Minggu, 20 September 2026
13:40 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Zhonghua minzu

Zhonghua minzu

istilah politik dalam nasionalisme Tiongkok modern

Artikel ini berisi tentang konsep modern bangsa Tionghoa. Untuk konsep umum terkait Tiongkok, lihat Rakyat Tiongkok. Untuk suku bangsa dominan di Tiongkok, lihat Tionghoa Han. Untuk daftar suku bangsa di Tiongkok modern, lihat Daftar suku bangsa di Tiongkok. Untuk daftar suku bangsa dalam sejarah Tiongkok, lihat Suku bangsa dalam sejarah Tiongkok. Untuk negara Tiongkok, lihat Tiongkok.
Untuk kegunaan lain, lihat Bangsa Tionghoa.
Zhonghua minzu
Hanzi tradisional: 中華民族
Hanzi sederhana: 中华民族
Makna harfiah: Bangsa Tionghoa
Alih aksara
Mandarin
- Hanyu Pinyin: Zhōnghuá Mínzú
- Wade-Giles: Chung-hua min-tsu
- Bopomofo: ㄓㄨㄥ ㄏㄨㄚˊ ㄇㄧㄣˊ ㄗㄨˊ
Gan
- Romanisasi: Zung1 fa4 min4 zuk6
Min Nan
- Romanisasi POJ: Tiong-hôa bîn-cho̍k
Wu
- Romanisasi: tson gho min zoh
Yue (Kantonis)
- Jyutping: zung1 wa4 man4 zuk6
Ekspresi Zhonghua Minzu
Chinese national flag during the early Republican period, with five colors representing the union of five races
Bendera nasional Tiongkok pada awal periode Republik, dengan lima warna yang mewakili kesatuan lima ras[note 1]
Bagian dari seri mengenai
Nama-nama Tiongkok

Zhonghua minzu (Hanzi:中华民族; harfiah: 'bangsa Tionghoa',[1][2][3]) adalah sebuah istilah politik dalam nasionalisme Tiongkok modern yang berhubungan dengan konsep pembangunan bangsa, kesukuan, dan ras dalam bangsa Tionghoa.[4][5]

Istilah Zhonghua minzu diciptakan pada awal periode Beiyang (1912–1927) dan Nasionalis (1928–1949) untuk mengelompokkan suku Han dan empat suku bangsa besar non-Han: suku Man (Manchu), suku Meng (Mongol), suku Hui (suku bangsa beragama Islam di Tiongkok Barat Laut), dan suku Zang (Tibet),[6][7] di bawah gagasan sebuah republik dengan lima ras (Hanzi:五族共和 atau Wǔzú gònghé) yang dicetuskan oleh Sun Yat-sen dan Partai Nasionalis Tiongkok. Istilah cukup berbeda dengan istilah Hanzu, istilah yang hanya merujuk pada suku Tionghoa Han.

Konsep Zhonghua minzu awalnya ditolak di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) tetapi bangkit kembali setelah kematian Mao Zedong yang mengelompokkan Tionghoa Han beserta 55 suku bangsa lainnya sebagai sebuah keluarga Tionghoa yang besar.[1][4] Sejak akhir tahun 1980an, perubahan penting dalam kebijakan terkait kebangsaan dan minoritas di RRT adalah penggantian istilah dari "Rakyat Tiongkok" (中国人民 atau Zhōngguó rénmín) menjadi "Bangsa Tionghoa" (Zhōnghuá mínzú), mencirikan perubahan dari negara rakyat komunis multi-bangsa Tiongkok menjadi identitas nasional Tionghoa yang tunggal.[5]

250px-Qipao_woman.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Wanita mengenakan cheongsam atau qipao, sejenis gaun etnis Manchu dengan gaya Han dan Mongol.

Implikasi

Pengadopsian konsep Zhonghua minzu bisa menciptakan interpretasi ulang terhadap sejarah Tiongkok. Contohnya, dinasti Qing yang didirikan oleh Manchu awalnya dikarakteristikan sebagai "dinasti penaklukan" atau rezim "non-Han". Setelah pengadopsian ideologi Zhonghua minzu, yang memasukkan Manchu sebagai anggota Zhonghua minzu, dinasti-dinasti yang dibentuk oleh suku minoritas tidak lagi dipandang berbeda.

Konsep Zhonghua minzu juga memberikan penilaian yang berbeda terhadap peran banyak tokoh pahlawan tradisional. Pahlawan seperti Yue Fei dan Zheng Chenggong, yang awalnya sering dianggap bertarung untuk Tiongkok melawan serangan barbar, menjadi dikarakteristikan ulang oleh beberapa pihak sebagai minzu yingxiong (pahlawan etnis) yang bukan bertarung melawan barbar tetapi melawan anggota Zhonghua minzu lainnya (masing-masing melawan Jurchen dan Manchu).[8] Di kesempatan yang berbeda, Tiongkok mengubah pandangan terhadap Genghis Khan, sebagai "pahlawan nasional" karena telah menjadi anggota Zhonghua minzu.[9]

Perlawanan terhadap Zhonghua minzu

Pemerintahan Xi Jinping, sejak pengangkatan Xi sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok pada November 2012, telah mempromosikan slogan "Kebangkitan besar bangsa Tionghoa".

Penghormatan terhadap leluhur legendaris bangsa Tionghoa, Kaisar Kuning, semakin meningkat, dan di beberapa wilayah seperti Uyghur dan Tibet, terdapat individu yang merasa tidak senang karena disatukan di bawah konsep "Zhonghua minzu".[10]

Selain itu, perlawanan terhadap nasionalisme Tiongkok juga muncul dari para pendukung kemerdekaan Taiwan dan kalangan lokalis Hong Kong.[11] Sebagai tanggapan, muncul Nasionalisme Hong Kong, dan Nasionalisme Taiwan yang dipelopori oleh sejarawan Taiwan Su Beng juga mulai mendapatkan dukungan. Teori bahwa orang Hong Kong merupakan kelompok etnis yang berbeda, dikenal sebagai teori etnis Hong Kong, juga dipengaruhi oleh gagasan-gagasan ini.[12]

Konsep bangsa Tionghoa juga telah dibahas dalam kaitannya dengan sengketa wilayah, berdasarkan gagasan bahwa "wilayah yang dihuni oleh bangsa Tionghoa seharusnya diperintah oleh satu negara".[13] Gagasan-gagasan ini disebut sebagai nasionalisme Tiongkok Raya, dan di Hong Kong, para pendukung ideologi tersebut sering diejek dengan sebutan Zhōnghuá jiāo [zh].[14] Istilah "Tiongkok Raya" sendiri berasal dari gagasan tradisional bahwa Tiongkok secara historis merupakan suatu peradaban yang bersatu.

Liu Zhongjing, seorang teoretikus politik yang tinggal di Amerika Serikat, berpendapat bahwa konsep bangsa Tionghoa adalah konstruksi politik, dan ia mengadvokasi teori Zhu-Xiaisme (諸夏主義).

Chan Ho-tin menyatakan bahwa Beijing menegaskan bahwa Republik Rakyat Tiongkok adalah sebuah negara-bangsa dengan identitas nasional yang bersatu yang disebut “Zhonghua Minzu” atau “ras Tionghoa”.[15][16] Konsep ini, yang digunakan untuk melayani tujuan politik dan imperialistik, mencakup berbagai kelompok seperti orang Tibet, Mongolia, Shanghai, Taiwan, penduduk Hong Kong, serta diaspora Tionghoa di seluruh dunia. Menurut posisi resmi Beijing, semua kelompok ini adalah bagian dari “ras Zhonghua” dan karenanya harus setia kepada pemerintah pusat.[15][16] Meskipun hal ini dianggap tidak masuk akal oleh banyak akademisi, ini tetap menjadi garis resmi partai. Andy Chan mengkritik nasionalisme ini sebagai topeng untuk imperialisme. Dia menyoroti pelanggaran Beijing terhadap Perjanjian Tujuh Belas Poin dengan Tibet, janji-janji yang tidak ditepati saat bergabung dengan WTO, serta pelanggaran terhadap Deklarasi Bersama Sino-Britania yang telah mengurangi kebebasan di Hong Kong.[15][16]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2
  2. Zhou Wenjiu; Zhang Jingpeng (2007). "关于"中华民族是一个"学术论辩的考察" [On the academic argument that "the Chinese nation is one"]. Minzu Yanjiu. 3: 20–29. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Oktober 2019. Diakses tanggal 29 Oktober 2019 via d.old.wanfangdata.com.cn/Periodical/mzyj200703003.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2
  4. 1 2
  5. Blum, Susan Debra; Jensen, Lionel M. (2002). China Off Center: Mapping the Margins of the Middle Kingdom. University of Hawaii Press. hlm. 170–. ISBN 978-0-8248-2577-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 Februari 2017. Diakses tanggal 13 Oktober 2016.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. 大中華膠的懺悔
  7. 倉田徹、「雨傘運動とその後の香港政治- 一党支配と分裂する多元的市民社会」『アジア研究』 2017年 63巻 1号 p.68-84, DOI:10.11479/asianstudies.63.1_68, アジア政経学会
  8. 論香港人之身份(戴毛畏) - 熱新聞 YesNews
  9. 大中華膠的懺悔 立場新聞
  10. 1 2 3 陳浩天於香港外國記者會演講全文 獨媒轉載 獨立媒體
  11. 1 2 3 陳浩天FCC演講全文 – 新傳網

Pranala luar

Templat:Etnisitas

Perkembangan
Jenis
Organisasi
Konsep terkait
Komite Pusat
Ketua Umum
Badan Pengambil Keputusan
120px-Danghui.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Organisasi Luas
Ideologi
Faksi
Artikel terkait
Sejarah
120px-Kuomintang_Emblem.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pendiri
Ideologi
Ketua Umum
Faksi
Kongres Partai
Leadership elections
Situs penting
Lihat pula
Notes: Pj. ketua umum dicetak miring ; Pemilihan sela ditandai dengan (b)
Peserta
Organisasi
Tokoh
Peristiwa
Konsep
Terkait
  1. Bendera ini sekarang dipandang sebagai "bendera panglima perang", terkadang dengan konotasi negatif, dan tidak lagi dianggap sebagai simbol Zhonghua minzu.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan