Minggu, 20 September 2026
16:37 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Pascanasionalisme

Bagian dari seri
Nasionalisme
120px-Black_flag_waving.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Portal politik

Pascanasionalisme atau non-nasionalisme[1] menjelaskan proses hilangnya keutamaan negara-bangsa dan identitas nasional di mata institusi supranasional dan global. Meski pascanasionalisme bukan antonim dari nasionalisme, dua istilah tersebut beserta segala asumsinya merupakan suatu antitesis. Ada beberapa faktor yang mendorong pascanasionalisme, yaitu ekonomi, politik, dan budaya.

Peningkatan globalisasi di sektor ekonomi, misalnya perluasan perdagangan internasional barang mentah, barang jadi, dan jasa, serta pentingnya perusahaan multinasional dan internasionalisasi pasar keuangan, telah mengalihkan perhatian dunia dari ekonomi nasional ke ekonomi global. Pada saat yang sama, kekuasaan politik beralih dari pemerintah nasional ke institusi supranasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, Uni Eropa, North American Free Trade Agreement (NAFTA), dan NATO. Selain itu, industri media dan hiburan semakin mengglobal dan mendorong pembentukan tren dan opini di tingkat supranasional. Migrasi orang atau kelompok antarnegara ikut mendorong pembentukan identitas dan kepercayaan pascanasional, tetapi kedekatan dengan kewarganegaraan dan identitas nasional juga masih dirasa penting.[2][3][4]

Lihat pula

Referensi

  1. Bennett 1998, hlm. 232.
  2. R. Koopmans and P. Statham; "Challenging the liberal nation-state? Postnationalism, multiculturalism, and the collective claims making of migrants and ethnic minorities in Britain and Germany"; American Journal of Sociology 105:652-696 (1999)
  3. R.A. Hackenberg and R.R. Alvarez; "Close-ups of postnationalism: Reports from the US-Mexico borderlands"; Human Organization 60:97-104 (2001)
  4. I. Bloemraad; "Who claims dual citizenship? The limits of postnationalism, the possibilities of transnationalism, and the persistence of traditional citizenship"; International Migration Review 38:389-426 (2004)

Daftar pustaka

Perkembangan
Jenis
Organisasi
Konsep terkait
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan