Rabu, 04 November 2026
02:38 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare

Suku Borto

suku bangsa di Indonesia

Bagikan:
Suku Borto
Mander-Borto
Ittik-Tor
Jumlah populasi
100–200
Daerah dengan populasi signifikan
Kabupaten Sarmi, Papua, Indonesia
Bahasa
Bahasa Itik
Kelompok etnik terkait
Manirem (Berik •Kwesten •Mander-Borto)

Suku Borto (Barto) dan Itik (Ittik, Ittik-Tor) adalah salah satu sub-suku Manirem yang mendiami sebelah timur Sungai Tor, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua, Indonesia. Saat ini, mereka tinggal di Kampung Komra/Biri II di Distrik Pantai Timur.[1] Jumlah populasinya sekitar 100 jiwa menurut sumber pertama, sedangkan menurut sumber kedua populasi suku ini sekitar 200 jiwa.[2][3] Mayoritas penduduk, sekitar 65%, menganut agama Kristen. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Itik.[3] Mereka memiliki hubungan dekat dengan suku Mander karena memiliki hubungan kakak-beradik.

Sejarah

Lokasi wilayah adat mereka di antara Sungai Bu hingga Sungai Biri. Sebelum tahun 1958, mereka sempat menetap sementara di wilayah pantai, walaupun mereka tidak memiliki hak tanah atas wilayah tersebut. Pada tahun 1958, akhirnya mereka menetap dan membangun kampung di wilayah adat mereka sendiri di Mekwer dan Bodem.[4]

Sebelumnya kelompok kecil suku Ittik yang dipimpin Sendoea memisahkan diri, dan mendirikan kampung kecil di wilayah perbukitan di antara Bu, Nongkef, dan Bodem. Karena ia dan pengikutnya, beserta keturunannya merupakan kelompok kecil sehingga mereka disebut Ittik-Tor ('suku Ittik dari kampung kecil'). Kelompok ini dianggap seperti suku sendiri oleh rumpun suku besar Ittik lainnya. Sedangkan kelompok Ittik menjalin hubungan dengan kelompok lain yang disebut suku Borto. Hubungan ini cukup erat dan kedua suku sudah terintegrasi, sehingga orang Borto disebut pula Ittik dan sebaliknya oleh suku-suku lain di wilayah Tor.[4]

Karena perbedaan cukup lama, dimana kelompok Ittik-Tor dan Ittik memiliki perbedaan budaya dan dialek bahasa. Walaupun setelah tahun 1958, mereka sudah hidup berbarengan kembali di kampung-kampung yang baru dibuka. Masing-masing kelompok memiliki ondowaffi sendiri, walaupun mereka mengakui satu korano (kepala kampung).[4]

Wilayah adat

Wilayah adat suku Ittik berbatasan di sebelah barat dengan suku Bonerif, yang menepati wilayah lebih hilir Sungai Bu (Boe). Sedangkan wilayah lebih hulu dari Sungai Bu ditempati oleh suku Mander.

Di sebelah selatan, menyusuri Sungai Bodem yang merupakan anak Sungai Boaf, akan dibatasi dengan wilayah suku Foja. Sedangkan menyusuri Sungai Nongkep (juga anak sungai Boaf) ke arah utara akan dibatasi dengan wilayah suku Beneraf (Boneraf).

Perbatasan antara wilayah suku Ittik dan Borto adalah di Sungai Boaf dan sungai Kwaritor. Wilayah sekitar Sungai Boaf dan anak-anak sungainya ke arah barat merupakan wilayah suku Ittik. Sedangkan wilayah suku Borto adalah di sebelah timur sekitar anak-anak Sungai Kwaritor hingga wilayah seberang barat Sungai Biri. Di muara Sungai Kwaritor di pesisir pantai, merupakan wilayah adat suku Betaf. Walaupun wilayah suku Borto ini sudah tidak ditempati karena kebanyakan suku Borto sudah tinggal bersama suku Ittik atau di wilayah pesisir.

Sungai Biri yang mengalir dari selatan hingga ke Timur wilayah suku Ittik dan Borto adalah perbatasan wilayah adat mereka dengan suku Wares di wilayah Selatan dan suku Ansudu di sebelah utara sekitar muara Sungai Biri di pesisir pantai.

Referensi

  1. ↑ "Etik". Peta Bahasa. Diakses tanggal 2026-01-31.
  2. ↑ Hidayah, Zulyani (2015). Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. hlm. 87. ISBN 978-979-461-929-2.
  3. 1 2 Project, Joshua. "Itik, Borto in Indonesia" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-04-23.
  4. 1 2 3 Oosterwal, Gotfried (1961). People of the Tor (dalam bahasa Inggris). Assen: Van Gorkum & Comp. N.V.{{cite book}}: |access-date= memerlukan |url=
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan