Minggu, 08 November 2026
06:01 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Supremasisme

Supremasisme

Bagikan:
250px-Auschwitz_aerial_view_RAF.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Foto pengintaian udara Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) yang memperlihatkan kompleks Auschwitz di wilayah pendudukan Jerman, diambil pada 3 1944 oleh Skuadron ke-60 Angkatan Udara Afrika Selatan (SAAF). Auschwitz merupakan kompleks kamp konsentrasi dan pemusnahan Nazi yang menjadi bagian dari sejarah supremasi rasial Nazi Jerman, khususnya ideologi antisemitisme dan rasisme yang mendasari Holocaust.

Supremasisme adalah pandangan dunia yang menyatakan bahwa sebuah bagian dari usia, ras, spesies, suku bangsa, agama, jenis kelamin, kelas sosial, ideologi, negara, atau budaya dianggap superior ketimbang ragam lain dari jenisnya, dan mendorong agar orang-orang yang terindentifikasi dengan jenis tersebut mendominasi, mengkontrol, dan mengadili orang yang tak berasal dari jenis tersebut.[1]

Seksual

Beberapa pakar teori feminis beranggapan bahwa dalam patriarkhi, sebuah standar dari supremasisme laki-laki merasuk dalam berbagai strategi budaya, politik, dan antar-perorangan.[2] Sejak abad ke-19, terdapat jumlah gerakan feminis yang menentang supremasisme laki-laki, biasanya dalam tujuan untuk mencapai hak hukum setara dan perlindungan bagi kaum wanita di seluruh hubungan budaya, politik dan antar-perorangan.[3][4][5]

Rasial

Berabad-abad kolonialisme Eropa di benua Amerika, Afrika, Australia, Oseania, dan Asia dijustifikasikan oleh atitud supremasi kulit putih.[6] Pada abad ke-19, frasa "The White Man's Burden", yang merujuk kepada pemikiran bahwa orang kulit putih memiliki obligasi untuk membuat masyarakat dari bangsa lainnya lebih seperti milik mereka sendiri, banyak digunakan untuk menjustifikasikan kebijakan imperialis sebagai wirausaha bangsawan.[7][8] Thomas Carlyle, yang dikenal karena catatan sejarahnya tentang Revolusi Prancis, The French Revolution: A History, yang menginspirasi novel Charles Dickens A Tale of Two Cities, berpendapat bahwa kebijakan supremasi Eropa terjustifikasi atas dasar bahwa mereka menyediakan manfaat terbesar bagi bangsa-bangsa pribumi "terbelakang".[9] Namun, pada masa penerbitannya pada 1849, karya utama Carlyle tentang subjek tersebut, Occasional Discourse on the Negro Question, meraih sedikit sambutan dari orang-orang sezamannya.[10]

Catatan

  1. ↑ "Supremacist". Merriam-Webster.
  2. ↑ Peggy Reeves Sanday, Female power and male dominance: on the origins of sexual inequality, Cambridge University Press, 1981, p. 6-8, 113-114, 174, 182. ISBN 0-521-28075-3, ISBN 978-0-521-28075-4
  3. ↑ Collins Dictionary and Thesaurus. London: Collins. 2006. ISBN 0-00-722405-2.
  4. ↑ Humm, Maggie (1992). Modern feminisms: Political, Literary, Cultural. New York: Columbia University Press. ISBN 0-231-08072-7.
  5. ↑ Cornell, Drucilla (1998). At the heart of freedom: feminism, sex, and equality. Princeton, N.J.: Princeton University Press. ISBN 978-0-691-02896-5.
  6. ↑ Takashi Fujitani, Geoffrey Miles White, Lisa Yoneyama, Perilous memories: the Asia-Pacific War(s), p. 303, 2001.
  7. ↑ Miller, Stuart Creighton (1982). Benevolent Assimilation: The American Conquest of the Philippines, 1899-1903. Yale University Press. ISBN 0-300-03081-9. p. 5: "...imperialist editors came out in favor of retaining the entire archipelago (using) higher-sounding justifications related to the "white man's burden."
  8. ↑ Opinion archive, International Herald Tribune (Februari 4, 1999). "In Our Pages: 100, 75 and 50 Years Ago; 1899: Kipling's Plea". International Herald Tribune: 6.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link): Notes that Rudyard Kipling's new poem, "The White Man's Burden", "is regarded as the strongest argument yet published in favor of expansion."
  9. ↑ "Occasional Discourse on the Negro Question".
  10. ↑ "Occasional Discourse on the Negro Question".
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan