Minggu, 20 September 2026
17:52 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Supremasisme

Supremasisme adalah pandangan dunia yang menyatakan bahwa sebuah bagian dari usia, ras, spesies, suku bangsa, agama, jenis kelamin, kelas sosial, ideologi, negara, atau budaya dianggap superior ketimbang ragam lain dari jenisnya, dan mendorong agar orang-orang yang terindentifikasi dengan jenis tersebut mendominasi, mengkontrol, dan mengadili orang yang tak berasal dari jenis tersebut.[1]

Seksual

Beberapa pakar teori feminis beranggapan bahwa dalam patriarkhi, sebuah standar dari supremasisme laki-laki merasuk dalam berbagai strategi budaya, politik, dan antar-perorangan.[2] Sejak abad ke-19, terdapat jumlah gerakan feminis yang menentang supremasisme laki-laki, biasanya dalam tujuan untuk mencapai hak hukum setara dan perlindungan bagi kaum wanita di seluruh hubungan budaya, politik dan antar-perorangan.[3][4][5]

Rasial

Berabad-abad kolonialisme Eropa di benua Amerika, Afrika, Australia, Oseania, dan Asia dijustifikasikan oleh atitud supremasi kulit putih.[6] Pada abad ke-19, frasa "The White Man's Burden", yang merujuk kepada pemikiran bahwa orang kulit putih memiliki obligasi untuk membuat masyarakat dari bangsa lainnya lebih seperti milik mereka sendiri, banyak digunakan untuk menjustifikasikan kebijakan imperialis sebagai wirausaha bangsawan.[7][8] Thomas Carlyle, yang dikenal karena catatan sejarahnya tentang Revolusi Prancis, The French Revolution: A History, yang menginspirasi novel Charles Dickens A Tale of Two Cities, berpendapat bahwa kebijakan supremasi Eropa terjustifikasi atas dasar bahwa mereka menyediakan manfaat terbesar bagi bangsa-bangsa pribumi "terbelakang".[9] Namun, pada masa penerbitannya pada 1849, karya utama Carlyle tentang subjek tersebut, Occasional Discourse on the Negro Question, meraih sedikit sambutan dari orang-orang sezamannya.[10]

Catatan

  1. "Supremacist". Merriam-Webster.
  2. Peggy Reeves Sanday, Female power and male dominance: on the origins of sexual inequality, Cambridge University Press, 1981, p. 6-8, 113-114, 174, 182. ISBN 0-521-28075-3, ISBN 978-0-521-28075-4
  3. Collins Dictionary and Thesaurus. London: Collins. 2006. ISBN 0-00-722405-2.
  4. Humm, Maggie (1992). Modern feminisms: Political, Literary, Cultural. New York: Columbia University Press. ISBN 0-231-08072-7.{{cite book}}: Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosong: |coauthors=
  5. Cornell, Drucilla (1998). At the heart of freedom: feminism, sex, and equality. Princeton, N.J.: Princeton University Press. ISBN 978-0-691-02896-5.
  6. Takashi Fujitani, Geoffrey Miles White, Lisa Yoneyama, Perilous memories: the Asia-Pacific War(s), p. 303, 2001.
  7. Miller, Stuart Creighton (1982). Benevolent Assimilation: The American Conquest of the Philippines, 1899-1903. Yale University Press. ISBN 0-300-03081-9. p. 5: "...imperialist editors came out in favor of retaining the entire archipelago (using) higher-sounding justifications related to the "white man's burden."
  8. Opinion archive, International Herald Tribune (Februari 4, 1999). "In Our Pages: 100, 75 and 50 Years Ago; 1899: Kipling's Plea". International Herald Tribune: 6.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link): Notes that Rudyard Kipling's new poem, "The White Man's Burden", "is regarded as the strongest argument yet published in favor of expansion."
  9. "Occasional Discourse on the Negro Question".
  10. "Occasional Discourse on the Negro Question".
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan