Rabu, 07 Oktober 2026
22:14 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya

Jarāmaraṇa

konsep penuaan dan kematian dalam Buddhisme

Bagikan:
Untuk perenungan kematian, lihat Maraṇasati.
Terjemahan dari
jarāmaraṇa
Indonesiapenuaan dan kematian
Inggrisold age and death
Palijarāmaraṇa
Sanskertaजरामरण
Tionghoa老死
(Pinyin: lǎosǐ)
Jepang老死
(rōmaji: rōshi)
Korea노사 (Selatan), 로사 (Utara)
(RR: nosa, rosa)
Tibetརྒ་ཤི་
(THL: ga.shi
Wylie: rga.shi
)
Myanmarဇရာမရဏံ
(MLCTS: ja.ra ma.ra.nam)
Thaiชรามรณะ
(RTGS: chrā mrṇa)
Vietnamtuổi già và cái chết
Khmerជរាមរណៈ
(UNGEGN: chôréamôrônă)
Sinhalaජරාමරණ
(jarāmaraṇa)
Daftar Istilah Buddhis

Jarāmaraṇa adalah istilah bahasa Pali dan Sanskerta untuk "penuaan'" (jarā)[1] dan "'kematian'" (maraṇa).[2] Dalam Buddhisme, jarāmaraṇa dikaitkan dengan pelapukan dan penderitaan atas kematian yang tak terhindarkan dari semua makhluk sebelum terlahir kembali di dalam samsara (siklus kelahiran dan kematian).

Jarā dan maraṇa diidentifikasi sebagai mata rantai kedua belas dalam Kemunculan Bersebab (paṭiccasamuppāda).[3]

Etimologi

Kata jarā terkait dengan kata Sanskerta Weda kuno jarā, jaras, jarati, gerā, yang berarti "menjadi rapuh, meluruh, termakan usia". Akar kata Weda ini terkait dengan kata bahasa Latin granum, bahasa Goth kaurn, bahasa Yunani geras, geros (kemudian menjadi geriatric [geriatri]) yang semuanya dalam satu konteks berarti "pengerasan, usia tua".[1]

Kata maraṇa didasarkan pada akar kata Sanskerta Weda mṛ, mriyate yang berarti kematian. Akar kata Weda ini terkait dengan kata bahasa Sanskerta yang lebih baru marta, serta kata bahasa Jerman mord, bahasa Lituania mirti, Latin morior dan mors, dan Yunani μόρος, yang semuanya berarti "mati, kematian".[2]

Penjelasan kitabiah

Dalam Empat Kebenaran Mulia

Dalam ajaran tentang Empat Kebenaran Mulia, jarā dan maraṇa diidentifikasi sebagai aspek dari dukkha (penderitaan, ketidaknyamanan, ketidakpuasan). Misalnya, Dhammacakkappavattana Sutta (SN 56.11) menyatakan:

“ Sekarang ini, para bhikkhu, bagi para mulia, adalah kenyataan sejati (kebenaran mulia) yang merupakan penderitaan: kelahiran adalah penderitaan, penuaan adalah penderitaan, penyakit adalah penderitaan, kematian adalah penderitaan; kesedihan, ratap tangis, rasa sakit fisik, ketidakbahagiaan, dan keputusasaan adalah penderitaan; berkumpul dengan apa yang tidak disukai adalah penderitaan; berpisah dari apa yang disukai adalah penderitaan; tidak mendapatkan apa yang diinginkan adalah penderitaan; singkatnya, lima kelompok kemelekatan adalah penderitaan. ”
— Dhammacakkappavattana Sutta, SN 56.11
terj. Peter Harvey (bahasa Inggris)[4]

Di bagian lain dalam Tripitaka Pali, seperti dalam Mahāsatipaṭṭhāna Sutta (DN 22), Buddha menjelaskan lebih lanjut tentang jarāmaraṇa (penuaan dan kematian):[a]

“ Dan apakah penuaan? Makhluk apa pun juga, kelompok makhluk apapun juga, mengalami penuaan, jompo, gigi tanggal, rambut memutih, kulit keriput, mengerut seiring usia, indria-indria melemah, itu, para bhikkhu, disebut penuaan.

‘Dan apakah kematian? Makhluk apa pun juga, kelompok makhluk apapun juga, ada mengalami kematian, musnah, terputus, lenyap, meninggal dunia, sekarat, berakhir, terputusnya kelompok-kelompok unsur, lepasnya jasmani, itu, para bhikkhu, disebut kematian.
”
— Mahāsatipaṭṭhāna Sutta, DN 22

Selain itu, Vibhaṅga Sutta (SN 12.2) juga mencakup pendefinisian setiap mata rantai, yang salah satunya merupakan jarāmaraṇa (penuaan-dan-kematian):[b]

“ Dan apakah, para bhikkhu, penuaan-dan-kematian? Penuaan atas berbagai makhluk dalam berbagai golongan makhluk, bertambah tua, gigi tanggal, rambut memutih, kulit keriput, vitalitas menurun, indria-indria melemah: ini disebut penuaan. Meninggal-dunia-nya berbagai makhluk dari berbagai golongan makhluk, binasa, hancur, lenyap, mortalitas, kematian, berakhirnya waktu kehidupan, hancurnya kelompok-kelompok unsur kehidupan, terbaringnya jasad: ini disebut kematian. Demikianlah penuaan ini dan kematian ini bersama-sama disebut penuaan-dan-kematian. ”
— Vibhaṅga Sutta, SN 12.2

Dalam Kemunculan Bersebab

  12 Mata Rantai (nidāna) 
Kemunculan Bersebab:
Ketidaktahuan (avijjā)
↓
Formasi (saṅkhārā)
↓
Kesadaran (viññāṇa)
↓
Batin-&-Jasmani (nāmarūpa)
↓
6 Landasan Indra (saḷāyatana)
↓
Kontak (phassa)
↓
Perasaan (vedanā)
↓
Nafsu (taṇhā)
↓
Kemelekatan (upādāna)
↓
Kemenjadian (bhava)
↓
Kelahiran (jati)
↓
Tua & Mati (jarā-maraṇa)

Jarāmaraṇa adalah mata rantai terakhir dari dua belas mata rantai (nidāna), yang secara langsung dikondisikan oleh kelahiran (jāti), yang berarti bahwa semua yang dilahirkan dipastikan akan menua dan mati.

Perenungan penuaan dan kematian

Lihat pula: Maraṇasati

Dalam "Khotbah tentang Subjek untuk Direnungkan" (Upajjhatthana Sutta, AN 5.57; juga dikenal sebagai Abhiṇhapaccavekkhitabbaṭhāna Sutta) dari Tripitaka Pali, Buddha menganjurkan para pengikut-Nya untuk sering merenungkan hal-hal berikut:

“ Aku akan mengalami penuaan, belum melampaui penuaan....
Aku akan mengalami penyakit, belum melampaui penyakit....
Aku akan mengalami kematian, belum melampaui kematian....[5]
”
— Abhiṇhapaccavekkhitabbaṭhāna Sutta, AN 5.57

Dalam Tripitaka Pali, penuaan dan kematian memengaruhi semua makhluk, termasuk para dewa (termasuk brahma) surgawi, manusia, binatang, hantu kelaparan, dan mereka yang terlahir di alam neraka.[c] Hanya makhluk yang telah mencapai pencerahan (bodhi) dalam kehidupan ini yang terlepas dari kelahiran kembali dalam siklus kelahiran-dan-kematian (saṃsāra).[d]

Seperti yang Buddha instruksikan kepada Raja Pasenadi dari Kosala tentang penuaan dan kematian dalam Pabbatūpama Sutta (SN 3.25):

“ “Bagaikan gunung karang,
Tinggi, menjulang ke langit,
Maju merapat dari segala sisi,
Menggilas segalanya di empat penjuru–
Demikian pula usia tua dan kematian datang
Menghampiri semua makhluk hidup—

Khattiya, brahmana, vessa, sudda,
Caṇḍāla dan pemungut sampah:
Tidak menyisakan apa pun sepanjang perjalanannya
Namun datang menggilas segalanya.

“Tidak ada tempat di sini bagi pasukan gajah,
Bagi pasukan kereta dan pasukan infanteri.
Seseorang tidak dapat mengalahkannya dengan muslihat,
Atau membelinya dengan kekayaan.

“Oleh karena itu seorang yang bijaksana di sini,
Demi kebaikannya sendiri,
Harus dengan teguh mengokohkan keyakinan
Pada Sang Buddha, Dhamma dan Saṅgha.

“Ketika seseorang berperilaku sesuai Dhamma
Melalui jasmani, ucapan, dan pikiran,
Mereka memujinya di sini dalam kehidupan ini,
Dan setelah kematian ia bergembira di alam surga.”[6]
”
— Pabbatūpama Sutta, SN 3.25
terj. Indra Anggara

Kitab Dhammapada juga memiliki satu bab yang dikenal sebagai "Jaravagga" (Usia Tua), yang terdiri dari sebelas syair tentang usia tua (dari syair 146 hingga 156).[7]

Lihat pula

Catatan

  1. ↑ Dalam terjemahan oleh John T. Bullit yang digunakan di Wikipedia bahasa Inggris, Bullit membiarkan istilah "dukkha" tidak diterjemahkan. Artikel utama yang menyajikan terjemahan tersebut adalah Empat Kebenaran Mulia.[web 1]
  2. ↑ Lihat juga, misalnya, SN 12.2 (Thanissaro, 1997a) dan DN 22 (Thanissaro, 2000).
  3. ↑ Dengan kata lain, salah satu perbedaan signifikan antara kosmologi agama Buddha atau agama-agama India dengan agama-agama Abrahamik adalah bahwa, dalam agama-agama India, bahkan para dewa dan makhluk yang terlahir di neraka pun menua dan mati di alam mereka masing-masing dan ditakdirkan untuk dilahirkan kembali, mungkin di alam lain (baik neraka, bumi, surga, dll.).
  4. ↑ Dalam Upanisā Sutta (SN 12.23; mis., terjemahan, Walshe, 1985), Buddha menjelaskan serangkaian kondisi yang menuntun seseorang dari kelahiran menuju pencerahan. Dalam urutan "transendental" ini yang menuntun keluar dari saṃsāra, kelahiran berujung pada penderitaan (dukkha) – alih-alih penuaan-dan-kematian – yang pada gilirannya menuntun pada keyakinan (saddhā), yang digambarkan oleh Bhikkhu Bodhi sebagai "pada dasarnya adalah sikap percaya dan komitmen yang diarahkan pada pembebasan tertinggi" (Bodhi, 1980).

Referensi

  1. 1 2 Thomas William Rhys Davids; William Stede (1921). Pali-English Dictionary. Motilal Banarsidass. hlm. 279. ISBN 978-81-208-1144-7.{{cite book}}: Ketidakcocokan ISBN / tanggal; Kutipan: "old age, decay (in a disparaging sense), decrepitude, wretched, miserable" (usia tua, pelapukan (dalam arti yang merendahkan), kelemahan, malang, menyedihkan)
  2. 1 2 Thomas William Rhys Davids; William Stede (1921). Pali-English Dictionary. Motilal Banarsidass. hlm. 524. ISBN 978-81-208-1144-7.{{cite book}}: Ketidakcocokan ISBN / tanggal; Kutipan: "death, as ending this (visible) existence, physical death" (kematian, sebagai akhir dari eksistensi (yang terlihat) ini, kematian fisik).
  3. ↑ Julius Evola; H. E. Musson (1996). The Doctrine of Awakening: The Attainment of Self-Mastery According to the Earliest Buddhist Texts. Inner Traditions. hlm. 68. ISBN 978-0-89281-553-1.
  4. ↑ (Harvey, 2007), serta dalam karyanya yang terkenal Mahasatipatthana Sutta Terjemahan alternatif: Piyadassi (1999)
  5. ↑ AN 5.57 (terjemahan Thanissaro, 1997b). Dihilangkan dari teks ini adalah frasa yang berulang: "... seseorang harus sering merenungkan, apakah ia seorang wanita atau pria, umat awam atau yang telah ditahbiskan"
  6. ↑ SN 3.25 (Versi terjemahan di Wikipedia Inggris menggunakan terjemahan Thanissaro, 1997).
  7. ↑ Dhp 146-156 (terjemahan, Buddharakkhita, 1996).

Situs web

  1. ↑ Four Noble Truths Tautan untuk setiap baris dalam terjemahan adalah sebagai berikut: baris 1: First Noble Truth; baris 2: Second Noble Truth; baris 3: Third Noble Truth; baris 4: Fourth Noble Truth.

Daftar pustaka

  • Ajahn Sumedho (2002), The Four Noble Truths, Amaravati Publications
  • Ajahn Sucitto (2010), Turning the Wheel of Truth: Commentary on the Buddha's First Teaching, Shambhala
  • Bhikkhu, Thanissaro (1997), Tittha Sutta: Sectarians, AN 3.61, diakses tanggal 12 November 2007{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  • Bodhi, Bhikkhu (2000), The Connected Discourses of the Buddha: A New Translation of the Samyutta Nikaya, Boston: Wisdom Publications, ISBN 0-86171-331-1
  • Brahm, Ajahn (2006), Mindfulness, Bliss, and Beyond: A Meditator's Handbook, Wisdom Publications, ISBN 0-86171-275-7

Pranala luar

Didahului oleh:
Jāti
12 mata rantai
Jarāmaraṇa
Diteruskan oleh:
Avijjā
40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan