Sabtu, 31 Oktober 2026
07:27 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Habonaron Do Bona

Bagikan:

Habonaron Do Bona merupakan organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang didirikan pada 3 Agustus 1980 di Simalungun. Organisasi ini dirintis oleh Tony Girsang, D.A. Girsang, Taraman Girsang, J. Purba, dan Tambatan Saragih. Istilah Habonaron Do Bona dimaknai sebagai pedoman tata laku warisan leluhur yang bersumber pada nilai kebenaran, kejujuran, kesucian, kemurnian, dan keluhuran, serta diwujudkan dalam praktik spiritual dan adat sepanjang siklus kehidupan manusia sejak lahir hingga meninggal dunia.[1][2]

Pandangan keagamaan

Ajaran Habonaron Do Bona mencakup pembinaan kehidupan sejak dalam kandungan hingga dewasa. Pendidikan meliputi pembinaan bayi dalam kandungan, perawatan bayi yang telah lahir, pengenalan marga (martutur), pembelajaran baca tulis, pengenalan nama-nama hari, serta pemahaman adat istiadat leluhur. Ajaran ini menempatkan Tuhan sebagai pencipta alam semesta yang disebut Naibata atau Oppung Naibata, sumber kebenaran dan pengawas segala perbuatan manusia. [3][4]

Organisasi ini meyakini bahwa alam memiliki dua kekuatan, yakni kekuatan baik dan kekuatan yang dapat membawa malapetaka apabila manusia melanggar keseimbangan. Mata angin dan unsur tanah diyakini memiliki penguasa tertentu. Oleh karena itu, manusia wajib menjaga harmoni dengan alam. Roh dipandang sebagai unsur suci yang berasal dari Tuhan dan menyatu dengan tubuh manusia. Setelah kematian, roh kembali ke alam Tuhan yang disebut Hagoluhon Sirasa Lalap, sementara tubuh kembali ke tanah. Ajaran moralnya menekankan pengendalian diri, penghormatan kepada orang tua, tanggung jawab orang tua terhadap anak, serta kewajiban berbuat baik kepada sesama. Larangan membunuh, berbohong, dan menyakiti orang lain ditegaskan sebagai prinsip etis. Dalam konteks kebangsaan, warga diajarkan mencintai tanah air, menjaga persatuan, serta menjunjung Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.[1][3]

Ritual

Ritual persembahan dilaksanakan dengan menghadap ke timur (purba) atau disesuaikan dengan delapan penjuru mata angin (desa na ualu). Arah tersebut dimaknai sebagai penghormatan kepada kekuatan penjuru alam. Sebelum upacara, dilakukan penyucian diri yang disebut marpangir atau maranggir. Penyucian batin dilakukan dengan meminum air suci (bah panguras). Kebersihan lahir dan batin dipandang sebagai syarat untuk menjalin hubungan spiritual dengan Tuhan dan roh leluhur. Pemimpin upacara memimpin doa dalam posisi berdiri, sedangkan peserta duduk bersila dengan kedua tangan bersembah di atas kepala sambil memegang sekapur sirih (marsukmasama). Setelah doa, upacara dilanjutkan dengan tarian yang diiringi gendang sebagai simbol penguatan hubungan spiritual dan penyampaian permohonan kepada Naibata.[1]

Perlengkapan ritual meliputi sirih dalam piring putih dengan jumlah tertentu sesuai status keluarga, altar atau persanding, tempat sesaji, tikar putih, air suci, pedupaan, kemenyan, dan gendang. Pakaian adat yang dikenakan terdiri atas Baju Sahalat (merah atau cokelat), Baju Sibottar (putih), dan Baju Polang-polang (hitam putih). Seluruh perlengkapan dan tata busana tersebut dimaknai sebagai simbol kebersamaan, kesucian, dan persatuan warga dalam menjalankan ajaran leluhur.[1]

Referensi

  1. 1 2 3 4 Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi (2010) Ensiklopedi kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Jakarta.
  2. ↑ Aneka ragam khasanah budaya Nusantara. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1991.
  3. 1 2 Hasil penelitian organisasi kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Propinsi Sumatera Utara II. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1991.
  4. ↑ budi, unpab, universitas pembangunan panca. "Antropologi budaya : pendekatan habonaron do bona sebagai falsafah hidup masyarakat simalungun". digilib.pancabudi.ac.id. Diakses tanggal 2023-09-23.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
Agama dan
kepercayaan
Ireligiusitas
Sejarah
Kajian agama
Hukum dan hak
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan