Rabu, 28 Oktober 2026
18:27 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Suku Berik

suku bangsa di Indonesia

Bagikan:
Suku Berik
Manirem Berik
Jumlah populasi
1.200 (1994)
Daerah dengan populasi signifikan
Kabupaten Sarmi, Papua, Indonesia
Bahasa
Bahasa Berik
Kelompok etnik terkait
Manirem (Ansudu •Betaf-Takar •Beneraf •Bonerif •Dabe •Maremgi •Keder •Kwesten •Mander-Borto)

Suku Berik merupakan salah satu sub-suku Manirem yang berasal dari daerah Sarmi di pesisir utara Papua, yakni di sepanjang daerah aliran Sungai Tor bagian hulu dan tengah.[1]

Suku Berik merupakan gabungan dari beberapa komunitas kampung yaitu Kanderjan, Dangken, Tenwer, dan Samanente. Keempat kampung tersebut berfungsi sebagai suku tersendiri pula, walaupun selalu menjalin hubungan untuk menjaga kesatuan. Ketika hubungan sudah terpecah seperti kelompok Sewan, mereka yang awalnya juga merupakan kelompok Berik, sudah dianggap menjadi suku lain, dan bahasa yang mereka gunakan juga mengalami pergeseran. Beberapa suku lain yang menggunakan bahasa Berik adalah suku Sapron Tani dari Kampung Safrom Tane/Safron Tane/Sakron Tane, suku Beu dari Kampung Togonfo/Teminabor, suku Sewan, suku Daranto dari Kampung Deranto, suku Waaf, dan suku Bora-Bora.[2] Suku Bora-Bora, Waaf, dan juga Guamer (suku ini sangat kecil sehingga tergabung dengan suku Daranto) lebih memiliki kesamaan budaya (mite, lagu, tarian, pakaian, sistem kekerabatan) dengan suku-suku lain di sebelah barat Sarmi, dibandingkan dengan kelompok Berik yang serumpun dengan suku Mander, Foja, ittik, Bonerif, dan Beu.[3]

Wilayah mereka di bagian utara dibatasi Kampung Omte yang ditempati oleh suku Kwesten, di bagian barat oleh suku Sapron Tani (penduduk Sungai Sapron), di bagian timur oleh suku Dabe, dan di bagian selatan oleh suku Beu dari Kampung Teminabor. Lebih selatan lagi dari suku Beu terdapat suku Waaf dan suku Daranto-Guamer, sedangkan di sebelah barat suku Sapron Tani adalah Sarma (suku Airmati/Armati), dan sebelah barat suku Waaf adalah suku Bora-Bora dan suku Segar-Tor.[2]

Bahasa

Artikel utama: Bahasa Berik

Bahasa yang dituturkan oleh etnis Berik adalah bahasa Berik, yang merupakan salah satu bahasa dalam rumpun bahasa Pegunungan Foja, lebih tepatnya dalam kelompok Orya-Tor. Bahasa Orya merupakan salah satu kerabat terdekat dengan kesamaan kata kerabat untuk kosakata dasar hingga 45%. Hal ini diperkirakan karena suku Berik bermigrasi ke wilayah mereka sekarang dari sebelah timur yaitu wilayah penutur Orya.[4] Kerabat dekat lainnya adalah bahasa Bonerif (bukan Beneraf).

Bahasa Berik terbagi menjadi beberapa dialek seperti; Berik, Sapron-tani, Beu, Sewan, Waaf, Gua-mer, dan Daranto, mengikuti komunitas kampung-kampung di sekitar wilayah Tor.[5]

Referensi

  1. ↑ Badan Pusat Statistik (21 Januari 2021), Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia (Hasil Sensus Penduduk 2020), Jakarta: Badan Pusat Statistik
  2. 1 2 Oosterwal, Gotfried (1961). People of the Tor (dalam bahasa Inggris). Assen: Van Gorkum & Comp. N.V.{{cite book}}: |access-date= memerlukan |url=
  3. ↑ Oosterwal, Gottfried (1959). "The Position of the Bachelor in the Upper Tor Territory". American Anthropologist. 61 (5). [American Anthropological Association, Wiley]: 829–838. ISSN 0002-7294. JSTOR 667009. Diakses tanggal 2026-02-01.
  4. ↑ Fields, Philip C. (1991). A Phonology of the Orya language" (dalam bahasa Inggris). ANU.
  5. ↑ Hidayah, Dr. Zulyani (2015). Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. hlm. 78. ISBN 978-979-461-929-2.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan