Sabtu, 24 Oktober 2026
01:26 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada
Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara

pahlawan pendidikan nasional Indonesia

Bagikan:
Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Ki Hadjar Dewantara" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
Ki Hadjar Dewantara
250px-Ki_Hadjar_Dewantara_Mimbar_Umum_18_October_1949_p2.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ki Hadjar Dewantara pada tahun 1949
Menteri Pengajaran Indonesiake-1
Masa jabatan
19 Agustus 1945[1][2] –14[1] atau 15[2] November 1945
PresidenSoekarno
PendahuluTidak ada, jabatan baru
PenggantiTodung Sutan Gunung Mulia
Informasi pribadi
LahirRaden Mas Soewardi Soerjaningrat
(1889-05-02)2 Mei 1889
Meninggal26 April 1959(1959-04-26) (umur 69)
MakamTaman Wijaya Brata, Tahunan, Umbulharjo, Yogyakarta, Indonesia
Suami/istri
​
​
(m. 1913)​
Anak5 (lima)
PekerjaanAktivis, politikus, kolumnis, wartawan
Tanda tangan
Pahlawan Nasional Indonesia
S.K. Presiden No. 305/TK/1959 tanggal 28 November 1959.

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat; 2 Mei 1889 – 26 April 1959),[3] atau lebih dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara[a] adalah aktivis Revolusi Nasional Indonesia, guru, kolumnis, dan politisi, yang diakui sebagai pelopor pendidikan di Indonesia selama pendudukan Belanda di Indonesia. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa dengan nama saat pertama kali didirikan yaitu "National Onderwijs Institut Taman Siswa". Perguruan Taman siswa merupakan lembaga pendidikan pertama di Indonesia yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Pada 1959, atas jasa-jasanya dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia, ia dianugerahi gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional oleh Presiden Soekarno. Tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional Indonesia. Ki Hajar Dewantara terhubung dengan semboyan trilogi kepemimpinan "Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani." Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, yang berarti "dari belakang mendukung", menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Namanya diabadikan sebagai salah satu nama sebuah kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya juga diabadikan pada uang kertas pecahan Rp20.000,00 tahun edisi 1998.[4] Ia dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden Indonesia pertama, Soekarno, pada 28 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959).[5] Ia juga merupakan peletak dan perintis pendidikan nasional berbasis kebudayaan.[6]

Awal karier

250px-Young_Ki_Hadjara_Dewantara_2_February_1947_KR.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Soewardi saat muda.

Soewardi berasal dari lingkungan keluarga bangsawan Kadipaten Pakualaman. Ia merupakan putra dari G.P.H. Soerjaningrat dan cucu dari Paku Alam III. Ia menamatkan pendidikan dasar di Europeesche Lagere School. Sekolah ini merupakan sekolah dasar khusus untuk anak-anak yang berasal dari Eropa. Ia sempat melanjukan pendidikan kedokteran di STOVIA, tetapi tidak diselesaikan karena kondisi kesehatannya yang buruk.[7]

Selanjutnya, ia bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar. Ia pernah bekerja untuk surat kabar Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Ia tergolong salah seorang penulis yang andal pada masanya. Gaya tulisannya bersifat komunikatif dengan gagasan-gagasan yang antikolonial.[8]

Dia juga berperan aktif dalam berbagai organisasi baik nasional maupun internasional yang bergerak di ranah pendidikan, seperti UNESCO. Selain itu, beliau pernah menduduki posisi sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pertama pada tahun 1950 [9]

Aktivitas pergerakan

Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama BO di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya.

Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (DD). Ketika DD mendirikan Indische Partij, Soewardi juga ikut diajak. Partai yang berdiri pada 6 September 1912 itu bagi Soewardi sangat berguna karena tidak membedakan golongan, agama, ras, dan suku. Rawe-rawe rantas malang-malang putus menjadi semboyan yang tertulis pada lencana. Semboyan itu merupakan gambaran semangat yang tidak mengenal kata menyerah dan siap menghadapi hambatan dan rintangan.[10]

Als ik een Nederlander was

250px-Soewardi1919Lebeau.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ki Hadjar Dewantara
(Chris Lebeau, 1919).

Ketika pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Prancis pada 1913, timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Soewardi. Ia kemudian menulis "Een voor Allen maar Ook Allen voor Een" atau "Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga". Namun kolom KHD yang paling terkenal adalah "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli: "Als ik een Nederlander was"), dimuat dalam surat kabar De Expres pimpinan DD, 13 Juli 1913. Isi artikel ini terasa pedas sekali di kalangan pejabat Hindia Belanda. Kutipan tulisan tersebut antara lain sebagai berikut.

"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya".

Beberapa pejabat Belanda menyangsikan tulisan ini asli dibuat oleh Soewardi sendiri karena gaya bahasanya yang berbeda dari tulisan-tulisannya sebelum ini. Kalaupun benar ia yang menulis, mereka menganggap DD berperan dalam memanas-manasi Soewardi untuk menulis dengan gaya demikian.

Akibat tulisan ini ia ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka (atas permintaan sendiri). Namun demikian kedua rekannya, DD dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda (1913). Ketiga tokoh ini dikenal sebagai "Tiga Serangkai". Soewardi kala itu baru berusia 24 tahun.[11]

Dalam pengasingan

250px-Douwes_Dekker%2C_Tjipto_Mangunkusumo%2C_and_Suryadi_Suryaningrat_%28Ki_Hadjar_Dewantoro%29%2C_20_Mei_Pelopor_17_Agustus%2C_p11.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Soewardi, Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo (Tiga Serangkai) tahun 1914 saat diasingkan di Negeri Belanda.

Dalam pengasingan di Belanda, Soewardi aktif dalam organisasi para pelajar asal Indonesia, Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Tahun 1913 ia mendirikan Indonesisch Pers-bureau, "kantor berita Indonesia". Ini adalah penggunaan formal pertama dari istilah "Indonesia", yang diciptakan tahun 1850 oleh ahli bahasa asal Inggris George Windsor Earl dan pakar hukum asal Skotlandia James Richardson Logan.

Di sinilah ia kemudian merintis cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akta, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi yang kelak menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya. Dalam studinya ini Soewardi terpikat pada ide-ide sejumlah tokoh pendidikan Barat, seperti Froebel dan Montessori, serta pergerakan pendidikan India, Santiniketan, oleh keluarga Tagore. Pengaruh-pengaruh inilah yang mendasarinya dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri.

Taman Siswa

250px-Ki_Hadjar_Dewantara%2C_with_students_%28page_65%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ki Hadjar Dewantara bersama murid-murid Taman Siswa (ca 1922).

Soewardi kembali ke Indonesia pada September 1919. Soewardi diingatkan oleh istrinya, Raden Ajeng Soetartinah, bahwa perjuangan juga dapat melalui pendidikan. Berbekal ilmu tentang pendidikan dan pengajaran di Belanda, Soewardi kemudian bergabung dengan sekolah binaan saudaranya, Perguruan Adhidarma Yogyakarta pada 1921.[12] Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang berencana untuk didirikannya.[butuh rujukan]Pada 3 Juli 1922, ia akhirnya mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa di Yogyakarta.[13] Saat ia genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa.

Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. ("di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan"). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa.

Pengabdian pada masa Indonesia merdeka

page1-250px-thumbnail.pdf.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Surat Ketetapan Presiden Indonesia tentang pengangkatan Ki Hadjar Dewantara sebagai Mahaguru Sekolah Polisi Republik Indonesia bagian Tinggi di Mertojoedan, Magelang.

Tanggal 17 Agustus 1946 ditetapkan sebagai Maha Guru pada Sekolah Polisi Republik Indonesia bagian Tinggi di Mertoyudan Magelang, oleh P.J.M. Presiden Republik Indonesia.

Pada masa pemerintahan Presiden Indonesia yaitu Soekarno, tepatnya di tahun 1945, Ki Hadjar Dewantara diangkat sebagai Menteri Pendidikan Indonesia yang pertama.[14] Lalu, pada tanggal 19 Desember 1956, ia juga mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada.[15]

Ki Hadjar Dewantara juga diditetapkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional atas jasa-jasanya dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia. Selain itu, tanggal 2 Mei yang merupakan hari kelahirannya, ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional.[16] Ketetapan hari tersebut disahkan dalam Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 305 Tahun 1959 bersamaan dengan penetapannya sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.[17] Surat keputusan tersebut diterbitkan tanggal 28 November 1959.

Kematian

250px-Ki_Hadjar_Dewantara%2C_funeral_procession_%28page_114%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pemakaman Ki Hajar Dewantara.

Ki Hadjar Dewantara meninggal dunia di Kota Yogyakarta pada 26 April 1959, di kediamannya di Padepokan Ki Hadjar Dewantara. Jenazahnya kemudian disimpan di Pendapa Agung Taman Siswa untuk kemudian dimakamkan di Taman Wijaya Brata pada tanggal 29 April 1959. Upacara pemakamannya dipimpin oleh Soeharto yang bertindak sebagai inspektur upacara.[18]

Catatan

  1. ↑ EYD: Ki Hajar Dewantara, beberapa menuliskan bunyi bahasa Jawanya dengan Ki Hajar Dewantoro; selanjutnya disingkat sebagai "Soewardi" atau "KHD. Ini adalah versi Perguruan Tamansiswa dan Kepustakaan Presiden Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, tokohindonesia.com menyebutkan 28 April 1959 sebagai tanggal kematiannya.

Referensi[19]

  1. 1 2 "Daftar Menteri / Kabinet Lama". Kemendikdasmen.go.id. Diakses tanggal 2026-06-03.
  2. 1 2 Perjuangan Ki Hajar Dewantara: Dari Politik ke Pendidikan (PDF). Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. hlm. 167. ISBN 9786026155207.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ Wiguna, Ringgana Wandy; Team, Ruangguru Tech (2026-05-04). "Biografi Ki Hadjar Dewantara: Sang Bapak Pendidikan Nasional". Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-09-06.
  4. ↑ Uang Kertas Bank Indonesia Pecahan: Rp. 20.000- Diarsipkan 2020-09-20 di Wayback Machine, Bank Indonesia, diakses tanggal 26 April 2011.
  5. ↑ yisitur4ifg7rit7t43f5eerr7fy8rrrrfg ""DAFTAR NAMA PAHLAWAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA"". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-05-09. Diakses tanggal 2011-02-27.{{cite web}}: Periksa nilai |archive-url=
  6. ↑ Riyanti,dkk, Dwi (2022). "Pendidikan Berbasis Budaya Nasional Warisan Ki Hajar Dewantara". EDUKATIF. 4 (1): 1. doi:10.31004/edukatif.v4i1.1833. ISSN 2656-8063.
  7. ↑ Astuti, K., dan Arif, M. (2021). "Kontekstualisasi Nilai-Nilai Pendidikan Ki Hajar Dewantara di Era Covid 19". Jurnal Pendidikan Dasar Flobamorata. 2 (2): 203. ISSN 2721-8996.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  8. ↑ Musolin, M., dan Nisa, K. (2021). "Pendidikan Masa Pandemik Covid 19: Implementasi Konsep Tri Pusat Pendidikan Ki Hajar Dewantara". Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan. 3 (6): 4137. ISSN 2656-8071.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  9. ↑ Comunitynews. "Ki Hajar Dewantara: Pelopor Pendidikan Anak Pribumi di Indonesia". Comunitynews (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-07-06.
  10. ↑ Marihandono, Djoko (2017). Ki Hajar Dewantara, Pemikiran dan Perjuangannya. Museum Kebangkitan Nasional Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 84. ISBN 9786026155207.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  11. ↑ Adnan, Sobih AW (2016-08-116). Adam, Mohammad (ed.). "Kebangkitan Nusantara di Tangan Ki Hajar Dewantara". Medcom.id. Diakses tanggal 2020-07-13.{{cite news}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  12. ↑ Hidayah, Rohmatun Nurul (2015). "PENDIDIKAN ANAK USIA DINI PERSPEKTIF KI HAJAR DEWANTARA". Al-Mabsut. 9 (2): 17–26. doi:10.56997/almabsut.v9i2.89.
  13. ↑ Nazarudin (2019). Pendidikan Keluarga Menurut Ki Hajar Dewantara dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam (PDF). Palembang: NoerFikri Palembang. hlm. 126. ISBN 978-602-447-494-2.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  14. ↑ Sukirman (2020). Teori, Model dan Sistem Pendidikan (PDF). Palopo: Lembaga Penerbit Kampus IAIN Palopo. hlm. 19–20. ISBN 978-602-8497-80-0.{{cite book}}: |editor-first= tidak memiliki |editor-last=Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  15. ↑ Lohanda, Mona, ed. (2017). Indeks Beranotasi Karya Ki Hadjar Dewantara (PDF). Diterjemahkan oleh Sunjayadi, A., dan Harjosaputra, Karsono. Jakarta: Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 165. ISBN 978-602-1289-70-9.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penerjemah (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  16. ↑ Sugiarta, I. M., dkk. (2019). "Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara (Tokoh Timur)". Jurnal Filsafat Indonesia. 2 (3): 130. ISSN 2620-7982.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  17. ↑ Sujiono, Yuliani Nurani (2013). Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini (PDF). Jakarta Barat: PT Indeks. hlm. 136. ISBN 978-979-062-079-7.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  18. ↑ Wiryopranoto, S., dkk. (2017). Perjuangan Ki Hajar Dewantara: Dari Politik ke Pendidikan (PDF). Museum Semarang Kebangkitan Nasional. hlm. 163. ISBN 978-602-61552-0-7.{{cite book}}: |editor-first= tidak memiliki |editor-last=; Parameter tidak dikenal |editor-frist= diabaikanPemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  19. ↑ https://jogjacagar.jogjaprov.go.id/detail/65/makam-ki-dan-nyi-hadjar-dewantara.{{cite web}}: |title= tidak ada atau kosong

Pranala luar

Wikiquote memiliki koleksi kutipan yang berkaitan dengan: Ki Hadjar Dewantara.
Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Ki Hajar Dewantara.
Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Ki Hajar Dewantara.
Jabatan politik
Didahului oleh:
tidak ada
Menteri Pengajaran
1945
Diteruskan oleh:
Todung Sutan Gunung Mulia
Politik
Abdul Halim Majalengka · Abdul Kahar Mudzakkir ·Abdurrahman Wahid  · Achmad Soebardjo · Adam Malik · Adnan Kapau Gani · Alexander Andries Maramis · Alimin · Andi Sultan Daeng Radja · Arie Frederik Lasut · Arnold Mononutu · Djoeanda Kartawidjaja · Ernest Douwes Dekker · Fatmawati · Ferdinand Lumban Tobing · Frans Kaisiepo · Gatot Mangkoepradja · Hamengkubuwana IX · Herman Johannes · Idham Chalid · Ida Anak Agung Gde Agung · Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono · I Gusti Ketut Pudja · Iwa Koesoemasoemantri · Izaak Huru Doko · Johannes Leimena · Johannes Abraham Dimara ·Kasman Singodimedjo ·Kusumah Atmaja · Lambertus Nicodemus Palar · Mahmud Syah III dari Johor · Mangkunegara I · Maskoen Soemadiredja ·Mochtar Kusumaatmadja · Mohammad Hatta · Mohammad Husni Thamrin · Moewardi · Teuku Nyak Arif · Nani Wartabone · Oto Iskandar di Nata · Radjiman Wedyodiningrat · Rasuna Said · Saharjo · Samanhudi ·Soeharto  · Soekarni ·Soekarno · Sukarjo Wiryopranoto · Soepomo · Soeroso · Soerjopranoto · Sutan Mohammad Amin Nasution · Sutan Syahrir · Syafruddin Prawiranegara · Tan Malaka · Tjipto Mangoenkoesoemo · Oemar Said Tjokroaminoto ·Zainal Abidin Syah · Zainul Arifin
Militer
Kemerdekaan
Revolusi
Pergerakan
Sastra
Seni
Pendidikan
Integrasi
Pers
Pembangunan
Agama
Perjuangan
Abdul Kadir · Achmad Rifa'i · Andi Depu · Andi Mappanyukki · Aji Muhammad Idris · Aria Wangsakara · Baabullah · Bataha Santiago · Cut Nyak Dhien · Cut Nyak Meutia · Depati Amir · Hamengkubuwana I · I Gusti Ketut Jelantik · I Gusti Ngurah Made Agung · Ida Dewa Agung Jambe · Himayatuddin Muhammad Saidi · Iskandar Muda dari Aceh · Kiras Bangun · La Madukelleng · Machmud Singgirei Rumagesan · Mahmud Badaruddin II dari Palembang · Malahayati · Marsinah · Martha Christina Tiahahu · Nuku Muhammad Amiruddin · Nyai Ageng Serang · Opu Daeng Risadju · Paku Alam VIII · Pakubuwana VI · Pakubuwana X · Pangeran Antasari · Pangeran Diponegoro · Pattimura · Pong Tiku · Raden Mattaher · Radin Inten II · Ranggong Daeng Romo · Raja Haji Fisabilillah · Ratu Kalinyamat · Salahuddin bin Talabuddin · Sisingamangaraja XII · Sultan Agung dari Mataram · Sultan Hasanuddin · Teungku Chik di Tiro · Tuanku Imam Bonjol · Tuanku Tambusai · Teuku Umar · Tirtayasa dari Banten · Thaha Saifuddin dari Jambi · Tombolotutu · Tuan Rondahaim Saragih  · Untung Suropati · Zainal Mustafa
Indonesia Anggota BPUPKI
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan