Selasa, 03 November 2026
04:05 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Tara Emas

Tara Emas

Bagikan:
250px-Filippine%2C_provincia_di_agusan%2C_immagine_hindu%2C_statuetta_in_oro_massiccio%2C_xiii_secolo.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tara Emas di koleksi Field Museum of Natural History di Chicago.
250px-Golden_Tara_-_panoramio_%281%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sebuah patung Tara Emas di Butuan.
Bagian dari seri artikel mengenai
Sejarah Filipina
Philippine_History_Collage.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Garis waktu

Tara Emas adalah sebuah citra emas zaman Majapahit seberat 1,79 kilogram, 21 karat yang ditemukan di Esperanza, Agusan tahun 1918. Ketika dibeli oleh Field Museum of Chicago, mereka mengganti namanya menjadi 'Citra Emas Agusan' , meskipun nama ini ditolak oleh para sarjana di Filipina.

H. Otley Beyer yakin bahwa citra itu adalah dewi Saiwa, tetapi dengan sikap tangan yang sangat penting secara keagamaan yang ditiru dengan keliru oleh pekerja lokal. Jadi ini menunjukkan bahwa Hinduisme sudah ada di Filipina sebelum Ferdinand Magellan tiba, tetapi juga menunjukkan bahwa orang-orang Filipina awal memiliki versi Hinduisme yang tidak sempurna yang mereka peroleh dari Majapahit.

Sebuah penelitian mengenai citra ini dibuat oleh Dr. F.D.K. Bosch, dari Batavia, pada tahun 1920, yang sampai pada kesimpulan bahwa citra tersebut dibuat oleh para pekerja lokal di Mindanao, yang meniru sebuah citra Nganjuk dari zaman Majapahit awal - kecuali bahwa seniman lokal mengabaikan atribut pembeda yang ada di tangan. Mungkin ada hubungan dengan para penambang Jawa yang diketahui telah menambang emas di daerah Agusan-Surigao di pertengahan atau akhir abad ke-14. Citra ini kelihatannya mirip dewi Saiwa, dan cocok dengan nama "Butuan" (yang berarti "lingga").

— H. Otley Beyer, 1947[1]

Setelah penemuannya pada tahun 1918 oleh seorang perempuan Manobo bernama Bilay Campos, citra tersebut dicuri dari penyimpanannya di dalam sebuah peti tersembunyi di dalam rumah Manobo tradisional perempuan ini. Sebelum dicuri, suku Manobos, di mana Campos berasal, memandang Tara Emas sebagai dewata, roh alam yang dianggap melindungi luasnya hutan hujan dan jalan air dari wilayah kekuasaan leluhur mereka.

Sumber

  1. ↑ H. Otley Beyer, "Outline Review of Philippine Archaeology by Islands and Provinces," Philippine Journal of Science, Vol.77,Nos.34 (July–August 1947),pp. 205-374
40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan