Kamis, 29 Oktober 2026
12:42 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Prasasti Manjusri

Prasasti Manjusri

Bagikan:
330px-Buddha_and_the_gospel_of_Buddhism_%281916%29_%2814781859915%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Arca Manjusri dari Candi Jago duduk dalam pose Maravijaya. Kini tersimpan di Museum Ermitáž di Rusia

Prasasti Manjusri merupakan manuskrip yang dipahatkan pada bagian belakang Arca Manjusri, bertarikh 1343, pada awalnya ditempatkan di Candi Jago yang berlokasi di Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Candi Jago, atau disebut juga Candi Tumpang atau Candi Jinalaya (pura), merupakan tempat asalnya arca Manjusri ini.[1] Candi tersebut mula-mula didirikan atas perintah raja Kertanagara untuk menghormati ayahandanya, raja Wisnuwardhana yang mangkat pada tahun 1268.

Prasasti Manjusri diperkirakan diukir pada kurun 1343 atau 1344 pada bagian belakang stela (sandaran) arca Manjusri berbahan batu andesit. Bodhisattwa Manjusri digambarkan duduk dalam mudra Maravijaya dengan tangan kanan terangkat menghunuskan pedang pada bagian belakangnya, sementara tangan kirinya memegang pustaka lontar. Arca ini sekarang disimpan di Museum Ermitáž, St. Petersburg, Rusia. Sebelumnya, sejak 1865, arca ini berada di Museum Etnologi Berlin, Jerman, hingga jatuhnya Berlin pada Perang Dunia II. Setelah itu, arca ini diboyong ke St. Petersburg pada 1945 dan tetap berada di sana hingga kini.[2] Sementara cetakan duplikat dari bahan plaster arca ini tersimpan di Museum Nasional dengan nomor inventaris D. 214.

Asal-usul

Berdasarkan tafsiran Bosch dari tulisan pada prasasti tersebut, kemungkinan Adityawarman mendirikan candi tambahan di lapangan Candi Jago tersebut, atau mungkin pula candi yang didirikan tahun 1280 sudah runtuh dan digantikan dengan candi baru. Tidak adanya sisa-sisa bangunan besar di samping Candi Jago yang sekarang, sehingga menunjukkan penjelasan yang kedua lebih masuk akal. Hal ini didukung pula oleh gaya relief dan ukiran pada candi tersebut, menurut analisis Stutterheim, membuktikan bahwa candi yang sekarang ini lebih baru daripada abad ke-13.[3]

Karakter Manjusri dianggap sebagai personifikasi dari kebijaksanaan transenden. Dia duduk di atas takhta berhiasan teratai yang gemerlapan, pada tangan kirinya ia memegang sebuah buku (sebuah naskah daun palem), tangan kanannya memegang pedang (yang bermakna untuk melawan kegelapan), dan pada dadanya dilingkari tali. Ia juga dikelilingi oleh empat dewa, yang semuanya bermakna replika dirinya sendiri.

Transkripsi prasasti

Berikut di bawah ini transkripsi prasasti tsb.:[4][5]

Depan

  1. Aryyawancadhirajana Manjusri
  2. Supratisthitah pancasaddwica
  3. cankabde dharmmawrddhyai
  4. Jinalaye

Belakang

  1. Rajye Sriwararajapatniwijiteh
  2. tadbancajahasuddhadhih cakre
  3. Jawamahitale waragunair Adityawar
  4. mmapy asau mantri praudhataro
  5. Jinalayapure prasadam atyadbhutam
  6. mata suhrjjanam samasukham
  7. netum bhavat tat parah
  8. i Saka 1265

Terjemahan teks

Berikut ini terjemahan teks (bagian belakang) dari prasasti tersebut:[6]

Dalam kerajaan yang dikuasai oleh Ibu Yang Mulia Rajapatni maka Adityawarman itu, yang berasal dari keluarganya, yang berakal murni dan bertindak selaku menteri wreddaraja, telah mendirikan di pulau Jawa, di dalam Jinalayapura, sebuah candi yang ajaib- dengan harapan agar dapat membimbing ibunya, ayahnya dan sahabatnya ke kenikmatan Nirwana

Referensi

  1. ↑ Brandes, J.L.A., (1904), Beschrijving van de ruïne bij de desa Toempang, genaamd Tjandi Djago in de Residentie Pasoeroean, 's-Gravenhage-Batavia, Nijhoff/Albrecht.
  2. ↑ "Prasasti-prasasti Adityawarman Diteliti Kembali - National Geographic". nationalgeographic.grid.id. Diakses tanggal 2025-09-19.
  3. ↑ Stutterheim, W.F., (1936), De dateering van eenige Oost-javaansche beeldengroepen, Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde. 76: 249-358.
  4. ↑ Salleh, Abdul Razak, Prof. Dato. Dr.; Ramza, Harry, Ir. MT.; Abdul Kadir, Mohammad Alinor, Dr. (2015). Diaspora Adat dan Kekerabatan Alam Minangkabau: Sebuah kepelbagaian kajian pemikiran. Penerbit Kemala Indonesia. hlm. 82–83.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  5. ↑ Reichle, Natasha (2007). Violence and serenity: late Buddhist sculpture from Indonesia. University of Hawai'i Press. hlm. 253. ISBN 978-0824829247.
  6. ↑ Bosch, F.D.K., (1921), De inscriptie op het Mansjuri-beeld van 1265 Caka, Bijdragen tot de Taal-, Land en Volkenkunde. 77: 194-201.
DIY
DKI Jakarta
Banten
Jawa Barat
Jawa Tengah
Jawa Timur
Aceh
Jambi
Kepulauan Riau
Lampung
Bangka & Belitung
Sumatera Barat
Sumatera Selatan
Sumatera Utara
Bali
NTB
Kal-bar
Kal-tim
Sulawesi Utara
Lihat pula: Daftar Prasasti di Indonesia, Museum Taman Prasasti, Prasasti Internasional
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan