Jumat, 06 November 2026
22:01 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Wisarga

Wisarga

Bagikan:
Wisarga
Wignyan (Jawa); Bisah (Bali)
Aksara JawaAksara Bali
Letak penulisandi belakang aksara yang dilekatinya

Wisarga adalah sebuah kata dalam bahasa Sanskerta yang berarti "menyalurkan; melepaskan". Dalam fonologi bahasa Sanskerta (siksha), wisarga (juga disebut visarjanīya oleh ahli tata bahasa) adalah nama dari bunyi [h], ditulis <h> dalam IAST, <H> Harvard-Kyoto, <ः> dalam Dewanagari. Wisarga adalah alofon dari /r/ dan /s/ pada akhir sebuah ucapan.

Dalam aksara Bali, tanda wisarga ‹ः› disebut bisah (ᬄ), dan dalam aksara Jawa disebut wignyan (ꦃ). Dalam aksara Bali, ia dianggap sebagai salah satu pangangge tengenan yang melambangkan bunyi /ɦ/ atau /h/.

Bisah (wisarga) dalam aksara Bali

Bisah memberi efek agar suatu aksara wianjana mendapat desahan dari pengucapan huruf "H". Contohnya, kata "mara" bila dilekati oleh bisah maka menjadi "marah"; kata "basa" bila dilekati oleh bisah maka menjadi "basah"; kata "pisa" bila dilekati oleh bisah maka menjadi "pisah"; dll. Aturan ini dianjurkan agar tidak perlu memberi adeg-adeg pada aksara Ha.

Penggunaan

Di akhir kata

Bisah digunakan pada kata-kata yang mengandung bunyi /h/ pada akhir kata. Maka dari itu, ia ditulis pada akhir kata, tepatnya pada suku kata terakhir. Contoh kata yang mengandung bunyi /h/ pada suku kata terakhir, yaitu: "basah", "pisah", "asah", "desah", dll. Meskipun huruf Ha yang dilekati oleh adeg-adeg dapat dipakai untuk melambangkan bunyi /h/, penggunaan tanda bisah sangat dianjurkan, karena aturan penulisannya memang demikian.

Aksara Bali Ejaan dengan huruf Latin Keterangan
desah
desah
de - sa - h Penulisan kata "desah" yang benar dalam aksara Bali. Suku kata terakhir mendapat tanda bisah agar dibaca dengan desahan /h/.
desah
desah
de - sa - h Penulisan kata "desah" yang salah dalam aksara Bali. Huruf Ha tidak perlu dibubuhi dengan tanda adeg-adeg agar kata tersebut dibaca dengan desahan /h/. Dianjurkan menggunakan tanda bisah.

Bisah tidak boleh digunakan apabila hembusan /h/ terletak di tengah kata dan tidak diikuti oleh huruf konsonan. Sebagai gantinya digunakan huruf Ha untuk menggantikan bisah. Contohnya (dalam bahasa Bali) kata: "cihna", "jihwa", "Brahma", dan sebagainya. Namun ada pengecualian untuk kata duhka (bahasa Bali), yang berasal dari kata dur dan kha.

Suku kata yang sama

Bisah patut digunakan apabila ada suatu kata yang terdiri dari suku kata yang sama, dan suku kata tersebut mengandung bunyi /h/ yang tidak diikuti vokal /a/. Apabila kata tersebut diluluhkan menjadi kata kerja (bahasa Bali: kapolahang), tetap memakai bisah, meski suku katanya berubah karena peluluhan tersebut. Contoh (dalam bahasa Bali) kata: "cahcah" (jika diluluhkan menjadi "nyahcah"), "kohkoh" (jika diluluhkan menjadi "ngohkoh"), dan sebagainya. Huruf H (yang digarisbawahi) pada kata tersebut wajib diganti dengan bisah apabila disalin ke dalam aksara Bali.

Lihat pula

Catatan kaki

Referensi

  • Tinggen, I Nengah. 1993. Pedoman Perubahan Ejaan Bahasa Bali dengan Huruf Latin dan Huruf Bali. Singaraja: UD. Rikha.
  • Surada, I Made. 2007. Kamus Sanskerta-Indonesia. Surabaya: Penerbit Paramitha.
Aksara nglegena (20 aksara dasar)
ꦲ
Ha
ꦤ
Na
ꦕ
Ca
ꦫ
Ra
ꦏ
Ka
ꦢ
Da
ꦠ
Ta
ꦱ
Sa
ꦮ
Wa
ꦭ
La
ꦥ
Pa
ꦝ
Dha
ꦗ
Ja
ꦪ
Ya
ꦚ
Nya
ꦩ
Ma
ꦒ
Ga
ꦧ
Ba
ꦛ
Tha
ꦔ
Nga
8 Aksara murda
ꦟ
Na
ꦑ
Ka
ꦡ
Ta
ꦯ
Sa
ꦦ
Pa
ꦘ
Nya
ꦓ
Ga
ꦨ
Ba
Aksara swara
(5 aksara vokal)
dan 2 Aksara gantèn
ꦄ
A
ꦆ
I
ꦈ
U
ꦌ
E
ꦎ
O
 
ꦊ
Nga lelet
ꦉ
Pa cerek
꧑
1
꧒
2
꧓
3
꧔
4
꧕
5
꧖
6
꧗
7
꧘
8
꧙
9
꧐
0
 
Aksara tambahan
5 Aksara mahaprana
(arkais)
ꦰ
Sa
ꦞ
Dha
ꦙ
Ja
ꦜ
Tha
ꦣ
Da
 
7 Tidak digunakan
/ dipertentangkan
Sandhangan (Tanda diakritik)
6 Sandhangan swara
(pembentuk vokal)
ꦶ
Wulu
ꦼ
Pepet
ꦸ
Suku
ꦺ
Taling
ꦴ
Tarung / raswadi
꦳
Cecak telu
 
4 Sandhangan panyigeg
(penutup suku kata)
ꦃ
Wignyan
ꦁ​
Cecak
ꦂ
Layar
꧀
Pangkon
 
3 Sandhangan wyanjana
(tengah suku kata)
ꦿ
Cakra
ꦽ
Cakra keret
ꦾ
Péngkal
 
5 Vokal pajang
(arkais)
ꦀ
Panyangga -ṃ
ꦷ
Wulu melik / dirga melik
ꦹ
Suku mendut / dirga mendut
ꦻ
Dirga mure
ꦵ
Tolong (aksara Jawa)
 
Pada (simbol)
8 Tanda baca
Kombinasi tanda baca
dan aksara
꧋꧐꧋
Pada guru
꧉꧐꧉
Pada pancak
꧅ꦧ꧀ꦕ꧅
Purwa pada
꧅ꦟ꧀ꦢꦿ꧅
Madya pada
꧅ꦆ꧅
Wasana pada
8 Hiasan dan simbol arkais
꧁ ꧂ ꧌ ꧍ ꧆ ꧏ ꧞ ꧟
Rerenggan Pada piseleh Pada windu Pangrangkep Pada tirta tumetes Pada isen-isen
Aksara suara
(Vokal)
Warga Kanthya
(Konsonan
langit-langit belakang
)
Warga Talawya
(Konsonan langit-langit)
Warga Murdhanya
(Konsonan tarik-belakang)
Warga Dantya
(Konsonan gigi)
Warga Osthya
(Konsonan bibir)
Aksara ardhasuara
(Semivokal)
Ya
Ya
Ra
Ra
La
La
Wa
Wa
 
Pangangge (tanda diakritik)
Pangangge suara
(tanda vokalisasi)
Pangangge tengenan
Pangangge aksara
(tanda semivokalisasi)
Ceciren ring babawosan (tanda baca)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan