Rabu, 30 September 2026
20:15 WIB
TERKINI
Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh
Cathay

Cathay

Bagikan:
250px-FraMauroMapChataio.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
"Chataio" dalam peta Fra Mauro (sekitar tahun 1450). Dicatat bahwa selatan adalah di sebelah atas
Bagian dari seri mengenai
Nama-nama Tiongkok

Cathay (/kæˈθeɪ/) adalah versi Anglikan dari "Catai" dan sebuah nama alternatif untuk Tiongkok dalam bahasa Inggris. Kata ini berasal dari Khitan[1] (Hanzi:契丹; Pinyin:Qìdān), nama dari sebuah suku nomaden yang mendirikan Dinasti Liao yang memerintah Tiongkok Utara dari tahun 907 sampai 1125, dan kemudian bermigrasi ke Barat setelah mereka terguling oleh Jurchen untuk membentuk Qara Khitai berpusat di Kyrgyzstan saat ini untuk abad lain sesudahnya.

Awalnya, Catai adalah nama yang diterapkan oleh Asia Tengah dan Barat serta Eropa kepada Tiongkok utara; nama ini juga digunakan dalam buku Marco Polo mengenai perjalanannya di Tiongkok (dia menyebut Tiongkok selatan sebagai Mangi).

Sejarah

Istilah "Cathay" berasal dari nama untuk "bangsa Khitan". Bentuk nama "Cathai" dibuktikan kebenarannya dalam sebuah dokumen Manichaean Uighur sekitar tahun 1000.[2] Bangsa Khitan menyebut mereka sendiri sebagai Qidan, tetapi dalam bahasa Uighur kuno, akhiran -n atau -ń berubah menjadi -y, dan bentuk ini mungkin menjadi sumber nama tersebut bagi penulis Muslim kemudian.[3] Versi nama ini kemudian diperkenalkan ke Eropa abad pertengahan dan awal modern melalui sumber Muslim dan Rusia.[4]

Khitan dikenal di kalangan Muslim Asia Tengah: pada tahun 1026, istana Ghaznavid (di Ghazni, Afghanistan saat ini) dikunjungi oleh utusan dari penguasa Liao, dia digambarkan sebagai "Qatā Khan", yaitu penguasa Qatā. Qatā atau Qitā muncul dalam tulisan-tulisan dari al-Biruni dan Abu Said Gardezi pada dekade berikutnya.[2] Sarjana Persia dan pemimpin Nizam al-Mulk (1018-1092) menyebutkan Khita dan China dalam Buku mengenai Administrasi Negara, tampaknya sebagai dua negara yang terpisah[2](mungkin, masing-masing mengacu kepada Dinasti Liao dan Song).

Pemberlakuan nama ini di dunia Muslim masih bertahan walaupun terjadi pergantian dinasti Liao Khitan dengan Jurchen dinasti Jin pada awal abad ke-12. Ketika menggambarkan jatuhnya Kekaisaran Jin ke tangan Mongol (1234), sejarah Persia menggambarkan negara yang ditaklukkan sebagai Khitāy atau Djerdaj Khitāy(yakni "Jurchen Cathay").[2] Bangsa Mongol sendiri, dalam Sejarah Rahasia mereka (abad ke-13) menyebut baik Khitan maupun Kara-Khitan.[2]

Referensi

  1. ↑ "Cathay". Encyclopaedia Britannica Online. Encyclopaedia Britannica. 2009. Diakses tanggal 2009-06-23.
  2. 1 2 3 4 5 Wittfogel (1946), p. 1
  3. ↑ Sinor, D. (1998), "Chapter 11 - The Kitan and the Kara Kitay", dalam Asimov, M.S.; Bosworth, C.E. (ed.), History of Civilisations of Central Asia, vol. 4 part I, UNESCO Publishing, ISBN 92-3-103467-7
  4. ↑ S.F.Starr, ed. (2004). Xinjiang: China's Muslim Boarderland. M.E. Sharpe. hlm. 43. ISBN 9781317451372.{{cite book}}: Parameter tidak dikenal |authors= diabaikan

Bibliografi

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan