Kamis, 01 Oktober 2026
15:34 WIB
TERKINI
Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 1 Oktober 2026 Turun, Cek Rincian Lengkapnya Sekarang Cuaca Waspada! 325 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Ancaman Karhutla Meningkat Regional Menko PMK Muhadjir Effendy Kunjungi Anjir Batola, Perkuat Sinergi Pembangunan Wilayah Editorial Macan Kemayoran Raih Poin Penuh di Kandang Laskar Antasari Bandar Lampung Buaya Coki Menjalani Adaptasi di Sumsel Usai Perjalanan Panjang dari Lampung Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 1 Oktober 2026 Turun, Cek Rincian Lengkapnya Sekarang Cuaca Waspada! 325 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Ancaman Karhutla Meningkat Regional Menko PMK Muhadjir Effendy Kunjungi Anjir Batola, Perkuat Sinergi Pembangunan Wilayah Editorial Macan Kemayoran Raih Poin Penuh di Kandang Laskar Antasari Bandar Lampung Buaya Coki Menjalani Adaptasi di Sumsel Usai Perjalanan Panjang dari Lampung Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti
Ga gora

Ga gora

Bagikan:
Ga gora
250px-Bali_Ga_gora.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Aksara Bali
Huruf LatinGa
IASTGha
Fonem[ɡ], [ɡʰ]
UnicodeU+1B16
Warga aksarakanthya
Gantungan

Ga gora adalah variasi dari aksara Ga dalam aksara Bali, yang melambangkan bunyi /g/ yang disusul oleh bunyi /h/ di belakangnya.[1] Jika dialihaksarakan menjadi huruf Latin, maka aksara ini ditulis "Gha". Namun karena bunyi konsonan aspirasi tidak terdapat dalam bahasa Bali, huruf ini dapat dialihaksarakan sebagai "Ga". Penggunaan huruf ini terbatas pada kata serapan saja.

Bentuk

Bentuk Ga gora yang bertahan hingga sekarang, merupakan warisan dari aksara Gha dari India. Dalam aksara Jawa, ditemukan aksara Gha yang mirip dengan Ga gora, dan disebut Ga murda.

Aksara Brahmi Aksara Grantha Aksara Pallawa Aksara Jawa Aksara Bali

Fonem

Suara /gʰə/ yang dilambangkan oleh Ga gora bunyinya seperti bunyi /g/ yang disusul oleh /h/.[2] Fonem ini terdapat dalam bahasa Sanskerta dan Hindi, tetapi tidak terdapat dalam bahasa Bali. Meskipun demikian, aksara Bali memiliki Ga gora, lambang untuk fonem /gʰ/, yang diwariskan dari aksara Kawi Kuno, dan aksara Kawi Kuno mendapatkannya dari aksara Pallawa. Dari segi bahasa tulisan, jumlah aksara masih dipertahankan, tetapi dari segi bahasa lisan, pengucapannya tidak diperhatikan karena fonem tersebut tidak terdapat dalam bahasa yang bersangkutan, dalam kasus ini adalah bahasa Bali. Maka dari itu, Ga gora diucapkan /gə/ (seperti /g/ dalam kata "gajah"), tidak /gʰə/.

Penggunaan

Penggunaan aksara Ga gora sama dengan penggunaan aksara Gha (Dewanagari: घ) dalam abjad bahasa Sanskerta. Dalam lingkungan masyarakat Bali, jarang didapati adanya suara /g/ yang disusul oleh bunyi /h/ saat mereka bercakap-cakap. Maka dari itu, aksara Ga gora dipakai saat menulis bahasa non-Bali (misalnya bahasa Sanskerta atau Jawa Kuno) yang masih mengandung bunyi /gʰ/, atau menulis kata serapan (misalnya dari bahasa Sanskerta atau Jawa Kuno).

Ga gora dipakai saat mengalihaksarakan aksara selain Bali (misalnya aksara Dewanagari atau Latin) ke dalam aksara Bali, khusus untuk bunyi /gʰ/. Maksudnya, apabila saat mengalihaksarakan atau menulis aksara non-Bali tersebut mereka menemukan aksara yang melambangkan bunyi /gʰ/, maka pada saat itulah mereka menggunakan Ga gora.

Catatan kaki

  1. ↑ Surada, hal. 9.
  2. ↑ Surada, hal. 6, 9.

Lihat pula

Referensi

  • Tinggen, I Nengah. 1993. Pedoman Perubahan Ejaan Bahasa Bali dengan Huruf Latin dan Huruf Bali. Singaraja: UD. Rikha.
  • Surada, I Made. 2007. Kamus Sanskerta-Indonesia. Surabaya: Penerbit Paramitha.
  • Simpen, I Wayan. Pasang Aksara Bali. Diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Daerah Tingkat I Bali.
Aksara suara
(Vokal)
Warga Kanthya
(Konsonan
langit-langit belakang
)
Warga Talawya
(Konsonan langit-langit)
Warga Murdhanya
(Konsonan tarik-belakang)
Warga Dantya
(Konsonan gigi)
Warga Osthya
(Konsonan bibir)
Aksara ardhasuara
(Semivokal)
Ya
Ya
Ra
Ra
La
La
Wa
Wa
 
Pangangge (tanda diakritik)
Pangangge suara
(tanda vokalisasi)
Pangangge tengenan
Pangangge aksara
(tanda semivokalisasi)
Ceciren ring babawosan (tanda baca)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan