Jumat, 30 Oktober 2026
02:58 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Konflik etnis

Konflik etnis

Bagikan:
Untuk jenis konflik lainnya, lihat konflik (disambiguasi).
250px-Evstafiev-chechnya-prayer3.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Seorang pria Chechen sedang berdoa pada saat pertempuran Grozny pada 1995 (fotografi karya Mikhail Evstafiev).
250px-Rwandan_refugee_camp_in_east_Zaire.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sebuah kamp pengungsian untuk menampung suku Tutsi di Zaire setelah Genosida Rwanda pada 1994.

Konflik etnis atau perang etnis adalah sebuah konflik bersenjata (violent) maupun tidak (non-violent) antar kelompok etnis karena politik, sosial, ekonomi, agama atau kompetisi mendapatkan tujuan tertentu.[1] Konflik tersebut kontras dengan perang saudara di mana hanya sebuah negara atau kelompok etnis tunggal yang bertarung satu sama lain dan peperangan reguler di mana dua negara berdaulat atau lebih (baik yang merupakan atau bukan merupakan negara kebangsaan) berkonflik.

Contoh peran etnis sejak 1990an yang disebabkan oleh gerakan sekesionis yang mengakibatkan perpecahan negara multi-etnis berdasarkan pada garis etnis: Peperangan Yugoslavia, Perang Chechen Pertama, Perang Nagorno-Karabakh, Perang Saudara Rwanda, Perang di Darfur, ketegangan pro-Rusia di Ukraina 2014, dan lain-lain.

Para akademisi umumnya membagi konflik etnis dalam salah satu dari tiga aliran: primordialis, instrumentalis atau konstruktivis. Perdebatan intelektual juga terfokus pada masalah konflik etnis yang lebih membengkak sejak akhir Perang Dingin, dan cara-cara untuk menyelesaikan konflik, serta instrumen-instrumen seperti konsokiasionalisme dan federalisasi.

Konflik etnis setelah Perang Dingin

Istilah "etnisitas" yang digunakan pada saat ini berkembang pada pertengahan abad ke-20, menggantikan terminologi "ras" atau "negara" yang digunakan untuk konsep tersebut pada abad ke-19. Peperangan reguler awalnya terjadi sebagai konflik antar negara, dan hanya dengan kebangkitan masyarakat multi-etnis dan perubahan pada peperangan asimetris membuat konsep "konflik etnis" dipisahkan dari "perang" generik. Peristiwa tersebut menjadi kasus khusus sejak keruntuhan Uni Soviet yang multi-etnis dan Yugoslavia yang relatif lebih homogenius pada 1990an, kedua peristiwa tersebut disusul dengan konflik etnis yang diwarnai dengan kekerasan dan perang saudara.

Pada masa pasca-Perang Dingin, sejumlah gerakan sekesionis dikabarkan, utamanya di bekas negara-negara komunis. Konflik-konflik yang melibatkan gerakan sekesionis terjadi di bekas Yugoslavia, Transnistria di Moldova, bangsa Armenia di Azerbaijan, Abkhaz dan Ossetia di Georgia. Di luar bekas blok komunis, perpecahan antar-etnis terjadi pada masa yang sama di wilayah-wilayah seperti Sri Lanka, Papua Barat, Chiapas, Timor Timur, Negara Basque dan Sudan Selatan.

Referensi

  1. ↑ "Ethnic conflict - Cultural, Religious, National | Britannica". www.britannica.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-07-21.

Pranala luar

Templat:Etnisitas


Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan