Selasa, 03 November 2026
22:31 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Korupsi di Venezuela

Korupsi di Venezuela

kejahatan di Venezuela

Bagikan:
page1-330px-Corrupt_Venezuelan_Regime.pdf.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Rezim Venezuela yang Korup, menurut Departemen Kehakiman Amerika Serikat

Korupsi di Venezuela meresap ke semua aspek politik, bisnis, penegakan hukum, dan sektor lainnya.[1] Penemuan minyak di Venezuela pada awal abad ke-20 memperburuk korupsi politik.[2] Di bawah rezim Chávez dan Maduro, korupsi mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, dianggap sebagai salah satu yang terburuk di dunia. Tingginya tingkat korupsi dan salah urus di negara ini telah menyebabkan kesulitan ekonomi yang parah, memainkan peran utama dalam krisis Venezuela.[3] Sebuah jajak pendapat Gallup pada tahun 2014 menemukan bahwa 75% warga Venezuela percaya bahwa korupsi meluas di seluruh pemerintahan Venezuela.[4] Ketidakpuasan terhadap korupsi disebut sebagai salah satu alasan para demonstran melakukan protes pada 2014 dan 2017.[5]

Menurut Indeks Persepsi Korupsi 2024 yang dirilis Transparency International, Venezuela mendapatkan skor 10 dalam skala 0 ("sangat korup") hingga 100 ("sangat bersih"), yang merupakan skor terendah sepanjang sejarah negara tersebut. Berdasarkan peringkat skor, Venezuela menduduki peringkat ke-178 dari 180 negara dalam indeks tersebut, di mana negara yang menduduki peringkat pertama dianggap memiliki sektor publik paling jujur.[6] Sebagai perbandingan dengan skor global, skor terbaik adalah 90 (peringkat 1), skor rata-rata 43, dan skor terburuk 8 (peringkat 180).[7] Untuk perbandingan dengan skor regional, skor tertinggi di antara negara-negara Amerika adalah 76, skor rata-rata 42, dan skor terendah adalah skor Venezuela, yakni 10.[8]

Pada 2023, Transparencia Venezuela mengumumkan bahwa nilai total kasus peradilan di 26 negara berbeda yang menyelidiki korupsi pemerintah Venezuela mencapai setidaknya $70 miliar.[9]

Referensi

  1. ↑ Brian Loughman; Richard A. Sibery (2012). Bribery and corruption : navigating the global risks. Hoboken, New Jersey: Wiley. ISBN 978-1118011362.
  2. ↑ From 1917, "greater awareness of the country's oil potential had the pernicious effect of increasing the corruption and intrigue amongst Gomez's family and entourage, the consequences of which would be felt up to 1935 – B. S. McBeth (2002), Juan Vicente Gómez and the Oil Companies in Venezuela, 1908–1935, Cambridge University Press, p17.
  3. ↑ "A Venezuelan Refugee Crisis". Council on Foreign Relations (dalam bahasa Inggris). 15 Februari 2018. Diakses tanggal 2018-07-30.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ "Venezuelans Saw Political Instability Before Protests". Gallup. 28 Februari 2014. Diakses tanggal 18 Maret 2014.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ "Venezuelans in US March Against Their Country's Violent, Corrupt Government". Christian Post. Diakses tanggal 14 Maret 2014.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ "The ABCs of the CPI: How the Corruption Perceptions Index is calculated". Transparency.org (dalam bahasa Inggris). 11 Februari 2025. Diakses tanggal 22 April 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ "Corruption Perceptions Index 2024: Venezuela". Transparency.org (dalam bahasa Inggris). 11 Februari 2025. Diakses tanggal 22 April 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ "Corruption Perceptions Index 2024: Americas". Transparency.org (dalam bahasa Inggris). CPI2024_Map_Americas_EN.pdf. Diakses tanggal 22 April 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ Bastidas, Gabriel (2023-04-18). "Casos de corrupción del chavismo investigados internacionalmente suman US$ 70.000 millones". Monitoreamos (dalam bahasa Spanyol). Diakses tanggal 2023-05-03.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan