Senin, 21 September 2026
04:11 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Danda

Danda

tongkat atau galah khusus yang dipegang oleh kepala negara monarki yang sedang bertakhta

250px-Darius_the_Great.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Relief Darius Agung, Raja Persia, bersemayam di atas singgasana, dengan danda di tangan kanan dan seroja di tangan kiri

Danda adalah tongkat[1] atau galah yang dipegang oleh kepala negara monarki yang sedang bertakhta sebagai salah satu alat kebesaran yang menandakan kedaulatan.

Abad kuno

Mesir dan Mesopotamia

250px-Codice_di_hammurabi_03.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ukiran Dewa Syamas memegang danda pada tugu prasasti undang-undang Hamurabi
250px-Gilded_Wooden_Sceptre_of_Tutankhamun.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Danda bersalut emas Tutankhamun

Di Mesir, tongkat was dan beberapa macam tongkat lain digunakan sebagai tanda kedaulatan. Itulah sebabnya tongkat-tongkat tersebut, termasuk yang menyerupai galah, kerap disifatkan sebagai "danda". Salah satu danda kerajaan tertua ditemukan di pusara Khasekhemui, penguasa dari kulawangsa kedua, yang dikebumikan di Abidos. Raja-raja juga diketahui membawa-bawa sebatang tongkat, dan ukiran sosok Firaun Anejib pada bejana-bejana batu terlihat memegang tongkat mks. Tongkat dengan sejarah terpanjang tampaknya adalah tongkat heqa (galah sanggamara gembala).

Di Mesopotamia, danda juga memainkan peran penting, dan dalam banyak kasus menjadi salah satu alat kebesaran kepala negara atau dewata. Peran danda sebagai alat kebesaran bertahan sepanjang sejarah Mesopotamia, terbukti dari penggambarannya dalam karya-karya sastra, dokumen-dokumen tata usaha negara, dan ikonografi. Danda Mesopotamia sering disebut ĝidru dalam bahasa Sumer dan ḫaṭum dalam bahasa Akad.[2]

Di dalam Alkitab, Kitab Kejadian menyebutkan ihwal danda Yehuda.

"Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa."

Kejadian 49:10 TB[3]

Selain itu, Kitab Ester juga menyebutkan ihwal danda Raja Persia pada zaman Imperium Persia Pertama.

"Ketika raja melihat Ester, sang ratu, berdiri di pelataran, berkenanlah raja kepadanya, sehingga raja mengulurkan tongkat emas yang di tangannya ke arah Ester, lalu mendekatlah Ester dan menyentuh ujung tongkat itu."

Ester 5:2 TB[4]

Yunani dan Romawi

Dalam masyarakat Yunani, danda (bahasa Yunani:σκῆπτρον, skeptron, artinya "tongkat") adalah sebatang galah, seperti yang dibawa-bawa Akhiles (Ilias, parwa 1) atau yang digunakan oleh para pinisepuh (Ilias, parwa 18, larik 46; risalah Herodotos, parwa 1, bab 196), dan kemudian hari digunakan oleh para hakim, senapati, pendeta, dan para pemangku kewenangan lainnya. Dari lukisan-lukisan jambangan dapat diketahui bahwa danda Yunani berwujud sebatang galah dengan hiasan dari logam pada hulunya. Jika digenggam oleh Zeus atau Hades, maka hulunya bermustaka seekor burung. Lantaran danda merupakan lambang Zeus, raja dewa-dewi dan penguasa Olimpus, memegang danda membuat para caraka (bahasa Yunani:κῆρῠξ, keruks) menjadi pihak yang pantang dicelakai, dan pantangan mencelakai caraka inilah yang menjadi cikal bakal dari kekebalan diplomatik pada zaman modern. Dalam Ilias dikisahkan bahwa Agamemnon menyerahkan dandanya kepada Odiseus, pada saat mengutusnya untuk berembuk dengan para panglima Akhaya.

Dalam masyarakat Etruski, danda-danda dengan tampilan yang sangat memukau digunakan oleh raja-raja dan pendeta-pendeta utama. Danda-danda semacam itu tampak pada lukisan dinding yang menghiasi pusara-pusara di Etruria. Museum Inggris, Gugus Museum Vatikan, dan Museum Louvre mengoleksi danda-danda Etruski dari emas berukir yang halus buatannya.

Kemungkinan besar bangsa Romawi mengenal danda dari bangsa Etruski. Pada zaman republik, danda gading (sceptrum eburneum) adalah salah satu tanda jabatan konsul. Danda juga digunakan oleh panglima-panglima pemenang perang yang dianugerahi gelar imperator, dan penggunaannya sebagai lambang kewenangan yang dilimpahkan kepada kepada legatus jelas-jelas dihidupkan kembali dalam wujud tongkat komando.

Pada zaman kekaisaran, sceptrum Augusti hanya digunakan oleh kaisar, dan sering kali berupa tongkat gading bermustaka rajawali emas. Gambarnya sering kali muncul pada medali-medali dari masa sandyakala Kekaisaran Romawi, yakni medali-medali yang sisi kepalanya bergambar sosok setengah badan kaisar, satu tangan menggenggam sceptrum Augusti, dan satu tangan lagi menatang kanduka bermustaka arca Viktoria.

India

250px-PM_installs_%E2%80%98Sengol%E2%80%99_at_new_Parliament_building%2C_in_New_Delhi_on_May_28%2C_2023_%284%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Perdana Menteri India, Narendra Modi, mencacakkan senggol di Gedung Parlemen India yang baru

Wejangan-wejangan tentang danda yang elok dan danda yang lalim termaktub di dalam susastra Tamil berjudul Tirukural, yang diperkirakan ditulis sebelum abad ke-5 tarikh Masehi. Susastra ini membicarakan ihwal danda yang elok (senggol) di dalam bab 55, dan danda yang lalim (kondunggol) di dalam bab 56. Kedua bab ini menyelami pemikiran tentang perilaku etis penguasa yang dibahas di dalam banyak bab sebelum maupun sesudahnya.[5][6] Menurut susastra kuno ini, yang menyatukan raja dengan rakyat bukanlah tombak raja melainkan danda, atau "senggol" dalam bahasa Tamil,[7] dan jika raja melindungi rakyatnya, maka pemerintahannya yang elok itulah yang akan melindunginya.[8] Sudah menjadi adat kerajaan-kerajaan dan wangsa-wangsa kuno di India, misalnya raja-raja Cola, untuk membawa sebatang danda ketika dinobatkan.[9]

Salah satu danda atau senggol tersebut, dihadiahkan oleh kadewaguruan Tiruwaduturai Adinam kepada Jawaharlal Nehru pada tanggal 14 Agustus 1947, sebagai lambang pemindahan kekuasaan sebagaimana adat raja-raja Hindu di masa silam.[10] Danda itu kemudian dipajang di Museum Allahabad dengan label keterangan yang keliru dari pemerintah India saat itu, yakni 'Tongkat Jalan Emas yang Dihadiahkan kepada Pandit Jawahar Lal Nehru'.[11][12] Pada tahun 2023, pemerintah India memutuskan untuk memajang danda bersalut emas itu di Gedung Parlemen India yang baru diresmikan. Penghadiahannya kepada perdana menteri pertama negara India pada tahun 1947 diklaim sebagai 'lambang pemindahan kekuasaan dari Inggris kepada India'.[13] Klaim tersebut memicu perdebatan di kalangan segelintir sejarawan, yang menunjukkan fakta bahwa tidak ada sumber yang menyifatkan peristiwa itu sebagai sebuah peristiwa resmi.[14]

Dunia Kristen

250px-Scepter_of_Tsar_Boris_III.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Danda Raja Bulgaria, Boris III
250px-Pedro_Am%C3%A9rico_-_D._Pedro_II_na_abertura_da_Assembl%C3%A9ia_Geral.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lukisan potret Kaisar Brasil, Pedro II, memegang danda kekaisaran, dan mengenakan perhiasan-perhiasan kebesaran lainnya

Sesudah agama Kristen masuk ke Eropa, hulu danda kerap dihias dengan mustaka berbentuk salib, alih-alih burung rajawali. Meskipun demikian, pada Abad Pertengahan, bentuk mustaka hulu danda lumayan beragam.

Di Inggris, penggunaan dua batang danda sudah lama teradatkan, dan mulai dari zaman Raja Richard I, kedua danda tersebut dibedakan dari bentuk mustaka pada hulunya, yang satu bermustaka salib, dan yang lain bermustaka burung merpati. Di Prancis, hulu danda dihiasi mustaka berbentuk fleur de lys. Danda Prancis lainnya, yang dikenal dengan nama main de justice, dihiasi mustaka berbentuk tangan yang terbuka memberikan berkat.

Danda dengan benda keagamaan pada hulunya kadang-kadang tergambar pada meterai-meterai kebesaran raja, contohnya meterai Raja Edward III, yang bergambar sosok raja bersemayam di atas singgasana sambil menggenggam danda semacam itu, kendati tidak lumrah bentuknya; dan salah satu danda Skotlandia, yang tersimpan di Edinburgh, dihiasi benda-benda keagamaan pada hulunya, yaitu semacam relung berisi arca-arca mini Perawan Maria, Santo Andreas, dan Santo Yakobus Tua. Konon danda ini dibuat di Prancis sekitar tahun 1536 untuk Raja James V. Meterai-meterai kebesaran biasanya bergambar sosok raja bersemayam di atas singgasana, dengan sebatang danda di tangan kanan, dan sebutir kanduka bermustaka salib di tangan kiri. Sosok Harold Putra Godwin ditampilkan dalam gaya yang sama pada Dewangga Bayeux.

Tata upacara penobatan Inggris yang tertua dari abad ke-9 menyebutkan ihwal sebatang danda (sceptrum), dan sebatang tongkat (baculum). Dalam dokumen yang disebut-sebut sebagai tata upacara penobatan Æthelred Kepalang Ajar, muncul sebatang danda (sceptrum), dan sebatang tonggak (virga), sama seperti dalam susunan acara penobatan abad ke-12. Sebuah catatan sezaman mengenai upacara penobatan Raja Richard I, untuk pertama kalinya memasukkan danda emas kerajaan bermustaka salib emas (sceptrum), dan tonggak emas bermustaka merpati emas (virga), ke dalam rekam sejarah tertulis. Sekitar tahun 1450, Sporley, seorang rahib di Westminster, menyusun daftar relikui yang tersimpan di gereja biara itu. Di dalamnya tersenarai benda-benda yang digunakan dalam upacara penobatan Santo Edwardus Pengaku Iman, dan yang sengaja ditinggalkannya untuk digunakan kembali dalam upacara penobatan para penggantinya, yaitu sebatang danda kencana, sebatang tonggak kayu bersalut emas, dan sebatang tonggak besi. Benda-benda tersebut terlestarikan sampai zaman Persemakmuran, dan dijabarkan secara terperinci di dalam sebuah catatan inventaris regalia yang disusun pada tahun 1649, yakni tahun pemusnahannya.

Untuk keperluan upacara penobatan Raja Inggris, Charles II, dibuatlah dua batang danda baru, sebatang bermustaka salib dan sebatang lagi bermustaka burung merpati. Kedua-duanya masih digunakan saat ini, kendati sudah sedikit berubah dari bentuk aslinya. Kemudian hari dibuat pula dua batang danda untuk permaisuri, sebatang bermustaka salib dan sebatang lagi bermustaka burung merpati.

Bendera Moldova maupun bendera Montenegro dihiasi gambar burung rajawali mencengkeram danda.

Baca juga

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Sceptres.

Rujukan

  1. "Arti kata danda". Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud. KBBI Daring. Diakses tanggal 4 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. Bramanti, Armando (2017). "The Scepter (ĝidru) in Early Mesopotamian Written Sources". KASKAL. Rivista di storia, ambienti e culture del Vicino Oriente Antico. 2017 (14). ISBN 978-88-94926-03-3.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: terbitan berkala memiliki ISBN (link)
  3. Kejadian 49:10
  4. Ester 5:2
  5. Tirukuṛaḷ ayat 541–560
  6. Pope, George Uglow (1886). The Sacred Kurral of Tiruvalluva Nayanar (PDF) (Edisi 1). New Delhi: Asian Educational Services. ISBN 8120600223.{{cite book}}: Ketidakcocokan ISBN / tanggal
  7. "What is Sengol, symbol of Chola legacy set to stand tall in India's new parliament?". WION (dalam bahasa Inggris-Amerika). Diakses tanggal 24 Mei 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  8. Sundaram, P. S. (1990). Tiruvalluvar: The Kural (Edisi 1). Gurgaon: Penguin Books. hlm. 12. ISBN 978-01-44000-09-8.
  9. "What is Sengol, symbol of Chola legacy set to stand tall in India's new parliament?". WION (dalam bahasa Inggris-Amerika). Diakses tanggal 24 Mei 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  10. "INDIA: Oh Lovely Dawn". Time (dalam bahasa Inggris-Amerika). 25 Agustus 1947. ISSN 0040-781X. Diakses tanggal 28 Mei 2023.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  11. Sengol belittled
  12. Hindu-Museum failed to label correctly
  13. "Sengol a transfer of power".
  14. "Congress says 'Sengol' not power transfer symbol, BJP alleges insult to culture". Hindustan Times. Diakses tanggal 27 Mei 2023.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan