Minggu, 20 September 2026
18:03 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Perbudakan upah

Perbudakan upah

Perbudakan upah adalah suatu istilah yang dikonotasikan secara negatif untuk menarik analogi antara perbudakan dan kerja upahan, dengan berfokus pada kesamaan antara memiliki dan menyewa seseorang. Biasanya digunakan untuk merujuk pada situasi di mana penghidupan seseorang tergantung pada upah atau gaji, terutama ketika ketergantungannya bersifat total dan langsung.[1][2]

Istilah "perbudakan upah" telah digunakan untuk mengkritik eksploitasi buruh dan stratifikasi sosial. Eksploitasi buruh dilihat terutama sebagai daya tawar yang tidak setara antara kerja dan modal (khususnya ketika pekerja dibayar dengan upah yang relatif rendah, seperti di sweatshop),[3] sementara stratifikasi sosial dilihat sebagai kurangnya manajemen mandiri pekerja, pilihan pekerjaan yang mencukupi, dan kelapangan dalam ekonomi.[4][5][6] Kritik terhadap stratifikasi sosial mencakup pilihan pekerjaan lebih luas yang terikat oleh tekanan masyarakat hierarkis untuk melakukan pekerjaan yang tidak mencukupi, sehingga merampas "karakter spesies" mereka,[7] tidak hanya di bawah ancaman kelaparan atau kemiskinan, tetapi juga pengurangan stigma dan status sosial.[4][8][9] Secara historis, beberapa organisasi buruh dan aktivis sosial telah mendukung manajemen mandiri pekerja atau koperasi pekerja sebagai alternatif bagi kerja upahan.[5][10]

250px-CottonNegrosSouth.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pekerja upahan Afrika-Amerika memetik kapas di perkebunan di negara bagian Selatan

Kesamaan antara kerja upahan dengan perbudakan dibahas sedari awal oleh Cicero pada zaman Romawi Kuno, seperti di De Officiis.[11] Dengan munculnya Revolusi Industri, pemikir seperti Pierre-Joseph Proudhon dan Karl Marx menguraikan perbandingan antara kerja upahan dan perbudakan,[12][13] sementara kelompok Luddites menekankan dehumanisasi yang disebabkan oleh mesin. Pengenalan kerja upahan pada abad ke-18 di Britania disambut dengan perlawanan, sehingga memunculkan prinsip-prinsip sindikalisme.[10][14][15][16] Sebelum Perang Saudara Amerika, negara bagian Selatan pendukung perbudakan orang Afrika-Amerika menggunakan konsep perbudakan upah untuk membandingkan kondisi budak mereka dengan pekerja di negara bagian Utara.[17][18] Amerika Serikat menghapus perbudakan setelah Perang Saudara, tetapi aktivis serikat pekerja menganggap metafora tersebut dapat digunakan - menurut sejarawan Lawrence B. Glickman, pada Era Gilda "banyak rujukan di pers buruh, dan sulit menemukan pidato pemimpin buruh tanpa frasa tersebut".[19]

Lihat pula

Referensi

  1. "wage slave". merriam-webster.com. Diakses tanggal 4 Maret 2013.{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. "wage slave". dictionary.com. Diakses tanggal 4 Maret 2013.{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. Sandel 1996, hlm. 184.
  4. 1 2 "Conversation with Noam Chomsky". Globetrotter.berkeley.edu. hlm. 2. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-09-19. Diakses tanggal 28 Juni 2010.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. 1 2 Hallgrimsdottir & Benoit 2007.
  6. "The Bolsheviks and Workers Control, 1917–1921: The State and Counter-revolution". Spunk Library. Diakses tanggal 4 Maret 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. Avineri 1968, hlm. 142.
  8. Fitzhugh 1857.
  9. George 1981, "Chapter 15".
  10. 1 2 Ostergaard 1997, hlm. 133.
  11. Cicero, Marcus Tullius (1 Januari 1913) [First written in October–November 44 BC]. "Liber I" [Book I]. Dalam Henderson, Jeffrey (ed.). De Officiis [On Duties]. Loeb Classical Library [LCL030] (dalam bahasa Latin and Inggris). Vol. XXI. Diterjemahkan oleh Miller, Walter (Edisi Digital). Cambridge, MA: Harvard University Press. hlm. 152–153 (XLII). doi:10.4159/DLCL.marcus_tullius_cicero-de_officiis.1913. ISBN 978-0-674-99033-3. OCLC 902696620. OL 7693830M. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 April 2018. XLII. Now in regard to trades and other means of livelihood, which ones are to be considered becoming to a gentleman and which ones are vulgar, we have been taught, in general, as follows. First, those means of livelihood are rejected as undesirable which incur people's ill-will, as those of tax-gatherers and usurers. Unbecoming to a gentleman, too, and vulgar are the means of livelihood of all hired workmen whom we pay for mere manual labour, not for artistic skill; for in their case the very wage they receive is a pledge of their slavery. Vulgar we must consider those also who buy from wholesale merchants to retail immediately; for they would get no profits without a great deal of downright lying; and verily, there is no action that is meaner than misrepresentation. And all mechanics are engaged in vulgar trades; for no workshop can have anything liberal about it. Least respectable of all are those trades which cater for sensual pleasures[.]{{cite book}}: Ketidakcocokan ISBN / tanggalPemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. Proudhon 1890.
  13. Marx 1969, Chapter VII.
  14. Thompson 1966, hlm. 599.
  15. Thompson 1966, hlm. 912.
  16. Lazonick 1990, hlm. 37.
  17. Foner 1995, hlm. xix.
  18. Jensen 2002.
  19. Lawrence B. Glickman (1999). A Living Wage: American Workers and the Making of Consumer Society. Cornell U.P. hlm. 19. ISBN 9780801486142.

Bibliografi

Pranala luar

Kutipan tentang perbudakan upah di Wikikutip

Aspek-aspek kapitalisme
Umum
Ideologi
Budaya
Sosial
Kritik
Antitesis
Fraseologi dan istilah Marxis
Filsafat dan politik
(Marxis)
Ekonomi dan sosiologi
(Marxis)
Marxis-Leninis
Trotskyis
Maois
Aliran pemikiran
Libertarian
(Libertarianisme kiri)
Otoritarian
Religius
Varian regional
Bendera merah dikenal luas sebagai simbol sosialisme
Topik dan
isu utama
Konsep
Tokoh
a.16
a.18
a.19
a.20
a.21
Organisasi
Lihat pula
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan