Minggu, 11 Oktober 2026
05:41 WIB
TERKINI
Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober

Cakramanggilingan

Bagikan:

Organisasi Cakramanggilingan merupakan organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang didirikan pada 1 April 1979 di Bangkalan, Madura oleh Sang Hyang Sri Bharatawidjaja (SHS. Bharatawidjaja). Organisasi ini berfokus pada pengembangan spiritual dan etika anggotanya melalui ajaran yang disusun dalam lima wahyu pokok. Ajaran ini mencakup pandangan tentang hubungan manusia dengan Tuhan, masyarakat, dan alam, serta penekanan pada tanggung jawab moral dan kehidupan yang harmonis.[1]

Sejarah

Pendiri organisasi Cakramanggilingan yaitu SHS. Bharatawidjaja, lahir dengan nama asli Iman Supangat pada 1 April 1936 di Desa Wonodadi, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo. Supangat menempuh pendidikan terakhir di APK Surabaya pada 1969 dan bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Bangkalan sebagai Kepala Seksi Malaria di tahun yang sama.[2] Dalam perjalanan spiritualnya, SHS. Bharatawidjaja mengaku memperoleh serangkaian pengalaman spiritual yang menjadi dasar ajaran organisasi, antara lain yang disebutnya sebagai Paneasila nan Sejati (1960), Dwi Dasa Shara Paripurna Bahagia (1969), Dasa Wiweka Bijaksana Paripurna Bahagia Raya (1971), Ratna Sastra Jendra Hayuningrat (1972), dan Gelora Gloria Cakramanggilingan (1973). Berdasarkan pengalaman dan keyakinan ini, Supangat kemudian memprakarsai pertemuan pertama yang menandai pembentukan Organisasi Cakramanggilingan pada 1 April 1979 di Bangkalan.[2]

Istilah Cakramanggilingan berasal dari kata Cakra (Bahasa Sanskerta) yang berarti cakram atau roda, dan Manggilingan (Bahasa Jawa) yang berarti berputar atau menggiling. Secara keseluruhan, istilah ini dapat diartikan sebagai kehidupan ibarat roda yang berputar, sekali di atas sekali di bawah. Lambang organisasi berbentuk lingkaran bercahaya dengan cakra yang berputar, melambangkan kesinambungan dan keseimbangan.[3][4]

Filosofi

Organisasi Cakramanggilingan bertujuan untuk membimbing anggotanya dalam pengembangan etika, kemandirian, dan kesejahteraan. Anggota diajarkan untuk memahami kehidupan sebagai suatu proses yang berkelanjutan, di mana tanggung jawab moral dan kontribusi bagi masyarakat menjadi aspek penting. Selain fokus pada pengembangan individu, organisasi menekankan peran sosial melalui konsep memayu hayuning bawana, yang mencakup lima tingkatan, yaitu memperbaiki diri sendiri, keluarga, komunitas lokal, bangsa, dan lingkungan global. Pendekatan ini menekankan keseimbangan antara kepentingan individu, sosial, dan lingkungan secara keseluruhan. Dalam praktiknya, anggota diajarkan untuk menjalankan prinsip-prinsip moral dan spiritual secara konsisten. Aktivitas organisasi meliputi pembinaan diri, penguatan nilai-nilai etis, dan partisipasi dalam kegiatan sosial. Semua kegiatan diarahkan untuk mencapai keseimbangan antara pengembangan pribadi, kontribusi kepada keluarga dan masyarakat, serta kesadaran akan lingkungan dan alam semesta.[5]

Referensi

  1. ↑ Hasil inventarisasi 3 aspek, Propinsi... Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Proyek Inventarisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 1984.
  2. 1 2 Ensiklopedi kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film, Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 2006. ISBN 978-979-16071-1-7.
  3. ↑ M.Hum, Dr Sigit Sapto Nugroho, SH. WEDARING LAKU MEMAYU HAYUNING BAWANA. uwais inspirasi indonesia. hlm. 2. ISBN 978-623-227-293-4.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ↑ Hadikusuma, Hilman (1993). Antropologi agama: Pendekatan budaya terhadap aliran kepercayaan, agama Hindu, Budha, Kong Hu Cu di Indonesia. Citra Aditya Bakti. ISBN 978-979-414-648-4.
  5. ↑ Manggilingan (Organization), Cakra (1985). Cakra Manggilingan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Proyek Inventarisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Agama dan
kepercayaan
Ireligiusitas
Sejarah
Kajian agama
Hukum dan hak
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan