Minggu, 20 September 2026
17:59 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Nasionalisme Queer

Nasionalisme Queer adalah sebuah fenomena yang terkait dengan gerakan pembebasan gay dan lesbian dan nasionalisme. Pendukung gagasan ini menganjurkan agar komunitas LGBT menjadi bangsa sendiri karena mereka memiliki budaya dan adat yang unik.

Sejarah

Akibat tersebarnya homofobia dalam berbagai kebudayaan, muncul rasa kekecewaan dan keinginan untuk memisahkan diri dari mayoritas heteroseksual yang dianggap bermusuhan.[1] Perasaan ini dituangkan lewat pendirian Queer Nation pada tahun 1990, sebuah organisasi radikal yang dikenal akan slogannya "Kami di sini, kami queer, terbiasalah."

Pada tahun 1969, aktivis gay Don Jackson dari California mengusulkan agar kaum gay mengambil alih Kabupaten Alpine sebuah proyek yang disebut Negara Stonewall.[2]

Upaya pertama untuk mengklaim wilayah tertentu dilakukan pada tahun 2004 oleh sekelompok aktivis gay Australia yang menyatakan pulau-pulau kecil di Cato sebagai bagian dari Kerajaan Gay dan Lesbian Laut Coral, dengan Dale Parker Anderson sebagai kaisar.

Pada tahun 2007, Garrett Graham menerbitkan rencana dan konstitusi negara gay yang terinspirasi dari "Der Judenstaat" karya Theodor Herzl.[3]

Analisis

Pada tahun 1996, Brian Walker menerbitkan hasil analisisnya terkait dengan nasionalisme queer.[4] Walker mengamati bahwa beberapa ciri pembentukan identitas budaya secara nasionalistik juga berlaku untuk pergerakan nasional LGBT. Walker mengklasifikasikan nasionalisme queer sebagai salah satu bentuk nasionalisme "baru" yang didasarkan pada budaya dan berbeda dari nasionalisme "lama" yang didasarkan pada kelompok etnis atau agama. Ia menyimpulkan bahwa komunitas dan lesbian memenuhi banyak kriteria untuk dianggap sebagai bangsa, karena:

  • Semua jenis nasionalisme dimulai sebagai pergerakan sosial, dan nasionalisme queer merupakan pergerakan sosial
  • Komunitas gay memiliki budayanya sendiri, dengan kelompok diskusi, toko buku, majalah, bar, kabaret, dan aktivitas-aktivitas budaya lainnya yang unik
  • Kelompok LGBT memiliki sejarah dan sastra yang sama

Walker menganggap teknologi komunikasi modern seperti Internet sebagai sarana untuk menyatukan komunitas LGBT sebagai bangsa non-teritorial.

Lihat pula

Catatan kaki

  1. "Rankin, L. P.: 'Sexualities and national identities: Re-imagining queer nationalism' in: Journal of Canadian Studies, Summer 2000". Diarsipkan dari asli tanggal 2015-09-24. Diakses tanggal 2017-07-24.
  2. [Donn Teal: 'The Gay Militants: How Gay Liberation began in America, 1969–1971'. (New York: Stein and Day, 1971). pp. 281–298.]
  3. Graham, Garrett: The Gay State, New York/Bloomington 3rd edition 2010 (=Graham), hlm. 11
  4. Walker, Brian: "Social Movements as Nationalisms" in: "Rethinking Nationalism" ISBN0-919491-22-7.

Bacaan lanjut

  • Paola Bacchetta. “Queer Formations in (Hindu) Nationalism.” In Sexuality Studies, edited by Sanjay Srivasta, 121–140. Oxford, U.K.: Oxford University Press, 2013.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan