Try Sutrisno | |
|---|---|
Potret resmi, 1993 | |
| Wakil Presiden Indonesiake-6 | |
| Masa jabatan 11 Maret 1993 –11 Maret 1998 | |
| Presiden | Soeharto |
| Pendahulu | Soedharmono |
| Pengganti | B. J. Habibie |
| Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesiake-9 | |
| Masa jabatan 27 Februari 1988 –19 Februari 1993 | |
| Presiden | Soeharto |
| Pendahulu | L.B. Moerdani |
| Pengganti | Edi Sudradjat |
| Kepala Staf TNI Angkatan Daratke-15 | |
| Masa jabatan 7 Juni 1986 –2 Februari 1988 | |
| Pendahulu | Rudini |
| Pengganti | Edi Sudradjat |
| Ketua Umum PBSIke-6 | |
| Masa jabatan 1985–1993 | |
| Pendahulu | Ferry Sonneville |
| Pengganti | Soerjadi |
| Jabatan Pemerintahan lainnya | |
| 2018–2026 | Wakil Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | (1935-11-15)15 November 1935 |
| Meninggal | 2 Maret 2026(2026-03-02) (umur 90) Jakarta Pusat, Indonesia |
| Makam | Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata |
| Partai politik | PKP |
| Suami/istri | |
| Anak | 7, termasuk Firman dan Kunto |
| Kerabat | Soedardjat Nataatmadja (besan) Musannif Ryacudu (besan) Ryamizard Ryacudu (menantu) Danang Hadiwibowo (menantu) |
| Almamater | Akademi Teknik Angkatan Darat |
| Pekerjaan |
|
| Tanda tangan | |
| Karier militer | |
| Pihak | |
| Dinas/cabang | |
| Pangkat | |
| Satuan | Zeni |
| Komando | |
| Pertempuran/perang | |
| NRP | 18438 |
Try Sutrisno (15 November 1935 – 2 Maret 2026) adalah seorang purnawirawan jenderal TNI Angkatan Darat yang menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia keenam dari tahun 1993 hingga 1998. Lahir di Surabaya, Hindia Belanda (sekarang Indonesia), Try merupakan lulusan Akademi Teknik Angkatan Darat pada tahun 1959. Selama kariernya, Try pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (1986-1988) dan Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (1988-1993).
Kehidupan awal dan edukasi
Try Sutrisno lahir pada 15 November 1935 di Surabaya, Jawa Timur. Ayahnya, Subandi dan ibunya bernama Mardiyah, Try adalah anak ketiga dari enam bersaudara.[1]
Pada usia 13, Try Sutrisno ingin bergabung dengan Batalyon Poncowati dan melawan tetapi tidak ada yang menganggapnya dengan serius dan ia akhirnya dipekerjakan sebagai kurir.[2] Tugas Try Sutrisno adalah untuk mencari informasi ke daerah-daerah yang diduduki oleh tentara Belanda serta mengambil obat untuk Angkatan Darat Indonesia. Akhirnya pada tahun 1949, Belanda mundur dan mengakui kemerdekaan Indonesia. Try Sutrisno dan keluarganya kemudian kembali ke Surabaya di mana ia menyelesaikan pendidikannya di SMA Bagian B pada tahun 1956.[3]
Setelah lulus dari SMA, Try Sutrisno ingin mendaftar di ATEKAD (Akademi Teknik Angkatan Darat). Dia berpartisipasi dan lulus dalam ujian masuk, tetapi gagal dalam pemeriksaan fisik. Meskipun demikian, Mayor Jenderal GPH Djatikusumo tertarik dengan Try dan memanggilnya kembali. Try Sutrisno berpartisipasi dalam pemeriksaan psikologis di Bandung, Jawa Barat, dan ia diterima di ATEKAD. Di ATEKAD pula ia berteman akrab dengan Benny Moerdani.[3]
Karier militer
Awal karier militer
Pengalaman militer pertama Try Sutrisno adalah pada tahun 1957, ketika ia berperang melawan Pemberontakan PRRI pada Operasi 17 Agustus. Try Sutrisno menyelesaikan pendidikan militernya pada tahun 1959, ketika ia lulus dari ATEKAD. Dia juga terlibat dalam Operasi Trikora, dan Operasi Dwikora.[1]
Pada tahun 1972, Try dikirim ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad).[4] Pada tahun 1974, Try terpilih menjadi ajudan Presiden Soeharto. Soeharto mulai menyukai Try dan sejak saat itu, karier militer Try akan meroket.[1] Dia terlibat dalam Operasi Seroja.[1]
Pada tahun 1978, Try diangkat menjadi Kepala Staf di KODAM XVI/Udayana. Setahun kemudian, ia menjadi Panglima KODAM IV/Sriwijaya, di mana ia memulai kariernya. Sebagai Pangdam, Try Sutrisno pindah untuk menekan tingkat kejahatan serta menghentikan penyelundupan timah. Dia bahkan berpartisipasi dalam kampanye lingkungan untuk mengembalikan gajah Sumatra ke habitat alami mereka.[5]
Pada tahun 1982, Try diangkat menjadi Panglima KODAM V/Jaya.[1]
Peristiwa Tanjung Priok
Pada tanggal 7 September 1984, Sersan Satu Hermanu, melakukan pemeriksaan di Jakarta Utara, datang ke masjid yang terdapat poster yang meminta perempuan untuk mengenakan jilbab. Ini adalah poster atau selebaran yang mendorong Muslim yang membacanya untuk menentang kebijakan pemerintah untuk tidak membiarkan wanita mengenakan jilbab. Sertu Hermanu meminta selebaran untuk diturunkan tetapi perintahnya tidak diikuti.[6]
Hermanu menghapus poster itu dengan koran yang dicelup air got. Entah bagaimana ada rumor mulai beredar di sekitar lokasi itu yang menyebutkan bahwa Hermanu telah mencemarkan masjid dengan masuk ke dalamnya tanpa membuka sepatunya. Hal itu menyebabkan kemarahan warga dan sepeda motor Hermanu dibakar. Tentara kemudian kembali untuk menangkap 4 pemuda yang membakar sepeda motor.[6]
Selama beberapa hari berikutnya ada protes yang meminta pembebasan 4 pemuda dan ulama mengambil keuntungan dari situasi untuk berkhotbah menentang pemerintah. Akhirnya pada tanggal 12 September 1984, kerumunan di Tanjung Priok mulai menyerang toko-toko yang dimiliki oleh orang Tionghoa serta mendatangi markas Kodim Jakarta Utara.[6]
Try Sutrisno, bersama dengan Panglima ABRI, Benny Moerdani setuju bahwa pasukan harus dikerahkan untuk menghadang perusuh. Kerusuhan terus memburuk, menurut tentara, massa menolak untuk mengindahkan tembakan peringatan dan melanjutkan penyerbuan mereka dengan mengacung-acungkan golok dan celurit. Akhirnya pasukan terpaksa melepaskan tembakan. Pemerintah mengklaim bahwa hanya 28 orang tewas tetapi korban tetap bersikeras bahwa sekitar 700 orang tewas.[6]
Puncak Komando Militer
Karier Try Sutrisno terus meningkat. Pada tahun 1985, ia menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, sebelum menjadi Kepala Staf Angkatan Darat pada tahun 1986. Sebagai Kepala Staf Angkatan Darat, Try memulai Badan Tabungan Wajib Perumahan TNI-AD untuk memudahkan bagi prajurit Angkatan Darat untuk membeli rumah bagi mereka sendiri.[butuh rujukan]
Try Sutrisno akhirnya mencapai puncak karier militer pada tahun 1988, ketika ia ditunjuk sebagai Panglima ABRI untuk menggantikan L.B. Moerdani. Sebagai Panglima ABRI, Sutrisno menghabiskan banyak waktu untuk menumpas pemberontakan di seluruh Indonesia.[butuh rujukan]
Target langsungnya adalah separatis di Aceh, yang berhasil ditekan pada 1992. Pada tahun 1990, ada Insiden Talangsari, di mana Try Sutrisno mengulangi tindakannya pada tahun 1984 dengan menindak kelompok demonstran Islam.[butuh rujukan]
Pada bulan November 1991, di Provinsi Timor Timur, sekelompok mahasiswa menghadiri pemakaman seorang teman mereka yang telah ditembak mati oleh pasukan Indonesia dan mereka mengambil kesempatan untuk meluncurkan protes terhadap pendudukan Indonesia. Pada prosesi pemakaman, para mahasiswa menggelar spanduk untuk penentuan nasib sendiri dan kemerdekaan, menampilkan gambar pemimpin kemerdekaan Xanana Gusmão. Ketika prosesi tersebut memasuki kuburan, pasukan Indonesia mulai menembak. Dari orang-orang yang berdemonstrasi di kuburan, 271 tewas, 382 terluka, dan 250 menghilang.[butuh rujukan]
Insiden, yang dikenal sebagai Insiden Dili ini, memicu kecaman dari masyarakat internasional seluruh dunia. Try Sutrisno mengatakan dua hari setelah pembantaian: "Tentara tidak dapat diremehkan. Akhirnya kami harus menembak mereka. Berandalan seperti agitator ini harus ditembak, dan mereka akan .... ".[7] Try Sutrisno kemudian diundang untuk berbicara di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menjelaskan dirinya sendiri. Try Sutrisno memberikan pembelaan keputusannya dan menyatakan bahwa pengunjuk rasa memprovokasi tentara dan bahwa klaim bahwa protes yang damai adalah "omong kosong".[8]
Masa jabatan Try Sutrisno sebagai Panglima ABRI berakhir pada bulan Februari 1993.[butuh rujukan]
Pemilihan sebagai Wakil Presiden

Pada bulan Februari 1993, bulan yang sama ketika Try berhenti dari posisinya sebagai Pangab dan sebulan sebelum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dijadwalkan bertemu untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden baru, anggota MPR dari fraksi ABRI mencalonkan Try Sutrisno untuk menjadi Wakil Presiden. Secara teknis, anggota fraksi MPR diizinkan untuk mengajukan calon mereka untuk Wakil Presiden. Tapi aturan tak tertulis dalam rezim Soeharto adalah menunggu Presiden untuk mengajukan calon yang dipilihnya.[butuh rujukan]
Anggota dari Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia dengan cepat menyetujui pencalonan Try sementara Golkar berjuang dalam memberitahu anggotanya bahwa Golkar tidak mencalonkan Try sebagai Wakil Presiden. Soeharto dilaporkan marah karena telah didahului oleh ABRI,[9] tetapi ia tidak ingin adanya perselisihan terbuka. Soeharto akhirnya menerima Try dan Golkar mencoba mengecilkan ketegangan dengan mengatakan telah membiarkan pihak lain dan ABRI mencalonkan kandidat Wakil Presiden mereka.[10]
ABRI sudah membalaskan dendam mereka dari Sidang Umum MPR 1988 saat Soeharto memilih Sudharmono, seseorang tidak menyukai ABRI sebagai Wakil Presiden. Benny Moerdani yang pada tahun 1993 adalah Menteri Pertahanan, dia bertekad bahwa ABRI akan memilih Wakil Presiden bagi Suharto pada Sidang Umum MPR 1993.[butuh rujukan]
Berspekulasi bahwa tidak pernah mendahului, Soeharto akan memilih BJ Habibie sebagai Wakil Presidennya atau memilih kembali Sudharmono.[butuh rujukan]
Wakil Kepresidenan
Meskipun ia telah menerima Try Sutrisno sebagai Wakil Presiden, namun Soeharto merasa tidak senang pada Wakil Presidennya. Soeharto menunjukkan sedikit hal dan bahkan tidak berkonsultasi dengannya dalam proses pembentukan kabinet.[butuh rujukan]

Saat Soeharto berkunjung ke Mesir tahun 1995, Try dalam sebuah pemberitaan di harian nasional menyatakan jika dalam bisnis, anak pejabat jangan pakai nama bapaknya, pihak penguasa marah dan sejak itu pemberitaan Try Sutrisno di harian manapun ditiadakan.[1]
Pengabaian lainnya datang pada akhir 1997 ketika Soeharto harus pergi ke Jerman untuk menerima perawatan kesehatan. Alih-alih mendelegasikan Try Sutrisno untuk menjalankan tugas Presiden, Soeharto memerintahkan Menteri Sekretaris Negara, Moerdiono untuk datang ke kediamannya untuk menerima tugas Presiden. Sebuah KTT APEC juga dihadiri oleh Menteri Luar Negeri, Ali Alatas.[11]
Try Sutrisno adalah figur yang sangat populer dan banyak yang mengira bahwa ia akhirnya akan menggantikan Soeharto sebagai Presiden Indonesia.[12] Karena dia memiliki latar belakang militer, ia akan diterima oleh ABRI. Pada saat yang sama, dia juga seorang kandidat yang diterima elemen Islam di Indonesia, dibesarkan bersama sebuah sekolah Islam.[butuh rujukan]
Pada tahun 1998, pada Sidang Umum MPR lainnya yang akan diselenggarakan dan Asia Tenggara sedang menderita akibat Krisis Finansial Asia, banyak yang ingin Try Sutrisno untuk mengemban masa jabatan kedua sebagai Wakil Presiden. Meskipun ada dukungan yang kuat, Try Sutrisno tidak menegaskan dirinya dan pilihan Soeharto untuk Wakil Kepresidenan diserahkan kepada Habibie.[butuh rujukan]
Pascawakil Kepresidenan
Pada Mei 1998, pada malam jatuhnya Soeharto, Try Sutrisno, bersama dengan Umar Wirahadikusumah dan Sudharmono mengunjungi Soeharto di kediamannya untuk membahas opsi yang memungkinkan.[butuh rujukan]
Pada tahun 1998, Try terpilih menjadi Ketua Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri). Ia berhasil membuat Pepabri bersatu menjadi satu di bawah kepemimpinannya meskipun suasana lazim pada waktu itu setiap cabang dari Angkatan Bersenjata memiliki persatuan purnawirawan mereka sendiri. Try Sutrisno menyelesaikan masa jabatannya di posisi ini pada tahun 2003.[butuh rujukan]
Try juga menjabat sebagai sesepuh partai untuk partainya Jenderal Edi Sudrajat, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia.[butuh rujukan]
Pada bulan Agustus 2005, Try Sutrisno, bersama dengan Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Wiranto, dan Akbar Tanjung membentuk sebuah forum yang disebut Gerakan Nusantara Bangkit Bersatu. Forum ini mengkritik pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono atas nota kesepahaman dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Hal ini diikuti pada bulan September 2005 dengan kritik terhadap keputusan Yudhoyono menaikkan harga BBM.[13]

Try Sutrisno agak melunak sikapnya dengan pemerintah setelah pertemuan dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada bulan September 2005. Kalla dikirim untuk menjelaskan alasan di balik kebijakan yang diambil terhadap GAM dan menaikkan harga BBM. Pada akhir pertemuan, Try mengatakan bahwa ia dapat memahami posisi pemerintah dan mendorong orang-orang untuk mendukung pemerintah dalam keputusan mereka.[14]
Kehidupan pribadi dan kematian
Pada 5 Februari 1961, Try Sutrisno menikahi seorang guru bernama Tuti Sutiawati dan dikaruniai 7 orang anak yaitu Nora Tristyana, Taufik Dwi Cahyono, Firman Santyabudi, Nori Chandrawati, Isfan Fajar Satrio, Kunto Arief Wibowo, dan Natalia Indrasari.[15][16] Salah satu menantunya adalah Ryamizard Ryacudu yang menikah dengan Nora Tristyana. Try meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto di Jakarta Pusat, pada 2 Maret 2026, pada usia 90 tahun.[17] Ia dirawat di RSPAD sejak 16 Februari.[18] Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata pada hari yang sama.[19]
Penghargaan
Tanda jasa[20]
Dalam budaya populer
- Dalam film Susi Susanti: Love All (2019), Try Sutrisno diperankan oleh Muhammad Farhan.
Bibliografi
- Dinas Sejarah TNI AD (2011), Profil Kepala Staf Angkatan Darat Ke-1 s.d.Ke-26, vol. I
- Dinas Sejarah TNI AD (2019), Jenderal TNI Try Sutrisno, Sosok Arek Suroboyo, vol. I
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 "Profil Try Sutrisno: Dari Ajudan Soeharto hingga Jadi Wapres". Tempo. 2 Maret 2026. Diakses tanggal 2026-04-24.
- ↑ "Try Sutrisno". Diarsipkan dari asli tanggal 27 September 2007. Diakses tanggal 2 April 2014.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 "Try Sutrisno Harapan Djatikusumo". Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. 2022-12-22. Diakses tanggal 2023-04-15.
- ↑ Muallifa, Rizka Nur Laily (2024-10-08). "Lebih Dekat dengan Try Sutrisno, Anak Sopir Ambulans yang Jadi Wapres RI". merdeka.com. Diakses tanggal 2026-08-15.
- ↑ "Try Sutrisno, 6th Vice President of the Republic of Indonesia". Tokohindonesia.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2004-06-06. Diakses tanggal 2006-10-28.
- 1 2 3 4 "Tragedi Tanjung Priok". Diarsipkan dari asli tanggal 2009-03-09. Diakses tanggal 2006-10-28.
- ↑ Quoted in Carey, p. 52. A slightly different wording ("...and we will shoot them") is quoted in Jardine, p. 17.
- ↑ "Timor: Try Sutrisno's Bullshit". Indonesia Publications/Taskforce. Diarsipkan dari asli tanggal 17 September 2006. Diakses tanggal 2006-10-28.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Lane, Max (24 Februari 1993). "Suharto vs. ABRI at MPR – 1". Green Left. Diarsipkan dari versi asli pada 2008-01-19. Diakses tanggal 2014-04-11.
- ↑ "Soeharto Picks Try As V-P". Radio Republik Indonesia. 28 Februari 1993. Diarsipkan dari versi asli pada 2008-01-19. Diakses tanggal 2014-04-02.
- ↑ "" Wapres Hanya Ban Serep Yang Tak Terpakai "". Tempo. 2 Januari 1998. Diarsipkan dari versi asli pada 2008-01-19. Diakses tanggal 2014-04-11.
- ↑ Manoharan, Moses (23 April 1992). "President Try Sutrisno?". Reuter. Diarsipkan dari versi asli pada 2008-01-19. Diakses tanggal 2014-04-11.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Gus Dur Cs Deklarasikan Gerakan Nusantara Bangkit Bersatu". detiknews. Diakses tanggal 2026-08-15.
- ↑ ""Usai Dikritik, Wapres Kalla Temui Try "". Pikiran Rakyat. 25 September 2005. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2007-05-09. Diakses tanggal 2014-04-11.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ TEMPO Publishing (2020). Try Sutrisno dari Tobang Menjadi Jenderal dan Wakil Presiden. Jakarta: Tempo Publishing. hlm. 23. ISBN 9786232629158. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-03-25. Diakses tanggal 2021-09-10.
- ↑ "Wakil Presiden: Jenderal (Purnawirawan) Try Soetrisno". Kepustakaan Presiden-Presiden Republik Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-09-10. Diakses tanggal 10 September 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Safitri, Eva (2 Maret 2026). "Wapres ke-6 RI Try Sutrisno Meninggal Dunia". detiknews. Diakses tanggal 2 Maret 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Luxiana, Kadek Melda (2 Maret 2026). "Sebelum Wafat, Try Sutrisno Sempat Dirawat Sejak 16 Februari". detiknews. Diakses tanggal 2 Maret 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Luxiana, Kadek Melda (2 Maret 2026). "Try Sutrisno Akan Dimakamkan di TMP Kalibata". detiknews. Diakses tanggal 2 Maret 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Dinas Sejarah TNI AD 2019, hlm. 248-250.
- ↑ Dharmasena. Pusat Penerangan HANKAM. 1992.
- ↑ Daftar WNI yang Menerima Tanda Kehormatan Bintang Republik Indonesia 1959 - sekarang (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2021-07-29. Diakses tanggal 3 September 2021.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Daftar WNI yang Mendapat Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera tahun 1959 s.d. 2003 (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2022-08-05. Diakses tanggal 3 September 2021.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Tempomedia. "Menyematkan bintang jasa bintang jasa". majalah.tempo.co (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-04-18.
- ↑ Indonesia. Angkatan Bersenjata, Indonesia (1985). Mimbar kekaryaan ABRI. Edisi 177-189. Indonesia: Departemen Pertahanan Keamanan, Staf Pembinan Karyawan. hlm. 69.
{{cite book}}: line feed karakter dalam|title=pada posisi 23Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Tempomedia. "Penghargaan bintang LVRI". majalah.tempo.co (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-04-18.
- ↑ Administrator (1986-11-08). "Mendapat penghargaan". Tempo (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-04-18.
- ↑ ประกาศสำนักนายกรัฐมนตรี เรื่อง พระราชทานเครื่องราชอิสริยาภรณ์ [พลโท ทรี สุทริสโน] (PDF) (dalam bahasa Thai). Diakses tanggal 15 Oktober 2024.
- ↑ "Prof. John Ario Katili". Biografi Nasional (dalam bahasa Inggris). 2020-04-17. Diakses tanggal 2023-11-26.
- ↑ "Govt officers get Sultan's directive". New Straits Times (dalam bahasa Inggris). 9 April 1987. hlm. 4.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Administrator (1988-07-02). "Menerima penghargaan". Tempo (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-04-18.
- ↑ Departemen Pertahanan Keamanan, Staf Pembinan Karyawan, Indonesia (1987). Mimbar kekaryaan ABRI. Edisi 201-211. Indonesia: Indonesia. Departemen Pertahanan-Keamanan. Staf Pembinan Karyawan. hlm. 72.
{{cite book}}: line feed karakter dalam|title=pada posisi 23Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ "Senarai Penuh Penerima Darjah Kebesaran, Bintang dan Pingat Persekutuan Tahun 1988" (PDF).
- ↑ "Forces Chief, six others top awards list: King's honours for 224". New Sunday Times (dalam bahasa Inggris). 27 November 1988. hlm. 7.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "The Commander-in-Chief of Indonesian Armed Forces General …". www.nas.gov.sg. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-02-05. Diakses tanggal 2023-02-06.
- ↑ "Jeneral Try dikurnia bintana 'Darjah Utama'". NewspaperSG. 1991-08-08. Diakses tanggal 2024-11-28.
- ↑ Administrator (1991-09-28). "Penghargaan". Tempo (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-04-19.
- ↑ ประกาศสำนักนายกรัฐมนตรี เรื่อง พระราชทานเครื่องราชอิสริยาภรณ์ (ประถมาภรณ์ช้างเผือกให้แก่ พลเอก ตรี สุทริสโน ผู้บัญชาการทหารสูงสุดอินโดนีเซีย) (PDF) (dalam bahasa Thai). Diakses tanggal 14 Oktober 2024.
- ↑ "Eingelangt am 23.04.2012 : Dieser Text wurde elektronisch übermittelt. Abweichungen vom Original sind möglich. Bundeskanzler Anfragebeantwortung" (PDF). Parlament.gv.at. Diakses tanggal 10 Februari 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Pranala luar
- (Indonesia) Profil TokohIndonesia.com Diarsipkan 2014-01-13 di Wayback Machine.
- (Indonesia) Info mengenai Peristiwa Tanjung Priok
| Jabatan politik | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Sudharmono |
Wakil Presiden Republik Indonesia 1993–1998 |
Diteruskan oleh: BJ Habibie |
| Jabatan militer | ||
| Didahului oleh: L.B. Moerdani |
Panglima ABRI 1988–1993 |
Diteruskan oleh: Edi Sudradjat |
| Didahului oleh: Rudini |
Kepala Staf TNI Angkatan Darat 1986–1988 |
Diteruskan oleh: Edi Sudradjat |
| Didahului oleh: Norman Sasono |
Pangdam V/Jayakarta 1983–1985 |
Diteruskan oleh: Soegito |
| Didahului oleh: Obrin Satjakusumah |
Pangdam IV/Sriwijaya 1979–1982 |
Diteruskan oleh: Arie Bandiyoko |
| ||
Kabinet Pembangunan VI (1993–1998) | |
|---|---|
Menko Polkam: Soesilo Soedarman •Menko Eko-PP: Saleh Afiff •Menkoprodis: Hartarto Sastrosoenarto •Menko Kesra: Azwar Anas •Mendagri: Yogie Suardi Memet •Menlu: Ali Alatas •Menhankam/Panglima ABRI: Edi Sudradjat, Feisal Tanjung, Wiranto •Menhak: Oetojo Oesman •Menteri Penerangan: Harmoko, R. Hartono •Menkeu: Mar'ie Muhammad •Mendag (digabungkan dengan Menteri Perindustrian pada 6 Desember 1995): Satrio Budihardjo Joedono •Menperin (bernama Menteri Perindustrian dan Perdagangan sejak 6 Desember 1995): Tungki Ariwibowo •Mentan: Sjarifuddin Baharsjah •Mentamben: Ida Bagus Sudjana •Menhut: Djamaloedin Soeryohadikoesoemo •Menteri PU: Radinal Mochtar •Menhub: Haryanto Dhanutirto •Menparpostel: Joop Ave •Menkop-PPK: Subiakto Tjakrawerdaya •Menaker: Abdul Latief •Menteri Trans-PPH: Siswono Yudo Husodo •Mendikbud: Wardiman Djojonegoro •Menkes: Sujudi •Menag: Tarmizi Taher •Mensos: Endang Kusuma Inten Soeweno •Menteri PPN: Ginandjar Kartasasmita •Menristek: Bacharuddin Jusuf Habibie •Menteri Pangan: Ibrahim Hassan • Beddu Amang •Menteri Kependudukan: Haryono Suyono •Menves: Sanyoto Sastrowardoyo •Menteri Agraria: Soni Harsono •Menpera: Akbar Tanjung •Menteri LH: Sarwono Kusumaatmadja •Menperwan: Mien Sugandhi •Menpora: Hayono Isman •Menpan: T.B. Silalahi •Mensus: Harmoko •Jaksa Agung: Singgih •Gubernur Bank Indonesia: Sudrajad Djiwandono, Syahril Sabirin •Mensesneg: Moerdiono | |
Kabinet Pembangunan V (1988–1993) | |
|---|---|
Kementerian di bawah Menko Polkam: Sudomo | |
Kementerian di bawah Menko Ekuin-PP: Radius Prawiro | |
| |
Kementerian di bawah Menko Kesra: Soepardjo Rustam | |
Menteri muda yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden: | |
Menteri dan pejabat setingkat menteri yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden: | |
Kabinet Pembangunan IV (1983–1988) | |
|---|---|
| |
Kementerian di bawah Menko Ekuin-PP: Ali Wardhana | |
| |
| |
Menteri dan pejabat setingkat menteri yang bertanggungjawab langsung kepada Presiden: | |
| Panglima Besar TKR | ||
|---|---|---|
| Kepala Staf Angkatan Perang | ||
| Ketua Gabungan Kepala-Kepala Staf | ||
| Kepala Staf Angkatan Bersenjata | ||
| Panglima ABRI | ||
| Panglima TNI | ||
| ||
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Orang | |
| Lain-lain | |