Kronisme adalah tindakan memberikan jabatan, pekerjaan, kontrak, pinjaman, hak istimewa, atau keuntungan kepada teman atau kolega. Istilah ini terutama digunakan dalam politik, khususnya ketika merujuk pada pemihakan antara politikus dan kalangan bisnis.[1] Seseorang yang mendukung atau terlibat dalam kronisme disebut sebagai kroni.
Kronisme terjadi ketika menunjuk "kroni" untuk menduduki jabatan atau posisi berwenang tanpa memedulikan kualifikasi mereka.[2] Hal ini berlawanan dengan meritokrasi, yang penunjukannya didasarkan pada kelayakan atau prestasi. Secara politik, "kronisme" digunakan secara peyoratif untuk menyiratkan praktik jual beli pengaruh, seperti pemungutan suara di lembaga legislatif, memberikan kemudahan bagi organisasi tertentu, atau memberikan jabatan duta besar yang diincar di tempat-tempat eksotis.[3]
Etimologi
Menurut Oxford English Dictionary, kata crony pertama kali muncul di London pada abad ke-17; kata ini diperkirakan berasal dari bahasa Yunani χρόνιος (chronios), yang berarti 'jangka panjang'.[4]
Konsep
Pejabat pemerintah sangat rentan terhadap tuduhan kronisme karena mereka mengelola uang pembayar pajak. Banyak pemerintahan demokratis didorong untuk menerapkan transparansi administratif dalam akuntansi dan pengadaan kontrak, tetapi sering kali tidak ada batasan yang jelas mengenai kapan penunjukan jabatan dalam pemerintahan dapat dikategorikan sebagai "kronisme".[5]
Di sektor swasta, kronisme terdapat dalam organisasi, sering kali disebut sebagai "klub pria lama" (old boys' club) atau "lingkaran emas" (golden circle); sekali lagi, batasan antara kronisme dan "membangun jaringan" (networking) sulit untuk ditentukan.[6]
Kronisme menggambarkan hubungan yang terjalin di antara sesama kenalan dalam organisasi swasta ketika bisnis, informasi bisnis, dan interaksi sosial dipertukarkan di antara personel yang berpengaruh. Praktik ini disebut kapitalisme kroni,[5] dan merupakan pelanggaran etika terhadap prinsip-prinsip ekonomi pasar; dalam perekonomian maju, kapitalisme kroni merupakan pelanggaran terhadap regulasi pasar.
Beban ekonomi dan sosial akibat kronisme ditanggung oleh masyarakat. Beban tersebut berwujud berkurangnya kesempatan berusaha bagi sebagian besar populasi, menurunnya persaingan di pasar, melambungnya harga barang konsumsi, menurunnya kinerja ekonomi, tidak efisiennya siklus investasi bisnis, menurunnya motivasi dalam organisasi yang terdampak, serta berkurangnya kegiatan yang produktif secara ekonomi.[6]
Lihat pula
Referensi
- ↑ "cronyism American English definition and synonyms - Macmillan Dictionary".
- ↑ "the definition of cronyism". dictionary.reference.com.
- ↑ Nadler, Judy; Schulman, Miriam. "Favoritism, Cronyism, and Nepotism". Santa Clara University. Diakses tanggal 20 Juni 2013.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Oxford Dictionaries - Dictionary, Thesaurus, & Grammar". Diakses tanggal 2 Juli 2015.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Pemeliharaan CS1: layanan pengarsipan yang sudah usang (link) - 1 2 "Crony Capitalism: Unhealthy Relations Between Business and Government". CED.com. Committee for Economic Development.
- 1 2 Staff (2010). "Do Old Boys' Clubs Make The Market More Efficient?". The Free Marketeers. Diakses tanggal 26 April 2012.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Bacaan lanjutan
- Begley, Thomas M.; Khatri, Naresh; Tsang, Eric W. K. (2010). "Networks and cronyism: A social exchange analysis". Asia Pacific Journal of Management. 27 (2): 281–297. doi:10.1007/s10490-009-9137-4. S2CID 143799762.
- Bryce, Robert (2004). Cronies: Oil, the Bushes, and the Rise of Texas, America's Superstate. PublicAffairs. ISBN 9781586481889. LCCN 2003070694.
- Khatri, Naresh; Tsang, Eric W. K.; Begley, Thomas M. (2006). "Cronyism: A Cross-Cultural Analysis". Journal of International Business Studies. 37 (1): 61–75. doi:10.1057/palgrave.jibs.8400171. JSTOR 3875215. S2CID 18930227.
[Also in T. G. Andrews and R. Mead (Eds.), Cross Cultural Management, Volume 2 -The Impact of Culture 1: 126–150. Routledge, UK.] - Khatri, Naresh; Tsang, Eric W. K.; Begley, Thomas M. (2003). "Cronyism: The Downside of Social Networking". Academy of Management Proceedings. 2003: C1–C6. doi:10.5465/ambpp.2003.13792813.
- Khatri, Naresh; Tsang, Eric W. K. (2003). "Antecedents and Consequences of Cronyism in Organizations". Journal of Business Ethics. 43 (4): 289–303. doi:10.1023/A:1023081629529. S2CID 142479179.
- Diwan, Ishac; Haidar, Jamal Ibrahim (2021). "Political Connections Reduce Job Creation: Firm-level Evidence from Lebanon". Journal of Development Studies. 57 (8): 1373–1396. doi:10.1080/00220388.2020.1849622. S2CID 229717871.
- Hudson, Sarah; Claasen, Cyrlene (2017). "Nepotism and Cronyism as a Cultural Phenomenon?". The Handbook of Business and Corruption: 95–118. doi:10.1108/978-1-78635-445-720161006. ISBN 978-1-78635-446-4.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: terbitan berkala memiliki ISBN (link)
Pranala luar
- "Favoritism, Cronyism, and Nepotism". Markkula Center for Applied Ethics, Santa Clara University.
- SuperNews: Hurricane Katrina - A political flash cartoon about the cronyism surrounding Michael D. Brown and Hurricane Katrina.