Minggu, 08 November 2026
07:24 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Tai Di

Tai Di

Bagikan:
250px-Tientsin_nankai-yuhuangge-Chent-001.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Yuhuangge (玉皇阁), sebuah kuil Tao kecil di Tianjin yang didedikasikan kepada Kaisar Giok.
Bagian dari seri tentang
Kepercayaan tradisional Tionghoa
Penyesuaian gaya dari grafem 禄 lù atau 子 zǐ yang masing-masing berarti "kemakmuran", "memajukan", "kesejahteraan" serta "anak", "keturunan". 字 zì, yang berarti "kata" dan "simbol", merupakan kata yang berkerabat dengan 子 zǐ dan menggambarkan seorang "anak" yang dinaungi di bawah sebuah "atap". Simbol ini pada akhirnya merupakan representasi kutub langit utara (Běijí 北极) dan konstelasi yang berputar mengelilinginya, sehingga setara dengan simbol Eurasia swastika, 卍 wàn.
Budaya Tionghoa
250px-Jitian.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kuil Surga (Tian) milik kekaisaran di Beijing.

Tai Di atau Taidi adalah Dewa Maha Kuasa (Hanzi=太帝;sederhana=太帝; Hanyu pinyin=tài dì) adalah sebuah konsep dalam mitologi dan agama tradisional China. Tai Di merujuk pada pemimpin panteon dewata China dan makhluk suci lainnya, yang mana menurut istilah mandarin disebut sebagai Birokrasi Surga. Namun, "Tai Di" secara umum tidak dipandang sebagai sesosok pribadi yang memiliki pelbagai karakteristik tertentu, tetapi lebih condong diidentifikasikan sebagai Dewata lain oleh masyarakat yang berbeda serta pada masa yang berbeda pula. Biasanya Tai Di diidentifikasikan dengan Kaisar Giok (Yu Di), Yu Agung (huruf Yu pada Yu Agung berbeda dengan Yu pada Kaisar Giok), Tian Di (Dewa Surga), dan dengan Shangdi. (Yang, 2005: 286) Konsep Tuhan Maha Kuasa dan manifestasinya secara historis dalam hubungannya dengan mitologi dan agama tradisional di China merupakan sebuah subjek penelitian yang penting.[1]

Etimologi

Taidi (bahasa Tionghoa: 太帝;Pinyin: Tài dì) memiliki arti "Kaisar Agung", "Dewa Agung", "Roh Agung", atau "Kekuatan Agung". Aksara pertama (太) tài memiliki arti "agung", "besar", "primordial", "yang paling"; aksara kedua 帝, Dì merupakan aksara yang juga digunakan dalam gelar Huangdi (Kaisar Kuning) yang pertama kali membentuk peradaban Tiongkok. Gelar huangdi selanjutnya digunakan sebagai sebutan bagi kaisar Tiongkok dan biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sebagai "emperor".[1]

Pimimpin para dewa

Dalam panteon para makluk suci menurut kepercayaan tradisional Tiongkok, semua dewa memiliki peran dan jabatan masing-masing. Mereka berkewajiban untuk memberikan laporan mereka kepada Kaisar Giok serta memiliki tugas yang memengaruhi alam fisik, seperti cuaca, api, kelaparan atau epidemik, berdasarkan perintah Kaisar Giok yang menjalankan tugasnya sesuai aliran Tao.[1]

Kekuatan para dewa membuktikan bahwa mereka merupakan wakil dari aspek-aspek tertentu dari Tao (hukum final alam semesta). Kekuatan harus diamalkan dengan bertanggung jawab karena dapat mengganggu keseimbangan dunia. Tao akan menyeimbangkan dirinya sendiri jika ada usikan terhadap keseimbangan alam, dan proses tersebut mungkin dapat mengganggu keseimbangan dunia.

Banyak manusia abadi dan leluhur yang dimuliakan masuk ke dalam panteon ini. Setiap orang dapat mencapai kedewaan setelah kematiannya jika selama hidupnya melakukan tindakan kebajikan yang sangat banyak. Dalam hal ini, contoh yang umum adalah Guan Yu dan Confucius. Para makluk suci juga dapat mengundurkan diri dari jabatan mereka.

Dalam Taoisme, terdapat kekuatan spiritual yang lebih tinggi daripada panteon ini, seperti Tai Shang Lao Jun dan tiga guru suci Tao.

Lihat Pula

Referensi

  1. 1 2 3 Yang, Lihui, et al. (2005). Handbook of Chinese Mythology. New York: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-533263-6


40px-Flag-map_of_the_Greater_People%27s_Republic_of_China.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Artikel bertopik Tiongkok ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan