Imperium Cola | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Tahun 848–1279 | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Uang emas Gadyana keluaran Rajaraja I, memuat inskripsi "Cola Penakluk Gangga" dalam bahasa Tamil beserta gambar harimau duduk dan dua ekor ikan, dicetak di daerah Tamil Nadu, lokasi percetakan tidak diketahui
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Luas maksimum wilayah kedaulatan Imperium Cola sekitar tahun 1030, masa pemerintahan Rajendra I | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Ibu kota | Palayarai, Tanjawur, Ganggaikonda Colapuram | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Bahasa resmi |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Agama | Hindu | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Pemerintahan | Monarki | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Cakrawartigal[1] | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
• Tahun 848–871 | Wijayalaya (pertama) | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
• Tahun 1246–1279 | Rajendra III (terakhir) | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Era Sejarah | Abad Pertengahan | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
• Didirikan | Tahun 848 | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
• Luas maksimum wilayah kedaulatan Imperium Cola | Tahun 1030 | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
• Dibubarkan | 1279 | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Imperium Cola, yang kerap disebut sebagai rezim wangsa Cola Imperial,[2] adalah imperium talasokratis madyakala yang berpusat di kerajaan wangsa Cola di India Selatan, dan terdiri atas negeri-negeri seberang laut yang dijajah Cola, negeri-negeri yang bernaung di bawah perlindungan Cola, serta negeri-negeri di Asia Tenggara yang mengakui keunggulan Cola.
Ekspedisi-ekpedisi militernya ke sungai Gangga, serbuan-serbuan angkatan lautnya ke kota-kota Imperium Sriwijaya di pulau Sumatra, dan lawatan berulang duta-dutanya ke Tiongkok menjadi bukti kekuatan dan wibawa wangsa Cola pada masa jayanya di mata negeri-negeri lain di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Asia Timur.[3] Armada Cola adalah representasi pencapaian tertinggi bangsa India kuno di bidang kemaritiman. Sekitar tahun 1070, jajahan-jajahan seberang laut mulai lepas dari kendali Cola, tetapi raja-raja Cola Akhir (tahun 1070–1279) masih berdaulat atas beberapa negeri di India Selatan. Imperium Cola terpuruk pada awal abad ke-13 seiring bangkitnya wangsa Pandya, yang kelak menjadi pangkal keruntuhannya.[4]
Raja-raja Cola membentuk pemerintahan yang terpusat dan birokrasi yang taat asas. Dukungan penuh raja-raja Cola bagi pertumbuhkembangan seni sastra Tamil dan tingginya minat mereka dalam membangun kuil telah melahirkan beberapa mahakarya seni sastra dan arsitektur Tamil.[5] Raja-raja Cola gemar membangun. Bagi mereka, kuil-kuil di negeri-negeri yang mereka kuasai adalah ruang bagi kegiatan peribadatan sekaligus kegiatan ekonomi.[6][7] Salah satu contoh mahakarya arsitektur Cola adalah Kuil Brihadiswara di Tanjawur, yang dibangun atas prakarsa Rajaraja pada tahun 1010, dan kini terdaftar sebagai salah satu Situs Pusaka Dunia UNESCO. Raja-raja Cola juga diketahui memberikan dukungan penuh bagi pertumbuhkembangan seni rupa. Pengembangan teknik cor buang lilin dalam pembuatan arca perunggu dewa-dewi Hindu dirintis pada masa pemerintahan mereka. Tradisi seni rupa Cola menyebar dan memengaruhi arsitektur maupun seni rupa di Asia Tenggara.[8][9]
Sejarah
Pendirian

Wijayalaya, salah seorang keturunan raja-raja Cola Awal, menegakkan kembali kedaulatan wangsa Cola sekaligus mendirikan Imperium Cola pada tahun 848 tarikh Masehi.[10] Wijayalaya memanfaatkan konflik antara Imperium Pandya dan Imperium Palawa sekitar tahun 850 sebagai kesempatan untuk merebut Tanjawur dari masyarakat Mutarayar, dan membentuk pemerintahan wangsa Cola Madya.[11][12] Tanjawur menjadi ibu kota Imperium Cola.[13]
Di bawah kepemimpinan Aditya I, Cola dan Palawa bersama-sama menundukkan wangsa Pandya di negeri Madurai pada tahun 885, menduduki banyak daerah di negeri Kanada, dan menjalin persemendaan dengan wangsa Gangga Barat. Belakangan Aditya I menundukkan wangsa Palawa dan menduduki Tondaimandalam. Pada tahun 925, Parantaka I, anak Aditya I, menaklukkan Srilangka, yang mereka kenal dengan nama negeri Ilanggai. Parantaka I juga mengalahkan pasukan Rastrakuta yang dipanglimai Kresna II dalam Pertempuran Walala.[14] Kemudian hari, pasukan Cola yang dipanglimai Rajaditya, putra mahkota Cola, anak Parantaka I, dikalahkan oleh pasukan Rastrakuta yang dipanglimai Kresna III dalam Pertempuran Takolam, yang merenggut nyawa putra mahkota Cola, dan menjadikan wangsa Rastrakuta sebagai penguasa baru Tondaimandalam.[15]
Kekuatan Cola pulih pada masa pemerintahan Parantaka II. Pasukan Cola yang dipanglimai Putra Mahkota Aditya Karikalan, mengalahkan pasukan Pandya, lantas merebut kembali Tondaimandalam. Aditya Karikalan tewas terbunuh dalam suatu peristiwa makar. Sepeninggal Parantaka II, Utama naik takhta, disusul Rajaraja I, mustika wangsa Cola.[15]
Zaman imperium


Pada masa pemerintahan Rajaraja I dan Rajendra I, kedaulatan wangsa Cola meningkat ke taraf imperium.[16] Pada masa jayanya, wilayah kedaulatan Imperium Cola membentang mulai dari bagian utara Srilangka, naik ke daerah lembah sungai Godawari–Kresna, hingga meliputi pesisir Konkan di Batkal, seluruh pesisir Malabar (negeri wangsa Cera), ditambah kepulauan Laksadwipa dan kepulauan Maladewa. Rajaraja I adalah raja yang sangat giat berkiprah, baik dalam urusan pemerintahan maupun dalam urusan perang. Dia menyatukan seluruh wilayah kedaulatan Cola dengan penyelenggaraan tata usaha negara yang rapi dan ketat di bawah kendali raja, sembari memperkuat keswaprajaan di tingkat daerah. Pada tahun 1000, Rajaraja I menyelenggarakan survei tanah untuk menginventarisasi seluruh sumber daya Imperium Cola.[17] Dia membangun Kuil Brihadiswara pada tahun 1010.[18]
Sesudah menaklukkan Odisa, Rajendra I memimpin pasukannya bergerak ke utara, mengalahkan pasukan wangsa Pala di Benggala, hingga sampai ke sungai Gangga di India Utara.[19] Dia mendirikan ibu kota baru yang diberi nama Ganggaikonda Colapuram untuk merayakan kemenangan-kemenangannya di India Utara.[20] Invasi Rajendra I ke Sriwijaya di Asia Tenggara menjadi pangkal kemunduran imperium itu.[21] Invasi tersebut meninggalkan jejak yang tak kunjung lekang dari ingatan bangsa Melayu Madyakala, sampai-sampai namanya terabadikan dalam Sejarah Melayu, sekalipun dengan pelafalan yang keliru, yakni sebagai Raja Culan.[22][23][24] Rajendra I juga merampungkan usaha penaklukan Kerajaan Rajarata di Srilangka, dan menawan Mahinda V, raja orang Singhala, Dia juga menaklukkan Ratapadi—wilayah wangsa Rastrakuta, negeri Calukya, Talakad, dan Kolar, tempat berdirinya Kuil Kolarama yang masih menyimpan arcanya—di Kanada.[25] Wilayah kekuasaan Rajendra I mencakup daerah lembah sungai Gangga–Hugli–Damodar,[26] Rajarata di Srilangka, dan kepulauan Maladewa.[11] Kerajaan-kerajaan di sepanjang pesisir timur India sampai ke sungai Gangga mengakui keunggulan Cola.[27] Misi diplomatik diutus ke Tiongkok pada tahun 1016, 1033, dan 1077.[11]
Perang Cola–Calukya
Sejak masa pemerintahan Rajaraja I, wangsa Cola berulangkali bersengketa dengan wangsa Calukya Barat. Wangsa Calukya yang berkedudukan di Badami ketika itu sudah pecah menjadi dua wangsa bersaudara, yaitu wangsa Calukya Barat yang mula-mula berkedudukan di Manyaketa, dan wangsa Calukya Timur yang berkedudukan di Wenggi. Dengan mengawinkan putrinya, Kundawai, dengan Pangeran Wimaladitya dari wangsa Calukya Timur, yang kemudian hari memerintah Wenggi, Rajaraja I menjadikan Wenggi sebagai negara penyangga di antara Cola dan Calukya Barat. Lantaran Calukya Barat merasa bahwa Wenggi adalah bagian alamiah dari mandala pengaruhnya, ikatan persemendaan itu memicu perang berabad-abad. Cola beberapa kali berhasil mengalahkan Calukya Barat, dan sekalipun garis perbatasan kedua negara nyaris tak pernah bergeser dari sungai Tunggabadra, sengketa-sengketa perbatasan kelak menelan nyawa Rajadiraja I.[15]
Rajendra I, anak Rajaraja I, menyerbu Manyaketa, ibu kota Calukya Barat, dan menggelar upacara wijayabiseka (abiseka kemenangan) di kota itu pada tahun 1015. Sesudah Rajendra I mangkat, tiga putranya silih berganti naik takhta, yaitu Rajadiraja I, Rajendra II, dan Wirarajendra. Demi memulihkan hegemoni Cola atas Wenggi, Rajadiraja I (bertakhta 1044–1054), melancarkan ekspedisi militer besar-besaran ke Wenggi antara tahun 1044 hingga 1045. Dalam pertempuran besar di Danada, Rajadiraja I berhasil memaksa pasukan invasi Calukya Barat dan Wijayaditya VII, pangeran pemberontak antek Calukya Barat, mundur kocar-kacir. Rajadiraja I selanjutnya memasuki wilayah Calukya Barat dan membumihanguskan benteng Kolipaka, yang berdiri di perbatasan wilayah Kalyani dan Wenggi.[15]
Ekspedisi militer ini menguntungkan Rajaraja Narendra yang pro-Cola, karena mengukuhkan kekuasaannya atas Wenggi. Beberapa tahun kemudian, sekitar tahun 1048-1053, Rajadiraja I memimpin pasukan Cola menyerbu Kalyani, ibu kota baru Calukya Barat, membuatnya rajanya, Someswara I, untuk sementara waktu terdepak dari tampuk kekuasaan. Rajadiraja I menggelar upacara wirabiseka (abiseka wirawan) di istana Kalyani, menyandang gelar Kalyanapurangkonda Cola (Cola Penakluk Kalyanapura), dan menjarah harta kekayaan Kalyani sebagai upeti, sementara Someswara I lari ke pedalaman. Sekalipun Calukya Barat terus-menerus menimbulkan masalah melalui Wijayaditya VII, Wenggi tetap berada di bawah kendali Cola. Didorong oleh keinginan untuk membalas dendam atas penjarahan Kalyani oleh Rajadiraja I, Someswara I melancarkan serbuan besar-besaran ke wilayah Cola pada tahun 1054.[28]
Penyerbuan ini berpuncak pada Pertempuran Kopam yang brutal pada tahun 1054. Sesudah Rajadiraja I terluka parah lalu mangkat, adiknya, Rajendra II, mempermaklumkan diri sebagai raja yang baru di tengah medan pertempuran. Semangat juang pasukan Cola yang panik dia gelorakan kembali, dan pasukan Calukya akhirnya dapat dikalahkan. Someswara I sekali lagi terpaksa lari meninggalkan medan pertempuran, membiarkan permaisuri, alat-alat kebesaran, dan tumpukan harta kekayaannya jatuh ke tangan pasukan Cola. Dengan memenangkan pertempuran ini, Cola mengukuhkan kekuasaannya atas Wenggi sekaligus Kalingga. Meskipun bertrok-bentrok kecil dengan pasukan Calukya masih sering terjadi, semuanya dapat diatasi oleh pasukan Cola bersama pasukan Raja Wenggi, yang secara terbuka menyatakan kesetiaannya kepada Raja Cola. Sesudah Rajaraja Narendra mangkat pada tahun 1061, istana Kalyani merasa sekali lagi mendapatkan kesempatan untuk merebut Wenggi dari tangan Cola. Bermodalkan dukungan dari istana Kalyani, Wijayaditya VII, si pangeran pemberontak, merampas dan menduduki singgasana Wenggi. Sementara itu, Rajendra Calukya, pangeran belia anak Rajaraja Narendra dan Amanggaidewi Cola, dilindungi dan dibesarkan di istana Cola. Kemudian hari Rajendra Calukya memperistri Putri Madurantakidewi, anak Rajendra II. Untuk menaikkan Rajendra Calukya ke atas singgasana Wenggi, Rajendra II mengerahkan pasukan besar yang dipanglimai anaknya, Rajamahendra, dan adiknya, Wirarajendra, menyerbu Calukya Barat dan Wijayaditya VII. Pasukan Cola bergerak tanpa hambatan memasuki Ganggawadi, dan mengusir pasukan Calukya Barat. Selanjutnya Wirarajendra menyerbu Wenggi, dan menewaskan Saktiwarman II, anak Wijayaditya VII.[15]
Saat perang masih berkecamuk, Rajendra II mangkat pada tahun 1063. Lantaran putra mahkota, Rajamahendra, sudah lebih dulu wafat, adiknya, Wirarajendra, kembali ke ibu kota Ganggaikonda Colapuram, dan dinobatkan menjadi Raja Cola (bertakhta 1063-1070). Wirarajendra dengan cerdik memanfaatkan perang saudara yang kian sengit di Kerajaan Calukya untuk membujuk Wikramaditya VI, pangeran Calukya Barat yang cerdas, untuk menjadi menantunya, kalau mau dibantu Cola merebut singgasana Kalyani. Sesudah Wirarajendra mangkat pada tahun 1070, putranya yang bernama Adirajendra naik takhta, tetapi mangkat beberapa dalam kerusuhan beberapa bulan kemudian tanpa meninggalkan keturunan untuk melanjutkan garis keturunan Wijayalaya Cola.[15][29][28] Kekosongan politik Cola membuka jalan bagi Pangeran Rajendra Calukya menuju singgasana Imperium Cola. Dia dinobatkan menjadi Cakrawarti Kulotungga Cola I, dan dengan demikian secara resmi menyatukan wangsa Cola dengan wangsa Calukya Timur.
Raja-raja Cola Akhir


Alur silsilah
| Wangsa Cola Madya | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Daftar cakrawarti
| Raja | Masa pemerintahan | Keterangan | |
|---|---|---|---|
| Wijayalaya | 848–870 | Pendiri Imperium Cola, keturunan raja-raja Cola Awal. | |
| Aditya I | 870–907 | ||
| Parantaka I | 907–955 | ||
| Gandaraditya | 955–957 | Memerintah bersama-sama. | |
| Arinjaya | 956–957 | ||
| Parantaka II | 957–970 | ||
| Utama | 970–985 | ||
| Rajaraja I | Juni/Juli 985 – Januari/Februari 1014[a] | ||
| Rajendra I | 1014–1044 | ||
| Rajadiraja I | 1044 – 28 Mei 1052 | ||
| Rajendra II | 28 Mei 1052 – 1063 | ||
| Wirarajendra | 1063–1070 | ||
| Adirajendra | 1070 | Mangkat tanpa keturunan. | |
| Kulotungga I | 9 Juni 1070 – 1122 | Ibunya adalah Amanggaidewi Cola, putri Rajendra I, dan ayahnya adalah Rajaraja Narendra, Raja Calukya Timur. Masa pemerintahan Kolotungga mengawali kurun waktu yang disebut zaman Cola-Calukya atau zaman Cola Akhir. | |
| Wikrama | 1122–1135 | ||
| Kulotungga II | 1135–1150 | Cucu Wikrama. | |
| Rajaraja II | 1150–1173 | ||
| Rajadiraja II | 1173–1178 | Cucu Wirarajendra. | |
| Kulotungga III | 1178–1216 | ||
| Rajaraja III | Juli 1216 – 1256 | ||
| Rajendra III | 1256–1279 | Raja Cola yang terakhir, dikalahkan oleh Marawarman Kulasekara Pandyan I dari wangsa Pandya. Seusai perang, para sentanaraja Cola yang tersisa turun status menjadi punggawa-punggawa daerah di bawah rezim Pandya. | |
Catatan kaki
Rujukan
- ↑ Thapar, Romila (2004). Early India: From the Origins to AD 1300 (dalam bahasa Inggris). University of California Press. hlm. 366. ISBN 978-0-520-24225-8. Gelar-gelar bersahaja raja-raja Cola Awal diganti dengan gelar-gelar mentereng, misalnya cakrawartigal (kaisar, setara dengan gelar cakrawartin di India utara).
- ↑ Kaimal, Padma (Mei 1992). "Art of the Imperial Cholas. By Vidya Dehejia. New York: Columbia University Press, 1990. xv, 148 pp. 36.00". The Journal of Asian Studies (book review) (dalam bahasa Inggris). 51 (2): 414–416. doi:10.2307/2058068. ISSN 1752-0401. JSTOR 2058068. S2CID 163175500.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ K. A. Nilakanta Sastri, A History of South India, hlm. 158
- ↑ K. A. Nilakanta Sastri, A History of South India, hlm. 195–196
- ↑ Keay 2011, hlm. 215.
- ↑ Vasudevan, hlm. 20–22
- ↑ Keay 2011, hlm. 217–218.
- ↑ Promsak Jermsawatdi, Thai Art with Indian Influences, hlm. 57
- ↑ John Stewart Bowman, Columbia Chronologies of Asian History and Culture, hlm. 335
- ↑ Sen (1999), hlm. 477–478
- 1 2 3 Dehejia (1990), hlm. xiv
- ↑ Kulke & Rothermund (2001), hlm. 122–123
- ↑ Eraly (2011), hlm. 67
- ↑ Sen (1999), hlm. 373
- 1 2 3 4 5 6 Cholas I.
- ↑ Kulke & Rothermund (2001), hlm. 115
- ↑ Eraly (2011), hlm. 68
- ↑ "Endowments to the Temple". Archaeological Survey of India.
- ↑ Balaji Sadasivan, The Dancing Girl: A History of Early India, hlm.133
- ↑ Farooqui Salma Ahmed, Salma Ahmed Farooqui, A Comprehensive History of Medieval India, hlm.25
- ↑ Ronald Findlay, Kevin H. O'Rourke, Power and Plenty: Trade, War, and the World Economy in the Second Millennium, hlm.67
- ↑ Geoffrey C. Gunn, History Without Borders: The Making of an Asian World Region, 1000–1800, hlm.43
- ↑ Sen (2009), hlm. 91
- ↑ Tansen Sen, Buddhism, Diplomacy, and Trade: The Realignment of Sino-Indian Relations, hlm.226
- ↑ Kalā: The Journal of Indian Art History Congress, The Congress, 1995, hlm.31
- ↑ Sastri (1984), hlm. 194–210
- ↑ Majumdar (1987), hlm. 407
- 1 2 Sastri, K. A. Nilakanta (1958). History of South India (dalam bahasa English).
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) - ↑ Anirudh Kanisetti (2025). Lords Of Earth And Sea A History Of The Chola Empire (2025).
Sumber kutipan
- Barua, Pradeep (2005), The State at War in South Asia, University of Nebraska Press, ISBN 978-0-80321-344-9
- Chopra, P. N.; Ravindran, T. K.; Subrahmanian, N. (2003), History of South India: Ancient, Medieval and Modern, S. Chand & Company Ltd, ISBN 978-81-219-0153-6
- Das, Sisir Kumar (1995), History of Indian Literature (1911–1956): Struggle for Freedom – Triumph and Tragedy, Sahitya Akademi, ISBN 978-81-7201-798-9
- Dehejia, Vidya (1990), The Art of the Imperial Cholas, Columbia University Press
- Devare, Hema (2009), "Cultural Implications of the Chola Maritime Fabric Trade with Southeast Asia", dalam Kulke, Hermann; Kesavapany, K.; Sakhuja, Vijay (ed.), Nagapattinam to Suvarnadwipa: Reflections on the Chola Naval Expeditions to Southeast Asia, Institute of Southeast Asian Studies, ISBN 978-9-81230-937-2
- Eraly, Abraham (2011), The First Spring: The Golden Age of India, Penguin Books, ISBN 978-0-67008-478-4
- Gough, Kathleen (2008), Rural Society in Southeast India, Cambridge University Press, ISBN 978-0-52104-019-8
- Harle, J. C. (1994), The art and architecture of the Indian Subcontinent, Yale University Press, ISBN 978-0-300-06217-5
- Hellmann-Rajanayagam, Dagmar (2004), "From Differences to Ethnic Solidarity Among the Tamils", dalam Hasbullah, S. H.; Morrison, Barrie M. (ed.), Sri Lankan Society in an Era of Globalization: Struggling To Create A New Social Order, SAGE, ISBN 978-8-13210-320-2
- Ismail, M. M. (1988), "Epic - Tamil", Encyclopaedia of Indian literature, vol. 2, Sahitya Akademi, ISBN 81-260-1194-7
- Jermsawatdi, Promsak (1979), Thai Art with Indian Influences, Abhinav Publications, ISBN 978-8-17017-090-7
- Kulke, Hermann; Rothermund, Dietmar (2001), A History of India, Routledge, ISBN 978-0-415-32920-0
- Keay, John (12 April 2011), India: A History, Open Road + Grove/Atlantic, ISBN 978-0-8021-9550-0
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Lucassen, Jan; Lucassen, Leo (2014), Globalising Migration History: The Eurasian Experience, BRILL, ISBN 978-9-00427-136-4
- Majumdar, R. C. (1987) [1952], Ancient India, Motilal Banarsidass Publications, ISBN 978-81-208-0436-4
- Miksic, John N. (2013). Singapore and the Silk Road of the Sea, 1300_1800. NUS Press. ISBN 978-9971-69-558-3.
- Mitter, Partha (2001), Indian art, Oxford University Press, ISBN 978-0-19-284221-3
- Mukherjee, Rila (2011), Pelagic Passageways: The Northern Bay of Bengal Before Colonialism, Primus Books, ISBN 978-9-38060-720-7
- Mukund, Kanakalatha (1999), The Trading World of the Tamil Merchant: Evolution of Merchant Capitalism in the Coromandel, Orient Blackswan, ISBN 978-8-12501-661-8
- Mukund, Kanakalatha (2012), Merchants of Tamilakam: Pioneers of International Trade, Penguin Books India, ISBN 978-0-67008-521-7
- Nagasamy, R. (1970), Gangaikondacholapuram, State Department of Archaeology, Government of Tamil Nadu
- Nagasamy, R. (1981), Tamil Coins – A study, Institute of Epigraphy, Tamil Nadu State Dept. of Archaeology
- Paine, Lincoln (2014), The Sea and Civilization: A Maritime History of the World, Atlantic Books, ISBN 978-1-78239-357-3
- Prasad, G. Durga (1988), History of the Andhras up to 1565 A. D., P. G. Publishers
- Rajasuriar, G. K. (1998), The history of the Tamils and the Sinhalese of Sri Lanka
- Ramaswamy, Vijaya (2007), Historical Dictionary of the Tamils, Scarecrow Press, ISBN 978-0-81086-445-0
- Rothermund, Dietmar (1993), An Economic History of India: From Pre-colonial Times to 1991 (Edisi Reprinted), Routledge, ISBN 978-0-41508-871-8
- Sadarangani, Neeti M. (2004), Bhakti Poetry in Medieval India: Its Inception, Cultural Encounter and Impact, Sarup & Sons, ISBN 978-8-17625-436-6
- Sakhuja, Vijay; Sakhuja, Sangeeta (2009), "Rajendra Chola I's Naval Expedition to South-East Asia: A Nautical Perspective", dalam Kulke, Hermann; Kesavapany, K.; Sakhuja, Vijay (ed.), Nagapattinam to Suvarnadwipa: Reflections on the Chola Naval Expeditions to Southeast Asia, Institute of Southeast Asian Studies, ISBN 978-9-81230-937-2
- Sastri, K. A. N. (1984) [1935], The CōĻas, University of Madras
- Sastri, K. A. N. (2002) [1955], A History of South India: From Prehistoric Times to the Fall of Vijayanagar, Oxford University Press
- Scharfe, Hartmut (2002), Education in Ancient India, Brill Academic Publishers, ISBN 978-90-04-12556-8
- Schmidt, Karl J. (1995), An Atlas and Survey of South Asian History, M.E. Sharpe, ISBN 978-0-76563-757-4
- Sen, Sailendra Nath (1999), Ancient Indian History and Civilization, New Age International, ISBN 978-8-12241-198-0
- Sen, Tansen (2009), "The Military Campaigns of Rajendra Chola and the Chola-Srivija-China Triangle", dalam Kulke, Hermann; Kesavapany, K.; Sakhuja, Vijay (ed.), Nagapattinam to Suvarnadwipa: Reflections on the Chola Naval Expeditions to Southeast Asia, Institute of Southeast Asian Studies, ISBN 978-9-81230-937-2
- Singh, Upinder (2008), A History of Ancient and Early Medieval India: From the Stone Age to the 12th Century, Pearson Education India, ISBN 978-8-13171-120-0
- "South Indian Inscriptions", Archaeological Survey of India, What Is India Publishers (P) Ltd, diakses tanggal 2008-05-30
- Spuler, Bertold (1975), Handbook of Oriental Studies, Part 2, BRILL, ISBN 978-9-00404-190-5
- Stein, Burton (1980), Peasant state and society in medieval South India, Oxford University Press
- Stein, Burton (1998), A history of India, Blackwell Publishers, ISBN 978-0-631-20546-3
- Subbarayalu, Y. (2009), "A Note on the Navy of the Chola State", dalam Kulke, Hermann; Kesavapany, K.; Sakhuja, Vijay (ed.), Nagapattinam to Suvarnadwipa: Reflections on the Chola Naval Expeditions to Southeast Asia, Institute of Southeast Asian Studies, ISBN 978-9-81230-937-2
- Thapar, Romila (1995), Recent Perspectives of Early Indian History, South Asia Books, ISBN 978-81-7154-556-8
- Tripathi, Rama Sankar (1967), History of Ancient India, Motilal Banarsidass, ISBN 978-81-208-0018-2
- Talbot, Austin Cynthia (2001), Pre-colonial India in Practice: Society, Region, and Identity in Medieval Andhra, Oxford University Press, ISBN 978-0-19803-123-9
- Vasudevan, Geeta (2003), Royal Temple of Rajaraja: An Instrument of Imperial Cola Power, Abhinav Publications, ISBN 978-81-7017-383-0
- Wolpert, Stanley A (1999), India, University of California Press, ISBN 978-0-520-22172-7
Bacaan tambahan
- Nilakanta Sastri, K.A. (1955). A History of South India, OUP, New Delhi (Reprinted 2002).
- Durga Prasad, History of the Andhras up to 1565 A. D., P. G. PUBLISHERS
- Nilakanta Sastri, K.A. (1935). The Cōlas, University of Madras, Madras (Reprinted 1984).