
Blitzkrieg[a] (terj. har. 'Perang Kilat') adalah istilah Jerman yang digunakan untuk menggambarkan serangan mendadak gabungan berbagai jenis senjata, menggunakan konsentrasi kekuatan yang cepat dan luar biasa yang dapat terdiri dari formasi lapis baja dan infanteri bermotor atau mekanis, bersama dengan artileri, serangan udara, dan dukungan udara jarak dekat. Tujuannya adalah untuk menerobos garis pertahanan lawan, mengacaukan pertahanan, membingungkan musuh dengan mempersulit mereka untuk menanggapi perubahan front yang terus-menerus, dan mengalahkan mereka dalam Vernichtungsschlacht yang menentukan: pertempuran pemusnahan.[1][2][3][4]
Angkatan bersenjata Jerman (Wehrmacht) adalah contoh bagaimana menggunakan suatu bentuk peperangan dari kombinasi dan koordinasi kekuatan-kekuatan udara, laut dan darat. Serangan yang mendadak, cepat dan tak terduga akan membawa kekalahan yang ideal di pihak lawan dengan tidak memberikan kesempatan apapun juga untuk mengorganisasikan suatu pertahanan diri yang stabil. Namun demikian, Jerman sendiri jarang menggunakan istilah blitzkierg sebagai metode perang yang digunakan.
Asal mula
Kata blitzkrieg berasal dari dua kata blitz yang berarti kilat, dan krieg yang berarti perang. Kedua kata tersebut berasal dari bahasa Jerman. Konsep dari strategi blitzkrieg ini secara umum sampai dengan sekarang masih tetap diterapkan oleh dunia militer, misalnya dalam perang Afganistan (gerak cepat Taliban yang sangat mengagumkan dalam merebut hampir 80% wilayah Afganistan dari pihak pemerintah tahun 1994-1996), Perang Teluk I (gerak cepat sekutu untuk membebaskan Kuwait, tahun 1991), operasi Enduring Freedom (invasi Amerika Serikat ke Afganistan, Oktober 2001), dan operasi Iraqi Freedom (gerak cepat sekutu di bawah pimpinan Amerika Serikat dalam menginvasi Irak, tahun 2003).
Konsep
Ada beberapa konsep di dalam strategi blitzkrieg atau perang kilat, yaitu:
- Angkatan udara menyerang garis depan dan posisi samping musuh, jalan utama, bandar udara dan pusat komunikasi. Pada waktu yang bersamaan infanteri menyerang seluruh garis pertahanan (atau setidaknya pada tempat-tempat penting) dan juga menyerang musuh. Cara ini akan mengendalikan musuh untuk mengetahui kekuatan utama yang akan menyerang mereka sehingga cara ini akan membuat pihak musuh kesulitan untuk membuat strategi pertahanan.
- Memusatkan unit-unit tank untuk menghancurkan garis-garis pertahanan utama sekaligus menusuk masuk tank-tank jauh ke dalam wilayah musuh, sementara unit yang sudah di mekanisasi melakukan pengejaran dan pertempuran dengan pihak musuh yang bertahan sebelum mereka sempat membuat posisi pertahanan. Infanteri turut serta bertempur dengan musuh agar pihak musuh tertipu dan menjaga kekuatan musuh untuk tidak menarik diri dari pertempuran agar nantinya menghindari pihak musuh untuk membentuk pertahanan yang efektif.
- Infanteri dan unit pendukung lainnya menyerang sisi musuh (enemy flank) dalam rangka melengkapi hubungan dengan kelompok lainnya sekaligus mengepung musuh dan atau menguasai posisi strategis.
- Kelompok yang sudah dimekanisasi (seperti tank) mempelopori masuk lebih dalam ke wilayah musuh untuk mengepung posisi musuh dan memparalelkan dengan sisi musuh untuk mencegah penarikan pasukan dan pihak bertahan musuh untuk mendirikan posisi bertahan yang efektif.
- Pasukan utama bergabung dengan pasukan yang sudah mengepung posisi musuh untuk selanjutnya menghancurkan pertahanan musuh.
Lihat pula
| Nasional | |
|---|---|
| Lain-lain | |
Artikel bertopik militer ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |
Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |
- ↑ /ˈblɪtskriːɡ/ BLITS-kreeg, Jerman: [ˈblɪtskʁiːk] ⓘ; dari Blitz "kilat" dan Krieg "perang". Juga dikenal sebagai Bewegungskrieg.
- ↑ Frieser 2005, hlm. 6.
- ↑ Clark 2012, hlm. 22.
- ↑ Fanning 1997, hlm. 283–287.
- ↑ Harris 1995, hlm. 337–338.