Rabu, 04 November 2026
15:26 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan
Budaya

Budaya

sekumpulan aspek yang sama dari cara hidup suatu masyarakat

Bagikan:
330px-9_Bisonte_Magdaleniense_pol%C3%ADcromo.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ekspresi simbolis berkembang ketika manusia prasejarah mencapai modernitas perilaku
250px-Singapore._Sri_Mariamman._Gopuram._South_East-19.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Agama dan seni ekspresif merupakan aspek penting dari kebudayaan manusia.
250px-Volksfestumzug_in_Vilshofen_a.d._Donau_2012_%283%29.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Orang-orang Jerman berbaris selama perayaan kebudayaan rakyat
250px-Ernest_Hemingway_Writing_at_Campsite_in_Kenya_-_NARA_-_192655.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tulisan sering kali menciptakan rasa identitas budaya, tampak Ernest Hemingway sedang menulis.

Budaya atau kebudayaan adalah konsep yang mencakup perilaku sosial, pranata, dan norma yang terdapat dalam masyarakat manusia, serta pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, adat istiadat, kemampuan, sikap, dan kebiasaan individu dalam kelompok-kelompok tersebut.[1] Budaya sering kali berasal dari atau dikaitkan dengan wilayah atau lokasi tertentu.

Manusia memperoleh budaya melalui proses pembelajaran berupa enkulturasi dan sosialisasi, yang ditunjukkan oleh keberagaman budaya di berbagai masyarakat. Norma budaya mengkodifikasi perilaku yang dapat diterima dalam masyarakat; norma ini berfungsi sebagai pedoman untuk berperilaku, berpakaian, berbahasa, dan bersikap dalam suatu situasi, yang menjadi acuan bagi ekspektasi dalam kelompok sosial. Menerima hanya satu monokultur dalam kelompok sosial dapat menimbulkan risiko, sebagaimana satu spesies tunggal dapat layu dalam menghadapi perubahan lingkungan akibat kurangnya respons fungsional terhadap perubahan tersebut.[2] Oleh karena itu, dalam budaya militer, keberanian dianggap sebagai perilaku khas seorang individu, serta kewajiban, kehormatan, dan kesetiaan terhadap kelompok sosial dipandang sebagai kebajikan atau respons fungsional dalam kontinuum konflik. Dalam agama, atribut-atribut serupa dapat diidentifikasi dalam suatu kelompok sosial.

Perubahan budaya, atau reposisi, adalah rekonstruksi konsep budaya suatu masyarakat. Budaya dipengaruhi secara internal oleh kekuatan yang mendorong perubahan maupun kekuatan yang menolak perubahan. Budaya juga dipengaruhi secara eksternal melalui kontak antarmasyarakat. Organisasi seperti UNESCO berupaya melestarikan budaya dan warisan budaya.

Deskripsi

250px-Africa_Speaks%21_%281930%29_-_Pygmy_Drummers.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Musik Pigmi diperkirakan sebagai ekspresi polifoni pertama dalam musik dunia, yang telah dicatat setidaknya 200 tahun sebelum konsep tersebut muncul di Eropa.

Budaya dianggap sebagai konsep sentral dalam antropologi, yang mencakup serangkaian fenomena yang ditransmisikan melalui pembelajaran sosial dalam masyarakat manusia. Universal budaya ditemukan di semua masyarakat manusia. Bentuk-bentuk ini meliputi bentuk ekspresif seperti seni, musik, tari, ritual, agama, serta teknologi seperti penggunaan alat, memasak, tempat tinggal, dan pakaian. Konsep budaya material mencakup ekspresi fisik dari budaya, seperti teknologi, arsitektur, dan seni, sedangkan aspek imaterial budaya seperti prinsip-prinsip organisasi sosial (termasuk praktik organisasi politik dan pranata sosial), mitologi, filsafat, sastra (baik tertulis maupun lisan), dan ilmu pengetahuan membentuk warisan budaya takbenda suatu masyarakat.[3]

Dalam humaniora, salah satu makna budaya sebagai atribut individu adalah sejauh mana seseorang telah membina tingkat kecanggihan tertentu dalam seni, ilmu pengetahuan, pendidikan, atau tata krama.[4] Tingkat kecanggihan budaya juga kadang-kadang digunakan untuk membedakan peradaban dari masyarakat yang kurang kompleks.[5] Perspektif hierarkis mengenai budaya seperti ini juga ditemukan dalam pembedaan berbasis kelas antara budaya tinggi dari elit sosial dan budaya rendah, budaya populer, atau kebudayaan rakyat dari kelas bawah, yang dibedakan oleh akses bertingkat terhadap modal budaya.[6] Dalam percakapan sehari-hari, budaya sering digunakan untuk merujuk secara khusus pada penanda simbolis yang digunakan oleh kelompok etnis untuk membedakan diri mereka secara kasat mata satu sama lain, seperti modifikasi tubuh, pakaian, atau perhiasan.[7] Budaya massa merujuk pada bentuk budaya konsumen yang diproduksi secara massal dan dimediasi secara massal yang muncul pada abad ke-20.[8] Beberapa aliran filsafat, seperti Marxisme dan teori kritis, berpendapat bahwa budaya sering kali digunakan secara politik sebagai alat para elit untuk memanipulasi proletar dan menciptakan kesadaran palsu.[9] Perspektif semacam ini umum dijumpai dalam disiplin studi budaya.[10] Dalam ilmu sosial yang lebih luas, perspektif teoretis materialisme budaya berpandangan bahwa budaya simbolis manusia muncul dari kondisi material kehidupan manusia, dan bahwa dasar budaya ditemukan dalam disposisi biologis yang terevolusi.[11]

Ketika digunakan sebagai kata benda terbilang, sebuah "kebudayaan" adalah serangkaian adat istiadat, tradisi, dan nilai-nilai dari suatu masyarakat atau komunitas, seperti kelompok etnis atau bangsa, serta pengetahuan yang diperoleh dari waktu ke waktu.[12] Dalam pengertian ini, multikulturalisme menghargai koeksistensi damai dan saling menghormati antara berbagai budaya berbeda yang menghuni planet yang sama.[13] Kadang-kadang "budaya" juga digunakan untuk menggambarkan praktik-praktik khusus dalam subkelompok masyarakat, suatu subkebudayaan (misalnya, "budaya bro"), atau kontrabudaya.[14] Dalam antropologi budaya, ideologi dan pendirian analitis relativisme budaya berpandangan bahwa budaya tidak dapat diperingkatkan atau dievaluasi secara objektif dengan mudah karena setiap evaluasi secara inheren berada dalam sistem nilai budaya tersebut.[15]

Etimologi

Dalam bahasa Indonesia, kata budaya berasal dari bahasa Sanskerta buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (berarti "budi" atau "akal"), sehingga diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.[16] Antropolog Koentjaraningrat menjelaskan bahwa kata kebudayaan berasal dari pengembangan bentuk jamak Sanskerta tersebut.[16] Di samping asal-usul Sanskerta, terdapat pula pandangan yang menyebutkan bahwa kata budaya merupakan bentuk majemuk dari kata budi dan daya, yang bermakna "daya dari budi"—yaitu kemampuan akal manusia yang terwujud dalam bentuk cipta, rasa, dan karsa.[17][18]

Istilah bahasa Inggris culture (kultur) didasarkan pada istilah yang digunakan oleh orator Romawi Kuno Cicero dalam karyanya, Tusculanae Disputationes. Dalam karya tersebut, ia menulis tentang pengolahan jiwa atau cultura animi,[19] dengan menggunakan metafora pertanian untuk pengembangan jiwa filosofis yang dipahami secara teleologis sebagai cita-cita tertinggi yang mungkin bagi perkembangan manusia. Samuel von Pufendorf mengadopsi metafora ini dalam konteks modern dengan makna yang serupa, tetapi tidak lagi menganggap filsafat sebagai kesempurnaan alami umat manusia. Penggunaan ini, serta penggunaan oleh banyak penulis lainnya, "merujuk pada segala cara manusia dalam mengatasi kebarbarannya yang asli, dan melalui rekayasa, menjadi manusia seutuhnya".[20]

Edward S. Casey menulis, "Kata culture itu sendiri berarti 'tempat yang diolah' dalam Bahasa Inggris Pertengahan, dan kata yang sama berakar dari bahasa Latin colere, 'mendiami, merawat, mengolah, memuja' dan cultus, 'Sebuah kultus, khususnya yang bersifat keagamaan.' Menjadi berbudaya, atau memiliki budaya, berarti mendiami suatu tempat dengan cukup intens hingga mengolahnya, bertanggung jawab atasnya, meresponsnya, serta memperhatikannya dengan penuh kepedulian."[21]

Budaya yang dijelaskan oleh Richard Velkley:[20]

... yang pada awalnya berarti pengolahan jiwa atau pikiran, memperoleh sebagian besar makna modernnya kemudian dalam tulisan para pemikir Jerman abad ke-18, yang pada berbagai tingkatan mengembangkan kritik Rousseau terhadap "liberalisme modern dan Pencerahan". Oleh karena itu, pertentangan antara "budaya" dan "peradaban" biasanya tersirat dalam karya para penulis ini, meskipun tidak dinyatakan secara eksplisit.

Dalam kata-kata antropolog E. B. Tylor, budaya adalah "keseluruhan kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, serta kemampuan dan kebiasaan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat".[22] Atau, dalam varian kontemporer, "Budaya didefinisikan sebagai domain sosial yang menekankan praktik, wacana, dan ekspresi material, yang dari waktu ke waktu mengekspresikan keberlanjutan dan ketidakberlanjutan makna sosial dari kehidupan yang dijalani bersama.[23]

Cambridge English Dictionary menyatakan bahwa budaya adalah "cara hidup, terutama adat istiadat dan kepercayaan umum, dari sekelompok orang tertentu pada waktu tertentu."[24] Teori manajemen teror mengajukan bahwa budaya adalah serangkaian aktivitas dan pandangan dunia yang memberi manusia dasar untuk memandang diri mereka sebagai "orang yang berharga dalam dunia makna", yang mengangkat diri mereka di atas aspek-aspek keberadaan yang semata-mata fisik, demi menolak ketidakberartian hewani dan kematian yang disadari oleh Homo sapiens ketika mereka memperoleh otak yang lebih besar.[25][26]

Kata ini digunakan dalam arti umum sebagai kemampuan terevolusi untuk mengategorikan dan merepresentasikan pengalaman dengan simbol-simbol, serta untuk bertindak secara imajinatif dan kreatif.[27] Kemampuan ini muncul bersamaan dengan evolusi modernitas perilaku pada manusia sekitar 50.000 tahun yang lalu dan sering kali dianggap hanya dimiliki oleh manusia.[27] Meskipun demikian, beberapa spesies lain telah menunjukkan kemampuan yang serupa, walaupun kurang rumit, untuk pembelajaran sosial.[28] Istilah ini juga digunakan untuk menunjukkan jaringan kompleks dari praktik serta akumulasi pengetahuan dan gagasan yang ditransmisikan melalui interaksi sosial dan ada dalam kelompok manusia tertentu, atau kebudayaan-kebudayaan, dengan menggunakan bentuk jamak.[29]

Perubahan

Artikel utama: Perubahan budaya
250px-Beatles_ad_1965_just_the_beatles_crop.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
The Beatles menjadi contoh perubahan dinamika budaya, tidak hanya dalam musik, tetapi juga tata busana dan gaya hidup. Enam dekade setelah kemunculan mereka, mereka terus memberikan dampak budaya di seluruh dunia.

Raimon Panikkar mengidentifikasi 29 cara terjadinya perubahan budaya, termasuk pertumbuhan, perkembangan, evolusi, involusi, renovasi, konseptualisasi ulang, reformasi, inovasi, revitalisme, revolusi, mutasi, kemajuan, difusi, osmosis, peminjaman, eklektisisme, sinkretisme, modernisasi, indigenisasi, dan transformasi.[30] Dalam konteks ini, modernisasi dapat dipandang sebagai pengadopsian kepercayaan dan praktik era Pencerahan, seperti ilmu pengetahuan, rasionalisme, industri, perdagangan, demokrasi, serta gagasan tentang kemajuan. Rein Raud, dengan mengembangkan karya Umberto Eco, Pierre Bourdieu, dan Jeffrey C. Alexander, mengajukan model perubahan budaya berdasarkan klaim dan penawaran, yang dinilai menurut kecukupan kognitifnya serta disetujui atau tidak disetujui oleh otoritas simbolis dari komunitas budaya yang bersangkutan.[31]

250px-Indig2.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ukiran abad ke-19 menunjukkan penduduk asli Australia menentang kedatangan James Cook pada tahun 1770

Penemuan budaya diartikan sebagai inovasi baru apa pun yang dianggap berguna bagi sekelompok orang dan diungkapkan dalam perilaku mereka, tetapi tidak wujud sebagai objek fisik. Umat manusia berada dalam "periode percepatan perubahan budaya" global yang didorong oleh ekspansi perdagangan internasional, media massa, dan terutama ledakan populasi manusia, di antara faktor-faktor lainnya. Reposisi budaya berarti rekonstruksi konsep budaya dari suatu masyarakat.[32]

Secara internal, budaya dipengaruhi oleh kekuatan yang mendorong perubahan maupun kekuatan yang menolak perubahan. Kekuatan-kekuatan ini berkaitan dengan struktur sosial maupun peristiwa alam, serta terlibat dalam memelihara gagasan dan praktik budaya dalam struktur yang ada saat ini, yang mana struktur itu sendiri juga dapat mengalami perubahan.[33]

Konflik sosial dan perkembangan teknologi dapat menghasilkan perubahan dalam masyarakat dengan mengubah dinamika sosial, mempromosikan model budaya baru, serta memicu atau memungkinkan tindakan generatif. Pergeseran sosial ini dapat disertai dengan pergeseran ideologi dan jenis perubahan budaya lainnya. Sebagai contoh, gerakan feminis melibatkan praktik-praktik baru yang menghasilkan pergeseran dalam hubungan gender, sehingga mengubah struktur gender sekaligus struktur ekonomi. Kondisi lingkungan juga dapat menjadi faktor penentu. Sebagai contoh, setelah hutan tropis kembali tumbuh pada akhir zaman es terakhir, tanaman yang cocok untuk domestikasi menjadi tersedia, yang kemudian mengarah pada penemuan pertanian, yang pada gilirannya membawa banyak inovasi budaya dan pergeseran dalam dinamika sosial.[34]

Potret profil penuh seorang wanita yang berdiri di atas karpet di pintu masuk yurt, mengenakan pakaian dan perhiasan tradisional
Wanita Turkmen di atas karpet di pintu masuk yurt, mengenakan pakaian tradisional. Kesadaran akan waktu bergantung pada budaya. Foto ini diambil pada tahun 1913, tetapi bisa sulit ditentukan tanggalnya oleh penonton karena ketiadaan petunjuk budaya.

Secara eksternal, budaya dipengaruhi melalui kontak antarmasyarakat, yang juga dapat menghasilkan, atau justru menghambat, pergeseran sosial dan perubahan dalam praktik budaya. Perang atau persaingan memperebutkan sumber daya dapat memengaruhi perkembangan teknologi atau dinamika sosial. Selain itu, gagasan budaya dapat berpindah dari satu masyarakat ke masyarakat lain melalui difusi atau akulturasi. Dalam difusi, bentuk dari sesuatu (meskipun tidak selalu beserta maknanya) berpindah dari satu budaya ke budaya lain. Sebagai contoh, jaringan restoran dan merek kuliner Barat memicu rasa ingin tahu dan ketertarikan bagi masyarakat Tiongkok ketika Tiongkok membuka ekonominya terhadap perdagangan internasional pada akhir abad ke-20.[35] "Difusi stimulus" (berbagi gagasan) merujuk pada elemen dari satu budaya yang mengarah pada penemuan atau penyebaran di budaya lain. Sebaliknya, "peminjaman langsung" cenderung merujuk pada difusi teknologi atau wujud fisik dari satu budaya ke budaya lain. Teori difusi inovasi menyajikan model berbasis penelitian mengenai alasan dan waktu ketika individu serta budaya mengadopsi gagasan, praktik, dan produk baru.[36]

Akulturasi memiliki makna yang beragam. Namun, dalam konteks ini, akulturasi merujuk pada penggantian unsur-unsur suatu budaya dengan budaya lain, seperti yang terjadi pada suku-suku Penduduk Asli Amerika tertentu dan banyak masyarakat adat di seluruh dunia selama masa penjajahan. Proses terkait pada tingkat individu meliputi asimilasi dan transkulturasi. Arus budaya transnasional telah memainkan peran penting dalam memadukan berbagai budaya serta berbagi pemikiran, gagasan, dan kepercayaan.

Diskursus era modern awal

Romantisme Jerman

250px-Johann_gottfried_herder.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Johann Herder menarik perhatian terhadap budaya-budaya nasional.

Immanuel Kant (1724–1804) merumuskan definisi individualistis tentang "pencerahan" yang serupa dengan konsep bildung: "Pencerahan adalah keluarnya manusia dari ketidakdewasaan yang disebabkan oleh dirinya sendiri."[37] Ia berargumen bahwa ketidakdewasaan ini bukan berasal dari kurangnya pemahaman, melainkan dari kurangnya keberanian untuk berpikir secara mandiri. Menentang kepengecutan intelektual ini, Kant mendesak: "Sapere Aude" ("Beranilah untuk bijaksana!"). Sebagai reaksi terhadap Kant, para sarjana Jerman seperti Johann Gottfried Herder (1744–1803) berpendapat bahwa kreativitas manusia, yang secara niscaya mengambil bentuk-bentuk yang tidak terduga dan sangat beragam, sama pentingnya dengan rasionalitas manusia. Selain itu, Herder mengajukan bentuk kolektif dari Bildung: "Bagi Herder, Bildung adalah keseluruhan pengalaman yang memberikan identitas yang koheren dan kesadaran akan nasib bersama kepada suatu bangsa."[38]

250px-Adolf_Bastian.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Adolf Bastian mengembangkan model budaya yang universal.

Pada tahun 1795, ahli bahasa dan filsuf Prusia Wilhelm von Humboldt (1767–1835) menyerukan antropologi yang dapat mensintesiskan minat Kant dan Herder. Selama Era Romantik, para sarjana di Jerman, terutama mereka yang menaruh perhatian pada gerakan nasionalis, seperti perjuangan nasionalis untuk membentuk "Jerman" dari berbagai kadipaten yang terpecah, serta perjuangan nasionalis kelompok minoritas etnis melawan Kekaisaran Austria-Hongaria, mengembangkan gagasan budaya yang lebih inklusif sebagai "pandangan dunia" (Weltanschauung).[39] Menurut alur pemikiran ini, setiap kelompok etnis memiliki pandangan dunia khas yang tidak dapat diperbandingkan secara langsung dengan pandangan dunia kelompok lain. Meskipun lebih inklusif daripada pandangan-pandangan sebelumnya, pendekatan terhadap budaya ini masih memungkinkan adanya pembedaan antara budaya yang "beradab" dan "primitif" atau "kesukuan".

Pada tahun 1860, Adolf Bastian (1826–1905) berargumen demi "kesatuan psikis umat manusia".[40] Ia mengajukan bahwa perbandingan ilmiah terhadap semua masyarakat manusia akan mengungkapkan bahwa pandangan dunia yang berbeda terdiri dari elemen-elemen dasar yang sama. Menurut Bastian, semua masyarakat manusia berbagi sekelompok "gagasan dasar" (Elementargedanken); budaya yang berbeda, atau "gagasan rakyat" (Völkergedanken) yang berbeda, merupakan modifikasi lokal dari gagasan dasar tersebut.[41] Pandangan ini membuka jalan bagi pemahaman modern tentang budaya. Franz Boas (1858–1942) dididik dalam tradisi ini, dan ia membawanya ketika ia meninggalkan Jerman menuju Amerika Serikat.[42]

Romantisme Inggris

250px-Matthew_Arnold_-_Project_Gutenberg_eText_16745.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Penyair dan kritikus Inggris Matthew Arnold memandang "budaya" sebagai pemupukan cita-cita humanis.

Pada abad ke-19, para humanis seperti penyair dan eseis Inggris Matthew Arnold (1822–1888) menggunakan kata "budaya" untuk merujuk pada cita-cita penyempurnaan individu manusia, yaitu mengenai "hal terbaik yang telah dipikirkan dan dikatakan di dunia".[43] Konsep budaya ini juga dapat dibandingkan dengan konsep Jerman bildung: "...budaya merupakan upaya mengejar kesempurnaan menyeluruh kita dengan cara memahami, dalam semua hal yang paling penting bagi kita, hal terbaik yang telah dipikirkan dan dikatakan di dunia".[43]

Dalam praktiknya, budaya merujuk pada cita-cita elit dan dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan seperti seni, musik klasik, dan kuliner tinggi (haute cuisine).[44] Karena bentuk-bentuk ini dikaitkan dengan kehidupan perkotaan, "budaya" diidentifikasikan dengan "peradaban" (dari Latin: civitas, har. 'kota'). Segi lain dari gerakan Romantisme adalah minat pada budaya rakyat, yang mengarah pada pengidentifikasian "budaya" di kalangan non-elit. Pembedaan ini sering kali dikarakterisasikan sebagai pembedaan antara budaya tinggi, yaitu budaya kelas penguasa, dan budaya rendah. Dengan kata lain, gagasan tentang "budaya" yang berkembang di Eropa selama abad ke-18 dan awal abad ke-19 mencerminkan ketimpangan dalam masyarakat Eropa.[45]

250px-Edward_Burnett_Tylor.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Antropolog Inggris Edward Tylor adalah salah satu sarjana berbahasa Inggris pertama yang menggunakan istilah budaya dalam arti inklusif dan universal.

Matthew Arnold mempertentangkan "budaya" dengan anarki; para cendekiawan Eropa lainnya, mengikuti filsuf Thomas Hobbes dan Jean-Jacques Rousseau, mempertentangkan "budaya" dengan "keadaan alamiah". Menurut Hobbes dan Rousseau, penduduk asli Amerika yang ditaklukkan oleh bangsa Eropa sejak abad ke-16 hidup dalam keadaan alamiah; pertentangan ini diungkapkan melalui kontras antara "beradab" dan "tidak beradab".[46] Menurut cara berpikir ini, seseorang dapat mengklasifikasikan beberapa negara dan bangsa sebagai negara yang lebih beradab daripada yang lain, serta beberapa orang sebagai orang yang lebih berbudaya daripada yang lain. Kontras ini mengarah pada teori Darwinisme Sosial karya Herbert Spencer dan teori evolusi budaya karya Lewis Henry Morgan. Sebagaimana beberapa kritikus berpendapat bahwa pembedaan antara budaya tinggi dan rendah mengekspresikan konflik antara elit dan non-elit Eropa, kritikus lain berargumen bahwa pembedaan antara orang beradab dan tidak beradab merupakan cerminan dari konflik antara kekuatan kolonial Eropa dan rakyat jajahan mereka.

Kritikus abad ke-19 lainnya, mengikuti Rousseau, menerima pembedaan antara budaya tinggi dan rendah ini, tetapi memandang kehalusan dan kecanggihan budaya tinggi sebagai perkembangan merusak dan tidak alami yang mengaburkan serta menyimpangkan kodrat asli manusia. Para kritikus ini menganggap musik rakyat (yang dihasilkan oleh "rakyat biasa", yaitu petani pedesaan yang buta huruf) secara jujur mengekspresikan cara hidup yang alami, sementara musik klasik tampak dangkal dan dekaden. Demikian pula, pandangan ini sering menggambarkan masyarakat adat sebagai "primitif mulia" yang menjalani kehidupan yang otentik dan tanpa cela, yang tidak rumit dan tidak ternoda oleh sistem kapitalis yang sangat terstratifikasi dalam Budaya Barat.

Pada tahun 1870, antropolog Edward Tylor (1832–1917) menerapkan gagasan-gagasan tentang budaya tinggi versus budaya rendah ini untuk mengajukan teori evolusi agama. Menurut teori ini, agama berevolusi dari bentuk yang lebih politeistis ke bentuk yang lebih monoteistis.[47] Dalam proses tersebut, ia mendefinisikan ulang budaya sebagai serangkaian aktivitas beragam yang menjadi ciri khas seluruh masyarakat manusia. Pandangan ini membuka jalan bagi pemahaman modern tentang agama.

Antropologi

250px-Gobustan_ancient_Azerbaycan_full.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Petroglif di wilayah yang kini menjadi Gobustan, Azerbaijan, berasal dari tahun 10.000 SM dan menunjukkan kebudayaan yang berkembang pesat

Meskipun para antropolog di seluruh dunia merujuk pada definisi budaya dari Tylor,[48] pada abad ke-20 "budaya" muncul sebagai konsep sentral dan pemersatu dalam antropologi Amerika, di mana istilah ini paling umum merujuk pada kapasitas universal manusia untuk mengklasifikasikan dan mengodekan pengalaman manusia secara simbolis, serta mengomunikasikan pengalaman yang terkodekan secara simbolis tersebut secara sosial.[49] Antropologi Amerika terbagi menjadi empat bidang, yang masing-masing memainkan peran penting dalam penelitian tentang budaya: antropologi biologi, antropologi linguistik, antropologi budaya, dan di Amerika Serikat serta Kanada, arkeologi.[50][51][52][53] Istilah Kulturbrille, atau 'kacamata budaya', yang dicetuskan oleh antropolog Jerman-Amerika Franz Boas, merujuk pada "lensa" tempat seseorang melihat budayanya sendiri. Martin Lindstrom menegaskan bahwa Kulturbrille, yang memungkinkan seseorang memahami budaya yang ditinggalinya, "dapat membutakan kita terhadap hal-hal yang dapat langsung ditangkap oleh orang luar".[54]

Sosiologi

Artikel utama: Sosiologi budaya
250px-04162012Bailes032.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Contoh tarian rakyat di Kolombia

Sosiologi budaya berkaitan dengan budaya sebagaimana yang terwujud dalam masyarakat. Bagi sosiolog Georg Simmel (1858–1918), budaya merujuk pada "pengembangan individu melalui perantara bentuk-bentuk eksternal yang telah diobjektifkan dalam perjalanan sejarah".[55] Dengan demikian, budaya dalam bidang sosiologis dapat didefinisikan sebagai cara berpikir, cara bertindak, dan objek-objek material yang secara bersama-sama membentuk cara hidup suatu masyarakat. Budaya dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu budaya nonmaterial dan budaya material.[3] Budaya nonmaterial merujuk pada gagasan nonfisik yang dimiliki individu tentang budayanya, termasuk nilai, sistem kepercayaan, aturan, norma, moral, bahasa, organisasi, dan pranata, sedangkan budaya material adalah bukti fisik dari suatu budaya dalam bentuk objek dan arsitektur yang mereka buat atau telah buat. Istilah ini cenderung relevan terutama dalam studi arkeologi dan antropologi, tetapi secara khusus berarti semua bukti material yang dapat dikaitkan dengan budaya, baik masa lalu maupun masa kini.

Sosiologi budaya pertama kali muncul di Jerman Weimar (1918–1933), ketika para sosiolog seperti Alfred Weber menggunakan istilah Kultursoziologie ('sosiologi budaya'). Sosiologi budaya kemudian ditemukan kembali di dunia berbahasa Inggris sebagai produk dari alihan budaya (cultural turn) pada dekade 1960-an, yang mengusung pendekatan strukturalis dan pascamodern terhadap ilmu sosial. Jenis sosiologi budaya ini dapat dianggap secara umum sebagai pendekatan yang menggabungkan analisis budaya dan teori kritis. Para sosiolog budaya cenderung menolak metode ilmiah, melainkan secara hermeneutis berfokus pada kata-kata, artefak, dan simbol. Sejak saat itu, budaya menjadi konsep penting di berbagai cabang sosiologi, termasuk bidang-bidang yang sangat ilmiah seperti stratifikasi sosial dan analisis jaringan sosial. Akibatnya, terjadi lonjakan sosiolog kuantitatif yang memasuki bidang ini belakangan ini. Dengan demikian, kini terdapat sekelompok sosiolog budaya yang tumbuh dan, secara membingungkan, bukan merupakan sosiolog budaya pascamodern. Para sarjana ini menolak aspek-aspek pascamodern yang abstrak dari sosiologi budaya, dan sebaliknya mencari landasan teoretis dari alur yang lebih ilmiah seperti psikologi sosial dan ilmu kognitif.[56]

250px-7SEEN_89.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Nowruz adalah contoh budaya populer dan budaya rakyat yang dirayakan oleh masyarakat di lebih dari 22 negara dari berbagai bangsa dan agama pada hari pertama musim semi. Hari raya ini telah dirayakan oleh berbagai komunitas selama lebih dari 7.000 tahun.

Peneliti awal dan perkembangan sosiologi budaya

Sosiologi budaya tumbuh dari persimpangan antara sosiologi (sebagaimana dibentuk oleh para teoris awal seperti Marx,[57] Durkheim, dan Max Weber) dengan disiplin antropologi yang sedang berkembang, di mana para peneliti memelopori strategi etnografis untuk mendeskripsikan dan menganalisis berbagai budaya di seluruh dunia. Sebagian warisan dari perkembangan awal bidang ini masih bertahan dalam metodenya (sebagian besar penelitian sosiologis budaya bersifat kualitatif), dalam teorinya (berbagai pendekatan kritis terhadap sosiologi menjadi pusat bagi komunitas penelitian saat ini), serta dalam fokus substantif bidang tersebut. Sebagai contoh, hubungan antara budaya populer, kontrol politik, dan kelas sosial merupakan perhatian awal dan berkelanjutan dalam bidang ini.

Studi budaya

Artikel utama: Studi budaya

Di Britania Raya, para sosiolog dan cendekiawan lain yang dipengaruhi oleh Marxisme seperti Stuart Hall (1932–2014) dan Raymond Williams (1921–1988) mengembangkan studi budaya. Mengikuti kaum Romantik abad kesembilan belas, mereka mengidentifikasikan budaya dengan barang-barang konsumsi dan kegiatan waktu luang (seperti seni, musik, film, makanan, olahraga, dan pakaian). Mereka memandang pola konsumsi dan waktu luang ditentukan oleh hubungan produksi, yang mengarahkan mereka untuk berfokus pada hubungan kelas dan organisasi produksi.[58][59]

Di Britania Raya, studi budaya sebagian besar berfokus pada studi budaya populer, yaitu pada makna sosial dari barang-barang konsumsi dan waktu luang yang diproduksi secara massal. Richard Hoggart mencetuskan istilah ini pada tahun 1964 ketika ia mendirikan Centre for Contemporary Cultural Studies atau CCCS.[60] Dengan demikian, studi budaya dalam arti ini dapat dipandang sebagai konsentrasi terbatas yang berfokus pada kerumitan konsumerisme, yang merupakan bagian dari budaya yang lebih luas yang terkadang disebut sebagai peradaban Barat atau globalisme.

250px-Metropolitan_Museum_1_%284675714481%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Metropolitan Museum of Art di Manhattan. Seni rupa dapat menjadi salah satu ekspresi dari budaya tinggi.

Sejak dekade 1970-an dan seterusnya, karya pelopor Stuart Hall, bersama dengan rekan-rekannya seperti Paul Willis, Dick Hebdige, Tony Jefferson, dan Angela McRobbie, menciptakan sebuah gerakan intelektual internasional. Seiring berkembangnya bidang ini, studi budaya mulai menggabungkan ekonomi politik, ilmu komunikasi, sosiologi, teori sosial, teori sastra, teori media, studi film/video, antropologi budaya, filsafat, studi museum, dan sejarah seni untuk mempelajari fenomena budaya atau teks budaya. Dalam bidang ini, para peneliti sering berfokus pada bagaimana fenomena tertentu berkaitan dengan masalah ideologi, kebangsaan, etnisitas, kelas sosial, atau gender.[61]

Studi budaya berkaitan dengan makna dan praktik kehidupan sehari-hari. Praktik-praktik ini mencakup cara orang melakukan hal-hal tertentu (seperti menonton televisi atau makan di luar) dalam budaya tertentu. Studi budaya juga mempelajari makna dan kegunaan yang dikaitkan orang dengan berbagai objek dan praktik. Secara khusus, budaya melibatkan makna dan praktik yang dipegang secara independen dari penalaran rasional. Menonton televisi untuk melihat perspektif publik mengenai suatu peristiwa sejarah tidak boleh dianggap sebagai budaya kecuali merujuk pada media televisi itu sendiri, yang mungkin telah dipilih secara budaya; namun, anak-anak sekolah yang menonton televisi sepulang sekolah bersama teman-teman mereka agar "diterima" jelas memenuhi syarat, karena tidak ada alasan mendasar atas partisipasi seseorang dalam praktik tersebut.

Dalam konteks studi budaya, teks tidak hanya mencakup bahasa tertulis, tetapi juga film, foto, tata busana, atau gaya rambut: teks dalam studi budaya mencakup semua artefak budaya yang bermakna.[62] Demikian pula, disiplin ini memperluas konsep budaya. Bagi seorang peneliti studi budaya, budaya tidak hanya mencakup budaya tinggi tradisional (budaya dari kelompok sosial penguasa)[63] dan budaya populer, tetapi juga makna dan praktik sehari-hari. Dua hal terakhir ini, pada kenyataannya, telah menjadi fokus utama studi budaya. Pendekatan lebih lanjut yang terbaru adalah studi budaya komparatif, yang didasarkan pada disiplin sastra komparatif dan studi budaya.[64]

Para cendekiawan di Britania Raya dan Amerika Serikat mengembangkan versi studi budaya yang berbeda setelah dekade 1970-an. Versi Britania dari studi budaya berasal dari dekade 1950-an dan 1960-an, utamanya di bawah pengaruh Richard Hoggart, E. P. Thompson, dan Raymond Williams, dan kemudian di bawah pengaruh Stuart Hall dan para cendekiawan lainnya di Centre for Contemporary Cultural Studies. Versi ini mencakup pandangan politik sayap kiri secara terbuka, serta kritik terhadap budaya populer sebagai budaya massa "kapitalis"; versi ini menyerap beberapa gagasan dari kritik Mazhab Frankfurt mengenai "industri budaya", yaitu budaya massa. Hal ini muncul dalam tulisan-tulisan para sarjana awal studi budaya Britania serta pengaruh-pengaruh mereka: lihat karya Raymond Williams, Stuart Hall, Paul Willis, dan Paul Gilroy.

Di Amerika Serikat, Lindlof dan Taylor menulis, "studi budaya [berakar] pada tradisi pragmatis dan liberal-pluralis."[65] Versi Amerika dari studi budaya pada awalnya lebih berfokus pada pemahaman sisi subjektif dan apropriatif dari reaksi audiens terhadap, serta penggunaan, budaya massa; sebagai contoh, para pendukung studi budaya Amerika menulis tentang aspek pembebasan dari fandom.[66][67]

Beberapa peneliti, terutama dalam studi budaya awal di Britania, menerapkan model Marxis dalam bidang ini. Alur pemikiran ini mendapat pengaruh dari Mazhab Frankfurt, tetapi terutama dari Marxisme strukturalis karya Louis Althusser dan para pemikir lainnya. Fokus utama dari pendekatan Marxis ortodoks berkonsentrasi pada produksi makna. Model ini mengasumsikan adanya produksi massa atas budaya dan mengidentifikasi kekuasaan berada pada mereka yang memproduksi artefak budaya.

Dalam pandangan Marxis, mode dan hubungan produksi membentuk basis ekonomi masyarakat, yang secara konstan berinteraksi dan memengaruhi bangunan atas (superstruktur), seperti budaya.[68] Pendekatan lain terhadap studi budaya, seperti studi budaya feminis dan perkembangan bidang ini belakangan di Amerika, menjarakkan diri dari pandangan ini. Mereka mengkritik asumsi Marxis tentang adanya makna tunggal yang dominan dan dibagikan secara bersama oleh semua orang untuk setiap produk budaya. Pendekatan non-Marxis menunjukkan bahwa berbagai cara mengonsumsi artefak budaya memengaruhi makna dari produk tersebut.

Pandangan ini terlihat dalam buku Doing Cultural Studies: The Story of the Sony Walkman (oleh Paul du Gay dkk.),[69] yang berupaya menantang gagasan bahwa mereka yang memproduksi komoditas mengendalikan makna yang dikaitkan orang dengannya. Analis budaya, teoretikus, dan sejarawan seni feminis Griselda Pollock berkontribusi pada studi budaya dari sudut pandang sejarah seni dan psikoanalisis. Penulis Julia Kristeva termasuk di antara suara-suara berpengaruh pada pergantian abad, yang berkontribusi pada studi budaya dari bidang seni dan feminisme Prancis psikoanalitis.[70]

Petrakis dan Kostis (2013) membagi variabel latar belakang budaya menjadi dua kelompok utama:[71]

  1. Kelompok pertama mencakup variabel-variabel yang mewakili "orientasi efisiensi" masyarakat: orientasi kinerja, orientasi masa depan, asertivitas, jarak kekuasaan, dan penghindaran ketidakpastian.
  2. Kelompok kedua mencakup variabel-variabel yang mewakili "orientasi sosial" masyarakat, yaitu sikap dan gaya hidup anggotanya. Variabel-variabel ini mencakup egalitarianisme gender, kolektivisme institusional, kolektivisme dalam kelompok, dan orientasi kemanusiaan.

Pada tahun 2016, pendekatan baru terhadap budaya diajukan oleh Rein Raud,[31] yang mendefinisikan budaya sebagai jumlah sumber daya yang tersedia bagi manusia untuk memahami dunia mereka serta mengajukan pendekatan dua tingkat, yang menggabungkan studi tentang teks (semua makna tereifikasi yang beredar) dan praktik budaya (semua tindakan yang dapat diulang yang melibatkan produksi, penyebaran, atau transmisi tujuan), sehingga memungkinkan untuk menghubungkan kembali studi antropologis dan sosiologis tentang budaya dengan tradisi teori tekstual.

Psikologi

250px-NYC_Pride_2019_05.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pawai Pride NYC merupakan acara LGBT terbesar di dunia. Terdapat variasi regional terkait toleransi di berbagai belahan dunia.
250px-Boulier1.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Alat-alat kognitif menawarkan cara bagi orang-orang dari budaya tertentu untuk menangani masalah kehidupan nyata, seperti suanpan untuk perhitungan matematika.

Sejak dekade 1990-an,[72]: 31  penelitian psikologis tentang pengaruh budaya mulai berkembang dan menantang sifat universalitas yang diasumsikan dalam psikologi umum.[73]: 158–168 [74] Para psikolog budaya mulai berupaya mengeksplorasi hubungan antara emosi dan budaya, serta menjawab apakah pikiran manusia bersifat independen dari budaya. Sebagai contoh, orang-orang dari budaya kolektivistik, seperti masyarakat Jepang, lebih menekan emosi positif mereka dibandingkan rekan-rekan mereka dari Amerika Serikat.[75] Budaya dapat memengaruhi cara seseorang mengalami dan mengekspresikan emosi. Di sisi lain, beberapa peneliti mencoba mencari perbedaan antara kepribadian seseorang di berbagai budaya.[76][77] Karena budaya yang berbeda menetapkan norma-norma yang khas, gegar budaya juga dipelajari untuk memahami bagaimana orang bereaksi ketika dihadapkan dengan budaya lain. Budaya LGBT ditampilkan dengan tingkat toleransi yang berbeda secara signifikan di berbagai budaya dan negara. Alat-alat kognitif mungkin tidak dapat diakses atau dapat berfungsi secara berbeda antarbudaya.[72]: 19  Sebagai contoh, orang-orang yang dibesarkan dalam budaya yang menggunakan sempoa dilatih dengan gaya penalaran yang khas.[78] Lensa budaya juga dapat membuat orang memandang hasil peristiwa yang sama secara berbeda. Orang Barat lebih termotivasi oleh keberhasilan daripada kegagalan mereka, sedangkan orang Asia Timur lebih termotivasi oleh penghindaran terhadap kegagalan.[79]

Budaya merupakan hal penting yang perlu dipertimbangkan oleh para psikolog dalam memahami operasi mental manusia. Gagasan tentang remaja yang cemas, tidak stabil, dan pemberontak telah dikritik oleh para ahli, seperti Robert Epstein, yang menyatakan bahwa otak yang belum berkembang bukanlah penyebab utama gejolak remaja.[80][81] Beberapa pihak mengkritik pemahaman tentang masa remaja ini dengan mengklasifikasikannya sebagai fenomena yang relatif baru dalam sejarah manusia yang diciptakan oleh masyarakat modern,[82][83][84][85] serta sangat kritis terhadap apa yang mereka pandang sebagai infantilisasi orang dewasa muda dalam masyarakat Amerika.[86] Menurut Robert Epstein dan Jennifer, "gejolak remaja bergaya Amerika tidak ditemukan di lebih dari 100 budaya di seluruh dunia, yang menunjukkan bahwa kekacauan seperti itu tidak dapat dihindari secara biologis. Kedua, otak itu sendiri berubah sebagai respons terhadap pengalaman, yang menimbulkan pertanyaan apakah karakteristik otak remaja merupakan penyebab gejolak remaja atau justru hasil dari gaya hidup dan pengalaman."[87] David Moshman juga menyatakan sehubungan dengan masa remaja bahwa penelitian otak "sangat penting untuk memperoleh gambaran yang utuh, tetapi tidak memberikan penjelasan yang mutlak".[88]

Perlindungan budaya

250px-Restauration_cercueil-egyptien_Mbalyon_%2812%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Restorasi monumen Mesir Kuno

Terdapat sejumlah perjanjian internasional dan hukum nasional yang berkaitan dengan perlindungan warisan budaya dan keanekaragaman budaya. UNESCO dan organisasi mitranya seperti Blue Shield International mengoordinasikan perlindungan internasional dan penerapan di tingkat lokal.[89][90] Konvensi Den Haag untuk Perlindungan Benda Budaya dalam Peristiwa Sengketa Bersenjata dan Konvensi tentang Perlindungan dan Promosi Keanekaragaman Ekspresi Budaya UNESCO mengatur tentang perlindungan budaya. Pasal 27 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia mengatur tentang warisan budaya dalam dua aspek: di satu sisi memberikan hak bagi setiap orang untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya, dan di sisi lain memberikan hak atas perlindungan terhadap kontribusi mereka dalam kehidupan budaya.[91]

250px-Manifestation_D%C3%A9fense_du_service_public_et_de_la_culture_Nantes_-_5_d%C3%A9cembre_2024_%2854185059095%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Poster anarkis bertuliskan "Tanpa Budaya, Tanpa Masa Depan!", 5 Desember 2024

Pada abad ke-21, perlindungan budaya telah menjadi fokus peningkatan kegiatan oleh organisasi nasional dan internasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa dan UNESCO mempromosikan pelestarian budaya serta keanekaragaman budaya melalui deklarasi dan konvensi atau perjanjian yang mengikat secara hukum. Tujuannya bukanlah untuk melindungi kepemilikan seseorang, melainkan untuk melestarikan warisan budaya umat manusia, terutama dalam peristiwa perang dan konflik bersenjata. Menurut Karl von Habsburg, Presiden Blue Shield International, penghancuran aset budaya juga merupakan bagian dari perang psikologis. Sasaran dari serangan tersebut adalah identitas lawan, itulah sebabnya aset budaya simbolis menjadi target utama. Serangan ini juga bertujuan untuk memengaruhi ingatan budaya yang sangat sensitif, keanekaragaman budaya yang kian berkembang, serta basis ekonomi (seperti pariwisata) dari suatu negara, wilayah, atau kotamadya.[92][93][94]

Pariwisata memberikan dampak yang semakin besar terhadap berbagai bentuk budaya. Di satu sisi, hal ini dapat berupa dampak fisik pada objek individual atau kerusakan yang disebabkan oleh peningkatan pencemaran lingkungan, dan di sisi lain, berupa dampak sosio-budaya terhadap masyarakat.[95][96][97]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Tylor, Edward. (1871). Primitive Culture. Vol 1. New York: J. P. Putnam's Son
  2. ↑ Jackson, Y. Encyclopedia of Multicultural Psychology, p. 203
  3. 1 2 Macionis, John J.; Gerber, Linda Marie (2011). Sociology. Toronto: Pearson Prentice Hall. hlm. 53. ISBN 988-0-13-700161-3. OCLC 652430995.{{cite book}}: Periksa nilai |isbn=: awalan tidak valid
  4. ↑ Williams, Raymond (1988). Keywords: A Vocabulary of Culture and Society. Fontana. hlm. 87.
  5. ↑ Childe, V. Gordon (1951). Man Makes Himself. Mentor. hlm. 150.
  6. ↑ Bourdieu, Pierre (1984). Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste. Routledge. hlm. 1.
  7. ↑ Hall, Stuart (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. Sage. hlm. 17.
  8. ↑ Storey, John (1996). Cultural Studies: Theory and Practice. Routledge. hlm. 50.
  9. ↑ Eagleton, Terry (1983). Literary Theory: An Introduction. Blackwell. hlm. 95.
  10. ↑ Williams, Raymond (1958). Culture and Society. Chatto & Windus. hlm. 125.
  11. ↑ Harris, Marvin (1979). Cultural Materialism: The Struggle for a Science of Culture. Random House. hlm. 2.
  12. ↑ Geertz, Clifford (1973). The Interpretation of Cultures. Basic Books. hlm. 89.
  13. ↑ Kymlicka, Will (1995). Multicultural Citizenship: A Liberal Theory of Minority Rights. Oxford University Press. hlm. 4.
  14. ↑ Hebdige, Dick (1979). Subculture: The Meaning of Style. Routledge. hlm. 5.
  15. ↑ Boas, Franz (1940). Race, Language, and Culture. University of Chicago Press. hlm. 212.
  16. 1 2 Koentjaraningrat (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta. hlm. 180. ISBN 978-979-518-966-4.
  17. ↑ Dewantara, Ki Hadjar (1962). Karya Ki Hadjar Dewantara, Bagian IIA: Kebudayaan. Yogyakarta: Majelis Luhur Taman Siswa. hlm. 14.
  18. ↑ "Entri "budaya" - KBBI Daring". kbbi.kemdikbud.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Diakses tanggal 26 Oktober 2026.
  19. ↑ Marcus Tullius Cicero (1812). Tusculanes (dalam bahasa Prancis). Diterjemahkan oleh Bouhier, Jean. Nismes: J. Gaude. hlm. 273. OCLC 457735057. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 2, 2018. Diakses tanggal Maret 3, 2018.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  20. 1 2 Velkley, Richard L. (2002). "The Tension in the Beautiful: On Culture and Civilization in Rousseau and German Philosophy". Being after Rousseau: philosophy and culture in question. Chicago: University of Chicago Press. hlm. 11–30. ISBN 988-0-226-85256-0. OCLC 47930775.{{cite book}}: Periksa nilai |isbn=: awalan tidak valid
  21. ↑ Sorrells, Kathryn (2015). Intercultural Communication: Globalization and Social Justice. Los Angeles: Sage. ISBN 988-1-4129-2744-4.{{cite book}}: Periksa nilai |isbn=: awalan tidak valid[halaman dibutuhkan]
  22. ↑ Tylor 1974, 1.
  23. ↑ James, Paul; Magee, Liam; Scerri, Andy; Steger, Manfred (2015). Urban Sustainability in Theory and Practice: Circles of Sustainability. London: Routledge. hlm. 53. ISBN 988-1-138-02572-1. OCLC 942553107. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Juni 26, 2017. Diakses tanggal Mei 29, 2017.{{cite book}}: Periksa nilai |isbn=: awalan tidak validPemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  24. ↑ "culture". Cambridge English Dictionary. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Agustus 15, 2015. Diakses tanggal Juli 26, 2015.{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  25. ↑ Pyszczynski, Tom; Solomon, Sheldon; Greenberg, Jeff (2015). Thirty Years of Terror Management Theory. Advances in Experimental Social Psychology. Vol. 52. hlm. 1–70. doi:10.1016/bs.aesp.2015.03.001. ISBN 988-0-12-802247-4.{{cite book}}: Periksa nilai |isbn=: awalan tidak valid
  26. ↑ Greenberg, Jeff; Koole, Sander L.; Pyszczynski, Tom (2013). Handbook of Experimental Existential Psychology. Guilford Publications. ISBN 988-1-4625-1479-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Desember 31, 2016. Diakses tanggal Juni 1, 2016.{{cite book}}: Periksa nilai |isbn=: awalan tidak validPemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  27. 1 2 Mellars, Paul (2005). "Archaeology and the origins of modern human behavior". Current Anthropology. 46 (1): 15–60. arXiv:astro-ph/0406390. doi:10.1086/426050.
  28. ↑ Laland, Kevin N.; Williams, Kimberly (2007). "The evolution of social learning and social cognition". Animal Behaviour. 74 (4): 571–581. doi:10.1016/j.anbehav.2006.12.004.
  29. ↑ Tylor, Edward Burnett (1871). Primitive Culture: Researches into the Development of Mythology, Philosophy, Religion, Art, and Custom. John Murray.
  30. ↑ Panikkar, Raimon (1991). Pathil, Kuncheria (ed.). Religious Pluralism: An Indian Christian Perspective. ISPCK. hlm. 252–299. ISBN 978-81-7214-005-2. OCLC 25410539.
  31. 1 2 Rein, Raud (2016). Meaning in Action: Outline of an Integral Theory of Culture. Cambridge: Polity. ISBN 978-1-5095-1124-2. OCLC 944339574.
  32. ↑ Chigbu, Uchendu Eugene (Juli 3, 2015). "Repositioning culture for development: women and development in a Nigerian rural community". Community, Work & Family. 18 (3): 334–350. doi:10.1080/13668803.2014.981506. ISSN 1366-8803. S2CID 144448501.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  33. ↑ O'Neil, Dennis (2006). "Culture Change: Processes of Change". Culture Change. Palomar College. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Oktober 27, 2016. Diakses tanggal Oktober 29, 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  34. ↑ Pringle, Heather (November 20, 1998). "The Slow Birth of Agriculture". Science. 282 (5393): 1446. doi:10.1126/science.282.5393.1446. ISSN 0036-8075. S2CID 128522781.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  35. ↑ Wei, Clarissa (Maret 20, 2018). "Why China Loves American Chain Restaurants So Much". Eater. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Maret 30, 2019. Diakses tanggal September 29, 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  36. ↑ Stephen Wolfram (May 16, 2017) A New Kind of Science: A 15-Year View Diarsipkan Februari 28, 2021, di Wayback Machine As applied to the computational universe
  37. ↑ Kant, Immanuel. 1784. "Answering the Question: What is Enlightenment?" (Jerman: Beantwortung der Frage: Was ist Aufklärung?) Berlinische Monatsschrift, December (Berlin Monthly)
  38. ↑ Eldridge, Michael. "The German Bildung Tradition". UNC Charlotte. Diarsipkan dari asli tanggal Januari 23, 2009. Diakses tanggal Mei 29, 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  39. ↑ Underhill, James W. (2009). Humboldt, Worldview, and Language. Edinburgh: Edinburgh University Press.
  40. ↑ Köpping, Klaus-Peter (2005). Adolf Bastian and the psychic unity of mankind. Lit Verlag. ISBN 978-3-8258-3989-5. OCLC 977343058.
  41. ↑ Ellis, Ian. "Biography of Adolf Bastian, ethnologist". Today in Science History. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Agustus 6, 2017. Diakses tanggal Mei 29, 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  42. ↑ Liron, Tal (2003). Franz Boas and the discovery of culture (PDF) (Tesis). OCLC 52888196. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal Januari 2, 2017. Diakses tanggal Oktober 30, 2016.{{cite thesis}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  43. 1 2 Arnold, Matthew (1869). "Culture and Anarchy". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Januari 6, 2017. Diakses tanggal Mei 29, 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  44. ↑ Williams (1983), p. 90. Citing Roy, Shuker (1997). Understanding popular music. Routledge. hlm. 5. ISBN 978-0-415-10723-5. OCLC 245910934. berargumen bahwa definisi budaya kontemporer terbagi ke dalam tiga kemungkinan atau gabungan dari tiga hal berikut:
    • "proses umum perkembangan intelektual, spiritual, dan estetis."
    • "cara hidup tertentu, baik dari suatu masyarakat, periode, atau kelompok."
    • "karya dan praktik kegiatan intelektual dan terutama artistik."
  45. ↑ Bakhtin 1981, p. 4
  46. ↑ Dunne, Timothy; Reus-Smit, Christian (2017). The globalization of international society. Oxford. hlm. 102–121. ISBN 978-0-19-251193-5.
  47. ↑ McClenon, pp. 528–529
  48. ↑ Angioni, Giulio (1973). Tre saggi sull'antropologia dell'età coloniale (dalam bahasa Italia). OCLC 641869481.
  49. ↑ Teslow, Tracy (2016). Constructing race: the science of bodies and cultures in American anthropology. Cambridge University Press. ISBN 978-1-316-60338-3. OCLC 980557304.
  50. ↑ "anthropology". Lexico UK English Dictionary. Oxford University Press. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-01-22.
  51. ↑ Fernandez, James W.; Hanchett, Suzanne L.; Jeganathan, Pradeep; Nicholas, Ralph W.; Robotham, Donald Keith; Smith, Eric A. (Agustus 31, 2015). "anthropology". Encyclopædia Britannica. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Oktober 30, 2016. Diakses tanggal Oktober 30, 2016.{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  52. ↑ "What is Anthropology? – Advance Your Career". American Anthropological Association. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Oktober 26, 2016. Diakses tanggal Oktober 30, 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  53. ↑ Haviland, William A.; McBride, Bunny; Prins, Harald E. L.; Walrath, Dana (2011). Cultural Anthropology: The Human Challenge. Wadsworth/Cengage Learning. ISBN 978-0-495-81082-7. OCLC 731048150.
  54. ↑ Lindström, Martin (2016). Small data: the tiny clues that uncover huge trends. London: St. Martin's Press. ISBN 978-1-250-08068-4. OCLC 921994909.
  55. ↑ Simmel, Georg (1971). Levine, Donald N. (ed.). Georg Simmel on individuality and social forms: selected writings. Chicago: University of Chicago Press. hlm. xix. ISBN 978-0-226-75776-6. OCLC 951272809.
  56. ↑ Griswold, Wendy (1987). "A Methodological Framework for the Sociology of Culture". Sociological Methodology. 17: 1–35. doi:10.2307/271027. ISSN 0081-1750. JSTOR 271027.
  57. ↑ Berlin, Isaiah; Ryan, Alan (2002). Karl Marx: His Life and Environment. New York: Oxford University Press. hlm. 130. ISBN 978-0-19-510326-7. OCLC 611127754.
  58. ↑ Williams, Raymond (1983). Keywords: A Vocabulary of Culture and Society. New York: Oxford University Press. hlm. 87–93, 236–238. OCLC 906396817.
  59. ↑ Berger, John (1972). Ways of seeing. Peter Smithn. ISBN 978-0-563-12244-9. OCLC 780459348.
  60. ↑ "Studying Culture – Reflections and Assessment: An Interview with Richard Hoggart". Media, Culture & Society. 13.
  61. ↑ Sardar, Ziauddin; Van Loon, Borin; Appignanesi, Richard (1994). Introducing Cultural Studies. New York: Totem Books. ISBN 978-1-84046-587-7. OCLC 937991291.
  62. ↑ Fiske, John; Turner, Graeme; Hodge, Robert Ian Vere (1987). Myths of Oz: reading Australian popular culture. London: Allen and Unwin. ISBN 978-0-04-330391-7. OCLC 883364628.
  63. ↑ Bakhtin, Mikhail Mikhaĭlovich; Holquist, Michael (1981). The dialogic imagination four essays. Austin: University of Texas Press. hlm. 4. OCLC 872436352.
  64. ↑ "Comparative Cultural Studies". Purdue University Press. 2015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Jun 2010. Diakses tanggal Oktober 30, 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  65. ↑ Lindlof, Thomas R.; Taylor, Bryan C. (2002). Qualitative Communication Research Methods (Edisi 2nd). Sage. hlm. 60. ISBN 978-0-7619-2493-7. OCLC 780825710.
  66. ↑ Jenkins, Henry (1992). Textual Poachers: Television Fans and Participatory Culture. Routledge. hlm. 2.
  67. ↑ Fiske, John (1989). Understanding Popular Culture. Routledge. hlm. 67.
  68. ↑ Gonick, Cy (Februari 7, 2006). "Marxism". The Canadian Encyclopedia. Historica Canada. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Oktober 7, 2019. Diakses tanggal Oktober 7, 2019.{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  69. ↑ du Gay, Paul, ed. (1997). Doing Cultural Studies: The Story of the Sony Walkman. Sage. ISBN 978-0-7619-5402-6. OCLC 949857570. Diakses tanggal Juli 2, 2015.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  70. ↑ MacKenzie, Gina (Agustus 21, 2018). "Julia Kristeva". Oxford Bibliographies. Oxford University Press. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Juli 12, 2019. Diakses tanggal September 29, 2019.{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  71. ↑ Petrakis, Panagiotis; Kostis, Pantelis (Desember 1, 2013). "Economic growth and cultural change". The Journal of Socio-Economics. 47: 147–157. doi:10.1016/j.socec.2013.02.011.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  72. 1 2 Heine, Steven J. (2015). "Cultural psychology". WIREs Cognitive Science. 1 (2) (Edisi Third). New York: Wiley Interdisciplinary Reviews. Cognitive Science: 254–266. doi:10.1002/wcs.7. ISBN 978-0-3932-6398-5. OCLC 911004797. PMID 26271239.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: terbitan berkala memiliki ISBN (link)
  73. ↑ Myers, David G. (2010). Social psychology (Edisi 10th). McGraw-Hill. ISBN 978-0-0733-7066-8. OCLC 667213323.
  74. ↑ Norenzayan, Ara; Heine, Steven J. (September 2005). "Psychological universals: what are they and how can we know?". Psychological Bulletin. 131 (5): 763–784. doi:10.1037/0033-2909.131.5.763. ISSN 0033-2909. PMID 16187859.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  75. ↑ Miyahara, Akira. "Toward Theorizing Japanese Communication Competence from a Non-Western Perspective". American Communication Journal. 3 (3).
  76. ↑ McCrae, Robert R.; Costa, Paul T.; de Lima, Margarida Pedroso; Simões, António; Ostendorf, Fritz; Angleitner, Alois; Marušić, Iris; Bratko, Denis; Caprara, Gian Vittorio; Barbaranelli, Claudio; Chae, Joon-Ho; Piedmont, Ralph L. (1999). "Age differences in personality across the adult life span: Parallels in five cultures". Developmental Psychology. 35 (2). American Psychological Association (APA): 466–477. doi:10.1037/0012-1649.35.2.466. ISSN 1939-0599. PMID 10082017.
  77. ↑ Cheung, F. M.; Leung, K.; Fan, R. M.; Song, W. S.; Zhang, J. X.; Zhang, H. P. (Maret 1996). "Development of the Chinese Personality Assessment Inventory". Journal of Cross-Cultural Psychology. 27 (2): 181–199. doi:10.1177/0022022196272003. S2CID 145134209.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  78. ↑ Baillargeon, Rene (2002). "The Acquisition of Physical Knowledge in Infancy: A Summary in Eight Lessons". Blackwell Handbook of Childhood Cognitive Development. Blackwell Publishers Ltd. hlm. 47–83. doi:10.1002/9780470996652.ch3. ISBN 978-0-470-99665-2.
  79. ↑ Heine, Steven J.; Kitayama, Shinobu; Lehman, Darrin R. (2001). "Cultural Differences in Self-Evaluation". Journal of Cross-Cultural Psychology. 32 (4): 434–443. doi:10.1177/0022022101032004004. ISSN 0022-0221. S2CID 40475406.
  80. ↑ Epstein, Robert (Juni 2007). "The Myth of the Teen Brain" (PDF). Scientific American. 17 (2): 68–75. Bibcode:2007SciAm..17...68E. doi:10.1038/scientificamerican0607-68sp. JSTOR 24939607.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  81. ↑ Romer, Dan (29 Oktober 2017). "Why it's time to lay the stereotype of the 'teen brain' to rest". The Conversation.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  82. ↑ "The Invention of Adolescence". Psychology Today. Juni 9, 2016. Diakses tanggal Februari 19, 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  83. ↑ Fasick, Frank A. (Februari 1994). "On the "Invention" of Adolescence". Journal of Early Adolescence. 14 (1): 6–23. doi:10.1177/0272431694014001002. S2CID 145165641.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) "[...] the application of technology to increase productivity, the affluence generated by it, and the related structural changes in society have contributed to the creation of adolescence in the North American urban-industrial society".
  84. ↑ Epstein, Robert (2010). Teen 2.0: Saving Our Children and Families from the Torment of Adolescence. Linden Publishing. ISBN 978-1-61035-101-0.
  85. ↑ Demos, John; Demos, Virginia (1969). "Adolescence in Historical Perspective". Journal of Marriage and Family. 31 (4): 632–638. doi:10.2307/349302. JSTOR 349302. "The idea of adolescence is today one of our most widely held and deeply imbedded assumptions about the process of human development. Indeed, most of us treat it not as an idea but as a fact. [...] The concept of adolescence, as generally understood and applied, did not exist before the last two decades of the nineteenth century."
  86. ↑ "The Danger of Treating Teens Like Children". help.fortroubledteens.com.
  87. ↑ Epstein, Robert; Ong, Jennifer (Agustus 25, 2009). "Are the Brains of Reckless Teens More Mature Than Those of Their Prudent Peers?". Scientific American. Diakses tanggal Oktober 5, 2017.{{cite magazine}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  88. ↑ Moshman, David (Mei 17, 2011). "The Teenage Brain: Debunking the 5 Biggest Myths". HuffPost. Diakses tanggal November 20, 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  89. ↑ Roger O’Keefe, Camille Péron, Tofig Musayev, Gianluca Ferrari "Protection of Cultural Property. Military Manual." UNESCO, 2016, p. 73.
  90. ↑ UNESCO Director-General calls for stronger cooperation for heritage protection at the Blue Shield International General Assembly. UNESCO, September 13, 2017.
  91. ↑ "UNESCO Legal Instruments: Second Protocol to the Hague Convention of 1954 for the Protection of Cultural Property in the Event of Armed Conflict 1999". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Agustus 25, 2021. Diakses tanggal September 1, 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  92. ↑ Gerold Keusch "Kulturschutz in der Ära der Identitätskriege" In: Truppendienst - Magazin des Österreichischen Bundesheeres, October 24, 2018.
  93. ↑ "Karl von Habsburg auf Mission im Libanon" (dalam bahasa Jerman). April 28, 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Mei 26, 2020. Diakses tanggal Desember 13, 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  94. ↑ Wegener, Corine; Otter, Marjan (Musim semi 2008). "Cultural Property at War: Protecting Heritage during Armed Conflict". The Getty Conservation Institute Newsletter. Vol. 23, no. 1. The Getty Conservation Institute.{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link); Stiffman, Eden (Mei 11, 2015). "Cultural Preservation in Disasters, War Zones. Presents Big Challenges". The Chronicle Of Philanthropy.{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link); Haider, Hans (Juni 29, 2012). "Missbrauch von Kulturgütern ist strafbar". Wiener Zeitung (dalam bahasa Jerman).{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  95. ↑ Shepard, Robert (Agustus 2002). "Commodification, culture and tourism". Tourist Studies. 2 (2): 183–201. doi:10.1177/146879702761936653. S2CID 55744323.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  96. ↑ Coye, N. dir. (2011), Lascaux et la conservation en milieu souterrain: actes du symposium international (Paris, 26-27 fév. 2009) = Lascaux and Preservation Issues in Subterranean Environments: Proceedings of the International Symposium (Paris, February 26 and 27), Éditions de la Maison des sciences de l'homme
  97. ↑ Jaafar, Mastura; Rasoolimanesh, S. Mostafa; Ismail, Safura (2017). "Perceived sociocultural impacts of tourism and community participation: A case study of Langkawi Island". Tourism and Hospitality Research. 17 (2): 123–134. doi:10.1177/1467358415610373. S2CID 157784805.

Sumber

  • Tylor, E. B. (1974) [1871]. Primitive culture: researches into the development of mythology, philosophy, religion, art, and custom. New York: Gordon Press. ISBN 978-0-87968-091-6.

Pranala luar

Cari tahu mengenai Budaya pada proyek-proyek Wikimedia lainnya:
Definisi dan terjemahan dari Wiktionary
Gambar dan media dari Commons
Berita dari Wikinews
Kutipan dari Wikiquote
Teks sumber dari Wikisource
Buku dari Wikibuku
Panduan wisata di Culture dari Wikivoyage
Ilmu pengetahuan
Sub bidang
Jenis
Aspek
Politik
Terkait
Konsep
Mazhab
Filsuf
Kuno
Abad Pertengahan
Modern awal
Abad ke-18 dan ke-19
Abad ke-20 dan ke-21
Karya
Lihat pula
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan