Senin, 21 September 2026
05:00 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Cap Go Meh

Cap Go Meh

40px-Text_document_with_red_question_mark.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Beberapa atau seluruh referensi dari artikel ini mungkin tidak dapat dipercaya kebenarannya. Bantulah dengan memberikan referensi yang lebih baik atau dengan memeriksa apakah referensi telah memenuhi syarat sebagai referensi tepercaya. Referensi yang tidak benar dapat dihapus sewaktu-waktu.
Cap Go Meh
十五暝
330px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Optocht_tijdens_het_Tjap_Go_Meh_feest_TMnr_3728-838.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Cap Go Meh pada tahun 1880-an pada masa Hindia Belanda (litografi berdasarkan lukisan oleh Josias Cornelis Rappard)
Nama resmiYuánxiāo jié (元宵節) / Shàngyuán jié
Dirayakan olehorang Tionghoa
JenisKultural, Keagamaan
MaknaMenandai akhir dari perayaan Tahun Baru Imlek
KegiatanMenerbangkan lampion kertas;
memakan ronde, lontong cap go meh
Tanggaltanggal 15 bulan pertama penanggalan Imlek
Tahun 20263 Maret
Tahun 202720 Februari
Terkait denganChotrul Duchen (di Tibet)
Daeboreum (di Korea)
Koshōgatsu (di Jepang)
Magha Puja (di Thailand, Sri Lanka, Myanmar, Kamboja dan Laos)
Tết Nguyên Tiêu (di Vietnam)
Cap Go Meh
Hanzi tradisional: 元宵節
Hanzi sederhana: 元宵节
Makna harfiah: "Festival Malam Puncak"
Alih aksara
Mandarin
- Hanyu Pinyin: Yuánxiāo jié
- Wade-Giles: Yüan2-hsiao1 chieh2
- Gwoyeu Romatzyh: Yuanshiau jye
Min Nan
- Romanisasi POJ: Goân-siau-chiat
Min Timur
- Fuzhou RF: Nguòng-siĕu-cáik
Wu
- Romanisasi: Nyioe siau tsih
Yue (Kantonis)
- Romanisasi Yale: Yùhn-sīu jit
- Jyutping: jyun4 siu1 zit3
Nama Hokkian
Hanzi tradisional: 十五暝 / 上元
Makna literal: "Malam ke-15" / "Purnama Pertama"
Alih aksara
Min
- Romanisasi Min-nan : Cha̍p-gō͘-mê / Siōng-goân
Bagian dari seri tentang
Kepercayaan tradisional Tionghoa
Penyesuaian gaya dari grafem 禄 lù atau 子 zǐ yang masing-masing berarti "kemakmuran", "memajukan", "kesejahteraan" serta "anak", "keturunan". 字 zì, yang berarti "kata" dan "simbol", merupakan kata yang berkerabat dengan 子 zǐ dan menggambarkan seorang "anak" yang dinaungi di bawah sebuah "atap". Simbol ini pada akhirnya merupakan representasi kutub langit utara (Běijí 北极) dan konstelasi yang berputar mengelilinginya, sehingga setara dengan simbol Eurasia swastika, 卍 wàn.
Budaya Tionghoa

Cap Go Meh (Hanzi:十五暝; Pe̍h-ōe-jī:Cha̍p-gō͘-mê), juga disebut sebagai Festival Lampion (Hanzi tradisional:元宵節; Hanzi sederhana:元宵节; Pinyin:Yuánxiāo jié), adalah akhir dari rangkaian perayaan tahun baru Imlek yang dilakukan tiap tanggal 15 pada bulan pertama penanggalan Tionghoa saat bulan purnama.[1] Perayaannya diawali dengan berdoa di kelenteng, kemudian dilanjutkan dengan iringan kenong dan simbal serta pertunjukan barongsai dan pertunjukan tradisional Tionghoa.[2][butuh sumber yang lebih baik]

Sejarah

Perayaan Cap Go Meh telah dilakukan sejak abad ke-7 Masehi pada masa Dinasti Han di Tiongkok, terutama saat migrasi masyarakat Tionghoa ke wilayah bagian selatan Tiongkok. Perayaan diadakan bersama oleh raja dan masyarakatnya pada malam tanggal ke-15 bulan pertama penanggalan Tionghoa. Para petani memasang lampion berwarna warni di sekeliling ladang untuk mengusir hama dan menakuti binatang-binatang perusak tanaman serta memperindah pemandangan. Selain itu, diadakan pertunjukan musik dan barongsai untuk memeriahkan perayaan. Setelah itu, Cap Go Meh kemudian diadakan secara turun-temurun oleh masyarakat Tionghoa yang tersebar di seluruh dunia.[3][4]

Kegiatan

Cap Go Meh dilakukan dengan mengadakan parade dan arak-arakan di sepanjang jalan. Pada malam harinya, perayaaan dilanjutkan dengan mengadakan festival lampion.[5] Dalam perayaan Cap Go Meh, pertunjukan Barongsai merupakan lambang dari kepercayaan masyarakat Tionghoa.[6] Barongsai diyakini sebagai pertanda kesuksesan, keberuntungan dan pengusir hal-hal buruk.[7]

Festival lampion

[icon]
Bagian ini memerlukan pengembangan. Anda dapat membantu dengan mengembangkannya.

Galeri

  • Perayaan Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat
    Perayaan Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat
  • Perayaan Cap Go Meh di Tainan pada malam hari
    Perayaan Cap Go Meh di Tainan pada malam hari
  • Perayaan Cap Go Meh di Pekanbaru, Riau
    Perayaan Cap Go Meh di Pekanbaru, Riau

Referensi

  1. Tambunan, J.Br., Hutauruk, S., dan Pardede, Z.H.S. (Desember 2017). "Mitos Tradisi Perayaan Tahun Baru Imlek". Pantun: Jurnal Ilmiah Seni Budaya. 2 (2): 113.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  2. Syam, N.K., Khuzai, R., dan Maftuh (2012). ""Imlek" sebagai Pranata Sosial bagi Kerukunan Intra dan Antaretnik Tionghoa di Kabupaten Garut". Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan PKM: Sosial, Ekonomi, dan Humaniora. 3 (1): 295. ISSN 2089-3590.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  3. Raditya, Iswara N (20 Februari 2019). "Sejarah Perayaan Cap Go Meh: Dari Cina ke Indonesia". Tirto.id. Diakses tanggal 08 Februari 2021.{{cite news}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  4. Basith dan Hengky 2017, hlm. 15.
  5. Fitriyani, Rina (2012). "Peranan Paguyuban Tionghoa Purbalingga dalam Pelestarian Tradisi Cap Go Meh". Komunitas. 4 (1): 79. doi:10.15294/komunitas.v4i1.2398.
  6. Andini, Batari Oja (November 2015). "Barongsai Cap Go Meh di Makassar: Sebuah Pemikiran tentang Tari, Ritual, dan Identitas". Jurnal Kajian Seni. 2 (1): 23.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. Irwan (Juni 2019). "Pertunjukan Barongsai pada Cap Go Meh oleh Masyarakat Tionghoa di Kota Makassar". Walasuji. 10 (1): 3–4. doi:10.36869/wjsb.v10i1.34. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-05-07. Diakses tanggal 2020-09-09.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan