Kamis, 15 Oktober 2026
05:12 WIB
TERKINI
Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: Satpol PP Cek STNK Kendaraan Besar di SPBU Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Merosot Rp20 Ribu, Cek Rincian Lengkap per Gram Hari Ini Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 14 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan di Tanggamus Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: Satpol PP Cek STNK Kendaraan Besar di SPBU Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Merosot Rp20 Ribu, Cek Rincian Lengkap per Gram Hari Ini Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 14 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan di Tanggamus

Peperangan informasi

manipulasi informasi yang dipercaya oleh target tanpa kesadaran target.

Bagikan:
Penggunaan dan pengelolaan teknologi informasi dan komunikasi dalam ruang pertempuranTemplat:SHORTDESC:Penggunaan dan pengelolaan teknologi informasi dan komunikasi dalam ruang pertempuran
Bagian dari seri artikel mengenai
Perang
250px-Gari-Melchers-War-Highsmith.jpeg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Perang informasi (bahasa Inggris:Information warfare, IW) adalah penggunaan dan pengelolaan ruang pertempuran terhadap teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk memperoleh keunggulan kompetitif atas lawan. Perang informasi berbeda dari perang siber yang menyerang komputer, perangkat lunak, dan sistem komando dan kendali. Perang informasi merupakan manipulasi terhadap informasi yang dipercaya oleh suatu sasaran tanpa sepengetahuan sasaran tersebut, sehingga sasaran akan mengambil keputusan yang bertentangan dengan kepentingannya sendiri tetapi menguntungkan pihak yang melakukan perang informasi.[1][2] Akibatnya, tidak jelas kapan perang informasi dimulai, berakhir, serta seberapa kuat atau merusaknya perang tersebut.[3]

Perang informasi dapat melibatkan pengumpulan informasi taktis, memastikan bahwa informasi sendiri valid, penyebaran propaganda atau disinformasi untuk mendemoralisasi atau memanipulasi[4] musuh dan masyarakat, merusak kualitas informasi milik pihak lawan, serta meniadakan kesempatan bagi pihak lawan untuk mengumpulkan informasi. Perang informasi berkaitan erat dengan perang psikologis.[5]

Gambaran umum

Perang informasi telah dijelaskan sebagai "penggunaan informasi untuk mencapai tujuan nasional kita."[6] Menurut NATO, "perang informasi adalah operasi yang dilakukan untuk memperoleh keunggulan informasi atas lawan."[7]

Istilah ini telah ada setidaknya sejak tahun 1970, ketika Dale Minor, seorang wartawan, menerbitkan buku The Information War,[8] yang membahas propaganda dan manipulasi berita selama era Perang Vietnam.[9] Namun, penggunaan istilah tersebut sebagai kemampuan militer saat ini berasal dari tahun 1976, ketika Thomas P. Rona, yang saat itu merupakan insinyur di Boeing Company, menggunakan istilah "information war" dalam sebuah monograf perusahaan[10] yang disiapkan untuk Office of Net Assessment.[11]

Perang informasi dapat dilakukan dalam berbagai bentuk:

Angkatan Udara Amerika Serikat telah memiliki Skuadron Perang Informasi sejak tahun 1980-an. Bahkan, misi resmi Angkatan Udara AS kini adalah "To fly, fight and win... in air, space and cyberspace",[13] dengan bagian terakhir merujuk pada perannya dalam perang informasi.

Karena Angkatan Udara AS sering mempertaruhkan pesawat dan awaknya untuk menyerang sasaran komunikasi strategis musuh, penonaktifan sasaran tersebut dari jarak jauh menggunakan perangkat lunak dan cara lainnya dapat menjadi alternatif yang lebih aman. Selain itu, menonaktifkan jaringan secara elektronik, alih-alih secara eksplosif, memungkinkan jaringan tersebut diaktifkan kembali dengan cepat setelah wilayah musuh diduduki. Demikian pula, unit perang informasi tandingan digunakan untuk meniadakan kemampuan tersebut dari pihak musuh. Penerapan pertama teknik-teknik ini digunakan terhadap jaringan komunikasi Irak dalam Perang Teluk.

Selama Perang Teluk, peretas Belanda diduga mencuri informasi mengenai pergerakan pasukan AS dari komputer Departemen Pertahanan Amerika Serikat dan mencoba menjualnya kepada pihak Irak, yang menganggap informasi tersebut sebagai tipuan dan menolaknya.[14]

Pada Januari 1999, komputer Intelijen Udara AS terkena serangan terkoordinasi (Moonlight Maze), yang sebagian berasal dari sebuah komputer mainframe di Rusia. Hal ini tidak dapat dikonfirmasi sebagai serangan siber Rusia karena masalah atribusi—prinsip bahwa identitas daring tidak dapat dijadikan bukti identitas di dunia nyata.[15][16][17]

Beberapa militer kini menggunakan iPhone untuk mengunggah data dan informasi yang dikumpulkan oleh drone di wilayah yang sama.[18][19]

Contoh penting

Perang informasi Tiongkok

Page 'Chinese information operations and information warfare' not found

Perang Rusia–Ukraina

250px-Pro-Russian_bot_farm_in_Ukraine_%282022%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kantor yang digunakan oleh brigade web Rusia yang direbut oleh Angkatan Bersenjata Ukraina selama invasi Rusia ke Ukraina

Pada tahun 2022, Angkatan Bersenjata Ukraina memanfaatkan kelemahan komunikasi Rusia dengan memungkinkan pasukan Rusia menumpang pada jaringan Ukraina untuk terhubung dan berkomunikasi. Pasukan Ukraina kemudian menyadap dan memutus komunikasi Rusia pada bagian penting percakapan tersebut.

Untuk membangun dukungan sebelum menginvasi Ukraina, Rusia menyebarkan narasi bahwa pemerintah Ukraina melakukan kekerasan terhadap penduduknya sendiri yang berbahasa Rusia. Dengan menerbitkan sejumlah besar disinformasi di internet, narasi alternatif tersebut muncul dalam hasil pencarian, termasuk Google News.[20]

Intervensi Rusia dalam pemilu luar negeri

Intervensi Rusia dalam pemilu luar negeri, terutama intervensi Rusia dalam pemilu Amerika Serikat 2016, telah digambarkan sebagai perang informasi.[21][22]

Menurut Microsoft, Rusia juga melakukan intervensi dalam pemilu presiden AS 2024.[23] NBC juga melaporkan bahwa Rusia menjalankan kampanye disinformasi dalam pemilu AS 2024 yang menargetkan presiden AS saat itu, Joe Biden.[24]

Rusia melawan Barat

Penelitian menunjukkan bahwa Rusia dan Barat juga terlibat dalam perang informasi. Misalnya, Rusia meyakini bahwa Barat sedang melemahkan pemimpinnya dengan mendorong penggulingan rezim otoriter dan nilai-nilai liberal. Sebagai tanggapan, Rusia mempromosikan sentimen anti-liberal, termasuk rasisme, antisemitisme, homofobia, dan misogini.[25][24] Rusia berupaya mempromosikan gagasan bahwa negara demokrasi Amerika sedang mengalami kegagalan.[24]

Rusia, Tiongkok, dan protes pro-Palestina

The Telegraph melaporkan pada 2024 bahwa Tiongkok dan Rusia mempromosikan influencer pro-Palestina untuk memanipulasi opini publik Britania agar mendukung kepentingan Rusia dan Tiongkok.[26]

NBC melaporkan bahwa Rusia menggunakan berbagai alat untuk menimbulkan perpecahan di Amerika Serikat, antara lain dengan mendelegitimasi operasi kepolisian AS terhadap protes pro-Palestina dan mengalihkan pembicaraan publik dari invasi Rusia ke Ukraina menuju konflik Israel–Palestina.[24] Aktivitas media Rusia meningkat sebesar 400% dalam beberapa minggu setelah serangan Hamas pada 7 Oktober terhadap Israel.[24]

Kampanye disinformasi COVID-19 Amerika Serikat

Menurut laporan Reuters, Amerika Serikat menjalankan kampanye propaganda untuk menyebarkan disinformasi mengenai vaksin COVID-19 Sinovac asal Tiongkok, termasuk menggunakan akun media sosial palsu untuk menyebarkan klaim bahwa vaksin Sinovac mengandung bahan yang berasal dari babi dan karenanya dianggap haram menurut hukum Islam.[27]

Kampanye tersebut disebut sebagai "balasan" atas disinformasi COVID-19 dari Tiongkok yang ditujukan kepada AS.[28] Kampanye tersebut berlangsung dari tahun 2020 hingga pertengahan 2021, terutama menargetkan masyarakat Filipina, dan menggunakan hashtag media sosial "China is the virus" dalam bahasa Tagalog. Kontraktor utama militer AS dalam proyek tersebut adalah General Dynamics IT, yang menerima US$493 juta atas perannya.[27]

Perang informasi Israel

Israel telah menggunakan berbagai metode untuk memengaruhi opini publik dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari iklan dan pembayaran kepada influencer hingga pembuatan jaringan situs web untuk memengaruhi respons chatbot AI. Menurut laporan Drop Site News, Israel meluncurkan kampanye digital untuk memengaruhi respons sistem AI terhadap perang Gaza, dalam bentuk kontrak senilai US$46,5 juta dengan Clock Tower X, sebuah perusahaan yang dipimpin Brad Parscale, mantan manajer kampanye Trump.

Perusahaan tersebut menerbitkan ratusan artikel pada jaringan situs web yang mendukung posisi Israel mengenai perang Gaza, operasi militernya, dan hubungan AS–Israel. Tujuannya adalah agar konten tersebut masuk ke dalam data yang digunakan sistem AI seperti ChatGPT, Claude, dan Perplexity, sebuah metode yang disebut "LLM poisoning". Dalam sebuah eksperimen yang dilakukan Drop Site, sebuah chatbot ditanya apakah peningkatan kerja sama militer AS dengan Israel akan bermanfaat. Chatbot menjawab "ya", dan sumber pertama yang dikutipnya adalah sebuah situs web yang dibuat Parscale untuk pemerintah Israel.[29][30][31]

Kekhawatiran hukum dan etika

Meskipun perang informasi telah menghasilkan banyak kemajuan dalam jenis serangan yang dapat dilakukan oleh suatu pemerintah, perang informasi juga menimbulkan kekhawatiran mengenai ambiguitas moral dan hukum yang menyertai bentuk peperangan yang relatif baru ini. Secara tradisional, perang dianalisis oleh para ahli moral berdasarkan teori perang yang adil. Namun, dalam konteks perang informasi, teori perang yang adil menghadapi keterbatasan karena teori tersebut didasarkan pada konsep perang tradisional. Perang informasi memiliki tiga persoalan utama jika dibandingkan dengan peperangan tradisional:

  1. Risiko bagi pihak atau negara yang memulai serangan siber secara substansial lebih rendah dibandingkan risiko bagi pihak atau negara yang memulai serangan tradisional. Hal ini memudahkan pemerintah, serta organisasi teroris atau organisasi kriminal, untuk melakukan serangan tersebut lebih sering daripada yang dapat dilakukan dalam perang tradisional.[32]
  2. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah begitu melekat dalam dunia modern sehingga berbagai jenis teknologi berada dalam risiko serangan siber. Secara khusus, teknologi sipil dapat menjadi sasaran serangan siber dan serangan bahkan berpotensi dilancarkan melalui komputer atau situs web sipil. Karena itu, pengendalian infrastruktur sipil lebih sulit ditegakkan dibandingkan pengendalian ruang fisik. Upaya untuk melakukannya juga menimbulkan banyak persoalan etika mengenai hak atas privasi, sehingga pertahanan terhadap serangan semacam itu menjadi semakin sulit.
  3. Integrasi TIK secara massal ke dalam sistem peperangan membuat penentuan pertanggungjawaban atas situasi yang muncul akibat penggunaan serangan robotik dan/atau siber menjadi jauh lebih sulit. Dalam kasus senjata robotik dan sistem otomatis, semakin sulit menentukan siapa yang bertanggung jawab atas suatu peristiwa tertentu. Persoalan ini semakin parah dalam kasus serangan siber karena terkadang hampir mustahil melacak siapa yang pertama kali melakukan serangan tersebut.[17]

Belakangan ini, persoalan hukum muncul terutama terkait masalah-masalah tersebut, khususnya persoalan hak atas privasi di Amerika Serikat. Letnan Jenderal Keith B. Alexander, yang menjabat sebagai kepala Cyber Command pada masa Presiden Barack Obama, mencatat adanya "ketidaksesuaian antara kemampuan teknis kita untuk melakukan operasi dan hukum serta kebijakan yang mengaturnya" ketika menulis kepada Komite Angkatan Bersenjata Senat Amerika Serikat. Salah satu persoalan utama adalah penargetan institusi sipil dalam serangan siber. Jenderal tersebut berjanji untuk mempertahankan pola pikir yang serupa dengan perang tradisional, yaitu berusaha membatasi dampak terhadap warga sipil.[33]

Lihat pula

Kelompok tertentu:

Khusus Amerika Serikat:

Catatan

Referensi

  1. ↑ Glenn. Jerome C. Global Challenge 10, State of the Future 19.1, The Millennium Project, Washington, DC 2018
  2. ↑ Brian C, Lewis. "Information Warfare". irp.fas.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-10-24. Diakses tanggal 2022-10-24.
  3. ↑ Glenn. Jerome. Chapter 9 Defense, Future Mind, Acropolis Books, Washington, DC 1989
  4. ↑ "Information Warfare: What and How?". www.cs.cmu.edu. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-09-09. Diakses tanggal 2019-10-20.
  5. ↑ Hung, Tzu-Chieh; Hung, Tzu-Wei (2022-07-19). "How China's Cognitive Warfare Works: A Frontline Perspective of Taiwan's Anti-Disinformation Wars". Journal of Global Security Studies. 7 (4) ogac016. doi:10.1093/jogss/ogac016. ISSN 2057-3170. (DOI Free Access added 31 May 2024)
  6. ↑ Stein, George J. "Information warfare". Air University (U.S.). Press. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 5, 2018. Diakses tanggal Maret 26, 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ "Information warfare" (PDF). NATO. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal Januari 2, 2021. Diakses tanggal Maret 26, 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ Dale Minor, Tower, 1970
  9. ↑ Dale Minor, The Information War: How Government and the Press Manipulate, Censor, and Distort the News Tower, 1970
  10. ↑ Thomas P Rona, "Weapon Systems and Information War" (Seattle, WA: Boeing Aerospace Company, 1976)
  11. ↑ T. Rona, "Weapon Systems and Information War" https://www.esd.whs.mil/Portals/54/Documents/FOID/Reading%20Room/Science_and_Technology/09-F-0070-Weapon-Systems-and-Information-War.pdf Diarsipkan 2025-07-30 di Wayback Machine
  12. ↑ Haq, Ehsan-Ul; Tyson, Gareth; Braud, Tristan; Hui, Pan (2022-06-28). "Weaponising Social Media for Information Divide and Warfare". Proceedings of the 33rd ACM Conference on Hypertext and Social Media. HT '22. New York, NY, USA: Association for Computing Machinery. hlm. 259–262. doi:10.1145/3511095.3536372. ISBN 978-1-4503-9233-4. S2CID 249872702. (PDF format)
  13. ↑ "About the Air Force: Our Mission - airforce.com". Diarsipkan dari asli tanggal 21 November 2015. Diakses tanggal 18 Februari 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  14. ↑ "Computer security experts: Dutch hackers stole Gulf War secrets". AP NEWS. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-10-20. Diakses tanggal 2019-10-20.
  15. ↑ "Technology News, Analysis, Comments and Product Reviews for IT Professionals". Diarsipkan dari asli tanggal 2007-05-25. Diakses tanggal 2008-03-28.
  16. ↑ "The Warnings? - Cyber War! - FRONTLINE - PBS". PBS. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Februari 2015. Diakses tanggal 18 Februari 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  17. 1 2 Mariarosaria Taddeo (2012). "Mariarosaria Taddeo, Information Warfare: A Philosophical Perspective - PhilPapers". Philosophy & Technology. doi:10.1007/s13347-011-0040-9. hdl:2299/8987. S2CID 17684656. Diarsipkan dari asli tanggal 9 Agustus 2020. Diakses tanggal 18 Februari 2015.{{cite journal}}: |url-status=subscription tidak validPemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) (journal name added 31 May 2024)
  18. ↑ Taddeo Mariarosaria (2012). "Information Warfare: A Philosophical Perspective" (PDF). Philosophy & Technology. 25: 105–120. doi:10.1007/s13347-011-0040-9. hdl:2299/8987. S2CID 17684656.[pranala nonaktif permanen]
  19. ↑ DAVID E. SANGER (2014-02-24). "Syria War Stirs New U.S. Debate on Cyberattacks". The New York Times. Diakses tanggal 18 Februari 2015.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  20. ↑ Wirtschafter, Jessica Brandt and Valerie (2022-03-01). "The surprising performance of Kremlin propaganda on Google News". Brookings (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-05-24. Diakses tanggal 2022-05-24.
  21. ↑ "Rosyjska ingerencja w amerykańskie wybory prezydenckie w latach 2016 i 2020 jako próba realizacji rewolucyjnego scenariusza walki informacyjnej". Warsaw Institute (dalam bahasa Polski). 2021-07-03. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-05-22. Diakses tanggal 2022-04-28.
  22. ↑ Wojnowski, Michał (2019). "Wybory prezydenckie jako narzędzie destabilizacji państw w teorii i praktyce rosyjskich operacji informacyjno-psychologicznych w XX i XXI w." Przegląd Bezpieczeństwa Wewnętrznego (dalam bahasa Polski). 11 (21): 13–43. ISSN 2080-1335. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-04-28. Diakses tanggal 2022-04-28.
  23. ↑ Farrell, James. "Russia's 2024 Election Influence Campaign Has Started, Microsoft Analysis Finds". Forbes (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-05-30. Diakses tanggal 2024-06-13.
  24. 1 2 3 4 5 "Russia is trying to exploit America's divisions over the war in Gaza". NBC News (dalam bahasa Inggris). 2024-04-30. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-06-13. Diakses tanggal 2024-06-13.
  25. ↑ Sohl, Ben (2022). "Discolored Revolutions: Information Warfare ins Russia's Grand Strategy" (PDF). The Washington Quarterly. 45 (1): 97–111. doi:10.1080/0163660X.2022.2057113. S2CID 248393195. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 25 April 2022.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  26. ↑ Turner, Camilla; Lisbona, Natalie (2024-05-18). "Russia and China 'manipulating UK public opinion by promoting pro-Palestinian influencers'". The Telegraph (dalam bahasa Inggris (Britania)). ISSN 0307-1235. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-06-04. Diakses tanggal 2024-06-04.
  27. 1 2 Bing, Chris; Schechtman, Joel (Juni 14, 2024). "Pentagon Ran Secret Anti-Vax Campaign to Undermine China during Pandemic". Reuters. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Juni 14, 2024. Diakses tanggal Juni 14, 2024.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  28. ↑ Toropin, Konstantin (2024-06-14). "Pentagon Stands by Secret Anti-Vaccination Disinformation Campaign in Philippines After Reuters Report". Military.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-06-14. Diakses tanggal 2024-06-19.
  29. ↑ "Drop Site News: Trump's Former Campaign Manager Working to Influence How AI Chatbots Talk About Gaza". Democracy Now! (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-08-15.
  30. ↑ "The Eighth Front: Inside Israel's $1 Billion Influence Campaign". Quincy Institute for Responsible Statecraft (dalam bahasa American English). 2026-07-24. Diakses tanggal 2026-08-15.
  31. ↑ "Israel funded $46.5M campaign to influence AI responses on Gaza war: Report". Anadolu (dalam bahasa Turki). 2026-07-29. Diakses tanggal 2026-08-15.
  32. ↑ Ajir, Media; Vailliant, Bethany (2018). "Russian Information Warfare: Implications for Deterrence Theory". Strategic Studies Quarterly. 12 (3): 70–89. ISSN 1936-1815. JSTOR 26481910. publikasi akses terbuka - bebas untuk dibuka
  33. ↑ "Cyberwar Nominee Sees Gaps in Law". The New York Times. 15 April 2010. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 April 2010.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Bibliografi

Buku

  • Jerome Clayton Glenn, "Future Mind" Bab 9. Defense hlm. 195–201. Acropolis Books LTD, Washington, DC (1989)
  • Winn Schwartau, Information Warfare: Chaos on the Electronic Superhighway, Thunder's Mouth Press (1993)
  • Winn Schwartau, ed., Information Warfare: Cyberterrorism: Protecting your personal security in the electronic age, Thunder's Mouth Press, edisi ke-2 (1996) (ISBN1560251328).
  • John Arquilla dan David Ronfeldt, In Athena's Camp, RAND (1997).
  • Dorothy Denning, Information Warfare and Security, Addison-Wesley (1998) (ISBN0201433036).
  • James Adams, The Next World War: Computers are the Weapons and the Front line is Everywhere, Simon and Schuster (1998) (ISBN0684834529).
  • Edward Waltz, Information Warfare Principles and Operations, Artech House (1998), ISBN0-89006-511-X
  • John Arquilla dan David Ronfeldt, Networks and Netwars: The Future of Terror, Crime, and Militancy, RAND (2001) (ISBN0833030302).
  • Ishmael Jones, The Human Factor: Inside the CIA's Dysfunctional Intelligence Culture, Encounter Books, New York (2010) (ISBN978-1594032233). Perang informasi/intelijen.
  • Gregory J. Rattray, Strategic Warfare in Cyberspace, MIT Press (2001) (ISBN0262182092).
  • Anthony H. Cordesman, Cyber-threats, Information Warfare, and Critical Infrastructure Protection: Defending the US Homeland (2002) (ISBN0275974235).
  • Leigh Armistead, Information Operations: The Hard Reality of Soft Power, Joint Forces Staff College dan National Security Agency (2004) (ISBN1574886991).
  • Thomas Rid, War and Media Operations: The US Military and the Press from Vietnam to Iraq, Routledge (2007) (ISBN0415416590).

Lainnya

  • Science at War: Information Warfare, The History Channel (1998).

Pranala luar

Pranala luar pada artikel ini mungkin tidak sesuai dengan kebijakan atau pedoman Wikipedia. Bantulah memperbaiki artikel ini dengan membuang pranala luar yang berlebihan dan tidak sesuai, atau mengubahnya menjadi kutipan referensi atau catatan kaki. (September 2022) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Information warfare.

Sumber daya

Silabus mata kuliah

Makalah: penelitian dan teori

Makalah: lainnya

Artikel berita

Doktrin Operasi Informasi Departemen Pertahanan Amerika Serikat

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan