Jumat, 06 November 2026
08:24 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan
Diadumenianus

Diadumenianus

Bagikan:
Diadumenianus
Koin emas yang menggambarkan Diadumenianus dari samping menghadap ke kanan
Sebuah aureus yang memuat citra Diadumenianus. Inskripsi bertuliskan m opel ant diadvmenian caes.
Kaisar Romawi
AugustusMei – Juni 218
PendahuluMacrinus (rekan-kaisar)
PenerusElagabalus
CaesarMei 217 – Mei 218
Lahir14 September 208
MeninggalJuni 218 (usia 9)
Zeugma
AyahMacrinus
IbuNonia Celsa
Nama lengkap
Marcus Opellius Diadumenianus (saat lahir)
Marcus Opellius Antoninus Diadumenianus (217)[1]
Nama takhta
Imperator Caesar Marcus Opellius Antoninus Diadumenianus Augustus

Diadumenianus (bahasa Latin:Marcus Opellius Antoninus Diadumenianus; 14 September 208 – Juni 218) adalah putra dari Kaisar Romawi Macrinus yang menjabat sebagai penguasa pendampingnya dalam waktu singkat pada tahun 218. Ibunya, yang merupakan istri Macrinus, dinamai Nonia Celsa dalam naskah Historia Augusta yang tidak tepercaya, meskipun nama ini kemungkinan besar fiktif. Diadumenianus diangkat menjadi caesar pada Mei 217, tidak lama setelah ayahnya naik takhta kekaisaran. Elagabalus, kerabat dari Caracalla yang belum lama meninggal, memimpin pemberontakan pada Mei tahun berikutnya, dan Diadumenianus lantas diangkat menjadi kaisar pendamping. Setelah Macrinus kalah dalam Pertempuran Antiokhia pada 8 Juni 218, Diadumenianus dikirim ke istana Ardawan IV dari Partia demi menjamin keselamatannya; akan tetapi, ia tertangkap dan dieksekusi dalam perjalanan. Setelah kematiannya dan kematian ayahnya, Senat Romawi menyatakan keduanya sebagai musuh negara, menghapus nama mereka dari catatan resmi, serta menghancurkan citra dan patung mereka—sebuah proses yang dalam kajian sejarah modern dikenal sebagai damnatio memoriae.

Sejarah

Diadumenianus lahir pada 14 September 208[2] dengan nama Marcus Opellius Diadumenianus dari ayahnya, Macrinus, seorang Praefectus praetorio dan calon kaisar keturunan Berber.[3] Naskah Historia Augusta yang tidak tepercaya—sebuah kumpulan biografi kaisar dan pengeklaim kaisar Romawi—secara keliru menyebut Diadumenianus sebagai "Diadumenus".[4] Sumber yang sama juga menyatakan bahwa ibu Diadumenianus (istri Macrinus) bernama Nonia Celsa, meskipun nama ini kemungkinan merupakan karangan penulis naskah tersebut.[5] Hanya sedikit informasi yang tersisa mengenai Diadumenianus, meskipun rincian penampilan fisiknya dapat diperkirakan dari koin-koin serta deskripsi dalam Historia Augusta, yang menyebutkan bahwa ia "tampan melebihi siapa pun, berperawakan agak tinggi, berambut pirang keemasan, bermata hitam, dan berhidung elang; bentuk dagunya sangat elok, mulutnya bagai diciptakan untuk dicium, serta memiliki keperkasaan alami dan keluwesan hasil latihan".[6]

Setelah menjabat sebagai praefectus praetorio di bawah Caracalla, Macrinus terlibat dalam konspirasi untuk membunuh sang kaisar, lalu memanfaatkan kekosongan kekuasaan yang timbul untuk merebut takhta bagi dirinya sendiri pada 11 April 217, tiga hari setelah kematian Caracalla.[7] Tidak lama kemudian, Diadumenianus yang berusia delapan tahun diangkat menjadi caesar—meresmikan posisinya sebagai penerus takhta—di Zeugma, ketika para pengawalnya sedang mengawalnya dari Antiokhia menuju Mesopotamia untuk bergabung bersama ayahnya. Pada saat yang sama, ia juga dianugerahi nama Antoninus untuk menghormati Dinasti Antoninus.[6][8] Pada 16 Mei 218, sebuah pemberontakan melawan dirinya dan ayahnya dikobarkan di Emesa oleh Elagabalus, yang ibunya, Julia Soaemias, merupakan sepupu Caracalla. Guna memadamkan pemberontakan tersebut, Macrinus memimpin legiun-legiunnya menuju sebuah benteng di Apamea. Di sana, Macrinus mengangkat Diadumenianus menjadi augustus, menjadikannya kaisar pendamping. Setelah Macrinus dikalahkan oleh Elagabalus pada 8 Juni 218 dalam Pertempuran Antiokhia, Macrinus melarikan diri ke utara lalu menuju Bosporus. Sebelum melarikan diri, ia memercayakan Diadumenianus kepada para pelayan yang setia dan menginstruksikan mereka untuk membawanya ke Kekaisaran Partia, menuju istana Ardawan IV dari Partia, demi menjamin keselamatannya. Namun, Diadumenianus tertangkap di tengah jalan saat berada di Zeugma dan dieksekusi pada akhir Juni.[9][10] Kepalanya dibawakan kepada Elagabalus dan dilaporkan disimpan sebagai piala kemenangan.[11]

Menyusul kematian Macrinus dan Diadumenianus, Senat Romawi dengan cepat menyatakan dukungan mereka bagi Elagabalus, sekaligus menetapkan para mantan kaisar tersebut sebagai musuh negara. Mereka dikenai proses yang dalam kajian sejarah modern dikenal sebagai damnatio memoriae, dengan citra serta penuturan nama mereka pada inskripsi dan papirus dihancurkan selama masa pemerintahan Elagabalus.[12] Sebagai upaya untuk menghapus seluruh jejak Diadumenianus dan ayahnya, Elagabalus merujuk penanggalan awal masa pemerintahannya sejak akhir masa pemerintahan Caracalla.[4] Patung dada Diadumenianus yang masih bertahan hingga kini umumnya rusak parah, hingga fitur wajahnya sulit dikenali.[13]

Numismatika

250px-Macrin%2C_aureus%2C_217-218%2C_RIC_4B_79.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Aureus milik Macrinus, yang menampilkan citra Diadumenianus pada sisi belakang, duduk di atas panggung yang berada di samping ayahnya bersama alegori Liberalitas di hadapan mereka.[14]
250px-Diadumenian%2C_aureus%2C_217-218%2C_RIC_4b_101.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Aureus milik Diadumenianus. Sisi belakang menggambarkan dirinya sebagai princeps iuventutis (ahli waris resmi) di antara panji-panji militer.[15]
250px-Diadumenian%2C_denarius%2C_218%2C_RIC_4b_118.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Denarius yang sangat langka dari Diadumenianus sebagai augustus, dicetak pada minggu-minggu terakhir hidupnya, antara akhir April dan awal Juni 218.[16]

Sejumlah besar koin dicetak untuk Diadumenianus saat berstatus sebagai caesar, meskipun jumlahnya lebih sedikit dibandingkan koin yang dicetak untuk ayahnya. Koin yang menggambarkan dirinya sebagai augustus sangatlah terbatas, dan satu-satunya koin yang diketahui dari periode ini adalah denarii. Hal ini memicu dugaan, yang pertama kali dikemukakan oleh ahli numismatika Curtis Clay, bahwa pencetakan koin dalam jumlah besar sebenarnya sempat disiapkan untuk Diadumenianus. Namun, koin-koin tersebut dengan cepat dilebur kembali ketika kabar kekalahan Macrinus tersebar. Beberapa koin provinsi timur dari era tersebut ditemukan memberi Diadumenianus gelar sebastos, yang pada masa itu merupakan padanan Yunani untuk gelar Romawi augustus.[9] Untuk kategori koin emas, Diadumenianus diketahui memiliki satu ragam aureus, yang memuat citra dirinya pada sisi muka serta menampilkan dewi Spes yang sedang berdiri pada sisi belakang, serta satu ragam setengah-aureus yang memuat citra dirinya pada sisi muka dan menggambarkan dirinya sedang memegang danda serta panji aquila.[17]

Referensi

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Diadumenianus.

Sitasi

  1. ↑ Cooley, hlm. 496.
  2. ↑ Varner 2004, hlm. 185.
  3. ↑ Potter 2004, hlm. 146.
  4. 1 2 Scott 2018, hlm. 34.
  5. ↑ Vagi 2000, hlm. 289–290.
  6. 1 2 Vagi 2000, hlm. 289.
  7. ↑ Bowman, Garnsey & Cameron 2005, hlm. 19–20.
  8. ↑ Scott 2018, hlm. 60.
  9. 1 2 Vagi 2000, hlm. 290.
  10. ↑ Bédoyère 2017, hlm. 236.
  11. ↑ Bunson 1991, hlm. 130.
  12. ↑ Varner 2004, hlm. 187–188.
  13. ↑ Varner 2004, hlm. 278.
  14. ↑ Mattingly et al., Roman Imperial Coinage IV part II, hlm. 11.
  15. ↑ Mattingly et al., Roman Imperial Coinage IV part II, hlm. 13.
  16. ↑ Mattingly et al., Roman Imperial Coinage IV part II, hlm. 3, 14.
  17. ↑ Friedberg, Friedberg & Friedberg 2017, hlm. 45.

Bibliografi

Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Macrinus
sebagai kaisar tunggal
Kaisar Romawi
218
Menjabat bersama dengan: Macrinus
Diteruskan oleh:
Elagabalus
Principatus
27 SM – 235 M
Krisis
235–284
Dominatus
284–395
Romawi Barat
395–480
Romawi Timur
Bizantium

395–1204
Kekaisaran Nicea
1204–1261
Romawi Timur
Bizantium

1261–1453
Huruf cetak miring menunjukkan seorang rekan-kaisar, sedangkan yang digaris bawahi menunjukkan seorang perampas kekuasaan. Lihat pula: Kerajaan Romawi
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan