Minggu, 01 November 2026
20:39 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Suku Ngada

Suku Ngada

suku bangsa di Indonesia

Bagikan:
Ngada
Ata Ngada
250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_groep_mannen_van_de_Ngadastam_in_krijgskleding_met_lans_klewang_achterlaadgeweer_en_schild_TMnr_10006045.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pria suku Ngada berkostum pejuang dengan tombak, senapan, dan perisai, sekitar 1915–1918.
Jumlah populasi
155.000 (1975)[1]
Daerah dengan populasi signifikan
Indonesia (Ngada)
Bahasa
Ngada, Indonesia
Agama
Mayoritas Katolik Roma, minoritas Islam, Protestan, dan kepercayaan tradisional
Kelompok etnik terkait
Manggarai •Komodo •Rajong •Rembong •Riung •Rongga •Ende •Keo •Lio •Nage •Sumba

Suku Ngada (Ata Ngada; disebut juga Ngadha, Nad'a, Nga'da,[2] Bajawa,[3] atau Rokka[2]) adalah kelompok etnis yang mendiami bagian tengah Pulau Flores, terutama di Kabupaten Ngada. Populasi masyarakat Ngada berjumlah 60.000 jiwa. Mereka termasuk dalam kelompok masyarakat penutur bahasa Bima–Sumba.[1]

Mereka merupakan keturunan masyarakat adat Pulau Flores. Penduduk wilayah pesisir berada di bawah pengaruh budaya masyarakat Melayu, Bugis, dan Makassar.[1] Mereka sebagian besar menganut Katolik Roma,[4] penduduk pegunungan sebagian masih mempertahankan kepercayaan tradisional.[1]

Mata pencaharian

Secara tradisional, mereka berurusan dengan pertanian (beras, jagung, millet, tanaman komoditas – kacang-kacangan, labu, kacang tanah, sayuran, rempah-rempah), berburu, meramu, dan beternak hewan. Kerajinan anyaman tersebar luas, dan beberapa orang terlibat dalam pengerjaan logam. Komoditas utama mereka terutama makanan nabati, daging dimakan saat hari raya.[1]

Bahasa

Bahasa ibu mereka adalah bahasa Ngada yang merupakan bahasa dari rumpun besar Austronesia.[5] Hal ini terkait dengan bahasa-bahasa terdekat yang ada di Pulau Flores dan sekitarnya (termasuk bahasa Nage-Kéo, Ende, Lio, dan Palue yang bergabung dalam keluarga bahasa Flores Tengah), lalu dengan bahasa Manggarai.[4] Terdapat sebuah publikasi yang dikhususkan untuk bahasa dan budaya Ngada.[6] Pada abad ke-20, misionaris Paul Arndt melakukan penelitian di wilayah tersebut.[7]

Klasifikasi dan perbedaan

Mereka umumnya bermukim di Kabupaten Ngada. Namun wilayah ini juga dihuni oleh suku lain sehingga dapat menimbulkan kesalahpahaman.[8] Tegasnya suku Ngada adalah masyarakat daerah Bajawa.[9] Komunitas terdekat (seperti suku Riung, Rongga, Nage-Kéo, dan Palue) kadang-kadang dianggap sebagai sub-kelompok Ngada[2] atau sebagai kelompok populasi terkait.[5] Publikasi Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia (2015), menggunakan istilah "Ngada" secara luas, memperkirakan jumlah penduduknya mencapai 155.000 jiwa (berdasarkan data tahun 1975).[2]

Struktur sosial

Struktur sosial suku Ngada didasarkan pada keluarga matrilineal, yang membedakan mereka dari beberapa kelompok etnis tetangganya.[8]

Lihat juga

Referensi

Catatan kaki

  1. 1 2 3 4 5 Narody. sfnp error: tanpa target: CITEREFNarody (bantuan)
  2. 1 2 3 4 Hidayah. sfnp error: tanpa target: CITEREFHidayah (bantuan)
  3. ↑ Hidayah & I Wayan Arka. sfnp error: tanpa target: CITEREFHidayahI_Wayan_Arka (bantuan)
  4. 1 2 Melalatoa. sfnp error: tanpa target: CITEREFMelalatoa (bantuan)
  5. 1 2 Narody & Melalatoa. sfnp error: tanpa target: CITEREFNarodyMelalatoa (bantuan)
  6. ↑ glottolog & pollock. sfnp error: tanpa target: CITEREFglottologpollock (bantuan)
  7. ↑ poplawska. sfnp error: tanpa target: CITEREFpoplawska (bantuan)
  8. 1 2 I Wayan Arka. sfnp error: tanpa target: CITEREFI_Wayan_Arka (bantuan)
  9. ↑ bajawa. sfnp error: tanpa target: CITEREFbajawa (bantuan)

Bibliografi

  1. M. Junus Melalatoa (1995). Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia Jilid L–Z. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 622–625. OCLC 1027453789. Diakses tanggal 2022-08-12.
  2. Zulyani Hidayah (2015). Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia (Edisi 2). Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. hlm. 279–280. ISBN 978-979-461-929-2. OCLC 913647590. Diakses tanggal 2022-08-11.
  3. A. A. Biernowa; Walerij Aleksandrowicz Tiszkow (red.) (1998). "Ngada". Narody i rieligii mira: encykłopiedija (dalam bahasa Rusia). Moscow: Bolszaja Rossijskaja Encykłopiedija. hlm. 368. ISBN 978-5-85270-155-8. OCLC 40821169. Diakses tanggal 2022-08-11.
  4. Arka, I Wayan (2004). "Challenges and prospect of maintaining Rongga: an ethnographic report". www.academia.edu (dalam bahasa Inggris) (Edisi Proceedings of the 2004 Conference of the Australian Linguistic Society). Diakses tanggal 2022-08-12.
  5. Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin; Bank, Sebastian. "Ngad'a". glottolog.org (dalam bahasa Inggris). Glottolog 4.6. Diakses tanggal 2022-09-13.
  6. Pollock, Ian (2021). “Rich as a running stream”: The Flow of Value in Ngadhaland, Indonesia (dalam bahasa Inggris). Australian National University. doi:10.25911/318Y-B046. Diakses tanggal 2022-09-28.
  7. Indonesia’s Eastern Islands (dalam bahasa Inggris). Hawthorn, Victoria: Lonely Planet. 1998. hlm. 221. ISBN 978-0-86442-503-4. OCLC 39291005.
  8. Poplawska, Marzanna (2020). Performing Faith: Christian Music, Identity and Inculturation in Indonesia (dalam bahasa Inggris) (Edisi SOAS studies in music series). Abingdon, New York: Routledge. hlm. 166. doi:10.4324/9780429504235. ISBN 978-0-429-50423-5. OCLC 1140792343. Diakses tanggal 2023-06-07.
  9. Arka, I Wayan (2016). Bahasa Rongga: Deskripsi, Tipologi, dan Teori. Jakarta: Penerbit Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. hlm. 9. ISBN 978-602-8904-84-1. OCLC 1064980913. Diakses tanggal 2023-10-08.


Ikon rintisan

Artikel bertopik kelompok etnik ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan