Kamis, 24 September 2026
02:48 WIB
TERKINI
Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN
Jeremy Bentham

Jeremy Bentham

Jeremy Bentham
250px-Jeremy_Bentham_by_Henry_William_Pickersgill_detail.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lahir(1748-02-15)15 Februari 1748
London, Inggris
Meninggal6 Juni 1832(1832-06-06) (umur 84)
London, Inggris
Filsafat
Era18th century
19th century
Utilitarianism, legal positivism, liberalism
Minat utama
Political philosophy, philosophy of law, ethics, economics
Gagasan terkenal
Greatest happiness principle
Tanda tangan
250px-Jeremy_Bentham_signature.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Jeremy Bentham (15 Februari 1748  6 Juni 1832) adalah filsuf pendiri utilitarianisme asal Inggris.[1][2][3] Ia dilahirkan di London, menempuh pendidikan di Oxford, dan kemudian mendapatkan kualifikasi sebagai seorang barrister (advokat) di London.[3] Bentham merupakan salah seorang filsuf empirisme dalam bidang moral dan politik.[3][4]

Latar belakang

Jeremy Bentham masuk ke Universitas Oxford pada usia dua belas tahun dan lulus pada usia lima belas tahun.[5] Dia kemudian mempelajari hukum dan mulai bekerja pada usia sembilan belas. Sebenarnya dia tidak pernah membuka kantor hukum karena sejak awal dia terlibat dalam reformasi sistem hukum Inggris, yang dia rasa sulit dipraktikkan dan aneh, baik dalam hal teorinya maupun prosedurnya, serta tidak manusiawi dan tidak adil.[5] Praktik ketidakadilan sosial membuat Bentham, sebagai seorang mahasiswa hukum, sangat berminat tehadap berbagai persoalan yang berkaitan dengan moralitas publik.[3] Ia banyak menulis tentang permasalahan etika, politik dan hukum. dalam rentang usianya yang cukup panjang, Bentham selalu bersemangat untuk menerapkan ide-ide praktisnya.[3] Ia menjadi pemimpin dari sebuah kelompok yang dikenal sebagai Para Radikal Filosofis (Philosophical Radicals) yang menjadi ujung tombak dari gerakan reformasi liberal.[3] Gerakan ini benyak menyoroti persoalan seputar pendidikan, hukum tentang aktivitas seksual, korupsi dalam institusi-institusi publik, penyensoran, dan pengelolaan penjara.[3]

Universitas baru

Pemikiran Bentham amat dipengaruhi oleh filsuf Prancis sebelum revolusi.[3][6] Ide mereka dikembangkan lebih lanjut oleh Bentham, yang kemudian memengaruhi sosialisme di Inggris pada abad 19.[3] Bentham dan para pengikutnya yang utama adalah para freethinker (pemikir bebas, tak beragama).[7]

Karena saat itu, para freethinker tidak diperkenankan masuk ke Universitas Oxford ataupun Cambridge, mereka pun mendirikan universitas baru.[3] Namanya adalah University College London, yang berdiri tahun 1826.[3]

Jeremy Bentham terus hadir di kampus itu sampai hari ini (dalam pengertian harfiah).[2][3] Di aula masuk, jasadnya yang telah dibalsem dipajang dalam sebuah kotak kaca, lengkap dengan pakaian yang biasa dikenakannya.[2][3]

Keunikan Bentham

Bentham punya kebiasaan unik dalam hal penerbitan.[2] Sebelum satu tulisan selesai, ia sering memulai tulisan lain dan meninggalkan tulisan pertama yang akhirnya tak kunjung purna.[3] Kalaupun ia menyelesaikannya, ia tidak melakukan apa-apa untuk menerbitkannya.[3] Berkat campur tangan sahabat-sahabatnya, tulisan Bentham kemudian diterbitkan dan banyak di antaranya setelah ia wafat.[2][3] Bahkan yang membuat namanya semakin terkenal justru sebuah terjemahan ke dalam bahasa Prancis yang diterbitkan di Paris pada 1802, pada saat ia telah 10 tahun menjadi warga negara republik Prancis yang baru.[3] Bentham jenis orang yang berkembang belakangan.[3] Tidak seperti kebanyakan orang, ia justru menjadi semakin radikal ketika semakin tua.[3]

Westminister Review

Pada 1824, hanya beberapa tahun sebelum wafatnya pada usia 84, dengan koceknya sendiri Bentham mendirikan Westminister Review.[2] Selama bertahun-tahun forum ini menjadi sebuah sebuah forum yang luar biasa efektif bagi tampilnya ide-ide maju.[2] Misalnya saja tiga dasawarsa kemudian, Westminister Review membuat perhatian dunia tertuju pada filsafat Schopenhauer yang terabaikan selama hamper 35 tahun.[3]

Kebaikan yang terbesar

lossy-page1-250px-Bentham_-_Defence_of_usury%2C_1788_-_5231094.tif.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Defence of usury, 1788

Sebagai prinsip pedoman bagi kebijakan publik, Bentham mengambil sebuah pepatah yang telah dikemukakan sejak awal abad 18 oleh seorang filsuf Skotlandia-Irlandia bernama Francis Hutcheson.[3] Pepatahnya: "Tindakan yang terbaik adalah yang memberikan sebanyak mungkin kebahagiaan bagi sebanyak mungkin orang".[3] Bentham mengembangkan pepatah ini menjadi sebuah filsafat moral, yang menyatakan bahwa benar salahnya suatu tindakan harus dinilai berdasarkan konsekuensi-konsekuensi yang diakibatkannya.[1][4]

Konsekunsi yang baik adalah konsekuensi yang memberikan kenikmatan kepada seseorang.[7] Di lain pihak, konsekuensi yang buruk adalah konsekuensi yang memberikan penderitaan kepada seseorang.[7] Dengan demikian, dalam situasi apapun pedoman tindakan yang benar adalah arah memaksimumkan kenikmatan dibandingkan penderitaan.[7] Atau dengan kata lain, meminimumkan penderitaan dibandingkan kenikmatan.[7]

Filsafat ini kemudian dikenal sebagai utilitarianisme.[4] Dinamakan demikian karena menilai setiap tindakan berdasarkan utilitasnya, yakni keberagamannya dalam membawakan konsekuensi-konsekuensi.[4] Para pendukung filsafat ini menerapakan prinsip-prinsip tersebut dalam bidang moralitas individu, kebijakan politik, hukum, dan sosial.[4] Filsafat ini sangat terlihat dalam memengaruhi pemerintahan Inggris. The greatest good of the greatest number yang artinya, kebaikan terbesar untuk jumlah terbesar.[3] Prinsip ini sudah menjadi ungkapan keseharian yang sudah sangat akrab di telinga setiap orang Inggris.[3]

Referensi

  1. 1 2 Robert Audi. 1995. The Cambridge Dictionary of Philosophy. United Kingdom: Cambridge University Press. Hlm. 824-825.
  2. 1 2 3 4 5 6 7 Encyclopedia of Philosophy
  3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 (Indonesia) Bryan Magee. 2001. The Story of Philosophy. Jogjakarta: Kanisius
  4. 1 2 3 4 5 A. Mangunhardjana. 1997. Isme-isme dalam Etika dari A sampai Z. Jogjakarta: Kanisius. Hal.228-231.
  5. 1 2 Gordon Graham. 2015. Teori-Teori Etika. Bandung: Nusa Media. Hal. 186
  6. Schoolnet
  7. 1 2 3 4 5 Lorens Bagus. 2000. Kamus Filsafat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Hlm. 1144

Bacaan lanjutan

  • Lea Campos Boralevi (1980). 'Bentham and the Oppressed'. Walter De Gruyter Inc, 1984 ISBN 3-11-009974-8
  • Burns, J. H. (1989). "Bentham and Blackstone: A Lifetime's Dialectic". Utilitas. 1: 22. doi:10.1017/S0953820800000042.
  • John Dinwiddy (1989), Bentham, Oxford University Press. ISBN 0-19-287622-8.
  • J. A. W. Gunn (1989). 'Jeremy Bentham and the Public Interest'. In J. Lively & A. Reeve (eds.) 'Modern Political Theory from Hobbes to Marx: Key Debates, London, pp. 199–219
  • Jonathan Harris (1998),'Bernardino Rivadavia and Benthamite "discipleship"', Latin American Research Review 33, pp. 129–49
  • R. Harrison (1983) Bentham. London.
  • P. J. Kelly (1990). Utilitarianism and Distributive Justice: Jeremy Bentham and the Civil Law. Oxford.
  • F. Rosen (1983). Jeremy Bentham and Representative Democracy: A Study of the "Constitutional Code". Oxford.
  • F. Rosen (1990) 'The Origins of Liberal Utilitarianism: Jeremy Bentham and Liberty'. In R. Bellamy, ed., Victorian Liberalism: Nineteenth-century Political Thought and Practice, London, pp. 5870
  • Robinson, Dave & Groves, Judy (2003). Introducing Political Philosophy. Icon Books. ISBN 1-84046-450-X.

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Jeremy Bentham.
Wikiquote memiliki koleksi kutipan yang berkaitan dengan: Jeremy Bentham.
Wikisumber memiliki karya asli dari atau mengenai:
Works
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan