Jumat, 06 November 2026
11:56 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan
Konfusianisme

Konfusianisme

sistem etika dan filsafat yang berasal dari Tiongkok kuno

Bagikan:
Bagian dari seri dalam
Konfusianisme
120px-%E6%9C%A8%E9%90%B8_---_Confucian_wooden-clapper_bell.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Konfusianisme menurut negara
Konfusianisme
Hanzi: 儒家
儒
儒教
Makna harfiah: "ru sekolah pemikiran"
Alih aksara
Mandarin
- Hanyu Pinyin: Rújiā
- Wade-Giles: Ju2-chia1
- Gwoyeu Romatzyh: Rujia
Yue (Kantonis)
- Romanisasi Yale: Yùh-gāa
- Jyutping: Jyu4-gaa1
330px-Jiangyin_wenmiao_dachengdian.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kuil Konfusius di Jiangyin, Wuxi, Jiangsu. Ini adalah Wénmiào (文庙), artinya kuil tempat Konfusius disembah sebagai Wéndì, "Dewa Kebudayaan" (文帝).[1]
Bagian dari seri tentang
Kepercayaan tradisional Tionghoa
Penyesuaian gaya dari grafem 禄 lù atau 子 zǐ yang masing-masing berarti "kemakmuran", "memajukan", "kesejahteraan" serta "anak", "keturunan". 字 zì, yang berarti "kata" dan "simbol", merupakan kata yang berkerabat dengan 子 zǐ dan menggambarkan seorang "anak" yang dinaungi di bawah sebuah "atap". Simbol ini pada akhirnya merupakan representasi kutub langit utara (Běijí 北极) dan konstelasi yang berputar mengelilinginya, sehingga setara dengan simbol Eurasia swastika, 卍 wàn.
Budaya Tionghoa

Konfusianisme atau Agama Konghucu, yang juga dikenal sebagai Ruisme (Hanzi:儒家; Pinyin:Rújiā)[2], adalah sebuah sistem pemikiran dan perilaku yang berasal dari Tiongkok kuno, dan secara beragam dideskripsikan sebagai sebuah tradisi, filosofi (humanistik atau rasionalistik), agama, teori pemerintahan, atau cara hidup.[3] Konfusianisme berkembang dari ajaran-ajaran filsuf Tiongkok, Konfusius (551-479 SM), pada masa yang di kemudian hari disebut masa Seratus Aliran Pemikiran. Konfusius menganggap dirinya sebagai penyampai nilai-nilai budaya yang diwarisi dari Dinasti Xia (2070-1600 SM), Shang (1600-1046 SM), dan Zhou Barat (1046-771 SM).[4] Ajarannya memadukan filsafat, etika, dan tata kelola sosial, dengan fokus utama pada kebajikan, keharmonisan sosial, dan tanggung jawab keluarga.[5] Walaupun sempat ditindas pada masa Dinasti Qin yang legalis dan otokratis (221-206 SM), Konfusianisme tetap bertahan. Selama masa pemerintahan Dinasti Han (206 SM-220 M), pendekatan ajaran Konghucu mengungguli "proto-Taois" Huang-Lao sebagai ideologi resmi, sementara kaisar-kaisarnya mencampurkan keduanya dengan teknik-teknik realis dari Legalisme.[6]

Konfusianisme menekankan kebajikan melalui pengembangan diri dan upaya komunal.[7] Kebajikan utama meliputi Ren (仁, "kebaikan"), Yi (義; "keadilan"), Li (禮; "sopan santun"), Zhi (智; "kebijaksanaan"), and Xin (信; "bisa dipercaya").[8] Nilai-nilai ini, yang erat kaitannya dengan konsep Tian (天; "langit"), menghadirkan suatu pandangan dunia di mana hubungan antarmanusia dan tatanan sosial merupakan perwujudan dari prinsip moral yang sakral.[9][10][11] Meskipun Konfusianisme tidak menekankan keberadaan suatu dewa yang Maha Kuasa, ia menjunjung Tian sebagai suatu tatanan moral yang transenden.[12][13][14]

Penghapusan sistem ujian kekaisaran pada tahun 1905 menandai kemunduran Konfusianisme yang didukung negara. Pada awal abad ke-20, para reformis Tiongkok mulai mengaitkan Konfusianisme dengan "Abad Penghinaan" yang dialami Tiongkok, dan sebagai gantinya menganut ideologi alternatif seperti "Tiga Prinsip Rakyat" karya Sun Yat-sen serta kemudian Maoisme. Meskipun demikian, Konfusianisme tetap bertahan sebagai kekuatan budaya yang memengaruhi struktur ekonomi dan sosial Asia Timur hingga era modern. Etos kerja Konfusianisme dianggap berperan dalam kebangkitan perekonomian Asia Timur pada akhir abad kedua puluh.

Konfusianisme tetap berpengaruh di Tiongkok, Korea, Jepang, Vietnam, dan wilayah-wilayah dengan diaspora Tionghoa yang signifikan.[15] Kebangkitan kembali Konfusianisme modern telah memperoleh momentum dalam kalangan akademis dan budaya, yang berpuncak pada pendirian Majelis Konfusianisme nasional di Tiongkok pada tahun 2015, yang mencerminkan bangkitnya kembali minat terhadap cita-cita Konfusianisme sebagai landasan nilai-nilai sosial dan moral.[17]

Filsuf Amerika Herbert Fingarette menggambarkan Konfusianisme sebagai suatu sistem filsafat yang memandang "yang sekuler sebagai sesuatu yang sakral".[18]

Sejarah

Awal Mula

Menurut He Guanghu, Konfusianisme dapat diidentifikasi sebagai kelanjutan dari agama resmi dinasti Shang-Zhou (1600-256 SM), atau agama asli Tiongkok yang telah berlangsung tanpa gangguan selama tiga ribu tahun.[19] Kedua dinasti tersebut menyembah “Dewa Tertinggi”, yang disebut Shangdi (上帝, "Dewa Tertinggi") atau Di (帝) pada masa Dinasti Shang dan Tian (天, "Surga") pada masa Dinasti Zhou. Shangdi dianggap sebagai nenek moyang pertama dari keluarga Kerajaan Shang. Nama lain Shangdi adalah “Leluhur Tertinggi” (上甲; Shàngjiǎ).[20] Teologi Shang memandang banyak dewa alam dan leluhur sebagai bagian dari Di. Di bermanifestasi sebagai Wufang Shangdi (五方上帝) dengan angin (風; fēng) sebagai kehendak kosmiknya. Setelah Dinasti Zhou menggulingkan Shang, nama untuk Ketuhanan tertinggi berubah menjadi Tian.[21] Sementara Dinasti Shang mengidentifikasi Shangdi sebagai dewa nenek moyang mereka untuk menyatakan klaim mereka atas kekuasaan berdasarkan hak ilahi, Zhou mengubah klaim ini menjadi sebuah legitimasi yang didasarkan pada kekuatan moral, Mandat Surga. Dalam teologi Zhou, Tian tidak memiliki keturunan duniawi, tetapi memberikan bantuan ilahi kepada para penguasa yang berbudi luhur. Raja-raja Zhou menyatakan bahwa kemenangan mereka atas Shang adalah karena mereka berbudi luhur dan mencintai rakyatnya, sementara Shang dianggap tiran sehingga dicabut kekuasaannya oleh Tian.[4]

Menurunnya Tradisi Zhou

Pada abad ke-6 SM, kekuatan Tian dan simbol-simbol yang mewakilinya di bumi (arsitektur kota, kuil, altar dan bejana ritual, dan sistem ritual Zhou) menjadi “menyebar” dan diklaim oleh penguasa-penguasa yang berbeda di negara-negara Zhou untuk melegitimasi ambisi-ambisi ekonomi, politik dan militer. Komunikasi dengan yang ilahi tidak lagi menjadi hak istimewa eksklusif keluarga Kerajaan Zhou, tetapi dapat dibeli oleh siapa saja yang mampu membeli upacara yang rumit dan ritus-ritus lama dan baru yang diperlukan untuk mengakses otoritas Tian.[22]

Selain sistem ritual Zhou yang memudar, apa yang dapat didefinisikan sebagai tradisi 'liar' (野; Yě), atau tradisi di luar sistem resmi, berkembang sebagai upaya untuk mengakses kehendak Tian. Ketika otoritas politik pusat runtuh setelah runtuhnya Zhou Barat, penduduk kehilangan kepercayaan pada tradisi resmi, yang tidak lagi dianggap sebagai cara yang efektif untuk berkomunikasi dengan Surga. Tradisi "Sembilan Bidang" (九野) dan Yijing (易經) berkembang pesat.[23] Para pemikir Tiongkok, ketika dihadapkan pada tantangan terhadap legitimasi ini, berbeda pendapat dalam “Seratus Aliran Pemikiran”, masing-masing menempatkan lensa filosofisnya sendiri untuk memahami proses-proses di dunia.

Kemunculan Konfusius

Konfusius (551-479 SM) muncul pada periode perombakan politik dan pencarian ajaran spiritual yang bisa diandalkan. Dia dididik dalam tradisi Shang-Zhou, yang ia sebarkan dan rumuskan kembali dengan berfokus pada pengembangan diri dan prinsip mengasihi orang lain.[4][24] Seiring dengan runtuhnya pemerintahan Zhou, nilai-nilai tradisional ditinggalkan dan mengakibatkan periode kemerosotan moral. Konfusius menganggap dirinya sebagai penerus nilai-nilai dari periode sebelumnya yang menurutnya telah ditinggalkan pada masa itu.[4] Dalam pandangannya, kekuatan Tian meresap, dan merespons secara positif hati yang tulus yang didorong oleh kemanusiaan dan kebenaran, kesopanan dan altruisme. Konfusius memahami kualitas-kualitas ini sebagai fondasi yang diperlukan untuk memulihkan harmoni sosial-politik. Seperti banyak orang sezamannya, Konfusius melihat praktik ritual sebagai cara yang manjur untuk mengakses Tian, tetapi menurutnya simpul pentingnya adalah masuk ke dalam keadaan batin yang penuh khidmat sebelum terlibat dalam tindakan ritual.[25] Konfusius dikatakan telah mengubah dan menyusun ulang kitab-kitab klasik yang diwarisi dari dinasti Xia-Shang-Zhou, dan menyusun Catatan Sejarah Musim Semi dan Musim Gugur / Chun Qiu (春秋).[26]

Masa Dinasti Han - Tang

Di zaman Kaisar Pertama, yaitu Qin Shihuangdi (秦始皇帝), ajaran Konghucu dianggap heterodoks karena menjadi rival dari ideologi Kaisar Qin.[27] Baru pada masa Dinasti Han (206 SM-220 M) Konfusianisme menjadi ajaran yang dijaga sebagai bagian dari peninggalan kebudayaan Tiongkok. Dong Zhongshu (董仲舒) adalah tokoh yang berperan penting karena pengaruhnya pada Kaisar Wu (武帝) sehingga menjadikan ajaran Konfusius subjek ajaran di akademi kerajaan pada tahun 124 M.[28] Pada saat ajaran Konghucu diadopsi menjadi sistem pendidikan di kerajaan, ada pengaruh dari berbagai tradisi, seperti kosmologi spekulatif dari filsafat Yin-Yang, ajaran Huang-Lao, dan bahkan Legalisme.[28] Konfusianisme pada masa ini adalah aliran Teks Baru (今文学) yang banyak meyakini ramalan dan hal-hal yang supernatural. Ajaran ini mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Wang Mang yang mendirikan Dinasti Xin.[28] Belakangan terutama pada saat runtuhnya Dinasti Han, ajaran ini mulai mengalami penurunan dan digantikan oleh aliran Teks Kuno (古文學) yang skeptis pada hal-hal estorik dan supernatural.[29] Banyak teks-teks ajaran Konghucu aliran Teks Baru yang digunakan pada masa dinasti Han, dibakar pada dinasti-dinasti selanjutnya, sehingga menyebabkan tidak ditemukannya ajaran tersebut pada kitab-kitab Konfusianisme baru.[30] Setelah keruntuhan Dinasti Han dan pecahnya wilayah Tiongkok pada masa Tiga Kerajaan, Dinasti Jin, serta Dinasti Utara dan Selatan, dominasi Konfusianisme sempat meredup akibat maraknya ajaran metafisika Xuanxue dan masuknya ajaran Buddha. Kendati demikian, ritual serta hierarki Konfusianisme tetap bertahan di kalangan elite pendidikan dan digunakan sebagai fondasi legitimasi negara.[31]

Dinasti Sui menghidupkan kembali ajaran Konfusianisme ortodoks di tengah upaya penyatuan Tiongkok. Pada 581 M, Kaisar Wen mereformasi sistem ujian negara dengan mengutamakan penguasaan Empat Kitab dan Lima Klasik.[32] Perkembangan tersebut berlanjut pada masa Dinasti Tang. Kaisar Taizong secara aktif mempromosikan prinsip-prinsip Konfusianisme dalam pemerintahan selama era Zhenguan. Ia menekankan pentingnya kebajikan penguasa, pengangkatan pejabat berdasarkan kemampuan, dan penguasaan kitab-kitab klasik.[33] Sistem pemerintahan Dinasti Tang memadukan hierarki Konfusianisme dengan unsur-unsur Buddhisme dan Taoisme dalam suatu kerangka sinkretis. Meskipun demikian, kitab-kitab klasik Konfusianisme tetap menjadi landasan ideologis utama dalam penyelenggaraan birokrasi negara. Sistem ini turut mendorong terbentuknya golongan cendekiawan-pejabat, meskipun pengaruh kaum aristokrat masih kuat. Pada pertengahan masa Dinasti Tang, karya-karya penafsiran, seperti Wujing Zhengyi, yang disusun pada masa pemerintahan Kaisar Xuanzong pada 732 M, mencerminkan perkembangan penafsiran ajaran klasik. Karya-karya tersebut menyesuaikan metode penafsiran teks dari era Dinasti Han dengan kebutuhan zaman, sembari tetap mempertahankan kedudukan utama etika dan ritual.[34]

Masa Dinasti Song

Pada masa Dinasti Song, Konfusianisme telah berkembang menjadi agama yang sepenuhnya ortodoks dan lebih mapan dalam hal doktrinal, berkat eksplorasi teori dari Zhu Xi dan para akademisi Lixue.[35]

Kemunduran

Sistem ujian Konfusianisme dihapuskan di Korea pada tahun 1894, di Tiongkok pada tahun 1905, dan di Vietnam pada tahun 1919. Hal ini berarti bahwa konformitas terhadap ideologi Konfusianisme tidak lagi menjadi prasyarat untuk berkarier dalam birokrasi pemerintahan atau politik, sehingga memungkinkan individu dengan ideologi lain (terutama Nasionalisme dan Sosialisme) memperoleh posisi penting dalam masyarakat.[36]

Ajaran

Filosofi Dasar

1. Tian

Tian adalah Maha Pencipta alam semesta. Manusia tidak dapat memahami hakikat sejati Tian sehingga Ia dilambangkan dengan ciri-ciri berikut:[37]
Yuan: yang selalu hadir.
Heng: yang selalu berhasil.
Li: yang selalu membawa berkah.
Zhen: yang selalu adil, tidak membeda-bedakan.

2. Xing

Xing adalah jati diri manusia, kodrat, yaitu perwujudan firman Tian (Tian Ming) dalam diri manusia. Xing menghubungkan Tian dengan segala ciptaannya. Manusia sulit mengenali Xing-nya karena tertutup oleh emosi dan nafsu sehingga manusia harus dibimbing dengan pedoman etika. Meskipun Xing setiap manusia berbeda-beda, semuanya memiliki satu kesamaan, yaitu Ren (perikemanusiaan).[37]

3. Ren

Ren, atau perikemanusiaan, dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu Zhong (setia) dan Shu (solidaritas).[37]
Zhong merupakan kependekan dari istilah Zhong Yi Tian (lit. setia kepada Tuhan), yaitu berserah diri lahir dan batin kepada Tuhan.
Shu merupakan kependekan dari istilah Shu Yi Ren (lit. solider kepada sesama manusia atau "cinta kasih sejati"
Terdapat dua istilah yang menerangkan arti Shu lebih lanjut.[37]
Ji Suo Bu Yu, Wu Shi Yu Ren, yaitu "apa yang diri sendiri tiada inginkan, jangan dilakukan terhadap orang lain". (Lunyu)
Ji Yu Li Er Li Ren, Ji Yu Da Er Da Ren, yaitu "kalau ingin tegak, buatlah orang lain juga tegak; jika ingin maju, buatlah orang lain juga maju".

Lima Sifat Mulia (Wu Chang)

Lima Sifat Kekekalan (Wu Chang):[37]

1. Ren - Cinta Kasih

yaitu sifat mulia pribadi seseorang terhadap moralitas, cinta kasih, kebajikan, kebenaran, tahu-diri, halus budi pekerti, tenggang rasa, dan perikemanusiaan. Ini merupakan sifat manusia yang paling mulia dan luhur.

2. Yi - Kebenaran/Keadilan/Kewajiban

yaitu sifat mulia pribadi seseorang dalam solidaritas serta senantiasa membela kebenaran. Bila Ren sudah ditegakkan, Yi harus menyertai.

3. Li - Kesusilaan/Kepantasan

yaitu sifat mulia pribadi seseorang yang bersusila, sopan santun, tata krama, dan budi pekerti. Semula Li hanya dikaitkan dengan perilaku yang benar dalam upacara keagamaan, tetapi selanjutnya diperluas hingga ke adat istiadat dan tradisi dalam masyarakat.

4. Zhi - Bijaksana

yaitu sifat mulia pribadi seseorang yang arif bijaksana dan penuh pengertian. Kong Hu Cu merangkaikan munculnya kebijaksanaan seseorang dengan selalu sabar dalam mengambil tindakan, penuh persiapan, melihat jauh ke depan, serta memperhitungkan segala kemungkinan yang akan terjadi.

5. Xin - Dapat dipercaya

yaitu sifat pribadi seseorang yang selalu percaya diri, dapat dipercaya orang lain, dan senantiasa menepati janji.

Lima Etika (Wu Lun)

Lima hubungan norma etika dalam bermasyarakat merupakan bentuk dasar interaksi manusia. Dengan menjalani kehidupan yang sesuai dengan asas Wu Lun, seseorang akan menikmati keselarasan dalam kepribadiannya maupun dalam hubungannya dengan masyarakat.[37]

  • Hubungan antara atasan dan bawahan
  • Hubungan antara suami dan isteri
  • Hubungan antara orang tua dan anak
  • Hubungan antara kakak dan adik
  • Hubungan antara kawan dan sahabat

Delapan Kebajikan (Ba De)

Delapan Kebajikan (Ba De):[37]

  1. Xiao - Laku bakti; yaitu berbakti kepada orang tua, leluhur, dan guru.
  2. Ti - Rendah hati; yaitu sikap kasih sayang antar saudara, yang lebih muda menghormati yang lebih tua dan yang lebih tua membimbing yang lebih muda.
  3. Zhong - Setia; yaitu kesetiaan terhadap atasan, teman, kerabat dan negara.
  4. Xin - Dapat dipercaya
  5. Li - Susila; yaitu sopan santun dan bersusila.
  6. Yi - Bijaksana; yaitu berpegang teguh pada kebenaran.
  7. Lian - Suci Hati; yaitu sifat hidup yang sederhana, selalu menjaga kesucian, dan tidak menyeleweng/ menyimpang.
  8. Chi - Tahu malu; yaitu sikap wawas diri dan malu jika melanggar etika dan budi pekerti.

Kitab suci

250px-Confucius%2C_fresco_from_a_Western_Han_tomb_of_Dongping_County%2C_Shandong_province%2C_China.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Konfusius dalam sebuah fresko dari makam Han Barat di Dongping, Shandong

Secara tradisional, Konfusius dianggap sebagai pengarang atau penyunting Lima Kitab Klasik yang merupakan teks-teks dasar Konfusianisme, yang seluruhnya disunting ke dalam bentuk yang diterima secara luas saat ini sekitar 500 tahun kemudian oleh pustakawan kekaisaran Liu Xin.[38]: 51  Cendekiawan Yao Xinzhong berpendapat bahwa terdapat alasan yang kuat untuk meyakini bahwa kitab-kitab klasik Konfusianisme terbentuk melalui tangan Konfusius, tetapi "tidak ada yang bisa diterima begitu saja dalam urusan versi awal kitab-kitab klasik". Kitab klasik keenam yang serupa dengan Kitab Syair adalah Kitab Musik. Kitab ini hilang selama dinasti Han. Musik merupakan sarana yang sangat berharga untuk membangkitkan konsentrasi dalam pelaksanaan ritual.[39] Musik dan ritus merupakan kunci internal (musik) dan eksternal (ritus) untuk menciptakan keharmonisan dalam masyarakat.[40] Yao menyatakan bahwa sebagian besar cendekiawan modern menganut pandangan "pragmatis", yaitu bahwa Konfusius dan para pengikutnya tidak bermaksud menciptakan suatu sistem kitab klasik, tetapi tetap "berkontribusi terhadap pembentukannya".[41]

Kitab suci agama Konghucu dibagi menjadi dua kelompok:

Selain itu, masih ada satu kitab lagi, yaitu Xiao Jing (Kitab Bakti).

Konfusianisme di Indonesia

Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Konfusianisme" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(April 2025)
artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. Tidak ada alasan pembersihan diberikan. Silakan kembangkan artikel ini semampu Anda. Merapikan artikel dapat dilakukan dengan wikifikasi atau membagi artikel ke paragraf-paragraf. Jika sudah dirapikan, silakan hapus templat ini. (Januari 2026) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
60px-Unbalanced_scales.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Netralitas artikel ini dipertanyakan. Diskusi terkait dapat dibaca pada halaman pembicaraan. Jangan hapus pesan ini sampai kondisi untuk melakukannya terpenuhi. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)

Konfusianisme sebagai agama dan filsafat

Konfusianisme umumnya memang tidak muncul dalam bentuk agama di dunia, bahkan di berbagai negara asia seperti Korea, Jepang, Taiwan, Hongkong dan Tiongkok sekalipun. Namun, di Indonesia Konfusianisme diakui sebagai salah satu dari enam agama yang dianut masyarakat. Konfusianisme sebagai agama digagas Kang Youwei menjelang keruntuhan Dinasti Qing pada 1900. Namun, gagasan Kang Youwei tampaknya tidak diterima oleh komunitas Tionghoa perantauan di berbagai negara, apalagi di Tiongkok sendiri pemerintah mengakui lima agama, yaitu Buddha, Tao, Kristen Protestan, Kristen Katolik, dan Islam.[42] Dalam bahasa Mandarin, ajaran Konghucu dikenal dengan istilah Kongjiao (孔教) atau Rujiao (儒教). Alih-alih mengakui Konfusianisme sebagai agama, Tiongkok mendirikan Confusius Institutes di 146 negara untuk memperkenalkan bahasa Mandarin dan budaya Tiongkok, serta memfasilitasi pertukaran budaya. Hal ini dicurigai Barat sebagai kuda troya pemerintah Tiongkok dalam memperluas pengaruhnya secara global.

Konfusianisme sebagai institusi agama di Indonesia menerapkan hal-hal berikut.

  • Mengangkat Konfusius sebagai salah satu nabi (先知)
  • Menetapkan litang (gerbang kebajikan) dan kelenteng sebagai tempat ibadah resmi bagi umat Konghucu. Penggunaan istilah kelenteng ini melahirkan kerancuan, karena sesungguhnya kelenteng adalah istilah umum yang digunakan masyarakat awam untuk menyebut semua tempat ibadah berarsitektur Tiongkok. Di Indonesia kelenteng-kelenteng tertua justru adalah tempat ibadah umat Buddha dan Tao, sedangkan Kelenteng Konghucu baru muncul pada 1906 di Surabaya dan satu-satunya di Asia Tenggara. Sebelum 1906 tidak ada tempat ibadah agama Konghucu di Indonesia.
  • Menetapkan Sishu Wujing (四書五經) sebagai kitab suci resmi
  • Menetapkan Tahun Baru Imlek, sebagai hari raya keagamaan resmi, meskipun menyebabkan kontroversi karena di berbagai belahan dunia Imlek bukanlah hari raya agama tertentu.
  • Hari-hari raya keagamaan lainnya; Imlek, Hari lahir Konghucu (27-8 Imlek), Hari wafat Konghucu (18-2-Imlek), Hari Genta Rohani (Tangce) 22 Desember, Qingming (5 April), Qing Di Gong (8/9-1 Imlek) dsb.[43]
  • Rohaniwan; Jiao Sheng (Penyebar Agama), Wenshi (Guru Agama), Xueshi (Pendeta), Zhang Lao (Tokoh/Sesepuh).
  • Kalender Imlek terbukti dibuat oleh Nabi Kongzi (Konfusius). Nabi Kongzi mengambil sumbernya dari penanggalan Dinasti Xia (2200 SM) yang sudah ditata kembali oleh Nabi Kongcu.[butuh rujukan]

Tahun zaman Nabi Khongcu Tahun Baru jatuh pada 22 Desember. 4 Februari adalah pergantian dari musim dingin ke musim semi. Jadi Imlek bukan perayaan musim semi. Perkiraan tanggal 1 Imlek, rentang waktunya 15 hari setelah dan 15 hari sebelum 4 Februari. Tiap empat atau lima tahun ada bulan ke-13 untuk menggenapi agar perhitungan tersebut tidak berubah.[perlu dijelaskan]

Agama Khonghucu pada zaman Orde Baru

Pada zaman Orde Baru, pemerintahan Soeharto melarang segala bentuk aktivitas berbau kebudayaan dan tradisi Tionghoa di Indonesia. Ini menyebabkan banyak pemeluk kepercayaan tradisional Tionghoa menjadi tidak berstatus sebagai pemeluk salah satu dari lima agama yang diakui. Untuk menghindari permasalahan politis (dituduh sebagai ateis dan komunis), pemeluk kepercayaan tadi kemudian diharuskan untuk memeluk salah satu agama yang diakui, mayoritas menjadi pemeluk agama Buddha, Islam, Katolik, atau Protestan. Kelenteng, yang merupakan tempat ibadah umat Buddha Tionghoa terpaksa mengubah nama dari Mandarin ke terjemahan Sanskertanya. Hal ini dilakukan karena penguasa Orba melarang segala hal yang terkait Tiongkok, termasuk aksara dan bahasa melalui Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, sehingga Kwan Im Teng di berbagai wilayah berganti nama menjadi Vihara Avalokitesvara, atau menggunakan bahasa Indonesia menjadi Wihara Dewi Welas Asih. Ho Tek Ceng Sin menjadi Wihara Amurwabumi dan sebagainya. Namun, sebagian lainnya tetap menggunakan nama Mandarin tapi mengganti aksara Tiongkok menjadi huruf Latin.

Sejak berdirinya Boen Bio di Surabaya pada 1906, lalu diikuti berdirinya organisasi Kong Kau Hwe di Surakarta pada 1923, Kong Tju Bio di Cirebon pada 1932, dan lain-lain, jumlah penganut agama Konghucu memang tidak berkembang sebagaimana diharapkan. Hal ini diakibatkan sejak semula, gagasan dari Kang Youwei ini ditentang mayoritas masyarakat Tionghoa di Hindia Belanda. Perdebatan di media massa pada zaman tersebut menunjukkan bahwa gagasan ini tidak menjadi arusutama. Apalagi setelah masa Orde Baru, kondisi sosial politik sangat tidak kondusif bagi perkembangan agama Khonghucu.

Agama Konghucu pada zaman Orde Reformasi

Pada masa Orde Reformasi pemeluk kepercayaan tradisional Tionghoa mulai mendapatkan kembali pengakuan atas identitas mereka sejak masa kepemimpinan Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) melalui UU No 1/Pn.Ps/1965, yang menyatakan bahwa agama-agama yang banyak pemeluknya di Indonesia antara lain Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu.

Nabi

Lihat pula: Sheng Ren
Artikel ini ditulis menyerupai opini penulis Wikipedia mengenai suatu topik, alih-alih pendapat para ahli.. Bantulah menyuntingnya dengan menghapus bagian tersebut dan menuliskannya sesuai dengan gaya penulisan ensiklopedia.
Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Konfusianisme" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(April 2025)

Para nabi (儒教聖人) dalam Ru Jiao terbagi dalam beberapa zaman seperti yang tercantum di bawah ini.

Masa prasejarah (sebelum 2205 SM)

  • Dalam ajaran Konghucu tidak dikenal istilah Nabi Purba, demikian pula mantra dan ritual untuk dewa. Konfusianisme tidak menambahkan apa pun pada kosmologi dewata Tiongkok kuno yang telah diisi oleh dua agama, yaitu Tao dan Buddha. Hal ini sejalan dengan penetapan gunung suci di Tiongkok dari masa klasik. Untuk agama Buddha ditetapkan gunung Wutai, Putuo, Emei, dan Jiuhua.[44], dan untuk agama Tao ditetapkan Gunung Heng Shan, Tai Shan, Hua Shan, Song Shan, dan Heng Shan.[45] Sedangkan untuk agama Konghucu tidak ada satu pun gunung yang ditetapkan sebagai gunung sucinya, karena di Tiongkok sejak masa klasik hingga saat ini Konfusianisme tidak ditetapkan sebagai agama.
  • Fu Xi, Shennong, Huang Di dan lain-lain yang disebutkan di bagian bawah sebagai nabi adalah bagian dari mitologi Tiongkok kuno, jauh sebelum perkembangan agama. Apalagi gagasan menjadikan ajaran Konghucu sebagai agama sebagaimana pendekatan Barat (religion) baru digagas oleh Kang Youwei pada awal abad ke-20 menjelang keruntuhan Dinasti Qing.
  • Nabi Purba Fu Xi (Hanzi: 伏羲), hidup pada sekitar 2952–2836 SM.
Dia menerima wahyu He Tu (peta sungai) yang tergambar di punggung seekor hewan gaib Long Ma, yang keluar dari dalam Sungai Huang Ho. Lambang wahyu tersebut kini dikenal sebagai lambang Bagua. Nabi Nu Wa (Hokkien:Lie Kwa), istri Fuxi, menciptakan Hukum Pernikahan.[37]
  • Nabi Purba Shen Nong (Hanzi:神農), hidup pada sekitar 2838–2698 SM.
  • Nabi Purba Huang Di (Hanzi:黃帝), hidup pada sekitar 2698–2596 SM.
Istrinya, Nabi Lei Zu, adalah penemu sutra yang ditenunnya dari kepompong ulat sutra, dan bersama Huang Di menciptakan alat tenun, pakaian Hian Ik (pakaian harian) dan Hong Siang (pakaian upacara).
  • Nabi Purba (堯) Yao 2357–2255 SM.
Pada zamannya dilakukan penyempurnaan perhitungan kalender dengan menambah bulan kabisat Imlek, sehingga setiap tanggal 15 selalu jatuh tepat ketika bulan purnama.
  • Nabi Purba (舜) Shun 2255–2205 SM.

Zaman Dinasti Xia

  • Nabi Purba (大 禹) Da Yu 2205–2197 SM.
Sewaktu berada di tepian Sungai Luohe, dalam rangka tugasnya sebagai pengawas penanggulangan banjir, Yu melihat seekor kura-kura gaib muncul dari dalam air. Guratan-guratan di punggung kura-kura itu menyadarkan dirinya akan wahyu ilahi yang kemudian dinamakan Luo Shu (Kitab Sungai Luohe), yang menjadi cikal bakal Houtian Bagua. Pada masa pemerintahannyalah versi pertama dari falsafah perubahan yang disebut Lian Shan Yi (Rangkaian Gunung) dan Hong Fan ditulis.[37]

Zaman Dinasti Shang

  • Nabi Purba Shang Tang (Hanzi=商 湯), memerintah tahun 1675 – 1646 SM.
  • Nabi Wen Wang (Hanzi=文王).
Menerima wahyu ilahi Dan Shu (Kitab Dan) sehingga ia menemukan lambang Houtian agua dan mengembangkan lebih jauh falsafah perubahan.[37]
  • Nabi Jiang Ziya.

Zaman Dinasti Zhou

Ia merupakan raja pertama Dinasti Zhou. Pada tahun ke-13 pemerintahannya, Wu Wang menerima persembahan kitab Hong Fan dari Jizi, bekas menteri Dinasti Shang, yang menyatakan bahwa kitab kuno tersebut merupakan warisan dari zaman Kaisar Yu yang disimpan olehnya.[37]
Putera keempat Wen Wang. Ia melanjutkan karya ayahnya membenahi falsafah perubahan dengan menambahkan bagian-bagian baru (seperti komentar Xiang), sehingga versi ketiga ini dikenal sebagai Zhou Yi (falsafah perubahan Dinasti Zhou). Ia juga meletakkan dasar-dasar tata-upacara pemujaan dan kesusilaan dalam ajaran Ru.[37]
  • Nabi Besar (孔 子) Kong Zi 551 – 479 SM.

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Fornerod M, Ohno M, Yoshida M, Mattaj IW (September 1997). "CRM1 is an export receptor for leucine-rich nuclear export signals". Cell. 90 (6): 1051–60. doi:10.1016/s0092-8674(00)80371-2. PMID 9323133. S2CID 15119502.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Nylan, Michael (1 Oktober 2008). The Five "Confucian" Classics (dalam bahasa Inggris). Yale University Press. hlm. 23. ISBN 978-0-300-13033-1. Diakses tanggal 12 Maret 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Yao 2000, hlm. 38–47
  4. 1 2 3 4 Fung (2008), hlm. 163.
  5. ↑ Fingarette (1972), hlm. 1–2.
  6. ↑ Lin, Justin Yifu (2012). Demystifying the Chinese Economy. Cambridge University Press. hlm. 107. ISBN 978-0-521-19180-7.
  7. ↑ Ivanhoe, Philip J.; Van Norden, Bryan W. (2005). Readings in Classical Chinese Philosophy (Edisi 2nd). Indianapolis: Hackett Publishing Company. hlm. 2. ISBN 0-87220-781-1. OCLC 60826646.
  8. ↑ Tay (2010), hlm. 102.
  9. ↑ Juergensmeyer, Mark (2005). Juergensmeyer, Mark (ed.). Religion in Global Civil Society. Oxford University Press. hlm. 70. doi:10.1093/acprof:oso/9780195188356.001.0001. ISBN 978-0-19-518835-6. ... humanist philosophies such as Confucianism, which do not share a belief in divine law and do not exalt faithfulness to a higher law as a manifestation of divine will.
  10. ↑ Adler (2014), hlm. 12.
  11. ↑ Littlejohn (2010), hlm. 34–36.
  12. ↑ "Confucianism". Encyclopedia Britannica. Diakses tanggal 2023-04-30.
  13. ↑ "Confucianism". National Geographic Society. 2022-05-20. Diakses tanggal 2023-04-30.
  14. ↑ Adler (2014), hlm. 10, 12
    • Quote, p. 10: "Confucianism is basically non-theistic. While tiān has some characteristics that overlap the category of deity, it is primarily an impersonal absolute, like dao and Brahman. "Deity" (theos, deus), on the other hand connotes something personal (he or she, not it)."
    • Quote, p. 12: "Confucianism deconstructs the sacred-profane dichotomy; it asserts that sacredness is to be found in, not behind or beyond, the ordinary activities of human life—and especially in human relationships. Human relationships are sacred in Confucianism because they are the expression of our moral nature (性; xìng), which has a transcendent anchorage in Heaven (天; tiān). Herbert Fingarette captured this essential feature of Confucianism in the title of his 1972 book, Confucius: The Secular as Sacred. To assume a dualistic relationship between sacred and profane and to use this as a criterion of religion is to beg the question of whether Confucianism can count as a religious tradition."
  15. ↑ Kaplan, Robert D. (6 Februari 2015). "Asia's Rise Is Rooted in Confucian Values". The Wall Street Journal.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)Tucker, Mary Evelyn (1998). "Confucianism and Ecology: Potential and Limits". The Forum on Religion and Ecology at Yale. Yale University. Diakses tanggal 2023-04-29.
  16. ↑ Billioud & Thoraval (2015), passim.
  17. ↑
    • Benjamin Elman; John Duncan; Herman Ooms, ed. (2002). Rethinking Confucianism: Past and Present in China, Japan, Korea, and Vietnam. UCLA Asian Pacific Monograph Series. Los Angeles: UCLA Asia Pacific Center. ISBN 1883191076.[halaman dibutuhkan]
    • Yu Yingshi (1996). Xiandai Ruxue Lun 現代儒學論 [Wacana tentang Konfusianisme Modern] (dalam bahasa Tionghoa). River Edge: Global Publishing. ISBN 9789813204232.
    [16]
  18. ↑ Fingarette (1972).
  19. ↑ Chen (2012), hlm. 105, note 45.
  20. ↑ Didier (2009), hlm. 227–228, Vol. II.
  21. ↑ Libbrecht (2007), hlm. 43.
  22. ↑ Didier (2009), hlm. xxxvi–xxxvii, Vol. I.
  23. ↑ Didier (2009), hlm. xxxvii–xxxviii, Vol. I.
  24. ↑ Zhou (2012), hlm. 2.
  25. ↑ Didier (2009), Vol. III, pp. 96–99.
  26. ↑ Zhou (2012), hlm. 1.
  27. ↑ Seiwert 2003, hlm. 15.
  28. 1 2 3 Seiwert 2003, hlm. 16.
  29. ↑ Seiwert 2003, hlm. 17.
  30. ↑ Seiwert 2003, hlm. 19-22.
  31. ↑ McLeod, Alexus (2022). Zalta, Edward N. (ed.). Philosophy in Han Dynasty China (Edisi Spring 2022). Metaphysics Research Lab, Stanford University.
  32. ↑ "Sui dynasty | Chinese Imperial Dynasty, Reunification of China | Britannica". www.britannica.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-10-28.
  33. ↑ "Tang Taizong: A Golden Age of Governance". Chandler Governance Group (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-10-28.
  34. ↑ McLeod, Alexus (2022). Zalta, Edward N. (ed.). Philosophy in Han Dynasty China (Edisi Spring 2022). Metaphysics Research Lab, Stanford University.
  35. ↑ Zhuo 2018, hlm. 20.
  36. ↑ Liu, Haifeng (Oktober 2007) [2006]. "Influence of China's imperial examinations on Japan, Korea and Vietnam". Frontiers of History in China. 2 (4). Diterjemahkan oleh Yang Chunyan: 493–512. doi:10.1007/s11462-007-0025-5.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Originally published in Xueshu Yuekan 学术月刊 [Academic Monthly] 2006 (12): 136–142.
  37. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bidang Litbang PTITD/ Matrisia Jawa Tengah. 2007. "Pengetahuan Umum Tentang Tri Dharma", Edisi pertama. Semarang: Benih Bersemi.
  38. ↑ Nylan, Michael (2007). ""Empire" in the Classical Era in China (304 BC–AD 316)". Oriens Extremus. 46. Harrassowitz Verlag: 48–83. JSTOR 24047664.
  39. ↑ Waring, Luke (2022). "Who said there was a Classic of Music?". Early China. 45. Cambridge University Press: 467–514. doi:10.1017/eac.2022.3.
  40. ↑ Garrison, James (Agustus 2012). "The Social Value of Ritual and Music in Classical Chinese Thought". Teorema. 31 (3): 209–222. JSTOR 43046966.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  41. ↑ Yao (2000), hlm. 52–54.
  42. ↑ "2019 Report on International Religious Freedom: China (Includes Tibet, Xinjiang, Hong Kong, and Macau". State Government. Diakses tanggal 2023-04-11.
  43. ↑ "Konghucu Indonesia:Hari Besar". Diarsipkan dari asli tanggal 2010-11-07. Diakses tanggal 2018-03-29.
  44. ↑ Litian, Fang (2022). Chinese Buddhism and Traditional Culture. London: Routledge. hlm. 47–58. ISBN 9780367663919.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  45. ↑ Brockman, Norbert C (1999). Encylopedia of Sacred Places. Oxford: Oxford University Press. hlm. 542–544. ISBN 978-0195127393.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Sumber

  • Seiwert, Hubert Michael (2003), Popular Religious Movements and Heterodox Sects in Chinese History, Brill, ISBN 9004131469
  • Zhuo, Xinping (2018), Religious Faith of the Chinese, Springer, ISBN 9811348677
Articles

Terjemahan teks yang dikaitkan dengan Konfusius

Analek (Lun Yu)

  • Confucian Analects (1893) Diterjemahkan oleh James Legge.
  • The Analects of Confucius (1915; rpr. NY: Paragon, 1968). Diterjemahkan oleh William Edward Soothill.
  • The Analects of Confucius: A Philosophical Translation (New York: Ballantine, 1998). Diterjemahkan oleh Roger T. Ames, Henry Rosemont.
  • Konfusius: The Analects (Lun yü) (London: Penguin, 1979; rp. Hong Kong: Chinese University Press, 1992). Diterjemahkan oleh DC Lau
  • The Analects of Confucius ( Oxford: Oxford University Press, 1997). Diterjemahkan oleh Chichung Huang.
  • The Analects of Confucius (New York: WW Norton, 1997). Diterjemahkan oleh Simon Leys.
  • Analects: Dengan Pilihan dari Komentar Tradisional (Indianapolis: Hackett Publishing, 2003). Diterjemahkan oleh Edward Slingerland.

Pranala luar

Cari tahu mengenai Konfusianisme pada proyek-proyek Wikimedia lainnya:
Definisi dan terjemahan dari Wiktionary
Gambar dan media dari Commons
Berita dari Wikinews
Kutipan dari Wikiquote
Teks sumber dari Wikisource
Buku dari Wikibuku
Kelembagaan
Agama dan
kepercayaan
Ireligiusitas
Sejarah
Kajian agama
Hukum dan hak
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan