Rabu, 07 Oktober 2026
01:11 WIB
TERKINI
Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Hukum Pengiriman 1,68 Juta Batang Rokok Ilegal Terbongkar di Tol Tulang Bawang Hiburan No Na Kibarkan Merah Putih: Video Musik 'Work' Tembus UK Music Video Awards 2026 Regional Duel Sengit Barito Putera dan Tira Persikabo Ramaikan Panggung Liga 1 Regional Barito Putera Taklukkan Persebaya Surabaya dengan Skor Tipis 1-0 Regional Evakuasi Korban Tabrakan Speedboat Paspampres di Palangkaraya Dilakukan Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Hukum Pengiriman 1,68 Juta Batang Rokok Ilegal Terbongkar di Tol Tulang Bawang Hiburan No Na Kibarkan Merah Putih: Video Musik 'Work' Tembus UK Music Video Awards 2026 Regional Duel Sengit Barito Putera dan Tira Persikabo Ramaikan Panggung Liga 1 Regional Barito Putera Taklukkan Persebaya Surabaya dengan Skor Tipis 1-0 Regional Evakuasi Korban Tabrakan Speedboat Paspampres di Palangkaraya Dilakukan
Alexander Andries Maramis

Alexander Andries Maramis

Pahlawan Revolusi Kemerdekaan

Bagikan:
Ini adalah nama Minahasa, marganya adalah Maramis.
Alexander Andries Maramis
250px-Alexander_andries_maramis.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Alexander Andries Maramis, ca 1940-an
Menteri Keuangan IndonesiaKe-1 (de facto)
Masa jabatan
26 September 1945 –14 November 1945
PresidenSoekarno
PendahuluSamsi Sastrawidagda
PenggantiSoenarjo Kolopaking
Masa jabatan
3 Juli 1947 –29 Januari 1948
PresidenSoekarno
PendahuluSjafruddin Prawiranegara
Masa jabatan
29 Januari 1948 –19 Desember 1948
PresidenSoekarno
PenggantiLukman Hakim
Masa jabatan
13 Juli 1949 –4 Agustus 1949
PresidenSoekarno
PendahuluLukman Hakim
PenggantiLukman Hakim
Menteri Luar Negeri Indonesia
Masa jabatan
19 Desember 1948 –13 Juli 1949
PresidenSoekarno
PendahuluAgus Salim
PenggantiAgus Salim
Duta Besar Indonesia untuk Filipina1
Masa jabatan
1 Februari 1950 –10 April 1953
PresidenSoekarno
Duta Besar Indonesia untuk Jerman Barat1
Masa jabatan
1 Mei 1953 –1 Maret 1956
PresidenSoekarno
PenggantiZairin Zain
Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet
Masa jabatan
1 Oktober 1956 –November 1959
PresidenSoekarno
PendahuluL.N. Palar
PenggantiAdam Malik
Duta Besar Indonesia untuk Finlandia
Masa jabatan
10 Juni 1958 –1960
PresidenSoekarno
Informasi pribadi
Lahir(1897-06-20)20 Juni 1897
Meninggal31 Juli 1977(1977-07-31) (umur 80)
Partai politik  PNI
Suami/istriElizabeth Marie Diena Veldhoedt
Orang tuaAndries Alexander Maramis (ayah)
Charlotte Ticoalu (ibu)
KerabatMaria Walanda Maramis (tante)
PendidikanUniversitas Leiden
Tanda tangan

Mr. Alexander Andries Maramis atau lebih dikenal dengan A.A. Maramis (20 Juni 1897 – 31 Juli 1977) adalah pejuang kemerdekaan Indonesia dan pahlawan nasional. Dia pernah menjadi anggota BPUPKI dan KNIP. Ia juga pernah menjadi Menteri Keuangan Indonesia dan merupakan orang yang menandatangani Oeang Republik Indonesia pertama. Keponakan Maria Walanda Maramis ini menyelesaikan pendidikannya di bidang hukum pada tahun 1924 di Belanda.

Riwayat Hidup

Kehidupan awal

Alexander Andries Maramis lahir di Manado, Sulawesi Utara pada tanggal 20 Juni 1897. Ayahnya bernama Andries Alexander Maramis (nama pertama dan tengah dibalik) dan ibunya bernama Charlotte Ticoalu.[1] Tantenya adalah Pahlawan Nasional Indonesia Maria Walanda Maramis.[2] Alex Maramis belajar di sekolah dasar bahasa Belanda (Europeesche Lagere School, ELS) di Manado.[3] Dia kemudian masuk sekolah menengah Belanda (Hogere burgerschool, HBS) di Batavia (sekarang Jakarta) di mana dia bertemu dan berteman dengan Arnold Mononutu yang juga dari Minahasa dan Achmad Soebardjo.[4][5]

Pada tahun 1919, Maramis berangkat ke Belanda dan belajar hukum di Universitas Leiden.[6] Selama di Leiden, Maramis terlibat dalam organisasi mahasiswa Perhimpunan Indonesia (Indische Vereeniging). Pada tahun 1924, ia terpilih sebagai sekretaris perhimpunan tersebut.[7] Maramis lulus dengan gelar "Meester in de Rechten" (Mr.) pada tahun 1924.[8] Ia kemudian kembali ke Indonesia dan memulai kariernya sebagai pengacara di Pengadilan Negeri di Semarang pada tahun 1925.[9][10] Setahun kemudian ia pindah ke Pengadilan Negeri di Palembang.[11]

Persiapan kemerdekaan Indonesia

250px-KITLV_-_25245_-_Vooraanstaande_Indonesiers_te_Batavia.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Maramis (tengah, baris kedua) di belakang Soekarno

Maramis diangkat sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) yang dibentuk pada tanggal 1 Maret 1945. Di badan ini, Maramis termasuk dalam Panitia Sembilan. Panitia ini ditugaskan untuk merumuskan dasar negara dengan berusaha menghimpun nilai-nilai utama dari prinsip ideologis Pancasila yang digariskan oleh Soekarno dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945.[12] Rumusan ini dikenal dengan nama Piagam Jakarta. Pada tanggal 11 Juli 1945 dalam salah satu rapat pleno BPUPKI, Maramis ditunjuk sebagai anggota Panitia Perancang Undang-Undang Dasar yang ditugaskan untuk membuat perubahan-perubahan tertentu sebelum disetujui oleh semua anggota BPUPKI.[13] Pada tahun 1976 bersama Hatta, A.G. Pringgodigdo, Sunario Sastrowardoyo, dan Soebardjo, Maramis termasuk dalam "Panitia Lima" yang ditugaskan Presiden Suharto untuk mendokumentasikan perumusan Pancasila.[14]

Menteri Keuangan

250px-Hatta_1_Cabinet_KR_2_Feb_1948_p1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Foto Kabinet Hatta I
250px-AA_Maramis_with_Sam_Ratulangi.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Maramis bersama Ratulangi

Maramis diangkat sebagai Menteri Keuangan dalam kabinet Indonesia pertama pada tanggal 26 September 1945. Ia menggantikan Samsi Sastrawidagda yang pada awalnya diberi jabatan tersebut pada waktu kabinet dibentuk pada tanggal 2 September 1945. Sastrawidagda mengundurkan diri setelah hanya menjabat selama dua minggu karena sakit.[15] Sastrawidagda adalah orang pertama yang ditunjuk sebagai Menteri Keuangan Indonesia, tetapi karena waktunya yang sangat singkat, Maramis dapat dianggap, secara de facto, sebagai Menteri Keuangan Indonesia pertama.

Sebagai Menteri Keuangan, Maramis berperan penting dalam pengembangan dan pencetakan uang kertas Indonesia pertama atau Oeang Republik Indonesia (ORI). Dibutuhkan waktu satu tahun sebelum uang kertas ini bisa dikeluarkan secara resmi pada tanggal 30 Oktober 1946.[16] Nota-nota ini menggantikan uang kertas Jepang yang diedarkan oleh pemerintah Hindia Belanda (NICA).[17][18] Uang dikeluarkan untuk denominasi 1, 5, dan 10 sen, dengan ditambah ½, 1, 5, 10, dan 100 rupiah. Tanda tangan Maramis sebagai Menteri Keuangan terdapat dalam cetakan uang-uang kertas ini.

Maramis menjabat sebagai Menteri Keuangan beberapa kali lagi, secara berurutan dalam Kabinet Amir Sjarifuddin I pada tanggal 3 Juli 1947,[19] Kabinet Amir Sjarifuddin II pada tanggal 12 November 1947,[20] dan Kabinet Hatta I pada tanggal 29 Januari 1948.[21] Pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda memulai Agresi Militer Belanda II pada saat pemerintahan Hatta. Soekarno, Hatta, dan pejabat pemerintahan lainnya yang berada di Yogyakarta ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka. Maramis pada saat itu sedang berada di New Delhi, India. Dia menerima kawat dari Hatta sebelum Hatta ditangkap dengan instruksi untuk membentuk pemerintahan darurat di pengasingan di India seandainya Sjafruddin Prawiranegara tidak dapat membentuk pemerintahan darurat di Sumatra.[22] Prawiranegara mampu membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia dan Kabinet Darurat di mana Maramis diangkat sebagai Menteri Luar Negeri. Setelah Soekarno dan Hatta dibebaskan, Prawiranegara mengembalikan pemerintahan kepada Hatta pada tanggal 13 Juli 1949 dan Maramis kembali menjabat sebagai Menteri Keuangan.

Duta Besar

Di antara tahun 1950 dan 1960, Maramis pernah mewakili Indonesia sebagai Duta Besar untuk empat negara: Filipina, Finlandia, Jerman Barat, dan Uni Soviet. Sebelumnya pada tanggal 1 Agustus 1949, ia diangkat sebagai Duta Istimewa yang bertanggung jawab untuk mengawasi perwakilan-perwakilan Indonesia di luar negeri.[23] Pada saat itu, perwakilan Indonesia terdapat di Bangkok, Canberra, Kabul, Kairo, Karachi, London, Manila, New Delhi, Penang, Rangoon, Singapura, Washington, D.C., dan di kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lake Success di Amerika Serikat. Karena Maramis dalam tugas pengawasannya terus berada di luar negeri, ia diikutsertakan dalam delegasi Republik Indonesia untuk Konferensi Meja Bundar sebagai penasehat.[24]

Pada tanggal 25 Januari 1950, Maramis diangkat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Filipina terhitung mulai tanggal 1 Februari 1950.[24][25] Maramis menjabat sebagai duta besar Indonesia di Manila selama tiga tahun. Pada tanggal 10 April 1953, Maramis diangkat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Jerman Barat terhitung mulai tanggal 1 Mei 1953.[26][27] Pada awal tahun 1956, Maramis kembali ke Jakarta dan menjabat sebagai Kepala Direktorat Asia/Pasifik di Kementerian Luar Negeri. Jabatan ini hanya diembannya selama beberapa bulan, karena ia diberi tugas baru sebagai Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet terhitung tanggal 1 Oktober 1956.[26][28] Dua tahun kemudian, Maramis mendapat tugas perangkapan sebagai Duta Besar Indonesia untuk Finlandia dengan kedudukan tetap di Moskow.[26] Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai duta besar untuk Uni Soviet dan Finlandia, Maramis dan keluarganya menetap di Swiss.[29] Dia menetap di Lugano sebelum kembali ke Indonesia pada 1976.[30]

Wafat

250px-A.A._Maramis_-_TMP_Kalibata_1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Batu nisan makam A.A. Maramis di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta

Setelah hampir 20 tahun tinggal di luar Indonesia, Maramis menyatakan keinginannya untuk kembali ke Indonesia. Pemerintah Indonesia mengatur agar ia bisa kembali dan pada tanggal 27 Juni 1976 ia tiba di Jakarta.[31] Di antara para penyambut di bandara adalah teman-teman lamanya Soebardjo dan Mononutu, dan juga Rahmi Hatta (istri Mohammad Hatta).[32] Pada bulan Mei 1977, ia dirawat di rumah sakit setelah mengalami pendarahan. Maramis meninggal dunia pada tanggal 31 Juli 1977 di Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Soebroto, hanya 13 bulan setelah ia kembali ke Indonesia.[33] Jenazahnya disemayamkan di Ruang Pancasila Departemen Luar Negeri dan dilanjutkan dengan upacara militer dan kemudian pemakaman di Taman Makam Pahlawan Kalibata.[31]

Penghargaan

250px-Indonesia_1945_100r_Obv.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Uang Rp. 100 dengan tanda tangan Maramis
250px-Gedung_Departemen_Keuangan_RI.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kantor Kementerian Keuangan yang dinamakan Gedung "A.A. Maramis"

Pada saat menjabat sebegai Duta Besar Indonesia untuk Filipina, Maramis menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Far Eastern di Manila pada tahun 1950.[34] Pada tanggal 15 Februari 1961, Maramis dianugerahi penghargaan Bintang Mahaputra Utama dan pada tanggal 5 Oktober 1963 ia dianugerahi penghargaan Bintang Gerilya.[32] Maramis secara anumerta dianugerahi Bintang Republik Indonesia Utama pada tanggal 12 Agustus 1992.[35] Pada tanggal 30 Oktober 2007, Maramis diakui oleh Museum Rekor Dunia Indonesia sebagai Menteri Keuangan yang tanda tangannya tertera pada uang kertas yang paling banyak. Di antara tahun 1945 dan 1947, tanda tangannya tertera pada 15 uang kertas yang berbeda.[36]

Pada tanggal 8 November 2019, Alexander Andries Maramis dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo dalam sebuah upacara di Istana Negara.[37] Yang menerima penghargaan mewakili keluarga ahli waris adalah Joan Maramis, cucu dari A. A. Maramis.[38]

Keluarga

Maramis menikah dengan Elizabeth Marie Diena Veldhoedt. Ayah Elizabeth adalah orang Belanda sedangkan ibunya berasal dari Bali. Perkawinan Maramis dan Veldhoedt tidak menghasilkan anak, tetapi Veldhoedt memiliki seorang putra dari pernikahan sebelumnya. Anak itu diterima dengan baik oleh Maramis bahkan ia diberi nama Lexy Maramis.[39]

Referensi

  1. ↑ Sulistiyo (2012).
  2. ↑ Parengkuan (1982), p. 5.
  3. ↑ Nalenan (1981), p. 10.
  4. ↑ Idris (1982), p. 160.
  5. ↑ Nalenan (1981), p. 15.
  6. ↑ Massier (2008), p. 139.
  7. ↑ Nalenan (1981), p. 47.
  8. ↑ Otterspeer (1989), p. 261.
  9. ↑ Lev (2000), p. 260.
  10. ↑ Parengkuan (1982), p. 42.
  11. ↑ Parengkuan (1982), p. 43.
  12. ↑ Elson (2009), p. 112.
  13. ↑ Massier (2008), p. 180.
  14. ↑ Elson (2009), p. 123.
  15. ↑ Anwar (2009), p. 115.
  16. ↑ GNFI (2020)
  17. ↑ Anwar (2009), p. 116.
  18. ↑ Lindblad (2008), p. 62.
  19. ↑ Anderson (1972), p. 398.
  20. ↑ Finch and Lev (1965), p. 12.
  21. ↑ Aritorang and Steenbrink (2008), p. 192.
  22. ↑ Pour (2010), p. 70.
  23. ↑ Parengkuan (1982), p. 80.
  24. 1 2 Parengkuan (1982), p. 83.
  25. ↑ Anwar (2009), p. 120.
  26. 1 2 3 Parengkuan (1982), p. 86.
  27. ↑ Careers Institute (1953), p. 61.
  28. ↑ Khrushchev (2007), p. 807.
  29. ↑ Parengkuan (1982), p. 89.
  30. ↑ Parengkuan (1982), p. 92.
  31. 1 2 TEMPO (1977).
  32. 1 2 TEMPO (1976).
  33. ↑ Joint Publications Research Service (1977), p. ii.
  34. ↑ Perpusnas (1950).
  35. ↑ GATRA (2012).
  36. ↑ Raharjo (2007).
  37. ↑ CNN Indonesia (2019).
  38. ↑ Kementerian Sekretariat Negara (2019).
  39. ↑ Parengkuan (1982), p. 44.

Sumber referensi

  • Finch, Susan; Lev, Daniel (1965). Republic of Indonesia Cabinets: 1945–1965 [Kabinet-Kabinet Republik Indonesia: 1945–1965] (dalam bahasa Inggris). Ithaca, N.Y.: Cornell University.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Idris, Safwan (1982). Tokoh-tokoh Nasional: Overseas Education and the Evolution of the Indonesian Educated Elite [Tokoh-tokoh Nasional: Pendidikan Di Luar Pulau dan Evolusi Kaum Terpelajar Indonesia] (Ph.D.). Madison, WI: University of Wisconsin-Madison.
  • Alexander Andries Maramis (dalam bahasa Inggris). Arlington, VA.: Joint Publications Research Service. 1977.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • "Presiden Jokowi Anugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada 6 Tokoh". Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. 2019-11-08. Diakses tanggal 2019-11-09.
  • Khrushchev, Nikita (2007). Khrushchev, Sergei (ed.). Memoirs of Nikita Khrushchev, Volume 3 [Memoar Nikita Khrushchev, Volume 3] (dalam bahasa Inggris). Diterjemahkan oleh Shriver, George. University Park: The Pennsylvania State University Press. ISBN 978-027-103-317-4.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Lev, Daniel, ed. (2000). Legal Evolution and Political Authority in Indonesia [Evolusi Hukum dan Otoritas Politik di Indonesia] (dalam bahasa Inggris). The Hague: Kluwer Law International. ISBN 9-0411-1421-1.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Lindblad, J. Thomas (2008). Bridges to New Business: The Economic Decolonization of Indonesia [Jembatan ke Usaha yang Baru: Ekonomu Dekolonisasi di Indonesia] (dalam bahasa Inggris). Leiden: KITLV Press. ISBN 978-906-718-290-4.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Massier, AB (2008). The Voice of the Law in Transition: Indonesian Jurists and Their Languages [Suara Hukum dalam Transisi: Jaksa-Jaksa Indonesia dan Bahasa Mereka] (dalam bahasa Inggris). Diterjemahkan oleh Wouters, Michaela. Leiden: KITLV Press. ISBN 978-906-718-271-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Nalenan, R. (1981). Arnold Mononutu: Potret Seorang Patriot. Jakarta: Gunung Agung.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Otterspeer, Willem, ed. (1989). Leiden Oriental Connections 1850–1940 [Hubungan Oriental Leiden 1850–1940] (dalam bahasa Inggris). Leiden: Brill. ISBN 9-0040-9022-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Parengkuan, Fendy E. W. (1982). A.A. Maramis, SH. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • "Mr. A.A. Maramis menerima anugerah gelar Doktor H.C. untuk Hukum dari Far Eastern University Manila tahun 1950". Manila: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. 1950.
  • Pour, Julius (2010). Doorstoot naar Djokja: Pertikaian Pemimpin Sipil-Militer. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. ISBN 978-979-709-454-6.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Raharjo, Yudho (30 Oktober 2007). "Mr. A.A. Maramis Raih Penghargaan MURI". TEMPO. Diakses tanggal 16 Agustus 2017.

Lihat juga

Jabatan pemerintahan
Didahului oleh:
Samsi Sastrawidagda
Menteri Keuangan
1945
Diteruskan oleh:
Sunarjo Kolopaking
Didahului oleh:
Syafruddin Prawiranegara
Menteri Keuangan
1947–1949
Diteruskan oleh:
Lukman Hakim
Didahului oleh:
Agus Salim
Menteri Luar Negeri Indonesia
1949
Diteruskan oleh:
Agus Salim
Jabatan diplomatik
Didahului oleh:
Tidak ada
Duta Besar Indonesia untuk Jerman Barat
1953–1956
Diteruskan oleh:
Zairin Zain
Didahului oleh:
L.N. Palar
Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet
1956–1959
Diteruskan oleh:
Adam Malik
Indonesia Anggota BPUPKI
Politik
Abdul Halim Majalengka · Abdul Kahar Mudzakkir ·Abdurrahman Wahid  · Achmad Soebardjo · Adam Malik · Adnan Kapau Gani · Alexander Andries Maramis · Alimin · Andi Sultan Daeng Radja · Arie Frederik Lasut · Arnold Mononutu · Djoeanda Kartawidjaja · Ernest Douwes Dekker · Fatmawati · Ferdinand Lumban Tobing · Frans Kaisiepo · Gatot Mangkoepradja · Hamengkubuwana IX · Herman Johannes · Idham Chalid · Ida Anak Agung Gde Agung · Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono · I Gusti Ketut Pudja · Iwa Koesoemasoemantri · Izaak Huru Doko · Johannes Leimena · Johannes Abraham Dimara ·Kasman Singodimedjo ·Kusumah Atmaja · Lambertus Nicodemus Palar · Mahmud Syah III dari Johor · Mangkunegara I · Maskoen Soemadiredja ·Mochtar Kusumaatmadja · Mohammad Hatta · Mohammad Husni Thamrin · Moewardi · Teuku Nyak Arif · Nani Wartabone · Oto Iskandar di Nata · Radjiman Wedyodiningrat · Rasuna Said · Saharjo · Samanhudi ·Soeharto  · Soekarni ·Soekarno · Sukarjo Wiryopranoto · Soepomo · Soeroso · Soerjopranoto · Sutan Mohammad Amin Nasution · Sutan Syahrir · Syafruddin Prawiranegara · Tan Malaka · Tjipto Mangoenkoesoemo · Oemar Said Tjokroaminoto ·Zainal Abidin Syah · Zainul Arifin
Militer
Kemerdekaan
Revolusi
Pergerakan
Sastra
Seni
Pendidikan
Integrasi
Pers
Pembangunan
Agama
Perjuangan
Abdul Kadir · Achmad Rifa'i · Andi Depu · Andi Mappanyukki · Aji Muhammad Idris · Aria Wangsakara · Baabullah · Bataha Santiago · Cut Nyak Dhien · Cut Nyak Meutia · Depati Amir · Hamengkubuwana I · I Gusti Ketut Jelantik · I Gusti Ngurah Made Agung · Ida Dewa Agung Jambe · Himayatuddin Muhammad Saidi · Iskandar Muda dari Aceh · Kiras Bangun · La Madukelleng · Machmud Singgirei Rumagesan · Mahmud Badaruddin II dari Palembang · Malahayati · Marsinah · Martha Christina Tiahahu · Nuku Muhammad Amiruddin · Nyai Ageng Serang · Opu Daeng Risadju · Paku Alam VIII · Pakubuwana VI · Pakubuwana X · Pangeran Antasari · Pangeran Diponegoro · Pattimura · Pong Tiku · Raden Mattaher · Radin Inten II · Ranggong Daeng Romo · Raja Haji Fisabilillah · Ratu Kalinyamat · Salahuddin bin Talabuddin · Sisingamangaraja XII · Sultan Agung dari Mataram · Sultan Hasanuddin · Teungku Chik di Tiro · Tuanku Imam Bonjol · Tuanku Tambusai · Teuku Umar · Tirtayasa dari Banten · Thaha Saifuddin dari Jambi · Tombolotutu · Tuan Rondahaim Saragih  · Untung Suropati · Zainal Mustafa
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan