Kamis, 24 September 2026
03:01 WIB
TERKINI
Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN
Tai Di

Tai Di

250px-Tientsin_nankai-yuhuangge-Chent-001.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Yuhuangge (玉皇阁), sebuah kuil Tao kecil di Tianjin yang didedikasikan kepada Kaisar Giok.
Bagian dari seri tentang
Kepercayaan tradisional Tionghoa
Penyesuaian gaya dari grafem 禄 lù atau 子 zǐ yang masing-masing berarti "kemakmuran", "memajukan", "kesejahteraan" serta "anak", "keturunan". 字 zì, yang berarti "kata" dan "simbol", merupakan kata yang berkerabat dengan 子 zǐ dan menggambarkan seorang "anak" yang dinaungi di bawah sebuah "atap". Simbol ini pada akhirnya merupakan representasi kutub langit utara (Běijí 北极) dan konstelasi yang berputar mengelilinginya, sehingga setara dengan simbol Eurasia swastika, 卍 wàn.
Budaya Tionghoa
250px-Jitian.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kuil Surga (Tian) milik kekaisaran di Beijing.

Tai Di atau Taidi adalah Dewa Maha Kuasa (Hanzi=太帝;sederhana=太帝; Hanyu pinyin=tài dì) adalah sebuah konsep dalam mitologi dan agama tradisional China. Tai Di merujuk pada pemimpin panteon dewata China dan makhluk suci lainnya, yang mana menurut istilah mandarin disebut sebagai Birokrasi Surga. Namun, "Tai Di" secara umum tidak dipandang sebagai sesosok pribadi yang memiliki pelbagai karakteristik tertentu, tetapi lebih condong diidentifikasikan sebagai Dewata lain oleh masyarakat yang berbeda serta pada masa yang berbeda pula. Biasanya Tai Di diidentifikasikan dengan Kaisar Giok (Yu Di), Yu Agung (huruf Yu pada Yu Agung berbeda dengan Yu pada Kaisar Giok), Tian Di (Dewa Surga), dan dengan Shangdi. (Yang, 2005: 286) Konsep Tuhan Maha Kuasa dan manifestasinya secara historis dalam hubungannya dengan mitologi dan agama tradisional di China merupakan sebuah subjek penelitian yang penting.[1]

Etimologi

Taidi (bahasa Tionghoa: 太帝;Pinyin: Tài dì) memiliki arti "Kaisar Agung", "Dewa Agung", "Roh Agung", atau "Kekuatan Agung". Aksara pertama () tài memiliki arti "agung", "besar", "primordial", "yang paling"; aksara kedua , merupakan aksara yang juga digunakan dalam gelar Huangdi (Kaisar Kuning) yang pertama kali membentuk peradaban Tiongkok. Gelar huangdi selanjutnya digunakan sebagai sebutan bagi kaisar Tiongkok dan biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sebagai "emperor".[1]

Pimimpin para dewa

Dalam panteon para makluk suci menurut kepercayaan tradisional Tiongkok, semua dewa memiliki peran dan jabatan masing-masing. Mereka berkewajiban untuk memberikan laporan mereka kepada Kaisar Giok serta memiliki tugas yang memengaruhi alam fisik, seperti cuaca, api, kelaparan atau epidemik, berdasarkan perintah Kaisar Giok yang menjalankan tugasnya sesuai aliran Tao.[1]

Kekuatan para dewa membuktikan bahwa mereka merupakan wakil dari aspek-aspek tertentu dari Tao (hukum final alam semesta). Kekuatan harus diamalkan dengan bertanggung jawab karena dapat mengganggu keseimbangan dunia. Tao akan menyeimbangkan dirinya sendiri jika ada usikan terhadap keseimbangan alam, dan proses tersebut mungkin dapat mengganggu keseimbangan dunia.

Banyak manusia abadi dan leluhur yang dimuliakan masuk ke dalam panteon ini. Setiap orang dapat mencapai kedewaan setelah kematiannya jika selama hidupnya melakukan tindakan kebajikan yang sangat banyak. Dalam hal ini, contoh yang umum adalah Guan Yu dan Confucius. Para makluk suci juga dapat mengundurkan diri dari jabatan mereka.

Dalam Taoisme, terdapat kekuatan spiritual yang lebih tinggi daripada panteon ini, seperti Tai Shang Lao Jun dan tiga guru suci Tao.

Lihat Pula

Referensi

  1. 1 2 3 Yang, Lihui, et al. (2005). Handbook of Chinese Mythology. New York: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-533263-6


40px-Flag-map_of_the_Greater_People%27s_Republic_of_China.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Artikel bertopik Tiongkok ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan