Senin, 21 September 2026
02:44 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Demosida

Demosida adalah sebuah istilah yang dicetuskan oleh R. J. Rummel sejak setidaknya 1994[1] yang memiliki arti "pembunuhan intensional terhadap orang tak bersenjata atau kurang bersenjata oleh para agen pemerintah yang bertindak dalam kapasitas otoritatif mereka dan berdasarkan pada kebijakan pemerintahan dan komando tingkat tinggi".[2] Menurutnya, pengartian tersebut meliputi sejumlah besar kematian, termasuk buruh paksa dan korban kamp konsentrasi; pembunuhan oleh kelompok-kelompok swasta "tak resmi"; pembunuhan dasar di luar hukum; dan kematian massal karena tindak kejahatan dan perlakuan pemerintah, seperti bencana kelaparan yang disengaja, serta pembunuhan oleh pemerintahan de facto, seperti pembunuhan pada masa perang saudara.[2] Pengartian tersebut meliputi pembunuhan apapun terhadap sejumlah orang oleh pemerintahan manapun.[2]

Rummel menciptakan istilah tersebut sebagai konsep perluasan untuk meliputi bentuk pembunuhan oleh pemerintahan yang tak dicangkup oleh istilah genosida. Menurut Rummel, demosida melampaui perang sebagai sebab utama dari kematian non-alami pada abad ke-20.[3][4]

Referensi

  1. 1 2 3 Barbara Harff. The Comparative Analysis of Mass Atrocities and Genocide. Chapter 12. p. 112-115. in N.P. Gleditsch (ed.), R.J. Rummel: An Assessment of His Many Contributions, SpringerBriefs on Pioneers in Science and Practice 37, DOI 10.1007/978-3-319-54463-2. Diarsipkan 2020-05-20 di Wayback Machine.
  2. R. J. Rummel (Feb 1, 2005). "Democide Vs. Other Causes of Death".{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. R. J. Rummel (1998). Statistics of Democide: Genocide and Mass Murder since 1900. LIT Verlag. ISBN 978-3825840105.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan