
Perang udara adalah penggunaan pesawat militer dan wahana terbang lainnya dalam peperangan. Perang udara mencakup penggunaan pengebom untuk menyerang instalasi musuh atau konsentrasi pasukan musuh maupun sasaran strategis; pesawat tempur untuk memperebutkan kendali wilayah udara; pesawat serang untuk melakukan dukungan udara dekat terhadap sasaran di darat; penerbangan angkatan laut untuk menyerang sasaran di laut dan wilayah daratan di sekitarnya; pesawat layang, helikopter dan pesawat lainnya untuk mengangkut pasukan lintas udara seperti pasukan terjun payung; pesawat pengisian bahan bakar udara untuk memperpanjang waktu operasi atau jangkauan; serta pesawat angkut militer untuk memindahkan kargo dan personel.[1]
Secara historis, pesawat militer mencakup balon yang membawa pengamat artileri; kapal udara yang digunakan untuk mengebom kota; berbagai jenis pesawat pengintai, pesawat pengawasan, dan pesawat peringatan dini dan kendali udara yang membawa pengamat, kamera, serta peralatan radar; pesawat pengebom torpedo untuk menyerang kapal musuh; serta pesawat militer untuk penyelamatan udara-laut guna menyelamatkan penerbang yang jatuh. Angkatan udara modern juga mencakup rudal dan pesawat nirawak. Pasukan darat kemungkinan akan merespons aktivitas udara musuh dengan perang antipesawat.
Sejarah

Sejarah perang udara bermula pada zaman kuno, dengan penggunaan layang-layang yang membawa manusia di Tiongkok Kuno. Pada abad ke-3, penggunaannya berkembang menjadi perang balon. Kapal udara (khususnya zeppelin) mulai digunakan untuk keperluan militer pada tahun-tahun awal abad ke-20.
Pesawat terbang yang lebih berat daripada udara pertama kali digunakan dalam perang pada Perang Italia-Turki pada tahun 1911, awalnya untuk pengintaian udara, kemudian untuk pertempuran udara guna menembak jatuh pesawat pengintai musuh. Pesawat terus menjalankan peran-peran tersebut selama Perang Dunia I (1914–1918), ketika penggunaan pesawat dan zeppelin untuk pengeboman strategis juga mulai berkembang. Munculnya pesawat tempur dan pertempuran udara-ke-udara mendorong kesadaran akan pentingnya memperoleh keunggulan udara. Integrasi yang lebih erat antara pesawat penyerang dan operasi darat ("dukungan medan tempur") juga berkembang selama Perang Dunia I.[2]
Selama Perang Dunia II (1939–1945), penggunaan pengeboman strategis meningkat, sementara pasukan lintas udara, rudal, dan amunisi berpemandu presisi generasi awal mulai diperkenalkan. Kapal induk memperoleh arti penting khusus dalam proyeksi kekuatan udara lintas samudra.
Rudal balistik menjadi sangat penting selama Perang Dingin, dipersenjatai dengan hulu ledak nuklir, dan ditimbun oleh Amerika Serikat serta Uni Soviet untuk mencegah satu sama lain menggunakannya.
Perang nirawak dengan menggunakan wahana nirawak yang relatif murah berkembang pesat pada abad ke-21, terutama setelah dimulainya Perang Nagorno-Karabakh Kedua pada tahun 2020.
Pengintaian udara
Pengintaian udara adalah pengintaian untuk tujuan militer atau strategis yang dilakukan menggunakan pesawat pengintai. Peran ini dapat memenuhi berbagai kebutuhan, termasuk pengumpulan intelijen citra, pengamatan manuver musuh, dan pengamatan artileri.
Manuver pertempuran udara
Manuver pertempuran udara (juga dikenal sebagai ACM atau dogfight) adalah seni taktis menggerakkan, membelokkan, dan memosisikan pesawat tempur untuk memperoleh posisi yang memungkinkan dilakukannya serangan terhadap pesawat lain. Hal ini mengandalkan manuver dasar pesawat tempur (BFM) ofensif dan defensif untuk memperoleh keunggulan atas lawan di udara.
Pasukan lintas udara
Pasukan lintas udara adalah unit militer, biasanya infanteri ringan, yang dibentuk untuk dipindahkan menggunakan pesawat dan "diturunkan" ke medan pertempuran, biasanya dengan parasut. Dengan demikian, pasukan tersebut dapat ditempatkan di belakang garis musuh dan memiliki kemampuan untuk dikerahkan hampir di mana saja dengan sedikit peringatan. Besarnya formasi hanya dibatasi oleh jumlah dan ukuran pesawat yang tersedia; dengan kapasitas yang memadai, pasukan dalam jumlah sangat besar dapat muncul "dari ketiadaan" dalam hitungan menit, suatu tindakan yang disebut pengurungan vertikal.
Sebaliknya, pasukan lintas udara biasanya kekurangan persediaan dan perlengkapan untuk operasi tempur yang berkepanjangan, sehingga lebih sesuai untuk operasi jembatan udara daripada pendudukan jangka panjang. Selain itu, operasi parasut sangat sensitif terhadap kondisi cuaca buruk. Kemajuan teknologi helikopter sejak Perang Dunia II telah meningkatkan fleksibilitas ruang lingkup operasi lintas udara, dan serangan udara sebagian besar telah menggantikan operasi parasut berskala besar serta (hampir) sepenuhnya menggantikan operasi glider tempur.
Serangan udara
Serangan udara atau air strike[3] adalah operasi ofensif yang dilakukan oleh pesawat serang. Serangan udara sebagian besar dilakukan oleh pesawat seperti pesawat tempur, pengebom, pesawat serang darat, dan helikopter serang. Definisi resmi mencakup segala jenis sasaran, termasuk sasaran udara musuh, tetapi dalam penggunaan umum istilah tersebut biasanya dipersempit menjadi serangan taktis (berskala kecil) terhadap sasaran darat atau laut. Senjata yang digunakan dalam serangan udara dapat berkisar dari senapan mesin dan peluru hingga rudal dan berbagai jenis bom. Istilah ini juga umum disebut sebagai serangan udara atau penggerebekan udara.
Dalam dukungan udara dekat, serangan udara biasanya dikendalikan oleh pengamat terlatih untuk mengoordinasikannya dengan pasukan darat sendiri dengan cara yang berasal dari taktik artileri.
Pengeboman strategis
Pengeboman strategis adalah strategi militer yang digunakan dalam perang total dengan tujuan mengalahkan musuh dengan menghancurkan moral mereka atau kemampuan ekonomi mereka untuk memproduksi dan mengangkut materiel ke teater operasi militer, atau keduanya. Pengeboman ini merupakan serangan dari udara yang diorganisasi dan dilaksanakan secara sistematis, yang dapat menggunakan pengebom strategis, rudal jarak jauh atau menengah, maupun pesawat pembom tempur bersenjata nuklir untuk menyerang sasaran yang dianggap penting bagi kemampuan musuh dalam melancarkan perang.
Perang antipesawat
Perang antipesawat atau pertahanan kontra-udara didefinisikan oleh NATO sebagai "semua tindakan yang dirancang untuk meniadakan atau mengurangi efektivitas tindakan udara musuh."[4] Hal tersebut mencakup sistem persenjataan berbasis darat dan udara, sistem sensor terkait, pengaturan komando dan kendali, serta tindakan pasif (misalnya balon pengadang). Sistem ini dapat digunakan untuk melindungi angkatan laut, pasukan darat, dan angkatan udara di lokasi mana pun. Namun, bagi sebagian besar negara, upaya utama cenderung berfokus pada "pertahanan tanah air". NATO menyebut pertahanan udara berbasis udara sebagai counter-air, sedangkan pertahanan udara angkatan laut sebagai anti-aircraft warfare. Pertahanan rudal merupakan perluasan dari pertahanan udara, sebagaimana halnya upaya untuk menyesuaikan pertahanan udara dengan tugas mencegat setiap proyektil yang sedang terbang.
Rudal
Dalam penggunaan modern, rudal adalah sistem amunisi berpemandu presisi yang memiliki penggerak sendiri, berbeda dengan amunisi berpengerak sendiri yang tidak berpemandu, yang disebut roket (meskipun roket juga dapat dipandu). Rudal memiliki empat komponen sistem: penargetan dan/atau pemandu rudal, sistem penerbangan, mesin, dan hulu ledak. Rudal hadir dalam berbagai jenis yang disesuaikan dengan tujuan yang berbeda: rudal permukaan-ke-permukaan dan rudal udara-ke-permukaan (rudal balistik, rudal jelajah, rudal antikapal, rudal antiranjau?, dan sebagainya), rudal permukaan-ke-udara (serta rudal antibalistik), rudal udara-ke-udara, dan senjata antisatellit. Semua rudal yang diketahui saat ini dirancang agar didorong selama penerbangan bertenaga melalui reaksi kimia di dalam mesin roket, mesin jet, atau jenis mesin lainnya.[butuh rujukan] Perangkat peledak udara yang tidak memiliki penggerak sendiri umumnya disebut proyektil dan biasanya memiliki jangkauan lebih pendek daripada rudal.
Dalam penggunaan bahasa Inggris Britania biasa sebelum munculnya senjata berpemandu, missile berarti "benda apa pun yang dilemparkan", seperti benda yang dilemparkan penonton yang ricuh kepada pemain dalam suatu pertandingan olahraga.[5]
UAV
Kemunculan pesawat nirawak telah merevolusi perang udara secara dramatis[6] dengan banyak negara mengembangkan dan/atau membeli armada UAV. Sejumlah tonggak penting telah terjadi, termasuk dogfight antara UAV dan pesawat tempur, penggunaan UAV untuk menguji pertahanan udara lawan, penggantian pesawat dalam suatu skuadron operasional dengan UAV, pengendalian UAV yang membuat operatornya memenuhi syarat untuk status "tempur", pengendalian UAV dari sisi lain dunia, jamming dan/atau pembajakan data UAV saat terbang, serta usulan untuk memindahkan kewenangan penggunaan senjata kepada AI yang berada di dalam UAV.[7] UAV berkembang dengan cepat dari peran pengawasan menjadi peran tempur.
Kemampuan UAV yang semakin meningkat telah menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan bertahan dan kemampuan pesawat tempur berawak.[8]
Lihat pula
- Pengeboman udara terhadap kota
- Angkatan udara
- Airlift
- Serangan udara
- Dogfight
- Loss of Strength Gradient
- Linimasa penerbangan militer
Catatan
- ↑ Olsen, John Andreas, ed. (2010). A History of Air Warfare. Potomac Books. ISBN 978-1-59797-415-8.
- ↑
Contohnya:
Hallion, Richard P. (14 Maret 2010) [1989]. Strike From the Sky: The History of Battlefield Air Attack, 1910-1945 (Edisi reprint). Tuscaloosa: University of Alabama Press. hlm. 14. ISBN 9780817356576. Diakses tanggal 22 Desember 2023. In 1917, goaded by the British example of air-ground operations over the Somme. Germany increasingly emphasized development of ground-attack aviation [...].
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ air strike- DOD Dictionary of Military and Associated Terms Diarsipkan Juni 4, 2011, di Wayback Machine
- ↑ AAP-6
- ↑ Guardian newspaper: "Emmanuel Eboué pelted with missiles while playing for Galatasaray" Diarsipkan 2017-03-05 di Wayback Machine Contoh penggunaan dalam bahasa Inggris sehari-hari. Dalam kasus ini, "missiles" tersebut adalah botol dan pemantik rokok.
- ↑ "How robot drones revolutionized the face of warfare". CNN. 27 Juli 2009. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 November 2012.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "072309kp1.pdf" (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2012-10-04. Diakses tanggal 2012-10-18.
- ↑ "Drone Planes: Are Fighter Pilots Obsolete?". ABC News. 24 Juli 2009. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Maret 2018.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Referensi
Bibliografi
- Boyne, Walter J. (2003). The Influence of Air Power upon History. Pelican. ISBN 1-58980-034-6.
- Buckley, John (1999). Air Power in the Age of Total War. Indiana University Press. ISBN 0-253-33557-4.
- Budiansky, Stephen (2005). Air Power: The Men, Machines, and Ideas That Revolutionized War, from Kitty Hawk to Iraq.
- Collier, Basil (1974). A History of Air Power. New York: Macmillan Publishing Co.
- Cooksley, Peter G.; Robertson, Bruce (1997). The Encyclopedia of 20th Century Conflict: Air Warfare. Arms and Armour. ISBN 1-85409-223-5.
- Corum, James S.; Johnson, Wray R. (2003). Airpower in Small Wars – Fighting Insurgents and Terrorists. Lawrence, Kansas: University Press of Kansas. ISBN 0-7006-1240-8.
- Glines, Carroll V. (1963). Compact History of the United States Air Force. New York: Hawthorn Books. ISBN 0-405-12169-5.
{{cite book}}: Ketidakcocokan ISBN / tanggal - Gross, Charles J. (2002). American Military Aviation: The Indispensable Arm. Texas A&M University Press. ISBN 1-58544-215-1.
- Higham, Robin (2004). 100 Years of Air Power & Aviation. Texas A&M University Press. ISBN 1-58544-241-0.
- Lockee, Garette E. (April 1969). "PIRAZ". United States Naval Institute Proceedings.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Olsen, John Andreas, ed. (2010). A History of Air Warfare. hlm. 506.
- Overy, Richard (1997). "3". Why the Allies Won.
- Overy, Richard (1980). The Air War – 1939–1945.
- Web
- "War in the Air". Oral Histories of the First World War: Veterans 1914–1918. Library and Archives Canada. Diarsipkan dari asli tanggal 30 September 2007.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - "Warplane: Military Aviation: Key Innovations". Thirteen/WNET New York. 2006. Diarsipkan dari asli tanggal 17 November 2007. Diakses tanggal 27 November 2007.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Pranala luar
- Middle Eastern Air Power 2009
- Kutipan tentang perang udara
- Jones, Johnny R.: Kekuatan udara, Air & Space Power Journal
- Film-film sejarah yang menampilkan perang udara selama Perang Dunia I di europeanfilmgateway.eu
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |