista. Dalam kitab Matsyapurana, ia muncul sebagai raja yang menyelamatkan umat manusia dari bencana air bah setelah mendapat pesan dari Wisnu yang berwujud ikan (Matsya Awatara). Kisah tersebut sepadan dengan mitos Gilgamesh dari Sumeria, serta kisah Nabi Nuh dalam agama samawi.[2]

Manwantara

Artikel utama: Manwantara

Menurut agama Hindu, keberadaan alam semesta tak lepas dari siklus kalpa. Satu kalpa berlangsung selama jutaan tahun, dan satu kalpa terdiri dari empat belas Manwantara (siklus Manu). Pada setiap Manwantara, umat manusia diturunkan oleh seorang Manu. Menurut Purana, enam Manwantara telah berlalu dan Manwantara yang ketujuh sedang berlangsung. Pada Manwantara yang sekarang, umat manusia merupakan keturunan Waiwaswata Manu. Jadi, tujuh Manwantara lainnya akan terjadi pada masa depan, dan umat manusia diturunkan oleh seorang Manu yang baru. Daftar para Manu dipaparkan di bawah ini:

Manwantara Manu
Pertama Swayambu
Kedua Swarocisa
Ketiga Utama
Keempat Tamasa
Kelima Raiwata
Keenam Caksusa
Ketujuh Waiwaswata
Kedelapan Sawarni
Kesembilan Daksasawarni
Kesepuluh Brahmasawarni
Kesebelas Darmasawarni
Kedua belas Rudrasawarni
Ketiga belas Rocya atau Dewasarni
Keempat belas Botya atau Indrasawarni

Referensi

  1. 1 2 Roshen Dalal (2010). Hinduism: An Alphabetical Guide. Penguin Books. hlm. 242. ISBN 978-0-14-341421-6.
  2. ↑ Klaus K. Klostermaier (5 Juli 2007). A Survey of Hinduism: Third Edition. SUNY Press. hlm. 97. ISBN 978-0-7914-7082-4.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Pranala luar


Manu
Kesatria
Keturunan
Swayambu Manu
Keturunan Priyabrata
Keturunan Utanapada
Dinasti Surya
Dinasti Candra
Brahmana
dan Resi
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan