Sabtu, 17 Oktober 2026
11:26 WIB
TERKINI
Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super
Suku Dayak Wehea

Suku Dayak Wehea

suku bangsa di Indonesia

Bagikan:
Untuk kegunaan lain, lihat Wehea dan Wehea.
Suku Dayak Wehea
Wehea
330px-Ledjie_Taq.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ledjie Taq, Kepala Adat Dayak Wehea.
Daerah dengan populasi signifikan
Kalimantan Timur
Bahasa
Bahasa Modang, Bahasa Indonesia
Agama
Kristen Protestan, Kristen Katolik, Bungan
Kelompok etnik terkait
Dayak Modang, Dayak Gaai, Dayak Kayan

Suku Dayak Wehea adalah sub suku Dayak yang mendiami 6 (enam) desa di kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur, Kalimantan Timur, Indonesia, diantaranya desa-desa:[butuh rujukan]

  1. Nehas Liah Bing
  2. Long Wehea
  3. Diaq Leway
  4. Dea Beq
  5. Diaq Lay
  6. Bea Nehas

Dewan adat Dayak Wehea

Masing-masing kepala adat dari 6 (enam) desa tersebut juga merupakan anggota Dewan Adat Dayak Wehea dengan Ketua Dewan adatnya saat ini dipimpin oleh Bapak Tleang Lung (Kepala Adat Dayak Wehea Desa Dea Beq) dengan Sekretaris Adat adalah Bapak Ledjie Be (Tetua Adat Dayak Wehea dari Desa Bea Nehas).[butuh rujukan]

Bahasa Wehea dianggap sebagai dialek bahasa Modang, padahal Dayak Wehea merupakan sub Dayak tersendiri. Dayak Wehea percaya bahwa leluhur mereka berasal dari Tiongkok Daratan, dan sub-suku dayak tertua.[1]

Hutan lindung Wehea

Suku Wehea menjaga hutan lindung yaitu Hutan lindung Wehea. "Keldung Laas Wehea Long Skung Metgueen." Deretan kata dalam bahasa Dayak Wehea itu berarti sebuah aturan: perlindungan dan pemanfaatan terbatas hutan Wehea. Adalah Ladjie Taq, kepala adat suku Wehea, bersama beberapa tokoh adat Wehea lainnya yang menetapkan aturan sejak 4 November 2004 dan secara khusus dijaga oleh Pasukan Adat Dayak Wehea atau rangers bernama Petkuq Mehuey. Dengan itu, hutan seluas 38.000 hektaree yang terletak di Muara Wahau, Kutai Timur, Kalimantan Timur, tersebut resmi menjadi kawasan hutan lindung yang dijaga secara adat oleh masyarakat Dayak Wehea. Desa Nehes Liah Bing dihuni oleh suku Dayak Wehea, yang merupakan suku tertua di aliran Sungai Wehea, atau yang sekarang lebih dikenal dengan Sungai Wahau karena kata "Wehea" sulit diucapkan oleh orang luar.[butuh rujukan]

Suku Dayak Wehea memiliki wilayah adat yang cukup luas, diantaranya pada bagian utara yang berbatasan dengan Desa Merapun dan Merabu serta desa-desa di Kecamatan Sungai Kelay dan wilayah sepanjang pegunungan hingga ke Kung Kemul serta batas Kabupaten Malinau, Kabupaten Berau, pada bagian timur berbatasan dengan Sungai Bengalon, selatan berbatasan dengan Keham (jeram) yang terletak di bagian hulu Kampung Batu Ampar, Kecamatan Batu Ampar, dan bagian barat berbatasan dengan pematang gunung pemisah antara Sungai Tlan (orang luar biasa menyebut Sungai Telen) dan Sungai Mara.[butuh rujukan]

Sejak tahun 2012, kawasan eks HPH PT. Mugi Triman diubah menjadi kawasan Reforestasi untuk Pelepasliaran Orang Utan yang dikelola bersama oleh Yayasan BOS-Foundation dan PT. Reforestasi untuk Orang Utan Indonesia (RHOI) bersama masyarakat Suku Dayak Wehea di bantaran Sungai Telen dan pola kerjasama tersebut kemudian rencananya diperbaharui pada Maret 2014.[butuh rujukan]

Sejak tahun 2005, The Nature Conservancy (TNC) sebuah lembaga konservasi yang berbasis di Amerika Serikat melakukan kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dan Lembaga Adat Dayak Wehea di Nehas Liah Bing dalam rangka pengelolaan Hutan Lindung Wehea seluas 38.000 hektare.[butuh rujukan]

Terdapat beberapa ritual penting sebagai sebuah warisan tradisi dalam Suku Dayak Wehea yang masih ada dan terus dilestarikan, yaitu Ritual Lom Plai atau Pesta Panen Padi yang biasanya berlangsung hingga sebulan penuh dan pembukaannya melalui prosesi Ngesea Egung dan puncaknya disebut Mbob Jengea serta penutupannya saat prosesi Embos Epaq Plai. Selain ritual Lom Plai, juga terdapat ritual Nemlen, yaitu sebuah ritual pendewasaan diri bagi kalangan remaja dan pemuda Wehea dan pada saat ritual tersebut pada masa lalu juga dilakukan ritual tatto bagi para perempuan adat.[butuh rujukan]

Adat istiadat Dayak Wehea

  • Lom Plai adalah upacara adat dan pesta panen Suku Dayak Wehea yang diiringi dengan tarian Hudoq. Upacara ini merupakan ungkapan rasa syukur dan harapan agar padi subur di musim tanam.[butuh rujukan]

Tokoh adat

Referensi

  1. ↑ "Preservation Of Wehea Dayak Culture And Traditions". Borneo Orangutan Survival Foundation. 2020-10-21. Diakses tanggal 2023-01-25.

Pranala luar

Abal · Abay · Agabag · Ahe · Aoheng/Penihing · Beriam · Badeng · Bahau · Bakati · Bakumpai · Banyadu · Basap · Berusu · Bentian · Benuaq · Bidayuh · Bukat · Bungan · Desa · Dusun · Dusun Deyah · Dusun Malang · Dusun Witu · Gun · Huang Tering · Iban · Jalai ·Jawatn ·Kadazan · Kebahan · Kanayatn/Kendayan · Kantuk · Katingan · Kayan · Keninjal · Ketungau · Kenyah · Kualant ·Krio · Lawangan · Lebang · Lebu' Kulit/Umaq Kulit · Limbai · Long Gelat · Long Paka · Lundayeh · Ma'anyan · Mali · Mayau · Melanau · Membulu · Merap · Meratus · Modang · Mualang · Murut · Ngaju · Orung Daan · Ot Danum · Paser ·Panyawung · Pesaguan · Paus · Punan Aput · Punan Batu · Punan Habongkot · Punan Kelay · Punan Merah · Punan Murung · Punan Tubu · Samanakng · Samihim · Saq · Sebaruk · Seputan · Simpakng · Seberuang · Siang Murung · Suhaid · Suruk · Taba ·Taman ·Tayap · Tingalan · Tunjung · Uheng Kereho · Umaq Alim · Umaq Baqa · Umaq Lasan · Undau · Wehea


Ikon rintisan

Artikel bertopik Dayak ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan