Jumat, 02 Oktober 2026
06:41 WIB
TERKINI
Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 1 Oktober 2026 Turun, Cek Rincian Lengkapnya Sekarang Cuaca Waspada! 325 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Ancaman Karhutla Meningkat Regional Menko PMK Muhadjir Effendy Kunjungi Anjir Batola, Perkuat Sinergi Pembangunan Wilayah Editorial Macan Kemayoran Raih Poin Penuh di Kandang Laskar Antasari Bandar Lampung Buaya Coki Menjalani Adaptasi di Sumsel Usai Perjalanan Panjang dari Lampung Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 1 Oktober 2026 Turun, Cek Rincian Lengkapnya Sekarang Cuaca Waspada! 325 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Ancaman Karhutla Meningkat Regional Menko PMK Muhadjir Effendy Kunjungi Anjir Batola, Perkuat Sinergi Pembangunan Wilayah Editorial Macan Kemayoran Raih Poin Penuh di Kandang Laskar Antasari Bandar Lampung Buaya Coki Menjalani Adaptasi di Sumsel Usai Perjalanan Panjang dari Lampung Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti
Suku Angkola

Suku Angkola

salah satu kelompok etnik Batak

Bagikan:
Batak Angkola
Halak Angkola
ᯄᯞᯄ᯦᯲ᯀᯰᯄ᯦ᯬᯞ
60px-Kemlu_-_Mahendra_Siregar.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Raja_Inal_Siregar_as_the_Commander_of_the_13th_Regional_Military_Command_%28Merdeka%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Ramadhan_Pohan_Demokrat.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
60px-KPU_Usnan_Batubara.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Luat_Siregar%2C_Kami_Perkenalkan_%281952%29%2C_p65.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Todung.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
60px-Barus_Siregar%2C_Pekan_Buku_Indonesia_1954%2C_p225.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Ongku_p_hasibuan.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Bomer_pasaribu.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
60px-E.Hudawi_Lubis.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Andar_Amin_Harahap.jpeg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 60px-Official_Portrait_of_Abdul_Wahab_Dalimunthe_as_the_Deputy_Governor_of_North_Sumatra.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Daerah dengan populasi signifikan
Sumatera Utara
(terutama di Tapanuli Selatan, Padang Sidempuan, Padang Lawas Utara, dan Padang Lawas)
Bahasa
Bahasa Batak Angkola dan bahasa Indonesia juga digunakan.
Agama
Mayoritas
20px-Allah-green.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Islam Sunni
Minoritas
20px-Christian_cross.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Kristen (Protestan, Katolik)
Kelompok etnik terkait
Batak Toba
Batak Mandailing
Batak Simalungun
Batak Pakpak
Batak Karo
Melayu
250px-Batak_Angkola.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pakaian khas Batak Angkola terdiri dari ulos godang, ampu, dan bulang
250px-Bajuadatbatakangkolatapsel.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pria dan Wanita memakai pakaian adat Batak Angkola

Batak Angkola atau Suku Angkola merupakan salah satu kelompok etnis Batak. Tanah ulayat Batak Angkola berada di wilayah selatan Tapanuli, yakni meliputi Kabupaten Tapanuli Selatan, Kota Padang Sidempuan, Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Padang Lawas, dan sebagian Kabupaten Mandailing Natal. Sebagian kecil etnis ini juga bermukim di Perak, Selangor, dan Semenanjung Malaysia.

Suku Batak Angkola memiliki hubungan kekerabatan (tarombo) dengan marga-marga Batak Toba dan Batak Mandailing. Di samping itu, ketiganya juga saling berbagi beberapa persamaan bahasa dan budaya yang dihidupi sebagian besar masyarakatnya.[1]

Wilayah sebaran

Selama ini banyak orang menganggap penduduk asli Tapanuli Selatan semuanya etnis Batak Mandailing dan sebagian Batak Toba. Anggapan ini sangat keliru. Tapanuli Selatan sebelum pemekaran wilayah menjadi Tapanuli Selatan (Ibu Kota Padang Sidempuan, kemudian Sipirok). Mandailing Natal (beribu kota Panyabungan). Sejak dahulu kala dihuni oleh penduduk asli yang terdiri dari etnis Batak Angkola dan Batak Mandailing.

Etnis Batak Angkola mayoritas mendiami Tapanuli Selatan sekarang, ditandai dengan dominasi marga Harahap dan Siregar. Mandailing memang mayoritas mendiami daerah Mandailing Natal yang sekarang, dengan dominasi marga Nasution dan Lubis.

Dalam sejarah Tapanuli Selatan dijelaskan, Angkola mengandung dua arti penting. Angkola bisa diartikan sebagai suatu wilayah, teritori atau daerah. Makna lain, Angkola adalah sebuah etnik berdiri sendiri dan asli di Sumatera Utara ini.

Sejarah mencatat, sebelum Indonesia merdeka, Wilayah Pemerintahan di Tapanuli Selatan dahulunya bernama Afdeling. Dipimpin oleh sorang Residen dengan pusat Pemerintahan Padangsidimpuan. Membawahi 3 Onder Afdeling dan masing-masing dipimpin oleh controlleur, seterusnya membawahi Onder Distrik dipimpin oleh Asisten Demang.

Onder Afdeling di bawah Afdeling, antara lain Angkola dan Sipirok berpusat di Padangsidimpuan. Onder Afdeling Padang Lawas di Sibuhuan dan Onder Afdeling Mandailing di Kota Nopan.

Selanjutnya Onder Afdeling yang membawahi Onder Distrik. Angkola, membawahi 3 Distrik masing-masing Angkola dengan pusat Padangsidimpuan, Batang Toru di Batang Toru dan Distrik Sipirok di Sipirok. Onder Distrik ini membawahi pula Luhat/Kuria yang dipimpin oleh Kepala Kuria.

Sebelum kemerdekaan, ketiga Onder Afdeling yang ada, sama kedudukannya dengan kabupaten yang dipimpin oleh Bupati. Setelah pemulihan kekuasaan tahun 1949, seluruhnya digabung menjadi satu Kabupaten dengan pusat pemerintahan di Padangsidimpuan.

Dalam pemerintahan sekarang, Onder Afdeling Angkola sebelumnya terdiri dari tiga Onder Distrik dan beberapa Kekuriaan, berkembang menjadi beberapa kecamatan. Seperti Kuria Sipirok telah dipecah/dimekarkan menjadi beberapa Kecamatan, antara lain Sipirok, Arse (pemekaran dari Sipirok), Padangsidimpuan Timur, Saipar Dolok Hole dan Aek Bilah (pemekaran dari Saipar Dolok Hole), Batang Angkola, Sayur Matinggi, Sigalangan, hingga ke Batang Toru dengan beberapa pemekarannya, sampai kecamatan Dolok, ibukotanya Sipiongot.

Angkola adalah Etnik

Jauh sebelum kedatangan penjajah Belanda di wilayah Nusantara, kawasan Angkola telah dihuni oleh penduduk asli. Berdasarkan estimasi, keberadaan mereka dapat ditelusuri hingga sekitar 9.000 tahun sebelum Masehi. Kelompok masyarakat ini dikenal sebagai Etnik Batak Angkola, yang merupakan komunitas asli daerah Angkola dan bukan hasil pemisahan atau pecahan dari etnik lain. Keberadaan mereka dibuktikan dengan berdirinya berbagai kerajaan di wilayah tersebut, antara lain Kerajaan Sabungan (berlokasi di kaki Lubuk Raya), Batunadua, Sipirok/Parau Sorat, Siala Gundi, Muara Tais, Batang Toru dan sekitarnya, Batarawisnu, Mandalasena, serta beberapa kerajaan lainnya.

Etnik Angkola memiliki ciri tersendiri, seperti:

- Falsafah dasar “Dalihan Na Tolu”, sebagai tatanan/pandangan hidup sampai saat ini tetap dipedomani,

- Adat Istiadat Budaya,

- Pakaian Adat Tersendiri

- Kain Ulos (Abit Godang & sadun) dan kain tenun

- Bahasa dengan Aksara. Bahasa yang kaya dengan tingkatan penggunaannya; bahasa Biasa (digunakan dalam komunikasi sehari-hari), Andung (bahasa halus), Bura (bahasa Kasar) atau yang lainnya dapat diperdalam melalui Impola ni Hata. Aksara Angkola dengan tulisan tersendiri. Jika dibaca menurut ejaan Latin adalah A, HA, MA, NA, RA, TA, I, JA, PA, U, WA, SA, DA,BA, LA, NGA, KA, CA, NYA, GA, YA (Konsonan Ina ni Surat). Dilengkapi dengan symbol yang menandakan perubahan bunyi Vokal E, I, O dan U serta symbol pembatas disebut Pangolat menandakan huruf mati, misalnya NGA menjadi NG, dan lain-lainnya. Bentuk huruf/abjadnya jelas ada tersendiri lain dari aksara etnik lainnya.

- Mempunyai Kesenian dan Alat-alatnya.

- Ornamen khas.

- Tutur (adab panggilan), dalam pergaulan sehari-hari mempunyai tidak kurang dari 135 jenis Tutur/Sapaan.

- Buku Adat Batak Angkola (lengkap) ditulis oleh Stn.Tinggibarani Siregar dan lain-lain ciri khas kebudayaannya, telah dianut secara turun temurun.

Pada masa lampau, Bahasa dan Aksara Batak Angkola merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau sederajat di seluruh wilayah Tapanuli Selatan. Mata pelajaran tersebut mencakup berbagai aspek, seperti Tata Bahasa (Impola ni Hata) dan Bahan Bacaan (Turi-turian), yang seluruhnya menggunakan versi Bahasa Batak Angkola. Selain sebagai sarana pembelajaran bahasa, materi yang diajarkan juga berisi berbagai nilai dan pedoman hidup bermasyarakat yang menjadi dasar dalam pembentukan budi pekerti.

Dari perspektif genealogis, masyarakat Batak Angkola menerapkan sistem kekerabatan patrilineal, yang ditandai dengan penggunaan marga atau klan sebagai identitas utama. Beberapa marga dominan dalam komunitas ini antara lain Harahap, Siregar, dan Pane, beserta rumpun marganya masing-masing. Keseluruhan kelompok ini mendiami tiga onderdistrik yang terdapat di wilayah tersebut. Dilihat dari segi falsafah Dalihan na Tolu, hubunan kekeluargaan Batak Angkola dibagi kepada; 1. Mora, pihak keluarga pemberi boru. Mora ini mendapat posisi didahulukan karena pihak Mora dalam hubungan kekeluargaan memiliki posisi yang sangat dihormati, di samping Raja-Raja maupun Pemangku Adat; 2. Suhut dengan Kahanggi, keluarga yang mempunyai hajatan atau horja adat, termasuk di dalamnya Suhut selaku Tuan Rumah; 3. Anak Boru, yaitu pihak keluarga pemberian Boru (pangalehenan Boru).

Di dalam pelaksanaan sesuatu pekerjaan adat, masing-masing unsur Dalihan na Tolu, masih mempunyai teman kelompok (sajuguhan=sebarisan) seperti Mora dengan Mora ni Mora (biasa juga disebut Hula Dongan, Kahanggi/Suhut dengan Pariban (saudara/keluarga sepengambilan) dan Anak Boru bersama dengan Anak Borunya yaitu Pisang Raut yang sering juga disebut Piso Pangarit.

Kurang Dikenal

Banyak orang cukup mengenal kata Angkola, mengenal Sipirok, tetapi lebih banyak yang kurang mengenal Etnis Angkola. Hal ini antara lain disebabkan:

1. Adanya anggapan semua penduduk Tapanuli Bagian Selatan suku Batak Mandailing.

2. Tentang Batak Angkola, sebab terbatasnya penutur sejarah budaya Batak Angkola.

3. Kurangnya minat generasi mempelajari sejarah asal-muasal.

4. Terhadap adat istiadat dan budaya.

Tidak dapat disangkal bahwa masyarakat Tapanuli Selatan, khususnya etnik asli di wilayah tersebut, sering kali diasosiasikan sebagai bagian dari kelompok Batak Mandailing. Namun, pada kenyataannya, masyarakat Batak Mandailing sendiri tidak pernah menganggap atau menyamakan komunitas Batak Angkola dengan Batak Mandailing. Meskipun terdapat kesamaan dalam aspek adat istiadat dan budaya, perbedaan di antara keduanya tetap ada dan tidak semestinya menjadi sumber pertentangan.

250px-Ulos_paroppa_angkola.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ulos Batak Angkola

Sejarah

Suatu sumber sejarah mencatat bahwa orang Batak Angkola awalnya berkembangnya dari daerah Porboti, Padang Lawas (Padang Bolak), Tapanuli Selatan yang di kemumukan oleh B. G. Siregar dalam Surat Tumbangan Holing: Buku Pelajaran Adat Tapanuli Selatan (1984).

Padang Bolak adalah wilayah asal orang Batak Angkola, di daerah Portibi terdapat sebuah candi, yaitu candi Biara, peninggalan agama Hindu dan Buddha, pengaruh tersebut tampak juga pada tulisan Gurat Angkola, atrologi, permainan catur, dan kosakata sanskerta. Ini merupakan bukti adanya kontak dengan India dan Jawa.

Candi di Portibi ini konon berjumlah 16 buah, dan kini yang masih ada tinggal lima buah. Di antara kelima candi itu , tiga di antaranya disebut Bahal I, II, III. Pada Bahal I Tinggi candi tersisa sekitar 12 meter,berukuran 10x10 meter. Relief dinding luar berwujud orang menari. Bahal II terletak sekitar 400 meter dari Bahal I, dan terdapat gambar dewa yang sedang menari. Candi ini berada di tengah padang ilalang. Bahal I terletak di arah Timur dengan ukuran 7x7 meter. Disekitaran candi-candi terdapat banyak sisa-sisa bangunan kuno dengan kepunahannya.

Bahasa

Artikel utama: Bahasa Batak Angkola

Bahasa Batak Angkola mempunyai bahasa yang identik dengan bahasa Batak Toba dan bahasa Batak Mandailing karena domisilinya diapit oleh dua wilayah tersebut. Perbedaan hanya pada beberapa kosakata dan logatnya saat berbicara. Logat pada masyarakat Batak Angkola terdengar lebih lembut dibandingkan orang Batak Toba, dan logat Batak Angkola terdengar lebih tegas jika dibandingkan dengan Batak Mandailing.

Marga

Artikel utama: Daftar marga Batak

Marga-marga Batak Angkola meliputi;

Agama

Mayoritas masyarakat Batak Angkola menganut agama Islam. Namun terdapat sebagian yang menganut agama Kristen Protestan. Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) merupakan gereja basis bagi orang Batak Angkola yang menganut agama Kristen Protestan, dan banyak tersebar di Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kabupaten Tapanuli Utara.

Referensi

  1. ↑ Setiawan, Samhis. "Suku Batak". www.gurupendidikan.co.id. Diakses tanggal 15 Oktober 2021.
Suku bangsa di Sumatra
Batak
Melayu
Minangkabau
Melayu Bukit Barisan Selatan
Melayu Aborigin
Lampung
Kepulauan Barat Sumatera
Lain-lain
Tionghoa
Suku bangsa di Jawa

Baduy • Banten • Bawean • Betawi • Ciptagelar • Cirebon • Indo • Jawa • Kalang • Kangean • Madura • Melayu • Osing • Peranakan • Sunda • Tengger

Abui • Adang • Adonara • Alor • Amarasi • Anakalangu • Atoni • Bali • Bilba • Bima • Blagar • Boti • Bunak • Dela-Oenale • Dengka • Dhao • Ende • Hamap • Helong • Ile Ape • Kabola • Kafoa • Kamang • Kambera • Kedang • Kelon • Kemak • Ke'o • Kepo' • Kodi • Komodo • Kui • Kula • Lamaholot • Lamalera • Lamatuka • Lamboya • Lamma • Laura • Lembata Barat • Lembata Selatan • Levuka • Lewo Eleng • Lewotobi • Lio • Lole • Melayu Loloan • Kupang • Larantuka • Mamboru • Manggarai • Nage • Nedebang • Ngada • Ngada Timur • Palue • Rajong • Rembong • Retta • Ringgou • Riung • Rongga • Sabu • Sasak • Sawila • Sika • So'a • Sumba • Sumbawa • Tambora • Tereweng • Termanu • Tetun • Tewa • Tii • Uab Meto • Wae Rana • Wanukaka • Wejewa • Wersing

Suku bangsa di Kalimantan *

Abal • Agabag • Ampanang • Aoheng • Bahau • Bakati' • Bekati' Rara • Bekati' Sara • Bakumpai • Banjar • Basap • Bawo • Benyadu' • Bentian • Benuaq • Berau • Bidayuh (Biatah • Bukar-Sadong) • Bolongan • Bukit (Pitap) • Bukitan • Burusu • Dayak • Dusun (Deyah • Malang • Witu) • Embaloh • Iban (Mualang • Seberuang) • Jangkang • Kanayatn • Kayan (Busang • Mahakam • Sungai Kayan • Mendalam • Wahau) • Kebahan • Kelabit • Kembayan • Keninjal • Kenyah (Kelinyau • Wahau • Lebu' Kulit) • Kohin • Krio • Kutai (Kota Bangun • Tenggarong) • Lawangan • Lengilu • Lun Bawang • Ma'anyan • Mali • Mayau • Melayu • Modang • Ngaju (Barangas • Katingan) • Okolod • Ot Danum (Limbai) • Paku • Pasir • Pesaguan • Punan (Aput • Bukat • Hovongan • Kereho • Merah • Merap • Tubu) • Putoh • Ribun • Sa'ban • Sambas • Sanjau Basap • Sanggau • Segai • Selungai Murut • Semandang • Sembakung Murut • Siang Murung • Tagal Murut • Taman • Tausug • Tawoyan • Tidung • Tunjung • Uma' Lasan • Uma' Lung • Wehea

Suku bangsa di Sulawesi

Andio • Aralle-Tabulahan • Bada • Bahonsuai • Bajau • Balaesang • Balantak • Bambam • Banggai • Bantik • Baras • Batui • Behoa • Bentong • Bintauna • Boano • Bobongko • Bolango • Bonerate • Budong-Budong • Bugis • Bungku • Buol • Busoa • Buton (Ciacia • Kulisusu • Lasalimu • Wolio) • Campalagian • Dakka • Dampelas • Dondo • Duri • Enrekang • Gorontalo • Kaidipang • Kaili (Kaili Da'a • Kaili Ledo • Kaili Unde) • Kaimbulawa • Kalao • Kalumpang • Kamaru • Kioko • Kodeoha • Konjo Pegunungan • Konjo Pesisir • Koroni • Kumbewaha • Laiyolo • Lauje • Lemolang • Liabuku • Lindu • Lolak • Luwu • Maiwa • Makassar • Manado • Malimpung • Mamasa • Mamuju • Mandar • Melayu • Minahasa • Moma • Mongondow • Mori (Mori Atas • Mori Bawah) • Moronene • Muna • Napu • Onda'e • Padoe • Pamona • Panasuan • Pancana • Pannei • Pebato • Pendau • Polahi • Ponosakan • Rahambuu • Rampi • Ratahan • Saluan • Sangir • Sarudu • Sedoa • Seko Padang • Seko Tengah • Selayar • Suwawa • Taje • Tajio • Talaud • Taloki • Talondo' • Toala' • Tolaki • Tomadino • Tombelala • Tombulu • Tomini • Tondano • Tonsawang • Tonsea • Tontemboan • Topoiyo • Toraja • Totoli • Tukang Besi Selatan • Tukang Besi Utara • Ulumanda' • Uma • Wana • Waru • Wawonii • Wotu

Suku bangsa di Kepulauan Maluku

Alfur • Alune • Amahai • Ambelau • Ambon • Aputai • Asilulu • Babar Tenggara • Babar Utara • Bacan • Banda • Barakai • Bati • Batuley • Benggoi • Boano • Bobot • Buli • Buru • Dai • Damar Barat • Damar Timur • Dawera-Daweloor • Dobel • Elpaputih • Emplawas • Fordata • Galela • Gamkonora • Gane • Gebe • Geser-Gorom • Gorap • Haruku • Hitu • Horuru • Hoti • Huaulu • Hukumina • Hulung • Ibu • Ili'uun • Imroing • Kadai • Kaibobo • Kamarian • Kao • Karey • Kayeli • Kei • Kisar • Koba • Kola • Kompane • Kur • Laba • Laha • Larike-Wakasihu • Latu • Leti • Liana-Seti • Lisabata-Nuniali • Lisela • Lola • Loloda • Lorang • Loun • Luang • Luhu • Maba • Makian Barat • Makian Timur • Mangole • Manipa • Manombai • Manusela • Mariri • Masarete • Masela Barat • Masela Tengah • Masela Timur • Masiwang • Modole • Moksela • Naka'ela • Nila • Nuaulu (Naulu Selatan • Naulu Utara) • Nusa Laut • Oirata • Pagu • Palumata • Patani • Paulohi • Perai • Piru • Roma • Sahu • Salas • Saleman • Saparua • Sawai • Seit-Kaitetu • Selaru • Seluwasan • Sepa • Serili • Serua • Sula • Tabaru • Taliabu • Talur • Tarangan Barat • Tarangan Timur • Tela-Masbuar • Teluti • Teor • Ternate • Ternateño1 • Te'un • Tidore • Tobelo • Tugun • Togutil • Tulehu • Ujir • Waioli • Watubela • Wemale (Selatan • Utara) • Yalahatan • Yamdena

Suku bangsa di Papua *

Abinomn 3 • Abun 3 • Airoran • Ambai • Amungme • Anasi • Ansus • Arandai • Arfak (Hatam • Moile • Sough • Meyah) • Arguni • As • Asmat (Asmat Pantai Kasuari • Asmat Tengah • Asmat Utara • Asmat Yaosakor) • Atohwaim • Auye • Awbono • Awera • Awyi • Awyu • Bagusa • Baham • Barapasi • Bauzi • Bayono • Bedoanas • Beneraf • Berik • Betaf • Biak • Biga • Biritai • Bonggo • Burate • Burmeso • Burumakok • Buruwai • Busami • Citak • Dabe • Damal • Dani • Dao • Dem • Demisa • Dera • Diebroud • Dineor • Diuwe • Doutai • Duriankere • Dusner • Duvle • Edopi • Ekari • Elseng 3 • Emem • Eritai • Erokwanas • Fayu • Fedan • Foau • Gresi • Hupla • Iau • Iha • Imekko (Suabo • Kais • Puragi • Kaburi • Kokoda) • Irarutu • Iresim • Isirawa • Itik • Iwur • Jofotek-Bromnya • Kaiy • Kalabra • Kamberau • Kamoro • Kapauri • Kaptiau • Karas • Kaure • Kauwera • Kayagar • Kayupulau • Kehu 5 • Keijar • Kemberano • Kembra 5 • Kemtuik • Ketengban • Ketum • Kimaghima • Kimki • Kimyal • Kirikiri • Kofei • Kombai • Komyandaret • Konda • Koneraw • Kopkaka • Korowai • Kosare • Kowiai • Kuri • Kurudu • Kwer • Kwerba • Kwerba Mamberamo • Kwerisa • Kwesten • Kwinsu • Lani • Lepki 5 • Liki • Maden • Maibrat (Ayamaru • Karon Dori • Mare • Aifat • Aitinyo) • Mairasi • Mander • Mandobo Atas • Mandobo Bawah • Manem • Mapia • Marau • Marind (Marind Bian • Maklew-Yab • Kanum • Yei) • Masimasi • Massep 3 • Matbat • Mawes • Ma'ya (Laganyan • Kawe • Wauyai) • Mek (Kosarek • Nipsan • Nalca • Eipomek) • Mekwei • Meoswar • Mer • Mlap • Mo • Moi • Molof 5 • Mombum • Momuna • Moni • Mora • Mor • Morai • Morori • Moskona • Mpur 3 • Munggui • Murkim 5 • Muyu • Nafri • Nakai • Namla 5 • Narau • Ndom • Nduga • Ngalik • Ngalum • Nggem • Nimboran • Ninggerum • Nisa • Obokuitai • Onin • Ormu • Orya • Papasena • Papuma • Pom • Rasawa • Riantana • Roon • Samarokena • Saponi • Sauri • Sause • Saweru • Sawi • Seget • Sekar • Semimi • Sempan • Sentani • Serui-Laut • Sikaritai • Skou • Sobei • Sowanda • Sowari • Sunum • Tabla • Taikat • Tamagario • Tanahmerah • Tandia • Tangko • Tarpia • Tause • Tebi • Tefaro • Tehit • Tobati • Tofanma 5 • Towei • Trimuris • Tsaukambo • Tunggare • Una • Uruangnirin • Usku 5 • Viid • Vitou • Wabo • Waigeo • Walak • Wambon • Wandamen • Wanggom • Wano • Warembori • Wares • Waris • Waritai • Warkay-Bipim • Waropen • Wauyai • Woi • Wolai • Woria • Yahadian • Yali • Yaqay • Yarsun • Yaur • Yawa • Yeretuar • Yetfa • Yoke • Zorop

Suku bangsa lain
Lihat pula: Pribumi-Nusantara
*Catatan: Kalimantan dan Papua di sini hanya yang termasuk dalam teritori Indonesia.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan