Rabu, 04 November 2026
17:57 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan

Tengu

Bagikan:
Artikel ini bukan mengenai Tungau.
Dalam perbaikan
Artikel ini sedang dalam perbaikan.
Untuk menghindari konflik penyuntingan, mohon jangan melakukan penyuntingan selama pesan ini ditampilkan.
Artikel ini terakhir disunting oleh Handarii (bicara | kontrib) 10 detik lalu. (Perbarui pewaktu)
250px-Elephant_and_a_flying_tengu.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tengu dalam lukisan Utagawa Kuniyoshi

Tengu (Jepang: 天狗, pelafalan[teŋɡɯ], terj. har. 'Anjing Surgawi') adalah makhluk dalam legenda Jepang, terutama dalam keyakinan Shinto, dan merupakan salah satu Kami penunggu gunung, atau yōkai yang erat hubungannya dengan burung elang atau gagak.[1][2] Pakaiannya mirip dengan pakaian pendeta yamabushi yang menempa diri di hutan dan gunung. Tengu memiliki hidung yang panjang, wajahnya merah, memiliki sepasang sayap, serta kuku kaki dan tangan yang sangat panjang. Tengu bisa terbang bebas di angkasa sambil membawa tongkat yang disebut kongōzue, pedang besar (tachi), dan kipas berbentuk daun (hauchiwa). Pekerjaannya menghalangi orang yang ingin mendalami agama Buddha.[1] Nama lainnya adalah Gehō-sama (外法様, tuan sihir).

Dalam bahasa Jepang dikenal ungkapan Tengu ni naru yang berarti "menjadi seorang tengu."[3] Ungkapan ini kemungkinan berasal dari ungkapan "hana ga takai" (memiliki hidung yang panjang).[4]

Deskripsi

250px-Yoshitoshi_Kobayakawa_Takakage.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kobayakawa Takakage berdebat dengan tengu Gunung Hiko, oleh Yoshitoshi. Hidung tengu cukup menonjol untuk membedakannya dari yamabushi biasa.

Tengu muncul dalam karya seni dengan bentuk yang beragam. Makhluk ini biasanya tampak sebagai peralihan antara burung mengerikan yang besar dan makhluk yang sepenuhnya antropomorfis, sering kali dengan wajah merah atau hidung yang luar biasa besar atau panjang. Penggambaran awal tengu menunjukkan makhluk menyerupai burung kite yang dapat memiliki bentuk seperti manusia, sering kali masih dengan sayap, kepala, atau paruh seperti burung. Hidung panjang tengu tampak dibuat pada abad ke-14, mungkin sebagai pemanusiaan paruh burung yang ada pada penggambaran asli.[5] Hal ini menghubungkan mereka dengan Sarutahiko Ōkami, sosok yang dideskripsikan dalam naskah Nihon Shoki yang pada ditulis tahun 720 dengan hidung serupa yang berukuran tujuh jengkal panjangnya.[6] Pada berbagai festival desa, kedua tokoh tersebut digambarkan dengan desain topeng berhidung seperti penis merah yang mirip.[7]

Sejumlah penggambaran awal tengu muncul pada gulungan gambar Jepang seperti Tenguzōshi Emaki (天狗草子絵巻), digambar pada sekitar tahun 1296, yang memparodikan pendeta tingkat tinggi dengan memberikan paruh mirip elang milik roh jahat tengu kepada mereka.[8]

Tengu sering digambarkan mempunyai bentuk semacam pendeta. Mulai pada abad ke-13, tengu menjadi dihubungkan secara khusus dengan yamabushi, petarak gunung yang mempraktikkan Shugendō.[9] Penghubungan tersebut kemudian segera tampak pada seni Jepang yang sering kali menggambarkan tengu berbusana khusus yamabushi yang mencakup penutup kepala khas bernama tokin dan selempang pompom (結袈裟, yuigesa).[10]

Tengu biasa digambarkan memegang kipas bulu sihir (羽団扇, hauchiwa). Menurut legenda, tengu mengajari Minamoto no Yoshitsune untuk bertarung dengan "kipas perang" dan "pedang".[11] Dalam sastra rakyat, kipas tersebut dapat memperbesar atau mengecilkan hidung orang, tetapi biasanya, dikaitkan dengan kekuatan membuat angin besar. Aksesoris aneh lain yang bermacam-macam dapat dihubungkan dengan tengu, misalnya suatu jenis sendal geta bergigi satu yang tinggi dan sering disebut tengu-geta.[12]

250px-Menkake_Gyoretsu_-_Sarutahiko.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Seorang pria menggunakan topeng Tengu sebagai dewa Sarutahiko di festival Menkake Gyōretsu di Kamakura.

Asal-usul

250px-SekienTengu.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tengu sebagai monster yang mirip burung kite, dalam Gazu Hyakki Yakō karya Toriyama Sekien.
Tulisan: 天狗/てんぐ (tengu)
250px-A_woman_makes_a_cursing_ritual_ceremony.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Seorang wanita melakukan upacara ritual kutukan

Menurut keyakinan yang berlaku, istilah tengu dan huruf yang digunakan dalam penulisannya berasal dari nama suatu roh jahat yang garang dalam budaya rakyat Tiongkok, tiāngǒu, meski hal ini masih membutuhkan konfirmasi. Dalam sastra Tiongkok, makhluk ini dijelaskan dengan beraneka ragam, tetapi sering kali dideskripsikan sebagai monster sebangsa anjing yang memakan manusia dan menyerupai bintang jatuh atau komet. Makhluk ini berbunyi seperti guntur dan peperangan mendatangi tempat ia jatuh. Sebuah cerita dalam Shù Yì Jì (述異記, "A Collection of Bizarre Stories", "Kumpulan Cerita Aneh"), ditulis pada tahun 1791, mendeskripsikan tiāngǒu mirip anjing dengan paruh tajam dan postur tegak, tetapi biasanya tiāngǒu hanya sedikit mirip dengan padanannya dalam legenda Jepang.[13]

Jilid ke-23 Nihon Shoki, ditulis pada tahun 720, secara umum dianggap memuat penyebutan pertama yang tercatat atas tengu di Jepang. Dalam catatan ini, sebuah bintang jatuh besar muncul dan diidentifikasi oleh seorang pendeta Buddha sebagai seekor "anjing surgawi". Seperti tiāngǒu dalam mitologi Tiongkok, bintang tersebut diikuti pemberontakan militer. "Tahun ke-9, Musim Semi, dan bulan, tanggal 23. Sebuah bintang besar melayang dari Timur ke Barat, dan terdapat bunyi seperti guruh. Orang-orang pada hari itu mengatakan bahwa itu adalah suara bintang yang jatuh. Yang lain mengatakan bahwa itu adalah halilintar-bumi. Di sinilah Pendeta Buddha Bin mengatakan:—'Itu bukan bintang jatuh, melainkan Anjing Surgawi, yang suara gonggongannya seperti guruh.' Ketika ia muncul, ada kelaparan". Walaupun aksara Tionghoa digunakan dalam penulisan tengu pada catatan tersebut, huruf furigana fonetik yang mengikutinya melafalkan "amatsukitsune" (rubah surgawi). M. W. de Visser menduga bahwa pengartian bahasa Jepang awal untuk huruf dalam penulisan tengu mungkin menampilkan konglomerasi dua roh Tiongkok: tiāngǒu dan roh rubah yang disebut huli jing sebelum nuansa arti meluas hingga mencakup kami lokal Jepang sehingga demikianlah penampakan sebenarnya tengu.[14]

Sejumlah cendekiawan Jepang menduga bahwa gambar tengu diambil dari dewa elang Hindu Garuda yang dijadikan jamak dalam naskah Buddha sebagai salah satu bangsa utama makhluk bukan manusia. Seperti tengu, garuda sering digambarkan dalam bentuk mirip manusia dengan sayap dan paruh burung. Nama tengu sendiri tampak ditulis menggantikan garuda pada sutra Jepang yang disebut Emmyō Jizō-kyō (延命地蔵経), tetapi hal ini mungkin ditulis pada Zaman Edo, lama setelah gambar tengu menjadi tetap. Terdapat sekurang-kurangnya satu cerita awal dalam Konjaku Monogatarishū yang mendeskripsikan seekor tengu membawa seekor naga. Cerita tersebut mirip dengan pertikaian garuda dengan ular nāga. Namun demikian pada hal-hal yang lain, perilaku asli tengu sangat berbeda jika dibandingkan dengan garuda yang secara umum bersahabat terhadap ajaran Buddha. De Visser menduga bahwa tengu mungkin berhubungan dengan roh burung Shinto kuno yang disinkretisasi dengan baik garuda maupun tiāngǒu ketika ajaran Buddha sampai di Jepang. Namun, de Visser tidak menemukan banyak bukti yang mendukung ide ini.[15]

Suatu versi lebih baru Kujiki, naskah sejarah Jepang kuno, meriwayatkan nama Amanozako, seorang dewi mengerikan yang lahir dari muntahan keganasan Susanoo, dengan penulisan huruf yang berarti dewa tengu (天狗神). Buku tersebut menceritakan Amanozako sebagai makhluk dengan kekuatan besar yang dapat terbang dan memiliki tubuh manusia, kepala binatang buas, hidung panjang, telinga panjang, serta gigi panjang yang dapat mengunyah menembus pedang. Sebuah buku abad ke-18 yang disebut Tengu Meigikō (天狗名義考) menunjukkan bahwa dewi ini mungkin adalah pendahulu tengu, tetapi tanggal dan keaslian Kujiki tersebut, dan edisi itu khususnya, masih dipertentangkan.[16][17]

--

Tengu berhidung panjang seperti dikenal orang zaman sekarang merupakan hasil penggambaran orang pada abad pertengahan. Dalam cerita Konjaku Monogatari-shū, tengu digambarkan bisa berlari di udara, dan sebagai hantu berbentuk burung rajawali yang membuat orang kerasukan. Penggambaran tersebut diperkirakan mengambil model dari hantu Temma dalam konsep agama Buddha yang digambarkan berbadan manusia dan memiliki sepasang sayap.[butuh rujukan]

Model awal tengu kemungkinan berubah pada paruh pertama zaman Muromachi. Dalam kumpulan cerita rakyat Otogizōshi terdapat cerita Tengu no Dairi (Istana Tengu) yang tokoh utamanya bernama Kurama Tengu. Selain itu, Ushiwakamaru dikabarkan menerima pelajaran seni pedang dari Tengu di Kuil Kurama. Dalam Hikayat Heike, tengu digambarkan seperti "Manusia tetapi tidak seperti manusia, burung tetapi tidak seperti burung, anjing tetapi tidak seperti anjing, tangan dan kakinya seperti tangan dan kaki manusia, wajahnya seperti anjing, memiliki sayap di kanan kiri, dan bisa terbang."[butuh rujukan]

Roh jahat dan hantu yang marah

250px-Yoshitoshi_Mount_Yoshino_Midnight_Moon.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Iga no Tsubone berhadapan dengan roh Sasaki no Kiyotaka yang sengsara dalam karya Yoshitoshi. Hantu Sasaki tampak memiliki sayap dan cakar tengu.

Konjaku Monogatarishū, kumpulan cerita yang diterbitkan pada akhir Zaman Heian, memuat sebagian cerita-cerita paling awal tentang tengu, karakter dengan penokohan yang sama dengan cerita berabad-abad kemudian. Para tengu dalam cerita-cerita ini merupakan musuh menyusahkan ajaran Buddha, bekerja menyesatkan mereka yang taat dengan tamsilan Buddha, membawa biksu dan melepas mereka di tempat terpencil, merasuki perempuan dan berupaya menggoda laki-laki suci, merampok kuil, dan menghadiahi pemuja mereka dengan kekuatan tak suci. Para tengu sering menyamar sebagai pendeta dan biarawati, tetapi wujud asli mereka tampak merupakan burung kite.[18]

Selama abad ke-12 dan ke-13, berbagai catatan terus bermunculan tentang tengu yang berupaya menyebabkan masalah di dunia. Tengu pada masa itu ditetapkan sebagai hantu pendeta sesat, sombong, atau marah yang jatuh dalam "dunia tengu" (天狗道, tengudō). Tengu mulai merasuki orang, terutama para wanita dan gadis, dan berbicara melalui mulut mereka (kitsunetsuki). Masih sebagai musuh ajaran Buddha, roh jahat tengu juga mengincar keluarga kerajaan. Kojidan menceritakan permaisuri yang dirasuki dan Ōkagami melaporkan bahwa Kaisar Sanjō dibuat buta oleh sesosok tengu, hantu pendeta yang membenci pemegang tahta.[19]

Sesosok tengu yang terkenal jahat dari abad ke-12 ialah hantu seorang kaisar itu sendiri. Hōgen Monogatari menceritakan Kaisar Sutoku yang dipaksa oleh ayahnya untuk meninggalkan tahtanya. Ketika ia kemudian bangkit dengan pemberontakan Hōgen dalam upayanya mengambil kembali kekuasaan kerajaan dari Kaisar Go-Shirakawa, ia kalah dan dibuang ke Provinsi Sanuki di Shikoku. Menurut legenda, ia mati tersiksa, bersumpah akan menghantui negeri Jepang sebagai roh jahat besar, lalu menjadi tengu yang menakutkan dengan kuku panjang dan mata seperti burung kite.[20]

Dalam cerita-cerita yang berasal dari abad ke-13, tengu mulai menculik anak kecil laki-laki selain pendeta yang sudah selalu menjadi sasaran mereka. Anak-anak kecil itu sering kali dikembalikan sedangkan para pendeta ditemukan dalam keadaan terikat dengan puncak pohon atau tempat tinggi lain. Namun demikian, semua korban tengu kembali dalam keadaan hampir mati atau gila, kadang setelah ditipu sehingga memakan kotoran hewan.[9]

Tengu pada masa tersebut sering dipandang sebagai hantu orang yang angkuh sehingga dihubungkan kuat dengan keangkuhan dan kesombongan. Pada abad ke-21, ungkapan dalam bahasa Jepang "tengu ni naru" ("menjadi tengu") masih digunakan untuk mendeskripsikan orang yang sombong.[21]

Roh jahat kecil dan besar

250px-Karasu-Tengu-Statue.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tengu Gagak, akhir Zaman Edo (28×25×58 cm)
250px-KyosaiTenguBonze.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tengu dan seorang pendeta Buddha, oleh Kawanabe Kyōsai. Si tengu mengenakan penutup kepala dan selempang pom-pom penganut Shugendō.

Dalam Genpei Jōsuiki, ditulis pada akhir Zaman Kamakura, seorang dewa muncul di Go-Shirakawa dan memberi penjelasan rinci tentang hantu tengu. Ia berkata bahwa para hantu itu terperosok ke jalan tengu karena sebagai penganut ajaran Buddha, mereka tidak bisa masuk Neraka, tetapi sebagai orang-orang dengan prinsip yang buruk, mereka juga tidak bisa masuk Surga. Ia menceritakan ketampakan berbagai jenis tengu: hantu pendeta, hantu biarawati, laki-laki biasa, dan perempuan biasa, mereka semua yang saat hidup dahulu memandang diri terlalu tinggi. Dewa tersebut memperkenalkan konsep bahwa semua tengu ialah setara; mereka yang banyak tahu menjadi daitengu (大天狗, tengu besar) sedangkan yang jahil menjadi kotengu (小天狗, tengu kecil).[22]

Filsuf Hayashi Razan merincikan Sōjōbō of Kurama, Tarōbō of Atago, and Jirōbō of Hira sebagai daitengu-daitengu paling besar.[23] Roh-roh jahat dari Kurama dan Atago ialah sebagian dari tengu-tengu yang terkenal.[21]

Dalam Tengu Meigikō, terdapat sebuah bagian yang kemudian dikutip oleh Inoue Enryō dan merincikan daitengu dengan urutan berikut ini.

Daitengu sering diilustrasikan dengan bentuk yang lebih menyerupai menusia daripada bawahan-bawahan mereka. Selain itu, hidung mereka yang panjang menjadi dasar mereka disebut sebagai hanatakatengu (鼻高天狗, tengu berhidung mancung). Sebaliknya, kotengu diilustrasikan lebih menyerupai burung. Mereka kadang disebut sebagai karasu-tengu (烏天狗, tengu gagak) atau koppa- atau konoha-tengu (木葉天狗, 木の葉天狗, tengu dedaunan).[21] Inoue Enryō, dalam karyanya Tenguron, membedakan tengu menjadi daitengu yang besar dan konoha-tengu yang kecil dan mirip burung yang tinggal di pohon Cryptomeria. Konoha-tengu diceritakan dalam buku dari tahun 1746 yang berjudul Shokoku Rijin Dan (諸国里人談); di sana tengu tersebut diceritakan sebagai makhluk menyerupai burung dengan sayap berentang dua meter yang menangkap ikan di Sungai Ōi. Namun demikian selain dalam pustaka tersebut, nama konoha-tengu jarang ditemukan.[25]

Berbagai makhluk yang tidak sesuai dengan gambaran yamabushi atau burung klasik juga kadang disebut tengu. Misalnya, tengu dengan penampakan menyerupai roh kayu dapat disebut guhin (kadang ditulis kuhin, 狗賓, tamu anjing), tetapi kata tersebut juga merujuk kepada tengu dengan mulut seperti anjing atau ciri lain.[21] Orang-orang di Prefektur Kōchi di Shikoku percaya akan adanya shibaten atau shibatengu (シバテン, 芝天狗, tengu halaman), tetapi definisinya ialah makhluk yang menyerupai anak kecil yang suka bergulat sumō dan kadang tinggal di air sehingga secara umum dianggap sebagai salah satu jenis kappa.[26] Tengu penghuni air lain yaitu kawatengu (川天狗, tengu sungai) dari Tokyo Raya. Makhluk tersebut jarang terlihat, tetapi dipercayai membuat bola api ajaib dan mengganggu para nelayan.[27]

Dewa dan roh pelindung

Dalam belukar di pegunungan pada musim panas di Prefektur Yamagata sebagai salah satu area yang diketahui, terdapat berpuluh-puluh tsubo lumut dan pasir yang dipuja sebagai "lahan tengu bersarang". Di desa-desa di gunung yang berada di Prefektur Kanagawa, pepohonan ditebang pada malam hari dan disebut sebagai "tengu daoshi" (天狗倒し, tengu jatuh); bunyi-bunyi misterius malam hari seperti pohon yang ditebang dan jatuh ataupun sesuatu yang berayun tanpa keberadaan angin dianggap sebagai perbuatan tengu gunung. Terdapat teori bahwa menembak senapan tiga kali akan menghentikan suara-suara misterius tersebut Selain itu, di Distrik Tone Prefektur Gunma terdapat legenda "tengu warai" (天狗笑い, tawa tengu).

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 Matsumura, Akira (2006). Daijirin (Edisi Edisi ke-3). Sanseido. ISBN 4-3851-3905-9.{{cite book}}: Parameter tidak dikenal |coauthors= diabaikan (|author= disarankan)
  2. ↑ Bellingham, David; Whittaker, Clio; Grant, John (1992-12). Myths and Legends. Book Sales. ISBN 978-1-55521-812-6. OCLC 27192394.{{cite book}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  3. ↑ "Tengu". Wikipedia (dalam bahasa Inggris). 2024-12-27.
  4. ↑ cobit (2018-02-11). "10 Interesting Japanese Expressions". Find Your Japan (dalam bahasa Jepang). Diakses tanggal 2025-01-16.
  5. ↑ de Visser (1908a), pp. 61. Burung kite ini merujuk kepada tobi atau tonbi (鳶), kite hitam Jepang (Milvus migrans lineatus).
  6. ↑ "Encyclopedia of Shinto:Sarutahiko".
  7. ↑ Moriarty (1972), hlm. 109.
  8. ↑ Fister (1985), hlm. 105. Silakan lihat gambar gulungan di sini Diarsipkan 2007-01-23 di Wayback Machine dan di sini Diarsipkan 2007-01-23 di Wayback Machine.
  9. 1 2 de Visser (1908a), hlm. 55–57. sfnp error: tanpa target: CITEREFde_Visser1908a (bantuan)
  10. ↑ Fister (1985), hlm. 103. Silakan lihat gambar tampilan busana yamabushi di sini Diarsipkan 2007-03-28 di Wayback Machine.
  11. ↑ Blair, Gavin (2022). An Illustrated Guide to Samurai History and Culture: From the Age of Musashi to Contemporary Pop Culture. Foreword by Alexander Bennett. Tuttle Publishing. hlm. 22. ISBN 978-4-8053-1659-7. OCLC 1292361882.
  12. ↑ Mizuki (2001), hlm. 122.
  13. ↑ de Visser (1908a), hlm. 27–30. sfnp error: tanpa target: CITEREFde_Visser1908a (bantuan)
  14. ↑ de Visser (1908a), hlm. 34–35. sfnp error: tanpa target: CITEREFde_Visser1908a (bantuan)
  15. ↑ de Visser (1908a), hlm. 87–90. sfnp error: tanpa target: CITEREFde_Visser1908a (bantuan)
  16. ↑ de Visser (1908a), hlm. 43–44. sfnp error: tanpa target: CITEREFde_Visser1908a (bantuan)
  17. ↑ Mizuki (2004), hlm. 7.
  18. ↑ de Visser (1908a), hlm. 38–43. sfnp error: tanpa target: CITEREFde_Visser1908a (bantuan)
  19. ↑ de Visser (1908a), hlm. 45–47. Pada akhirnya, hantu tengu ini muncul dan mengaku mengganduli punggung kaisar tersebut dengan sayap yang menangkup mata kaisar.
  20. ↑ de Visser (1908a), hlm. 48–49. sfnp error: tanpa target: CITEREFde_Visser1908a (bantuan)
  21. 1 2 3 4 Mizuki (2001).
  22. ↑ de Visser (1908a), hlm. 51–53. sfnp error: tanpa target: CITEREFde_Visser1908a (bantuan)
  23. ↑ de Visser (1908a), hlm. 71. sfnp error: tanpa target: CITEREFde_Visser1908a (bantuan)
  24. ↑ de Visser (1908a), hlm. 82; sebagian besar penulisan kanji dan sejumlah perbaikan nama diperoleh dari sini Diarsipkan 2007-09-27 di Wayback Machine.
  25. ↑ de Visser (1908a), hlm. 84; Mizuki (2003), hlm. 70. Istilah konoha-tengu sering disebutkan dalam naskah berbahasa Inggris sebagai sinonim daitengu, tetapi penggunaan tersebut tampaknya merupakan kesalahan berulang yang tidak ditemukan pada sumber berbahasa Jepang.
  26. ↑ Mizuki (2004), hlm. 94.
  27. ↑ Mizuki (2003a), hlm. 38; Kawatengu Diarsipkan 2006-10-06 di Wayback Machine di Kaii-Yōkai Denshō Database

Sumber pustaka

Bacaan lanjutan

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Tengu.
  • (Inggris) Tengu di situs web Obakemono Project.
  • (Inggris) Tengu menurut situs The A-Z Dictionary of Japanese Buddhist Statuary
Cerita rakyat
Utamaro Yama-uba dan Kintaro
Koleksi naskah
Makhluk legenda
Folkloris


Ikon rintisan

Artikel bertopik Mitologi atau cerita rakyat Jepang ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan