
Pasar Lama Tangerang adalah sebuah pusat perdagangan bersejarah dan kawasan pecinan lama yang terletak di Kelurahan Sukasari, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, Banten, Indonesia. Berpusat di Jalan Ki Samaun, kawasan yang telah berkembang sejak tahun 1810 ini awalnya merupakan pasar tradisional sederhana yang menjual sayur dan ikan. Saat ini, Pasar Lama Tangerang dikenal luas sebagai salah satu destinasi wisata kuliner malam utama di Kota Tangerang yang memadukan warisan budaya etnis Tionghoa (Tionghoa Benteng), Sunda, Betawi, serta pengaruh Eropa.
Sejarah
Perkembangan kawasan Pasar Lama Tangerang berkaitan erat dengan fungsi Sungai Cisadane sebagai jalur transportasi dan urat nadi perekonomian utama yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan pesisir sejak abad ke-15 hingga awal abad ke-19. Menurut catatan sejarah, gelombang kedatangan etnis Tionghoa di wilayah ini dimulai pada tahun 1407, ketika rombongan di bawah pimpinan Tjen Tjie Lung (Halung) mendarat di muara Sungai Cisadane yang kini termasuk ke dalam wilayah administratif Kecamatan Teluknaga. Seiring berjalannya waktu, kelompok masyarakat ini berasimilasi dengan penduduk Sunda lokal melalui pernikahan dan membentuk komunitas unik yang dikenal sebagai masyarakat Tionghoa Benteng. Dari Teluknaga, mereka kemudian menyebar dan mendirikan pemukiman baru di sekitar tepi Sungai Cisadane, termasuk di kawasan Pasar Lama dan Pasar Baru.[1]
Selain etnis Tionghoa, wilayah Tangerang juga menerima kedatangan para migran dari berbagai daerah lain. Pada tahun 1526, penduduk etnis Jawa yang berasal dari Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Demak mulai berdatangan. Gelombang tersebut disusul oleh perpindahan etnis Betawi dari Batavia pada tahun 1680 akibat bencana banjir besar di ibu kota kolonial tersebut. Pertemuan berbagai etnis ini membentuk struktur masyarakat Pasar Lama yang multikultural.[2]
Cagar budaya
Pemerintah Kota Tangerang telah menetapkan kawasan Pasar Lama sebagai salah satu cagar budaya resmi dan memasukkannya ke dalam program Kota Pusaka. Kawasan ini dinilai memiliki Spirit of Place (jiwa tempat) yang kuat, yang direfleksikan melalui tata ruang kota tua, sirkulasi jalan sekunder, serta keberadaan bangunan-bangunan bersejarah yang saling berdekatan.
Dua situs utama yang menjadi simbol toleransi dan pembauran budaya di kawasan ini adalah:
- Kelenteng Boen Tek Bio: Berlokasi di persimpangan Jalan Bhakti dan Jalan Cilame, kelenteng ini didirikan pada tahun 1684 dan menjadi salah satu kelenteng tertua di Tangerang yang mencatat sejarah panjang peradaban Tionghoa Benteng.
- Masjid Jami Kali Pasir: Terletak tidak jauh dari kelenteng, masjid tertua di Tangerang ini menampilkan akulturasi budaya yang unik lewat arsitektur menara dan atapnya yang mengadopsi corak pagoda khas Tiongkok.
Revitalisasi
Pada tahun 2012, Pemerintah Kota Tangerang melakukan penataan dan revitalisasi di sepanjang Jalan Ki Samaun guna mengubah citra pasar tradisional ini menjadi kawasan wisata kuliner malam terpadu. Langkah ini berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan menjadikan Pasar Lama Tangerang sebagai magnet pariwisata yang menawarkan berbagai jajanan tradisional khas peranakan, kuliner nusantara, hingga makanan modern.[3]
Lihat juga
Referensi
- ↑ Rachmawati, Nindya (2024). "Sejarah Terbentuknya Pasar Lama Kota Tangerang". DEWARUCI. 3 (1). doi:10.47134/pjpp.v2i1.3265.
- ↑ Munandar Aris, Agus (2007). Sejarah Kebudayaan Indonesia (PDF). Jakarta: Direktorat Geografi Departemen Budapar. hlm. 187.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Kota, Tangerang. "Wisata Kawasan Kuliner Pasar Lama". tangerangkota.co.id. Diakses tanggal 3 Maret 2025.