Minggu, 01 November 2026
22:19 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Bahasa Benteng

Bahasa Benteng

bahasa daerah di Indonesia

Bagikan:
Artikel ini bukan mengenai Bahasa Bentong.
Bahasa Benteng
Basa Bénténg
Bahasa Melayu Benteng
Bahasa Melayu dialek Tionghoa Benteng
Dituturkan di Indonesia
WilayahBanten (Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang Selatan)
Jawa Barat (Kabupaten Bogor)
DKI Jakarta (Kota Administrasi Jakarta Barat)
EtnisTionghoa Benteng
Penutur
tidak diketahui
Tampilkan klasifikasi manual
    • Benteng
Tampilkan klasifikasi otomatis
Kode bahasa
ISO 639-3Tidak ada (tidak ada)
GlottologTidak ada
Lokasi penuturan
500px-Map_of_Benteng_language_distribution.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lokasi penuturan bahasa Benteng
20px-Globe_of_letters.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Portal Bahasa
L •B •PW   
Sunting kotak info  Lihat butir Wikidata  Info templat
Tentang artikel
Pemberitahuan
Templat ini mendeteksi bahwa artikel bahasa ini masih belum dinilai kualitasnya oleh ProyekWiki Bahasa dan ProyekWiki terkait dengan subjek.
Perhatian: untuk penilai, halaman pembicaraan artikel ini telah diisi sehingga penilaian akan berkonflik dengan isi sebelumnya. Harap salin kode dibawah ini sebelum menilai.

{{PW Bahasa|importance=|class=}}

Terjadi [[false positive]]? Silakan laporkan kesalahan ini.

13.57, Minggu, 1 November, 2026 (UTC) • Sebanyak 1.638 artikel belum dinilai
Artikel ini belum dinilai oleh ProyekWiki Bahasa
Cari artikel bahasa
Cari artikel bahasa
 
Cari berdasarkan kode ISO 639 (Uji coba)
 
Kolom pencarian ini hanya didukung oleh beberapa antarmuka
Artikel bahasa sembarang
Halaman bahasa acak

Bahasa Benteng (basa Bénténg; disebut juga bahasa Melayu Benteng atau bahasa Melayu dialek Tionghoa Benteng) adalah ragam bahasa Melayu Pasar (terkait dengan bahasa Betawi) yang dituturkan oleh komunitas Tionghoa Benteng di wilayah Tangerang Raya dan sekitarnya. Komunitas penutur bahasa ini merupakan masyarakat peranakan Tionghoa yang secara turun-temurun menetap di sepanjang aliran Sungai Cisadane serta wilayah pedalaman hulu Tangerang dan sebagian Kabupaten Bogor bagian barat. Bahasa ini merupakan hasil dari proses kontak bahasa dan akulturasi budaya yang mendalam antara unsur bahasa Melayu, bahasa Hokkien, dan bahasa Sunda. Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bahkan telah mengkaji bahasa Benteng untuk diusulkan sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia ke Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.[1]

Sejarah

Sejarah terbentuknya bahasa Benteng tidak dapat dipisahkan dari kedatangan leluhur komunitas Tionghoa Benteng di pesisir utara Tangerang yang tercatat sejak tahun 1407, ketika rombongan kapal yang terkait dengan garis waktu ekspedisi Laksamana Cheng Ho mendarat di wilayah Teluknaga.[2] Para pendatang awal ini bermukim dan banyak yang melakukan pernikahan campur dengan wanita Sunda setempat. Pembauran alamiah yang berlangsung selama ratusan tahun ini melahirkan entitas sosial baru yang secara kultural dipengaruhi budaya lokal namun tetap mempertahankan penghormatan terhadap leluhur Tionghoa mereka.[3] Nama "Benteng" sendiri berasal dari keberadaan sebuah benteng milik VOC yang dibangun sekitar tahun 1670-an di tepi Sungai Cisadane untuk menahan serangan dari Kesultanan Banten, sehingga masyarakat peranakan yang mendiami kawasan sekitar perbentengan tersebut dijuluki sebagai orang Cina/Tionghoa Benteng.[3] Seiring waktu, interaksi yang intensif dengan berbagai variasi kebahasaan di sekitarnya membentuk ragam bahasa Melayu Pasar yang ditandai dengan pengaruh bahasa Sunda Tangerang dan penyerapan bahasa Hokkien yang mereka bawa dari tanah leluhurnya.

Distribusi geografis

Bahasa Benteng dituturkan secara tersebar di beberapa kantong pemukiman tradisional komunitas Tionghoa Benteng di wilayah Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang Selatan, hingga wilayah perbatasan Kabupaten Bogor dan Kota Administrasi Jakarta Barat. Di Kota Tangerang, wilayah tutur bahasa ini meliputi kecamatan Karawaci (kelurahan Cimone, Gerendeng, Karawaci, dan Pasar Baru), Tangerang (kelurahan Sukaasih, Sukarasa, dan Sukasari), Neglasari (kelurahan Kedaung Wetan, Mekarsari, dan Neglasari), Benda (kelurahan Belendung, Benda, dan Jurumudi), serta kecamatan Batuceper (kelurahan Batuceper). Di Kota Tangerang Selatan, bahasa ini dituturkan di wilayah kecamatan Serpong, yaitu di kelurahan Serpong.[4]

Di Kabupaten Tangerang, wilayah kantong penutur bahasa ini tersebar cukup luas meliputi kecamatan Cisauk (desa Dangdang), Pagedangan (desa Cijantra), Kelapa Dua (kelurahan Bojong Nangka), Curug (desa Curug Wetan), Legok (desa Cirarab), Cikupa (desa Cikupa), Panongan (desa Panongan dan Rancaiyuh), Tigaraksa (desa Sodong), Cisoka (desa Carenang), Mauk (desa Mauk Barat dan Tanjung Anom), Sukadiri (desa Kosambi), Pakuhaji (desa Kohod), Sepatan Timur (desa Kampung Kelor dan Kedaung Barat), Teluknaga (desa Teluknaga, Kampung Melayu Barat, Kampung Melayu Timur, Pangkalan, Tanjung Burung, dan Tegal Angus), serta kecamatan Kosambi (desa Cengklong dan kelurahan Dadap). Jejak toponimi serta bekas pemukiman lama komunitas ini juga teridentifikasi di beberapa kecamatan lain seperti Balaraja (desa Cangkudu dan Talagasari), Serpong Utara (kelurahan Pondok Jagung), dan Pondok Aren (kelurahan Pondok Aren, Pondok Kacang Barat, dan Pondok Kacang Timur).[4]

Komunitas Tionghoa Peranakan di luar wilayah Tangerang Raya yang memiliki relasi historis erat berada di Kabupaten Bogor, yakni di kampung Tarisi, desa Bagoang, kecamatan Jasinga, yang saat ini masyarakat peranakannya sudah sepenuhnya beralih menggunakan bahasa Sunda Banten.[5] Selain itu, komunitas ini juga dikenal karena keterlibatan mereka dalam sentra pembuatan golok tarisi. Masyarakat Tionghoa Peranakan lainnya yang memiliki hubungan erat berada di kecamatan Gunungsindur, di mana komunitas ini tersebar di desa Gunungsindur (terutama di kampung Prumpung), desa Pabuaran, desa Cibadung, dan desa Cibinong.[6] Di Kota Administrasi Jakarta Barat, komunitas penutur bahasa ini terutama ditemukan di wilayah yang berbatasan langsung atau berdekatan dengan Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang, terutama di kecamatan Kalideres, Kembangan, dan Cengkareng.[7]

Penggunaan

Bahasa Benteng secara struktural tata bahasa berakar pada bahasa Melayu, namun memiliki fleksibilitas tinggi dan sangat dipengaruhi oleh kondisi kebahasaan lokal tempat komunitas tersebut menetap. Pemisahan wilayah kultural oleh Sungai Cisadane turut memengaruhi kondisi kebahasaan masyarakat Tionghoa Benteng, di mana bagian barat sungai cenderung lebih dekat dengan budaya Sunda dan bagian timur lebih dekat dengan budaya Betawi.[8] Sebagian besar masyarakat Tionghoa Benteng yang tinggal di kawasan Pasar Lama (di kecamatan Tangerang), Karawaci, sebagian Neglasari, dan sebagian besar Kabupaten Tangerang memiliki kemampuan fasih menggunakan bahasa Sunda dialek Tangerang. Sementara itu, masyarakat Tionghoa Benteng yang mendiami kecamatan Benda, Batuceper, Serpong, Teluknaga, Kosambi, sebagian Neglasari, Sepatan Timur, Pakuhaji, serta sebagian Gunungsindur (seperti kampung Prumpung dan desa Cibinong) mayoritas menggunakan bahasa Betawi Pinggiran. Adapun di wilayah pesisir utara seperti kecamatan Mauk, masyarakatnya mampu berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa dialek Mauk. Bagi sebagian komunitas Tionghoa Peranakan di Gunungsindur yang tinggal di desa Gunungsindur, Cibadung, dan Pabuaran, percampuran terjadi antara bahasa Sunda dialek setempat (peralihan Sunda Bogor dan Sunda Banten) dan bahasa Betawi Pinggiran.[9]

Secara leksikal, bahasa Benteng menyerap banyak kosakata dari berbagai bahasa di sekitarnya. Salah satu korpus kosakata yang paling kokoh bertahan hingga saat ini adalah sistem peristilahan kekerabatan (kinship terminology) yang didominasi oleh kosakata serapan dari bahasa Hokkien.[10] Istilah kekerabatan ini membedakan garis keturunan ayah (patrilineal) dan ibu (matrilineal) secara ketat, serta membedakan sapaan berdasarkan urutan kelahiran di dalam keluarga. Sebagai contoh, untuk memanggil kakak laki-laki tertua digunakan istilah kode, sedangkan kakak laki-laki secara umum dinamakan koko, dan adik laki-laki bungsu dipanggil kocit.[11][12] Pembedaan ini juga berlaku untuk generasi di atas (ego) seperti paman dari pihak ayah (empek untuk kakak ayah, cekcek untuk adik ayah) dan bibi dari pihak ayah (ode untuk kakak perempuan ayah, ocing untuk adik perempuan ayah urutan tengah, dan ocit untuk adik perempuan paling bungsu).[10] Hubungan timbal balik kebahasaan ini bersifat dua arah; bahasa Benteng tidak hanya menyerap unsur bahasa Melayu, Sunda, dan Jawa, tetapi sebaliknya turut memberikan kontribusi berupa kosakata serapan kultural ke dalam struktur bahasa daerah setempat.[13]

Lihat juga

Referensi

  1. ↑ Pemerintah Kota Tangerang (2025-02-06). "Disbudpar Kota Tangerang Usulkan Tiga Warisan Budaya Tak Benda di 2025". tangerangkota.go.id. Diakses tanggal 2026-10-24.
  2. ↑ Haryani, Elma (2020). "Masyarakat Cina Benteng Kota Tangerang dan Model Ketahanan Budaya Keagamaan". Jurnal Lektur Keagamaan. 18 (2): 399–428. doi:10.31291/jlk.v18i2.799.
  3. 1 2 Arshad, Arlina (2026-02-19). "Peranakan pride: Indonesia's 'tan but Chinese' Benteng people revive their fading heritage". The Straits Times. Diakses tanggal 2026-10-24.
  4. 1 2 "Map of the Distribution of Cina Benteng Settlement in Tangerang Banten". ResearchGate. Diakses tanggal 24 Oktober 2026.
  5. ↑ Nugraha, Ade (2016-04-01). "Masyarakat Kampung Cina Tarisi dan Golok Cheng Liem". Kalakay Jasinga. Diakses tanggal 2026-10-25.
  6. ↑ Mulyana, Eka (2025-01-23). "Warga Tionghoa di Gunung Sindur Bogor Sambut Imlek dengan Berbagi Ratusan Sembako". rasioo.id. PT Rasio Media Siber. Diakses tanggal 2026-10-25.
  7. ↑ Asgart, Sofian Munawar; Hafidiyanto, Arief; Islamiati, Dini; Ahsinin, Adzkar; Yeka, Sulatri; Suarlina, Yane (2006). Komunitas Cina Benteng (Cibet) di Tangerang: Potret Pembauran di Tingkat Lokal (PDF) (Laporan). Riset Unggulan Kemitraan dan Kemasyarakatan (RUKK), Kementerian Riset dan Teknologi. hlm. 1–52. Diakses tanggal 2026-10-26.
  8. ↑ Liputan6 (2016-09-13). "Sungai Cisadane Membelah Sunda dan Betawi". liputan6.com. Diakses tanggal 2026-10-24.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Nama numerik: daftar penulis (link)
  9. ↑ Al-Ayyubi, Sholahuddin (2016). "Cina Benteng: Pembauran Dalam Masyarakat Majemuk di Banten". Kalam. 10 (2): 313–348. doi:10.24042/klm.v10i2.4. Diakses tanggal 2026-10-26.
  10. 1 2 Kumala, Sonya Ayu; Lauder, RMT Multamia; Datang, Frans Asisi; Firdaus, Winci (2023). "Istilah Kekerabatan pada Masyarakat Cina Benteng". Widyaparwa. 51 (1): 229–246. doi:10.26499/wdprw.v51i1.1372.
  11. ↑ Noni, Nancy (2015-02-11). "Kamus bahasa Benteng". nancynoni.wordpress.com. Diakses tanggal 2026-10-24.
  12. ↑ Ong, Riano Steven (2010-08-26). "Kamus Bahasa orang Cina Benteng". jigsy.com. Diakses tanggal 2026-10-24.
  13. ↑ Irawan, Yulia Nurul (2014). "Pergeseran Bahasa Mandarin Dialek Hokkian pada Keluarga Etnis Cina Benteng di Kelurahan Sukasari, Tangerang" (PDF). Bahtera Sastra: Antologi Bahasa dan Sastra Indonesia (Linguistik No. 1). Universitas Pendidikan Indonesia. Diakses tanggal 2026-10-26.

Pranala luar

Aceh-Cam
Gayo-Batak
Sumatra Barat Laut
Melayu
Minangkabau
Melayu Barisan Selatan
Musi
Lampung
Lain-lain

1 Kreol • 2 Bahasa isyarat • 3 Bahasa isolat • 4 Bahasa Pidgin • 5 Tidak diklasifikasikan
a juga dituturkan di Malaysia dan/ Brunei Darussalam. • b juga dituturkan di Timor Leste, Papua Nugini dan/ negara-negara Oseania lainnya. Italik: Bahasa punah atau bahasa mati. *Catatan: Kalimantan dan Papua di sini hanya yang termasuk dalam teritori Indonesia.

Lihat pula: Daftar bahasa di Indonesia menurut BPS 2010
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan