Rabu, 04 November 2026
23:49 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan
Kabinet Hatta I

Kabinet Hatta I

Bagikan:
Kabinet Hatta I
60px-Flag_of_Indonesia.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kabinet Pemerintahan Indonesia ke-7
1948–1949
250px-National_emblem_of_Indonesia_Garuda_Pancasila.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Dibentuk29 Januari 1948 (1948-01-29)
Diselesaikan
  • 19 Desember 1948 (1948-12-19) (ditangkap)
  • 4 Agustus 1949 (1949-08-4) (dirombak)
Struktur pemerintahan
Kepala negaraSoekarno
Kepala pemerintahanMohammad Hatta
Jumlah menteri16 menteri
Partai anggota  Masyumi
  PNI
  Parkindo
  PSI
  Independen
Partai oposisiFront Demokrasi Rakyat:
  PSI
  PKI
  PBI
Pemimpin oposisiMusso
Amir Sjarifoeddin
Sejarah
PendahuluKabinet Amir Sjarifuddin II
Pengganti
120px-Dr._Ir._Soekarno%2C_10_Orang_Indonesia_Terbesar_Sekarang_%281952%29%2C_p7_%283x4_close_cropped%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini bagian dari
seri tentang
Soekarno

Presiden pertama Indonesia

Soekarno's signature
120px-Indonesian_Presidential_Seal_gold.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Galeri: Gambar, Suara, Video

Kabinet Hatta Pertama atau Kabinet Hatta I adalah kabinet ketujuh yang dibentuk di Indonesia. Kabinet ini dibentuk oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta, atas perintah Presiden Soekarno pada tanggal 23 Januari 1948, hari yang sama saat kabinet sebelumnya dinyatakan bubar. Kabinet ini bertugas pada periode 29 Januari 1948 sampai 4 Agustus 1949. Menyusul agresi militer Belanda kedua, ketika ibu kota republik Yogyakarta direbut dan sebagian besar anggota kabinet ditangkap. Meskipun begitu, kabinet tidak secara resmi dibubarkan. Setelah kepemimpinan politik kembali berlaku efektif 13 Juli 1949, kabinet melanjutkan mandatnya hingga dirombak pada 4 Agustus.

Latar belakang

Kabinet Amir Sjarifuddin II, di bawah Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin, bubar pada 23 Januari 1948 setelah adanya kemarahan besar terhadap Perjanjian Renville, yang dianggap oleh masyarakat telah memberikan terlalu banyak kekuatan politik pada negara yang baru lahir tersebut.[1] Mohammad Hatta, yang sedang menjabat sebagai wakil presiden, diminta oleh Presiden Soekarno untuk membentuk sebuah kabinet baru yang menyatukan seluruh partai politik di Indonesia.[1] Hatta mempertahankan sepuluh anggota kabinet sebelumnya, dan mengeluarkan para wakil menteri[2] serta menteri dengan paham Kiri.[3]

Kabinet Hatta I dibentuk pada 29 Januari 1948, dengan Hatta menjabat sebagai wakil presiden dan perdana menteri secara bersamaan.[4] Kabinet tersebut resmi bertugas pada 2 Februari.[5] Mandat pada Kabinet Hatta diantaranya adalah menangani perjanjian Renville, membangun negara, serta bekerja menuju pemerintahan yang terkonsolidasi.[6] Bersama Jenderal Soedirman, Panglima militer, Hatta bekerja mengurangi pengaruh paham kiri dalam angkatan bersenjata, yang dieksploitasi pada masa kabinet Amir Sjarifuddin.[7] Namun, hal tersebut dilemahkan oleh selisih paham terhadap Perjanjian Renville yang terus berlanjut.[8]

Pakar hukum dan politikus Indonesia Bibit Suprapto menulis bahwa Kabinet Hatta tidak sepenuhnya bersifat parlementer, karena Hatta tetap menjabat di lembaga eksekutif pemerintahan, namun juga tidak sepenuhnya bersifat presidensial, karena Hatta secara resmi menyandang gelar perdana menteri.[4]

Susunan kabinet

250px-Hatta_1_Cabinet_KR_2_Feb_1948_p1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Susunan awal Kabinet Hatta I
No Jabatan Pejabat Partai Politik
1 Perdana Menteri 120px-Hatta-1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Mohammad Hatta Non-partai
2 Menteri Luar Negeri 120px-Agus_Salim%2C_Pekan_Buku_Indonesia_1954%2C_p246.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Agus Salim
3 Menteri Dalam Negeri Sukiman_Wirjosandjojo.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled Soekiman Wirjosandjojo (ad interim) Masyumi
4 Menteri Pertahanan 120px-Hatta-1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Mohammad Hatta[9]
(ad interim, sampai 15 Juli 1948)
Non-partai
120px-Sultan_hb_IX_PYO.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Hamengkubuwana IX
(sejak 15 Juli 1948)
5 Menteri Kehakiman 120px-Susanto_Tirtoprodjo.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Soesanto Tirtoprodjo PNI
6 Menteri Penerangan 120px-Mohammad_Natsir1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Mohammad Natsir Masyumi
7 Menteri Keuangan 120px-Alexander_andries_maramis.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Alexander Andries Maramis PNI
8 Menteri Kemakmuran 120px-Sjafrudin_prawiranegara.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Syafruddin Prawiranegara Masyumi
9 Menteri Pekerjaan Umum 120px-Djuanda_Kartawidjaja.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Djuanda Kartawidjaja[10]
(ad interim, sampai 13 April 1948)
Non-partai
120px-Ir._Herling_Laoh.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Herling Laoh
(sejak 13 April 1948)
PNI
10 Menteri Perburuhan dan Sosial 120px-Kusnan.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Rahendra Kusnan Non-partai
11 Menteri Pembangunan dan Pemuda 120px-Supeno.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Soepeno[11] PSI
12 Menteri Perhubungan 120px-Djuanda_Kartawidjaja.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Djuanda Kartawidjaja Non-partai
13 Menteri Agama 120px-Masjkur.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Masjkur Masyumi
14 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 120px-Ali_Sastroamidjojo.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Ali Sastroamidjojo PNI
15 Menteri Kesehatan 120px-Leimena.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Johannes Leimena Parkindo
16 Menteri Negara 120px-Sultan_hb_IX_PYO.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Hamengkubuwana IX[9] Non-partai

Sejarah

Kabinet Hatta I ditandai oleh meningkatnya pengakuan internasional terhadap Indonesia. Yaman dan Uni Soviet merupakan salah satu contoh negara-negara yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada Mei 1948.[12]

Perbedaan pendapat internal

Mantan perdana menteri Amir Sjarifoeddin tidak menerima pembubaran kabinetnya; pasukan dan politisi paham kiri telah lama mengendalikan kabinet sejak kemerdekaan Indonesia di tahun 1945.[13] Bersama dengan tokoh Partai Komunis Indonesia, Musso, Amir mendirikan Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang menjadi oposisi kabinet Hatta dan meminta kabinet baru yang berpaham kiri. Pada awal Februari 1948, Amir dan Musso telah bertemu dan berdiskusi mengenai bagaimana cara menangani kabinet baru.[14]

FDR mengklaim bahwa kabinet Hatta, yang sebagian besar diisi oleh partai Islam Masyumi, tidak akan mampu memenuhi mandat mereka dan segala proyek yang diselesaikan akan bertentangan terhadap kebutusan para sosialis dan komunis.[15] Mereka menjuluki kabinet Hatta sebagai "Kabinet Masyumi" dan "Kabinet Borjuis". Selama awal 1948 FDR terus mengkritisi kelompok-kelompok islam dan kelompok pemerintahan; mereka juga memimpin serangkaian mogok kerja dan meminta Kabinet Hatta untuk menarik diri secara sepihak dari Perjanjian Renville.[12] Sebagai balasan, pemerintah membebaskan Tan Malaka dan beberapa tahanan politik lainnya yang dimulai pada pertengahan Agustus; walaupun para tahanan yang dibebaskan merupakan tahanan komunis, mereka dengan tegas menolak FDR dan bekerja untuk menumbangkan FDR.[16]

Perbedaan pendapat tersebut mencapai puncaknya pada Peristiwa Madiun, di mana pasukan FDR di bawah komando Musso, Sjarifuddin serta tokoh-tokoh berpaham kiri lainnya, mengepung Kota Madiun, Jawa Timur pada 18 September 1948; FDR membakar rumah penduduk dan membunuh ribuan warga yang sebagian besar merupakan tokoh Islam. Empat hari kemudian, Angkatan Darat ditugaskan untuk merebut kembali Kota Madiun. Pasukan pertama tiba pada 30 September dan mulai bertempur keesokan harinya, merebut kembali Kota Madiun. Anggota FDR menyebar di wilayah Madiun, yang menyebabkan angkatan darat menghabiskan beberapa bulan untuk memburu mereka. Musso dibunuh pada awal Oktober, sementara Sjarifuddin ditangkap pada 29 November dan dihukum mati pada bulan Desember.[12]

Tekanan Belanda

Setelah Perjanjian Renville, Garis Van Mook – yang memisahkan wilayah yang dikendalikan oleh Belanda dengan wilayah Indonesia – secara resmi diakui. Dibalik garis tersebut Belanda membentuk beberapa negara bagian kecil pada wilayah yang diklaim olehIndonesia, termasuk Madura dan Pasundan.[12] Beberapa pertempuran terjadi di sepanjang garis tersebut antara pasukan Indonesia dengan Belanda.[17] Pasukan Belanda terus menghadang kepulauan Indonesia, mencegah kapal pemasok mencapai masyarakat.[18] Oleh karena itu, pada bulan Desember ketegangan antara kedua kekuatan meningkat.[17]

Kejatuhan

Selama Operasi Kraai, serangan Belanda terhadap ibu kota Yogyakarta yang dimulai pada 19 Desember 1948, kabinet dan Presiden Soekarno ditangkap dan diasingkan. Kabinet darurat di bawah Syafruddin Prawiranegara dibentuk di Sumatra; tetapi, Kabinet Hatta tidak dibubarkan secara resmi.[17] Setelah kepemimpinan politik dilepas dan dikembalikan ke Yogyakarta, Prawiranegara mengembalikan kendali negara kepada Kabinet Hatta efektif tanggal 13 Juli 1949; Kabinet Hatta mempertahankan susunannya hingga tanggal 4 Agustus 1949, ketika kabinet tersebut dirombak, lagi-lagi dengan Hatta sebagai perdana menteri.[19]

Catatan

  1. 1 2 Suprapto 1985, hlm. 78. sfn error: tanpa target: CITEREFSuprapto1985 (bantuan)
  2. ↑ Suprapto 1985, hlm. 80. sfn error: tanpa target: CITEREFSuprapto1985 (bantuan)
  3. ↑ Muljana 2008, hlm. 134. sfn error: tanpa target: CITEREFMuljana2008 (bantuan)
  4. 1 2 Suprapto 1985, hlm. 79. sfn error: tanpa target: CITEREFSuprapto1985 (bantuan)
  5. ↑ Muljana 2008, hlm. 135. sfn error: tanpa target: CITEREFMuljana2008 (bantuan)
  6. ↑ Suprapto 1985, hlm. 81. sfn error: tanpa target: CITEREFSuprapto1985 (bantuan)
  7. ↑ Imran 1980, hlm. 42–45. sfn error: tanpa target: CITEREFImran1980 (bantuan)
  8. ↑ Muljana 2008, hlm. 148. sfn error: tanpa target: CITEREFMuljana2008 (bantuan)
  9. 1 2 Tanggal 15 Juli 1948 Hamengkubuwono XI diangkat menjadi Menteri Pertahanan. Posisi Menteri Negara tidak diisi.
  10. ↑ Tanggal 13 April 1948 posisi ini diisi H. Laoh.
  11. ↑ Supeno meninggal pada 24 Februari 1949, sewaktu Agresi Militer Belanda II.
  12. 1 2 3 4 Suprapto 1985, hlm. 81–84. sfn error: tanpa target: CITEREFSuprapto1985 (bantuan)
  13. ↑ Muljana 2008, hlm. 136. sfn error: tanpa target: CITEREFMuljana2008 (bantuan)
  14. ↑ Muljana 2008, hlm. 143. sfn error: tanpa target: CITEREFMuljana2008 (bantuan)
  15. ↑ Muljana 2008, hlm. 144. sfn error: tanpa target: CITEREFMuljana2008 (bantuan)
  16. ↑ Muljana 2008, hlm. 154. sfn error: tanpa target: CITEREFMuljana2008 (bantuan)
  17. 1 2 3 Suprapto 1985, hlm. 85. sfn error: tanpa target: CITEREFSuprapto1985 (bantuan)
  18. ↑ Muljana 2008, hlm. 137. sfn error: tanpa target: CITEREFMuljana2008 (bantuan)
  19. ↑ Suprapto 1985, hlm. 86. sfn error: tanpa target: CITEREFSuprapto1985 (bantuan)

Referensi

  • Simanjuntak, P. N. H. (2003) (in Indonesian), Kabinet-Kabinet Republik Indonesia: Dari Awal Kemerdekaan Sampai Reformasi, Jakarta: Djambatan, pp. 62–73, ISBN 979-428-499-8.

Pranala luar

40px-National_emblem_of_Indonesia_Garuda_Pancasila.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kabinet Pemerintahan Indonesia
Didahului oleh:
Kabinet Amir Sjarifuddin II
Kabinet Hatta I
1948
Diteruskan oleh:
Kabinet Darurat
Didahului oleh:
Kabinet Amir Sjarifuddin II
Kabinet Hatta I
1948-1949
Diteruskan oleh:
Kabinet Hatta II
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan