Sabtu, 24 Oktober 2026
03:12 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada
Genosida budaya

Genosida budaya

jenis genosida

Bagikan:
250px-Warsaw_1944_by_Ba%C5%82uk_-_26320.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Penjarahan karya seni Polandia di gedung Zachęta oleh pasukan Jerman pada masa Pendudukan Polandia, 1944
250px-Smaller-buddha-before-and-after.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Foto-foto sebelum dan setelah penghancuran salah satu Buddha Bamiyan yang dihancurkan oleh rezim Taliban di Afganistan pada 2001.
Bagian dari seri
Diskriminasi
120px-Emojione_1F6AB.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Manifestasi
Bagian dari seri tentang
Genosida
Isu
Genosida pribumi

Kolonisasi Amerika oleh bangsa Eropa

Genosida Soviet

Pembersihan etnis di Uni Soviet

Holokaus Nazi dan genosida (1941–1945)
Perang Dingin
Genosida kontemporer
Topik terkait
Kategori

Genosida budaya atau kulturisida adalah sebuah konsep yang mula-mula dideskripsikan oleh pengacara Polandia Raphael Lemkin pada 1944, dalam buku yiang sama yang mencetuskan istilah genosida.[1] Penghancuran budaya adalah bagian utama dalam perumusan genosida Lemkin.[1] Definisi pasti genosida budaya masih dipertentangkan, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa tak mencantumkannya dalam definisi genosida yang dipakai dalam Konvensi Genosida tahun 1948.[2] Museum Genosida Armenia mengartikan kulturisida sebagai "tindakan dan sikap yang dilakukan untuk menghancurkan budaya bangsa atau kelompok etnis melalui penghancuran spiritual, nasional, dan budaya",[3] yang nampak secara esensial sama dengan etnosida. Beberapa etnologis, seperti Robert Jaulin, menggunakan istilah etnosida sebagai pengganti dari genosida budaya,[4] meskipun penggunaan tersebut telah dikritik karena memiliki risiko kebingungan antara etnisitas dan budaya.[5] Genosida budaya dan etnosida pada masa lalu dipakai dalam konteks berbeda.[6] Genosida budaya tanpa etnosida dilakukan kala identitas etnis berbeda dipertahankan, tetapi unsur budaya berbeda disingkirkan.[7]

Kulturisida melibatkan penghapusan dan penghancuran artefak budaya, seperti buku, karya seni, dan struktur.[8] Masalah tersebut dialamatkan dalam berbagai perjanjian intenrasional, termasuk Konvensi Jenewa dan Statuta Roma, yang mendefinisikan kejahatan perang berkaitan dengan penghancuran budaya. Genosida budaya juga melibatkan asimilasi paksa, serta penindasan kegiatan bahasa atau budaya yang tak selaras dengan pernyataan penghancur dari apa yang sesuai.[8] Di antara banyak alasan potensial lainnya, genosida budaya dapat dilakukan untuk motif agama (seperti ikonoklasme yang berdasarkan pada anikonisme); sebagai bagian dari kampanye pembersihan etnis dalam upaya untuk menghapuskan bukti bangsa dari sejarah atau lokasi tertentu; sebagai bagian dair upaya untuk mengimplementasikan Nol Tahun, kala masa lalu dan budaya terkaitnya dihapus dan sejarahnya "dirombak". Para perancang Konvensi Genosida tahun 1948 awalnya berniat menggunakan istilah tersebut, tetapi kemudian mengurungkannya dari pencantuman.[9][10][11] Istilah "genosida budaya" dinyatakan dalam berbagai deklarasi PBB, tetapi tak dipakai oleh Konvensi Genosida PBB.[4]

Referensi

  1. 1 2 Bilsky, Leora; Klagsbrun, Rachel (23 Juli 2018). "The Return of Cultural Genocide?". European Journal of International Law (dalam bahasa Inggris). 29 (2): 373–396. doi:10.1093/ejil/chy025. ISSN 0938-5428. Diakses tanggal 2 Mei 2020.
  2. ↑ United Nations Office on Genocide Prevention and the Responsibility to Protect. "The Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide (1948)" (PDF). Perserikatan Bangsa-Bangsa. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 18 Juni 2021.
  3. ↑ "Cultural genocide". The Armenian genocide Museum-institute. Diarsipkan dari asli tanggal 22 Agustus 2024. Diakses tanggal 10 Oktober 2019.
  4. 1 2 Jaulin, Robert (1970). La paix blanche: introduction à l'ethnocide [White Peace: An Introduction to Ethnocide] (dalam bahasa Prancis). Éditions du Seuil.
  5. ↑ Gerard Delanty; Krishan Kumar (29 Juni 2006). The SAGE Handbook of Nations and Nationalism. SAGE. hlm. 326. ISBN 978-1-4129-0101-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-01-09. Diakses tanggal 28 Februari 2013. The term 'ethnocide' has in the past been used as a replacement for cultural genocide (Palmer 1992; Smith 1991:30-3), with the obvious risk of confusing ethnicity and culture.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ Bloxham, Donald; Moses, A. Dirk (15 April 2010). The Oxford Handbook of Genocide Studies. Oxford University Press. hlm. 2–. ISBN 978-0-19-161361-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Juni 2014. Diakses tanggal 28 Februari 2013.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ Hall, Thomas D.; Fenelon, James V. (2004). "The futures of indigenous peoples: 9-11 and the trajectory of indigenous survival and resistance". Journal of World-systems Research: 153–197. doi:10.5195/jwsr.2004.307.
  8. 1 2 "Cultural Genocide, Stolen Lives: The Indigenous Peoples of Canada and the Indian Residential Schools". Facing History and Ourselves. 16 Oktober 2019. Diakses tanggal 3 Desember 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ Hirad Abtahi; Philippa Webb (2008). The Genocide Convention. BRILL. hlm. 731. ISBN 978-90-04-17399-6. Diakses tanggal 22 Februari 2013.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. ↑ Lawrence Davidson (8 Maret 2012). Cultural Genocide. Rutgers University Press. ISBN 978-0-8135-5344-3. Diakses tanggal 22 Februari 2013.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. ↑ See Prosecutor v. Krstic, Case No. IT-98-33-T (Int'l Crim. Trib. Yugo. Trial Chamber 2001), at para. 576.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan