Acara Adat Suku Dayak Lawangan, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah | |
| Daerah dengan populasi signifikan | |
|---|---|
| |
| Bahasa | |
| Agama | |
| • • | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Ot Danum • Paser • Dusun Deyah • Benuaq • Bentian • Tunjung • Taboyan • Bawo • Ngaju • Maanyan |
Suku Dayak Lawangan atau Luangan merupakan salah satu dari suku-suku Dusun (Kelompok Barito bagian Timur) sehingga disebut juga Dusun Lawangan. Suku-suku Dusun termasuk golongan suku bangsa Dayak rumpun Ot Danum sehingga disebut juga Dayak Lawangan. Suku Lawangan menempati bagian timur Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.[1] Di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, suku Lawangan menempati sebuah desa saja yaitu desa Binjai.
Menurut situs "Joshua Project" suku Lawangan berjumlah 109.000 jiwa.
Organisasi suku ini adalah "Dusmala" yang menggabungkan 3 suku Dayak yaitu Dusun, Maanyan dan Lawangan.[2]
Orang Lawangan mendiami daerah bergunung-gunung antara aliran Sungai Barito terus ke sebelah barat ke daerah aliran Sungai Kapuas. Daerah itu termasuk dalam wilayah kabupaten Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Selatan, dan Tapin, di Provinsi Kalimantan Selatan. Di Provinsi Kalimantan Tengah mereka berdiam di dalam wilayah Kabupaten Barito Selatan, Barito Utara, dan Barito Timur. Sedangkan di Provinsi Kalimantan Timur mereka mendiami wilayah Kabupaten Kutai Barat, tepatnya di Kecamatan Bongan, di Kecamatan Bongan terdapat sebuah kampung yang bernama Tanjung Soke yang terletak di hulu Sungai Bongan, kampung tersebut merupakan wilayah adat mereka.[3]
Suku Dayak Lawangan masih berkerabat dengan Suku Dayak Ngaju.
Subkelompok Lawangan
Subetnis suku Dayak Lawangan adalah:
- Suku Dayak Benuaq
- Suku Dayak Bentian
- Suku Dayak Tunjung
- Suku Dayak Bawo
- Suku Dayak Paser
- Suku Dayak Tawoyan (kedekatan bahasa 77%)
- Suku Dayak Dusun Deyah (kedekatan bahasa 53%)
Sejarah
Sejarah Agama Kaharingan Dayak Lawangan/Luangan
Sejarah Daerah Regan Tatau Menteledok Loyang Danum
Daerah ini terdapat di perantaraan Kepala Sungai Talake, anak Sungai Pasir, dan dekat dengan kepala Sungai Toyep, anak Sungai Tabalong Kiwa. Pedusunan ini diyakini merupakan salah satu pedusunan yang terbesar pada zamannya, sebelum adanya raja.
Dengan adanya adat dan kepercayaan ini, bagi pihak suku Luangan/Lawangan, penganut agama Kaharingan,[3] masing-masing dipegang oleh:
- Adat istiadat, yang awalnya dipegang oleh Serunai Soong Buen, seorang laki-laki, kemudian diteruskan oleh Kakah Mangbulu.
- Kepercayaan Tuyo Amal, yang dipegang oleh Puti Songkong (Datu Puti Songkong) yang bergelar Apar Bulau Uling Langit.
Kepercayaan ini tetap dijalankan sesuai dengan perintah dari Lewin Langit semenjak mereka berpisah dengan Lewin Tana.
Semenjak adanya pedusunan Regan Tatau, timbullah hukum, adat, dan amal agama yang dibentuk dan diterapkan untuk mengurus segala hukum dan adat.
Diangkatlah mantir-mantir, yaitu penghulu atau rohaniawan, untuk meneliti dan memperhatikan keadaan di dalam kampungnya agar dapat menangani:
- Soal adat dan hukum perihal perkawinan.
- Soal adat dan hukum perihal belian-belian.
- Soal adat dan hukum perihal kematian.
Turunan sejarah Belian Bawo diteruskan oleh laki-laki bernama Nalau yang bergelar Ma Sumping Ngoyau Bawo, sedangkan belian perempuan adalah Sensi Ne Sensan. Tradisi tersebut kemudian diteruskan oleh muridnya yang bernama Toje Tamun Telew.
Agama Kaharingan Luangan dibawakan oleh Datu Songkong yang bergelar Apar Bulau Uling Langit. Sesuai dengan perintah Lewin Langit sejak perpisahan mereka setelah terjadinya langit dan bumi, semenjak itu Datu Puti Songkong meneruskan ajaran-ajaran kepercayaan Kaharingan Luangan. Selanjutnya, ajaran kepercayaan ini diteruskan oleh Ayus, Intong, dan Tia Pelule.
Memperhatikan bahwa pedusunan Regan Tatau telah maju, mereka kemudian membawa ajaran dan kepercayaannya ke daerah Kayun Tangi oleh Ayus, Intong, dan Tia Pelule beserta rombongannya. Kemudian mereka mengadakan pembangunan dan langgar amalnya. Tia Pelule meneruskan perjalanannya.
Kemudian Kakah Ukop menyusul mereka dari daerah Regan Tatau dan terus bertempat tinggal di daerah Pasir Kenilo, wilayah Kalimantan Timur. Dari situlah ia ingin mencari di mana letak sebenarnya pinggir dunia. Maka berangkatlah ia dengan memakai weta atau benawa layar.
Selama melakukan perjalanan, Kakah Ukop sering mengalami masalah dan telah delapan kali mengganti serta memotong tiang layarnya. Makin jauh perjalanan, makin sempit jarak antara langit dan permukaan air laut. Ternyata sampailah Kakah Ukop pada suatu daratan. Di sana ia melihat jejeran tihang langit dan melintanglah pinggir dunia. Dalam bahasa Luangan: Palit Jerejek Langit–Peteng Benturan Tana.
Kakah Ukop dalam perjalanannya ditemani oleh saudara kandungnya, yakni adiknya. Karena kuasa Sang Kuasa Latalla, naiklah Kakah Ukop ke daratan, tetapi adiknya tetap tinggal di dalam benawa. Nama adik Kakah Ukop adalah Si Using.
Namun, Kakah Ukop membatalkan niatnya untuk naik ke daratan lalu memanggil adiknya. Akan tetapi, yang dipanggil tidak menyahut. Ketika Kakah Ukop menoleh ke belakang, ternyata adiknya tidak berada di tempat.
Ketika menoleh ke atas, ternyata adiknya sedang bermain-main dengan orang-orang di sebelah tihang-tihang. Lalu Kakah Ukop mengambil tindakan untuk naik ke daratan agar dapat mengambil dan meminta adiknya.
Karena kekuasaan Yang Maha Kuasa Latalla, adiknya diserahkan kepada orang yang ada di sebelah tihang langit tersebut. Ternyata adiknya sudah tidak bergerak dan bernapas.
Kakah Ukop bangkit amarahnya dan memohon agar adiknya dikembalikan. Setelah diterima oleh orang dari sebelah, ternyata adiknya dapat kembali bermain dan hidup seperti semula.
Melihat hal demikian, Kakah Ukop meminta lagi adiknya karena ingin kembali ke tempat semula. Namun, setelah diberikan kembali oleh orang tersebut, keadaan adiknya tetap seperti semula, yaitu tidak bernapas maupun bergerak. Kejadian itu berulang kali. Kemudian terdengar suara dari dalam yang mengatakan bahwa adiknya tinggal saja bersama mereka, dan ia diminta mengambil sebuah barang sebagai pengganti jiwa adiknya.
Kakah Ukop lama berpikir. Karena adiknya tetap tidak berdaya, akhirnya ia mengambil barang berupa peti besi segi empat tersebut dan adiknya diberikan kepada mereka.
Setelah peti besi itu diterima oleh Kakah Ukop, orang dari sebelah berpesan kepadanya agar peti tersebut jangan dibuka sebelum sampai ke tempatnya.
Dengan perasaan sangat cemas, Kakah Ukop kembali dengan alat-alat yang dibawanya. Tanda tanya memenuhi pikirannya tentang apa yang sebenarnya ada di dalam peti besi tersebut.
Lama-kelamaan sampailah ia pada sebuah daratan, meskipun belum mengetahui dengan jelas di mana tempat itu. Kakah Ukop kemudian bangkit dan membawa peti besi tersebut beserta gong. Dalam keadaan yang sangat letih, ia beristirahat untuk melepas lelah. Kemudian ia teringat akan peti besi itu, tetapi lupa akan pesan dari orang yang memberikannya.
Menurut perasaan Kakah Ukop, ia telah sampai di tempat asalnya. Peti besi itu lalu dibuka. Ternyata keluarlah berduyun-duyun manusia dengan berbagai corak dan ragam dari dalamnya. Setelah meneliti tempat tersebut, ternyata ia masih belum sampai di tempat asalnya. Langsung peti itu ditutup kembali dan ia meneruskan perjalanan menuju daerah Pasir Kenilo.
Nama tempat di mana Kakah Ukop membuka peti tersebut adalah Kayun Tangi.
Setelah sampai di daerah Pasir Kenilo, dicobanya membuka peti besi itu, tetapi tidak dapat dibuka sama sekali. Karena usaha membuka peti besi itu tidak berhasil, Kakah Ukop mengucapkan sumpah yang isinya:
"Bahwa orang dari daerah Kayun Tangi boleh berusaha atau bermata pencaharian di daerah Pasir Kenilo, tetapi tidak boleh membawa pulang hasilnya, yang artinya habis dimakan di tempat berusaha itu sendiri, sebab daerah Kayun Tangi sudah cukup banyak orangnya."
Pada akhirnya, Kakah Ukop menjadi raja di daerah Pasir Kenilo. Kemudian Kakah Ukop menanam kayu di gunung. Di antara pohon-pohon kayu tersebut ternyata hanya ada satu pohon. Kayu tersebut memiliki dua warna daun, yang sebelah memiliki daun agak kecil dan sebelah lainnya memiliki daun agak besar.
Demikian pula sejarah orang yang berusaha ke daerah Samarinda, tetapi tidak menjadi berhasil dengan utuh.
Itulah sejarah dan kisahnya, dan tamatlah riwayat Kakah Ukop.
Sejarah Sebelum Adanya Langit dan Bumi
Pertama:
- Itak Diang Rongaweng
- Kakah Diang Rongaweng
di Ngurai.
Kedua:
- Itak Empong Ponon
- Kakah Empong Ponin
di Ngurai.
Ketiga:
- Itak Seriga Tongo
- Kakah Seriga Tongo
di Ngurai.
Keempat:
- Itak Seriga Alam
- Kakah Seriga Alam
di Ngurai.
Kelima:
- Sengkereang
- Sengkerepang
Pada waktu itu bumi ada sebesar sulau, sedangkan langit sebesar pisis. Tai Munan Utek Naga Haji Ali dan Tai Munan Utek Naga Burung; di atas kepala Naga Haji dan di atas kepala Naga Burung.
Sedangkan dunia dan langit harus ada. Maka Maha Kuasa (Latalla) menyerukan dengan nama:
Ayan Tamun Tunran Tuntut Tamun Aun, Beyeye Tamun Tuyo.
Mendengar demikian, mereka bertiga bermufakat, yakni mengumpulkan serta membawa bahan-bahan apa pun yang dapat diambil demi menambah tanah dan langit yang ada.
Bahan-bahan tersebut terdiri dari:
- Lampung Kuit
- Lampung Kudau
- Lampung Sendri
- Lampung Sendrak
Dengan pembagian tugas pekerjaan masing-masing sebagai berikut:
Tuntut Tamun Aun menyanggupi menjadi tukang angkut keseluruhan bahan-bahan yang telah tersedia oleh kedua kawannya.
Ayan Tamun Tunran dan Beyeye Tamun Tuyo menyediakan bahan-bahan tersebut.
Setelah semua bahan tersedia oleh ketiga bersaudara, mereka memberitahukan hal tersebut kepada Latalla. Maha Kuasa Latalla kemudian memberi wahyu kepada Sengkereang Sengkerepang untuk mengolah dan menjadikan bahan itu sebagai tanah.
Sengkereang Sengkerepang kemudian mengerjakannya dan menempa benda yang berupa tanah. Setelah beberapa kali ditempa, tanah tersebut ternyata tidak dapat bersatu.
Melihat hal demikian, Sengkereang Sengkerepang memberitahukan kejadian itu kepada Latalla. Maka Latalla memerintahkan Sengkereang Sengkerepang untuk menangkap ikan Longkingmoneng dan ikan Selegigin Langit, kemudian memotong dan mengambil darahnya. Darah ikan tersebut ditumpahkan ke tanah yang dibuat, diaduk, lalu ditempa kembali. Dagingnya mereka makan berdua.
Sempurnalah tanah itu sampai sekarang.
Sentume Dian Na'an Merensia = Sejarah Asal Mula Manusia
Setelah terjadinya bumi dan langit, ternyata ada sisa dari pekerjaan Sengkereang Sengkerepang, yakni tanah sebesar satu genggam dan langit sebesar satu genggam. Kemudian Maha Kuasa Latalla menciptakan gambaran tubuh manusia yang belum dapat bergerak dan bernapas sebanyak dua orang.
Setelah gambaran manusia itu jadi, Maha Kuasa Latalla memasukkan roh-Nya kepada kedua gambaran manusia tersebut. Keduanya mulai dapat bergerak dan bernapas. Ternyata keduanya berjenis kelamin laki-laki dan dapat berbicara serta menyebutkan nama masing-masing.
Yang berasal dari tanah bernama Lewin Tana, sedangkan yang berasal dari langit bernama Lewin Langit.
Setelah mereka memiliki nama, mereka mengucapkan Sengkererotus yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kira-kira berarti "pantun teka-teki" atau dalam bahasa Ma'anyan artinya "Pinay":
- "Kulat Ure Kulat Tuha Ali Osi Bawe Osi Soong."
Lalu jawab Lewin Tana:
- "Mate Tiya, Mate Tuha Ali Mate Bawe Mate Upo."
Rupanya jawaban Lewin Tana salah. Jawaban yang seharusnya adalah:
- "Tia-Tia, Tuha-Tuha, Upo-Upo, Bawe-Bawe."
Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia:
- "Muda-Muda, Tua-Tua, Laki-Laki, Perempuan-Perempuan."
Itulah maksud Lewin Langit. Kemudian mereka membuat kesepakatan. Bila Lewin Tana ingin bertemu dengan Lewin Langit, maka ia harus mengatakan:
- "Tuntung Jemu Leong Olau Lio Ali No'ok Aran A'ap."
Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti:
- "Buatlah olehmu dupa dan hidupkan, lalu tuangkan olehmu minyak bersih (minyak kelapa), kemudian panggillah nama saya, dan semampunya saya menolong dan membantumu."
Karena rasa kasih Lewin Langit kepada Lewin Tana, Lewin Langit memberikan buah Tuo Burok kepada Lewin Tana.
Maksud pemberian tersebut agar buah itu dimakan oleh Lewin Tana. Namun, maksud hati Lewin Tana tidak tercapai. Buah pemberian tersebut hanya dicubitnya saja, kemudian diusapkan ke kepala dan rambutnya. Dari situlah awal terbentuknya kuku. Walaupun dipotong, kuku tetap akan tumbuh kembali. Demikian pula rambut; walaupun dicukur, rambut tetap dapat memanjang.
Lalu Lewin Tana melaksanakan apa yang dikatakan Lewin Langit agar mendapat seorang perempuan.
Setelah mendapat seorang perempuan, Lewin Tana membawanya pulang ke dalam rumah. Kemudian nama Lewin Tana berubah menjadi Sempirang La'ang. Perempuan yang dibawanya kemudian diambil menjadi istri.
Setelah beberapa lama mereka berkumpul dalam satu rumah, perempuan tersebut hamil. Karena melihat perempuan itu telah hamil, Sempirang La'ang melarangnya pergi ke mana-mana atau turun ke tanah. Perempuan atau istrinya tersebut diberi nama Ape Bungen Tana.
Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, Sempirang La'ang berangkat mencari nafkah ke Tana Olung Olau. Namun, larangan-larangan yang telah diucapkan Sempirang La'ang tidak diingat atau diindahkan oleh Ape Bungen Tana.
Semenjak ditinggalkan, istrinya turun ke tanah dan melahirkan di bawah tangga. Ketika suaminya melihat apa yang telah terjadi, ia mencari Ape Bungen Tana ke mana-mana, tetapi yang ditemukan hanya setumpuk tanah di bawah tangga.
Meneliti kejadian tersebut, Sempirang La'ang meminta petunjuk dari Maha Kuasa Latalla dan menerima wahyu dari-Nya.
Kata Maha Kuasa Latalla:
"Hai, Sempirang La'ang. Tutuplah olehmu tumpukan tanah yang ada di bawah tangga itu dengan Uyung selama sembilan bulan sembilan hari. Setelah itu baru dapat dibuka olehmu."
Apa yang diperintahkan oleh Maha Kuasa tersebut dilaksanakan oleh Sempirang La'ang.
Setelah genap sembilan bulan dan sembilan hari, Sempirang La'ang membuka Uyung tersebut. Ternyata ada seorang anak kecil berjenis kelamin perempuan. Melihat kejadian tersebut, anak kecil itu dibawa dan dipeliharanya.
Seiring berjalannya waktu, anak kecil tersebut tumbuh menjadi perempuan dewasa. Perempuan itu kemudian diambil menjadi istrinya dan diberi nama Tebilung Uyung. Sejak itu, nama Sempirang La'ang berubah menjadi Serakin Pinang.
Sepasang suami-istri tersebut memperanakkan 41 orang. Hidup mereka hanya memakan tanah Olung Olau yang setiap hari dibawa oleh Serakin Pinang dan Tebilung Uyung.
Karena setiap hari melakukan hal tersebut, mereka menemukan Kulat Lambat Bayan di sebuah gunung dan langsung membawanya untuk dimasak menjadi makanan yang dinamakan Satu Jahau Jajau La'ang.
Makanan tersebut dibawa untuk diberikan kepada anak-anak mereka. Setelah memakan makanan itu, ke-41 anaknya menjadi mabuk dan seperti tidak memiliki perasaan lagi, seakan-akan merasa sehat.
Anak yang paling tua selalu berbicara dan berkata-kata menurut ragam bahasa ibu dan bapaknya. Saudara-saudaranya yang lain berbicara dalam berbagai macam bahasa.
Anak yang pertama menggunakan bahasa ibu dan bapaknya, yaitu bahasa Lawangan atau Luangan.
Itulah sejarah asal mula manusia dan bahasa yang dipergunakan sampai sekarang.
Di antara mereka yang memiliki bahasa yang sama dengan Tebilung Uyung dan Serakin Pinang adalah anak mereka yang paling tua, bernama Kakah Ongap Liang, yang tetap menggunakan bahasa Luangan atau Lawangan sampai sekarang.
Riwayat Kakah Ongap Liang kemudian memiliki keturunan bernama Rewa Liang. Rewa Liang memperanakkan Tempuk Gelung.
Tempuk Gelung beristri dengan Lolang Leoy. Mereka memiliki delapan orang anak, yaitu:
- Tampung Gelung
- Lolang Leoi
- Datu Sure
- Datu Neneng Liang
- Datu Selepupung
- Datu Neneng Ohan
- Datu Mayar Urui
- Datu Rentuoy Ollo
Sejarah Ayus, Intong, dan Tia Pelule
Ketiga orang tersebut telah bertempat tinggal di Kayun Tangi bersama rombongan lainnya. Kemudian mereka mendirikan bangunan. Bangunan yang dimaksud ialah tempat ibadah beserta ketentuannya.
Salah seorang dari antara mereka, yakni Tia Pelule/Usik Saer Langit, melanjutkan perjalanan ke arah utara, kemudian kembali di ujung kampung tersebut. Orang-orang kampung tersebut ingin mencari tiang guru untuk tiang tempat ibadah di sana.
Sebenarnya di daerah tersebut tidak ada yang sanggup mengadakan tiang itu selain Jin yang sanggup menyediakan tiang guru. Namun, Jin hanya dapat mengadakan tiang itu apabila nilai tiang atau benda yang tersedia setimbang dengan tiang tersebut.
Maka berkarung-karung mereka mengumpulkan harta berupa emas, intan, dan perak, tetapi tiang tersebut masih lebih berat.
Mereka kemudian memikirkan apakah masih ada orang lain yang belum dihubungi. Ada seorang yang berada di ujung kampung yang tidak hadir untuk pendirian tiang.
Maka kata Tia Pelule, orang tersebut hadir di sana. Ia berkata bahwa tidak mungkin ia dapat membantu pembelian tiang tersebut. Sementara emas, intan, dan perak telah dikumpulkan berkarung-karung untuk ditimbang. Ia juga dalam keadaan sakit, tetapi akan berusaha membantu mereka.
Tia Pelule hanya memiliki sebuah cincin satu utas.
Perkataan si Jin semakin mempersulit keadaan. Maka Tia Pelule mencoba menimbang cincin tersebut. Ternyata berat cincin itu lebih berat daripada tiang guru.
Langsung dijawab oleh si Jin: "Emas tai palat," emas yang begitu rupa selalu diambil dan dilemparkannya ke tengah-tengah lautan.
Kemudian tiang guru itu ditancapkannya di sembarang tempat lalu ditimpaskan di tengahnya oleh Jin.
Setelah keadaan tersebut terjadi, si Jin lari pulang dengan kemarahannya. Sehingga orang kampung menyerahkan kepercayaan kepada Tia Pelule sampai pembangunan tempat ibadah tersebut terlaksana sampai selesai.
Bukan diatur dengan tenaganya, tetapi diatur oleh kebijaksanaannya.
Tamatlah riwayat Tia Pelule.
Walaupun ketiga orang itu hidup terpisah, mereka tetap berpisah dengan baik dan hormat.
Berdasarkan itu, sekarang tinggal nama Ayus dan Intong yang berangkat meninggalkan kampung Kayun Tangi, mudik Mensiwah Ine menuju daerah Lendok Oleng Lutung, yaitu yang dikatakan Pasar Arba Benua Lawas dan juga yang dikatakan Kayun Tangi, yaitu Banjarmasin.
Setelah Ayus dan Intong sampai di Lendok Oleng Lutung, mereka banyak melakukan pembangunan atau bermufakat untuk mengadakan tempat ibadah sebagai tempat beramal.
Karena pembangunan tempat ibadah mengalami sedikit keterlambatan, masyarakat setempat terpaksa pergi beribadah ke tempat lain. Jika tidak disebabkan hal itu, pilihan masyarakat adalah ke Pasar Arba Benua Lawas.
Lama-kelamaan masyarakat tersebut mengatur amal dan ibadahnya di Lendok Oleng Lutung.
Sejarah Beritun Tunjung, Muda Layung, Muda Dahur, dan Muda Layang
Orang-orang tersebut merasa bahwa penduduk sudah terlalu banyak, dengan corak dan ragam yang beragam. Oleh karena itu, langgar di Pasar Arba Benua Lawas diserahkan kepada penduduk setempat.
Orang-orang tersebut kemudian langsung mudik Mensiwak Ine beserta rombongan, yang dikatakan sebagai Sungai Barito. Setelah sampai di muara Sungai Mensiwak Anak, yang sekarang dikatakan Muara Teweh, orang-orang tersebut berpindah.
Muda Dahur dan Muda Layung selanjutnya menuju ke tempat orang yang bernama Udang Jawa.
Kemudian muncullah sejarah Berintun Tunjung dan Muda Layung. Orang-orang terus mudik melalui Sungai Mensiwak Anak, yang sekarang dikatakan Sungai Teweh.
Lama-kelamaan, dalam perjalanan mereka sampailah di Sungai Ruang, anak Sungai Teweh, yang dikatakan Tanjung Ruang Datai Lino.
Muda Layung mengatur pembangunan di Datai Lino. Si Beritun Tunjung mengatur pembangunan di Tanjung Ruang.
Setelah selesai pembangunan tersebut, mereka bersama-sama mengatur amal dan peribadatannya.
Orang-orang yang diatur tidak tercatat, hanya diketahui kampung-kampungnya saja, yaitu:
- Kampung Tanjung Ruang
- Kampung Datai Lino
- Kampung Tendung Jengaan
- Kampung Tendung Merelemu
- Kampung Ruang Tunjung
- Kampung Bungut Layang Olo
- Kampung Sewai Selai
- Kampung Walo Oleng Lopo Sie Ali Ruran Rere
Mata Pencarian Suku Dayak Lawangan
Mata pencaharian suku lawangan umumnya berladang secara berpindah-pindah. Pertanian tradisional ini disertai pula oleh suatu tradisi yang mencerminkan kearifan lingkungan, dimana hasil panennya mereka bagi menjadi empat bagian. Seperempat bagian untuk kebutuhan sehari-hari petani dan keluarganya sendiri, seperempat untuk kepentingan upacara, seperempat diperuntukkan bagi makhluk hidup penghuni hutan (karena itu tidak perlu dituai), bagian akhir juga tidak dituai, melainkan dibiarkan gugur dan hancur kembali menjadi tanah. Di samping itu mereka juga bekerja meramu hasil hutan, seperti madu, lilin, damar, rotan, getah jelutung, getah karet, kayu dan membuat perahu. Suku bangsa yang hidup relatif berpindah-pindah untuk berladang dan melaksanakan mata pencaharian lain ini diduga datang dari daerah hulu aliran Sungai Mahakam di Kalimantan Timur. Tempat menetap pertama mereka sebut bantai, baru setelah agak permanen dan ramai mereka sebut pedukuhan. Gabungan dari beberapa pedukuhan menjadi sebuah kampung atau desa.
Kekerabatan dan Kekeluargaan Suku Dayak Lawangan
Sistem hubungan kekerabatan mereka cenderung untuk bersifat matrilineal, mungkin karena pengaruh adat menetap sesudah nikah yang matrilokal (suami menetap di lingkungan keluarga asal isteri). Orang Lawangan juga mengenal adat ganti tikar (sosorat), artinya bila isteri meninggal maka suaminya harus kawin dengan saudara perempuan almarhum isterinya. Adat ini bertujuan agar pemilikan harta tetap berada pada pihak perempuan.
Kepercayaan Suku Dayak Lawangan
Kepercayaan asli masyarakat Dayak Lawangan meyakini adanya kelahiran kembali roh orang yang telah meninggal (reinkarnasi). Pemujaan dalam kepercayaan tersebut berorientasi kepada roh-roh dan dewa-dewa yang diyakini berdiam di sebuah gunung yang disebut Gunung Lemeut.
Pada masa lalu, sistem religi atau kepercayaan asli ini juga dikaitkan dengan adat pengayauan dalam tradisi Kaharingan. Sisa-sisa kepercayaan tersebut masih dapat ditemukan dalam suatu gerakan mesianik (messianic movement) yang dikenal sebagai Nyuli.
Dayak Lawangan Kabupaten Tabalong, Kalsel
Di Kabupaten Tabalong ini terbagi menjadi empat wilayah keadatan Dayak, salah satu diantaranya wilayah keadatan Dayak Lawangan yaitu:
- Wilayah keadatan Dayak Lawangan di desa Binjai.
- Wilayah keadatan Dayak Maanyan di desa Warukin.
- Wilayah keadatan Dayak Deyah Kampung Sepuluh, meliputi sepuluh desa di sebagian wilayah kecamatan Upau, Haruai, Bintang Ara.[4]
- Wilayah keadatan Dayak Deyah di sebagian wilayah kecamatan Muara Uya dan Jaro.
Di luar keempat daerah-daerah kantong keadatan Dayak Kabupaten Tabalong tersebut juga terdapat suku Banjar yang merupakan mayoritas populasi penduduk Tabalong dan suku Banjar ini tidak terikat dengan Hukum Adat Dayak.
Budaya
Makanan
- Bagamat, kuah daging kelelawar raksasa yang dimasak dengan bawang putih dan berbagai macam sayuran.[5][6]
Referensi
- ↑ Diarsipkan 2014-05-18 di Wayback MachineDiarsipkan 2014-05-18 di Wayback MachineDiarsipkan 2014-05-18 di Wayback MachineDiarsipkan 2014-05-18 di Wayback MachineDiarsipkan 2014-05-18 di Wayback MachineDiarsipkan 2014-05-18 di Wayback MachineDiarsipkan 2014-05-18 di Wayback MachineDiarsipkan 2014-05-18 di Wayback MachineDiarsipkan 2014-05-18 di Wayback Machine(Inggris) Michaela Haug, Poverty and Decentralisation in East Kalimantan, Centaurus Verlag & Media KG, ISBN 3-8255-0770-X, 9783825507701.
- ↑ "Tiga Sub Suku Dayak Turut Bergabung, Nama KKD Dusmala Tabama Kalteng Dideklarasikan". Tribunkalteng.com. Diakses tanggal 2026-09-21.
- 1 2 Yosevina, Elvira. "Tanjung Soke miliki cagar budaya berusia puluhan tahun - RRI.co.id". rri.co.id - Portal berita terpercaya (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-09-21.
- ↑ https://www.facebook.com/photo.php?fbid=213288232129351&set=a.192571014201073.20021.192570540867787&type=1&theater
- ↑ Iwan Prasetya (22 Juni 2013). "Nikmatnya Daging Paing, Kelelawar Raksasa Khas Kalteng". Liputan6. Diarsipkan dari versi asli pada November 5, 2016. Diakses tanggal 2016-11-05.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Febria Silaen (20 Mei 2016). "Sederet kuliner khas Kalimantan Tengah". Beritagar. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-11-05. Diakses tanggal 2016-11-05.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
4.http://bahasamaanyan.blogspot.co.id/2011/10/history-lawangan-part-i.html